
Karena memang kejadian pemaksaan itu dilakukan di luar desa, maka tidak ada seorang pun yang mengetahui. Ditambah kepandaian dua puluhan ronin itu cukup tinggi, sehingga mudah saja menangkap dua belas biksuni bersama Yu Ping itu tanpa hambatan dan menimbulkan keributan.
Para ronin ini memboyong belasan orang itu ke dalam hutan sambil tertawa-tawa. Begitu puas dan gembira sekali. Mulut terbuka lebar menampakkan serentetan gigi mereka yang bahkan sudah tak utuh lagi. Mungkin akibat perang.
Sesekali mereka dengan kurang ajarnya colek sana colek sini. Para biksuni yang dalam keadaan dibelenggu dan ditotok itu hanya mampu merintih dan menyerukan doa-doa mereka meminta keselamatan.
Yu Ping tidak pernah menjadi biksuni, bahkan tak berniat juga tak minat. Namun sedikit banyak dia juga sering mendengar saudari-saudarinya itu membaca doa-doa nereka. Maka dia juga mampu menguasai doa-doa itu pula.
Entah kenapa, ia juga ikut memanjatkan doa-doa itu sungguhpun tidak yakin apakah akan ada efeknya. Karena dalam keadaan seperti ini, kepandaiannya pun kurang bisa diandalkan.
"Terakhir kali dia muncul di utara." kata pemimpin rombongan ronin. "Mungkin sekarang akan mulai bergerak ke selatan setelah sebelumnya mengobrak-abrik ronin utara sana."
Seorang temannya, yang berjalan di sisi kanan, mengerutkan kening. "Apakah ini tindakan yang benar?"
"Kau merasa kasihan dengan para wanita gundul ini?"
Dia menggeleng. "Bukan. Aku khawatir dengan orang itu. Jelas Sung Han sudah mati, dia bukan Sung Han. Entah siapa," dia berhenti berkata seraya mengamati sekeliling. "Agaknya bangsa Chang telah melahirkan tokoh baru."
"Takut apa?" kata pimpinan acuh. "Mau itu Sung Han atau siapapun, yang jelas kita dapat hiburan malam ini. Hahaha!"
Ucapan ini disambut gelak tawa oleh kawan-kawannya. Mereka menjadi lebih bersemangat lagi. Dan hal ini membuat para biksuni itu makin ketakutan. Hanya pimpinan biksuni yang sudah tua itu saja terlihat tenang.
Salahs seorang menegurnya. "Kau tak merasa khawatir akan orang-orangmu?" dia mendekatkan wajahnya. "Ah, aku tahu. Karena kau tak akan diganggu, maka kau tenang-tenang saja kan? Hahaha..."
Si nenek itu menghela napas. "Kebatilan tak pernah berakhir baik."
"Hahaha!!!"
Mereka tertawa makin kencang karena merasa geli dengan sikap nenek itu yang masih sempat berceramah di situasi seperti ini. Namun melihat nenek itu tenang-tenang saja, membuat rasa ngeri para biksuni lain sedikit berkurang.
Mereka akhirnya tiba di sebuah lembah yang cukup lapang. Lalu pimpinan ronin memerintahkan mereka untuk berhenti dan membuat api unggun besar. Menunggu datangnya malam.
"Ikat mereka semua!" demikian perintahnya.
Orang-orang itu segera menebang pohon-pohon yang tersebar di sana. Menancapkannya dalam ke dalam tanah, lalu mengikat para sandera itu dengan tali tebal.
"Nah, kita tunggu kedatangannya di sini, sambil menikmati pemandangan!"
__ADS_1
Mereka lalu duduk dan memakan bekal yang sudah dibawa masing-masing. Sambil makan ini, agaknya mereka benar-benar hendak melecehkan para biksuni itu. Karena mereka memandang ke arah belasan orang terikat itu dengan pandangan buas.
Para biksuni itu merasa jengah, berusaha menutup mata erat-erat dan dalam hati selalu memanjatkan doa.
Yang paling merasa jengah dan risih adalah Yu Ping. Bagaimana pun juga, rambut wanita juga termasuk dalam pesona mereka yang cukup kuat. Sehingga Yu Ping memjadi tampak sangat mencolok di tengah kumpulan wanita gundul itu.
"Bangsat....keparat..."
Yu Ping sudah berhenti merapal doa dan dari mulutnya mulai terdengar segala macam umpatan yang paling kasar. Tapi hal ini justru menambah semangat para ronin itu.
Menunggu waktu dari siang sampai malam itu terasa makin lama baik bagi ronin yang menunggu-nunggu maupun bagi rombongan biksuni yang berharap tak pernah terjadi malam. Rasanya bagi para biksuni itu seperti bertahun-tahun dalam keadaan terikat.
Ketika malam tiba, para ronin itu membawa tubuhnya bangkut dan mulai mendekati mereka. Satu persatu dibukalah ikatan tali itu sambil tertawa cekikikan.
"Hyaaahh!!"
Yu Ping dengan nekat mencoba melawan, mengirim satu tamparan keras mengaeah wajah salah satu dari mereka. Namun karena baru saja lolos, sehingga tangannya menjadi pegal dan nyeri bukan main, membuat gerakannya kacau serta kaku. Orang itu dapat menghindarinya dengan mudah bahkan segera membantingnya.
"Hahaha, silahkan pilih, asal jangan rebutan!" teriak pemimpin ronin itu.
Xian Fa sampai di salah satu jalan masuk desa tempat tujuannya ketika dia melihat ada sesuatu yang menarik perhatian di pinggir jalan.
Jalan masuk desa masih cukup jauh, namun dari sini sudah terlihat. Namun dia merasa heran mengapa ada benda itu di sini sedangkan tidak terlihat satu pun kuil di sekitar desa.
Xian Fa menghampiri benda itu dan memungutnya. Sebuah tasbih pendeta. Yang dibuat dari kayu yang dibentuk bulat-bulat besar. Xian Fa mengerutkan kening.
"Hm...seperti sengaja diletakkan di sini." gumamnya ketika secara tak sengaja dia melihat rumput-rumput di depan. Terlihat jelas jika sebelumnya ada orang lewat di sana.
Xian Fa memandangi beberapa saat lamanya, lalu pergi dari sana.
Beberapa jam setelah itu, sore hari tiba. Ketika itu, Xian Fa kembali lagi ke tempat ditemukannya tasbih dan memandang rumput-rumput itu.
"Baru ingat, milik siapa tasbih ini..." Xian Fa memandangi tasbih itu sekali lagi dan menelitinya lamat-lamat. "Ini milik mereka, ya, pasti aku tak salah lihat."
Kemudian pemuda ini memutuskan untuk pergi menyusuri jalan itu. Sebenarnya dia hendak bermalam di desa karena hari sudah mencapai senja, namun tasbih ini benar-benar mengganggu pikirannya.
Setelah beberapa saat memasuki desa, anehnya, ada beberapa burung kecil yang seolah memandu jalannya. Awalnya Xian Fa tak memerhatikan ini, namun ketika dia keluar jalur untuk sekedar iseng memetik daun merah, burung itu bercuitan dan berputar-putar di atas kepalanya. Begitu dia sudah melewati jalan yang benar, burung itu hanya diam dan memandu dia dari depan.
__ADS_1
Beberapa kali ia coba untuk membelok, selalu saja beberapa burung itu menjadi berisik dan seolah marah padanya. Mau tak mau Xian Fa tersenyum, aneh sekali mereka. Aneh tapi nyata.
Burung-burung itu seolah sedang terburu-buru, maka Xian Fa mulai berlari. Makin cepat dan cepat untuk mengimbangi gerak terbang burung-burung itu.
Lalu burung-burung itu tiba-tiba saja bergerak naik dan bubar. Xian Fa tak perlu memahami kejadian itu karena dia berpikir pasti tempatnya sudah dekat atau malah sudah sampai.
Malam telah tiba dan ini sedikit menyulitkannya. Namun di depan sana dia dapat melihat sebuah api unggun besar dan bayangan banyak manusia. Segera ia memelesat ke arah itu untuk mengintai.
Akan tetapi baru saja dia sampai, belum sempat menghentikan langkah ketika dia melihat pemandangan itu. Wajahnya memerah, matanya melotot sampai urat-uratnya nampak jelas. Dan saat itu pula, terdengar suara gerengan dari dalam tenggorokannya yang segera mengejutkan semua orang di sana.
"Siapa itu?"
Para ronin itu sudah bersiap sedangkan para biksuni sudah pucat saring rangkul satu sama lain. Hampir saja mereka diperkosa jika tidak muncul suara gerengan barusan. Sebuah suara yang agaknya berasal dari singa atau macan.
Nenek biksuni itu tersenyum. "Nah, kalian menemui batunya."
"Diam!"
Para ronin itu makin panik ketika tak melihat satu sosok pun nampak di sana. Sebelumnya mereka sudah merasa yakin bahwasannya di hutan ini hanya ada mereka, bahkan untuk memancing setan Sung Han datang pun sebenarnya hanya kedok belaka. Mereka tak benar-benar ingin memanggil setan pemuda itu kecuali hanya untuk bermain gila dengan para biksuni itu.
"Demit atau setan, keluarlah jika kau punya keberanian!" teriak si pimpinan ronin yang seolah sudah merasa yakin jika lawannya kali ini bukan manusia.
"Peliharaan-peliharaannya pangeran Nakagi, kalian mau apa hendak mencelakakan orangnya bangsa Chang?" ucap suara itu, menggema ke seluruh penjuru hutan.
Pimpinan ronin itu menyeringai sinis. "Sudah jelas kan, kami merupakan penjajah negeri kalian. Ini merupakan hal biasa."
Tiba-tiba ada bayangan berkelebat yang langsung menghantam wajah pimpinan itu. Dia berteriak kaget namun hanya sekejap saja karena teman-temannya sudah melihat benda apa itu.
"Tasbih?"
Mendengar ini, para biksuni itu memandang heran. Kemudian serentak mereka menolehkan pandangan ke nenek pimpinan itu.
"Kita selamat, semoga saja," ucap nenek itu tenang, sambil tersenyum sabar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1