Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 40 – Darah


__ADS_3

Malam hari itu juga, Sung Han memutuskan untuk melakukan penyelidikan. Ketika bulan sudah naik tinggi, bergegas ia melompati atap-atap bangunan untuk sampai ke tempat Kay Ji Kun berada.


Ada banyak orang yang menjaga di sekitar bangunan itu, dan kesemuanya sabuk ungu. Sung Han harus berhati-hati agar pendengaran mereka yang tajam tidak menyadari kehadirannya.


Menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dan sedikit berjinjit, Sung Han berindap-indap di atas rumah Kay Ji Kun. Setelah memastikan keadaan sekitar benar-benar aman, ia membuka salah satu genteng dan menyelinap masuk.


Ketika sampai di dalam, ia disambut oleh berbagai macam perabotan masak serta hidangan. Terlihat jelas bahwa ini ruangan dapur.


Sung Han menyempatkan diri mengambil paha ayam dari atas piring. Ia habiskan dan menyisakan tulangnya untuk kemudian dipakai berjaga-jaga.


Keluar dari dapur, ia belok ke kanan menuju lorong panjang. Di sudut lorong sana, ia melihat seorang pelayan dan koki yang bercakap-cakap. Hatinya tertarik sekali, maka cepat ia menyelinap di dalam gelap dan menyembunyikan dirinya ke dalam guci besar.


"Syukurlah kalau begitu." si koki menjawab ucapan pelayan itu.


"Ah...tapi walaupun begtu, keadaanya tak bisa dibilang lebih baik dari sebelumnya." si nona pelayan melanjutkan. Wajahnya tampak sedih.


"Memangnya obat itu obat apa sih?" sang koki kelihatan tertarik, "Bisa jadi makanan yang kubuat membuat obat itu tidak bekerja. Jadi kalau kau tahu, katakan padaku agar masakan yang kami buat bisa menyesuaikan."


Nona pelayan menghela nafas berat. Ia memandang satu gelas kosong di genggamannya. "Aku tidak tahu."


"Hanya saja..." lanjutnya kemudian, "Minuman obat ini baunya wangi sekali."


"Wangi?" koki itu nampak bingung. Ia mendekatkan hidungnya ke gelas di tangan pelayan kemudian mengendusnya seperti kucing. Lalu ia memundurkan kepalanya cepat-cepat ketika berkata.


"Uhh....terlalu wangi dan manis." komentarnya.


Nona pelayan tak heran dengan reaksi itu, dia masih terus memandangi gelas kosong di tangannya.


"Aku merasa kasihan dengan istri ketua, dia sering tak tidur sama sekali di malam hari. Terlalu khawatir akan keadaan suaminya."


"Memangnya apa sih yang disembunyikan Ki Yuan itu? Si tua wajah seram yang selalu sembunyi-sembunyi dalam membuat obat!" koki itu terlihat tak senang. Cepat-cepat si pelayan berkata setengah berbisik.

__ADS_1


"Huss...bicara apa kau? Kalau dia dengar bagaimana?"


"Biarlah! Kita ini tuan rumah, dia hanya pengembara yang sifatnya aneh. Seharusnya dia secara berterus terang memberitahu semua orang akan obatnya!" koki itu membantah.


"Sudahlah, setidaknya tuan muda tahu akan hal itu. Lebih baik kau kembali, aku hendak mencuci gelas kotor ini."


Koki itu mengangguk dan pergi ke arah dapur tadi. Begitu sampai di dapur, ia mengumpat karena kehilangan satu ayamnya yang tadi berjumlah tiga potong di dalam piring.


Melihat keadaan yang sudah aman, Sung Han keluar dari tempat sembunyinya. Begitu tiba di ujung lorong tempat percakapan tadi dilakukan, Sung Han langsung menuju ke kanan, ke arah sebaliknya dari pelayan tadi pergi. Karena dia menganggap pelayan itu baru saja dari kamar Kay Ji Kun.


Tak berselang lama, tibalah ia di ruangan luas yang membuat ia mengeluh kesal. Ruangan luas ini entah digunakan untuk apa, tapi agaknya cukup penting melihat tilam permadani sebagai alasnya. Sungguhpun tak ada apa pun selain benda itu, selain pintu di ujung ruangan.


"Siapa itu!"


Tiba-tiba terdengar suara wanita yang muncul dari belakang pintu itu. Beruntung bagi Sung Han, ia tadi belum terlalu ke tengah ruangan sehingga masih terlindung gelap.


Teringatlah akan kakek aneh yang berjalan terbalik di rumah terbalik itu. Maka ia lekas meloncat ke langit-langit sambil mengerahkan tenaga dalam pada kaki. Begitu tiba di atas, ia melekat macam kelelawar.


Ketika wanita itu berbalik dan hendak masuk ke dalam ruangan sebelumnya, Sung Han bertindak cepat untuk menotok pingsan menggunakan tulang ayam tadi. Ia pondong tubuh itu untuk cepat-cepat masuk ke kamar dan meletakkannya di atas lantai.


"Maaf nyonya, aku tak bisa kurang ajar menyentuh istri orang." gumamnya sambil menjura.


Ruangan di sini gelap, terlalu gelap bagi Sung Han untuk melakukan penyelidikan. Namun di ujung ruangan, ada lampu lilin yang menerangi sebagian kecil kamar. Ada pun pembaringan yang juga tersinari cahaya lilin. Satu sosok terbaring lemas di sana.


"Itukah Kay Ji Kun?" Sung Han berjalan mendekat. Ia terkejut melihat wajah Kay Ji Kun yang demikian memprihatinkan. Walaupun dalam keadaan tidur, namun terlihat masih amat tersiksa.


Sung Han memandang prihatin. Ia lalu menoleh ke arah meja untuk menemukan gelas kayu terisi setengah cairan merah. Ini adalah obat yang sama seperti yang dibawa pelayan tadi.


"Bagaimana baunya?" gumamnya penasaran dan mendekatkan hidung. Hampir saja ia menjerit kalau tidak cepat-cepat mencekik leher sendiri. Kepalanya langsung menjadi pening dan matanya berkunang.


"Apa ini? Terlalu wangi dan....manis sekali!!" ia merasa ngeri. Sung Han mencoba sekali lagi, namun ia melindungi hidung dan kepalanya dengan tenaga dalam, sehingga efek "pukulan" dari obat itu jauh berkurang.

__ADS_1


Sampai beberapa menit Sung Han mengendus-endus obat berwarna merah gelap itu. Sampai lama kelamaan, wajahnya makin pucat dan matanya melebar.


"Ini....darah...?"


Makin lama ia mencium, makin tercium jelaslah bau amis di sana yang merupakan amis darah.


"Breet."


Sung Han kaget dan siap dengan tangannya yang teraliri tenaga dalam. Hampir saja ia menggebuk pecah kepala orang kalau tidak sadar akan siapa yang menarik jubahnya.


"Haus...." rintih Kay Ji Kun menarik-narik jubah Sung Han lemah. Dia pasti mengira saat ini Sung Han adalah istrinya.


Sung Han mencari air, tapi tidak menemukan air lain selain darah itu. Dia menjadi bingung, maka pilihan terakhir adalah menyerahkan kepada istrinya itu.


Ia renggut tangannya, bergerak cepat menotok istri Kay Ji Kun yang menjadi sadar kembali. Namun dengan gerakan kilat, Sung Han sudah keluar kamar melalui pintu dan menuju dapur tadi untuk kemudian lari melalui genteng. Tak lupa ia letakkan tulang ayam goreng ke piring semula. Untung bahwa koki tadi sudah tidak ada.


Hal pertama yang hendak ia lakukan setelah melakukan penyelidikan langsung ke kamar Kay Ji Kun adalah, mencari tahu tentang racun itu. Racun yang amat aneh dan ganas.


Kemdian, sekilas tadi ia lihat mata Kay Ji Kun yang tidak lagi berwarna normal. Maka tahulah ia berusaha untuk menyelamatkan orang itu hanya sia-sia.


Gurunya dulu pernah berkata, bahwasannya jika seseorang terkena racun, ia masih ada kesempatan tertolong. Namun sudah jauh terlambat jika racun itu berhasil merubah warna mata. Hal yang sama persis dialami Kay Ji Kun.


"Sebenarnya siapa yang mampu membuat dia seperti itu? Apakah Hati Iblis lagi? Atau ada pendekar lain?"


Pertanyaan Sung Han kian menumpuk setiap kali ia memikirkannya. Maka malam itu, ia membulatkan tekad, besok pagi ia terpaksa harus mendatangi perpustakaan yang dijaga bidadari itu.


"Sial, semoga aku tidak lengah besok."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2