Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 243 – Pernikahan yang Terburu-Buru


__ADS_3

Kemanakah perginya Sung Han dan Sung Hwa? Mengapa sepasang kekasih muda itu tiba-tiba lenyap tak berbekas? Setelah mencari keberadaan orang-orang Jeiji dan tidak membuahkan hasil, apakah mereka memutuskan untuk menarik diri dari dunia persilatan dan hidup terasing?


Semua ini akan terjawab ketika kita mengikuti perjalanan mereka beberapa bulan yang lalu.


Waktu itu, saking frustasi dan jengkelnya Sung Han saat tidak menemukan satu pun petunjuk tentang musuh-musuh mereka, dia mengajak Sung Hwa untuk mengistirahatkan diri di sebuah telaga di kaki gunung.


Tempat itu amat sunyi, jika Sung Han tak ingat tugasnya dan melupakan kewajibannya sebagai pewaris Goa Emas, maka sudah pasti dia nanti akan memilih tempat ini untuk tinggal berdua bersama Sung Hwa.


Sung Hwa sama sekali tak membantah ketika diajak Sung Han pergi ke tempat ini. Makin lama, jika diperhatikan, gadis ini jadi lebih pendiam dan penurut. Tidak banyak rewel seperti saat pertama kali mereka melakukan perjalanan bersama. Sedikit banyak ini memudahkan Sung Han.


Saat setelah tiga hari mereka tinggal di sana, tiba-tiba Sung Han yang kala itu duduk di pondok kecil buatannya, dikejutkan dengan teriakan melengking seorang wanita.


"Aaaahhhh!!!"


Sung Han terperanjat. Dia kenal suara itu. Suara kekasihnya, Sung Hwa!


Maka cepat pemuda ini bangkit dari duduk bersilanya dan segera menghambur ke luar. Posisi gubuknya ada di atas sebuah bukit, sehingga untuk melihat danau, dia harus merunduk di pinggiran tebing yang terdapat sebuah air terjun.


"Sung Hwa, ada apa?" serunya ketika tak melihat suatu apa pun yang membahayakan diri Sung Hwa. "Jangan mengejutkanku tiba-tiba!"


Sung Hwa yang kala itu sedang mencuci baju, mengirimkan tatapan tajam ke arah Sung Han yang berdiri di atas tebing. "Lihat itu!" sergahnya sembari menunjuk ke satu arah.


Sung Han mengikuti arah yang ditunjuk itu dan seketika dia terbelalak. Buru-buru ia lari turun ke bawah dan menghampiri benda yang tadi ditunjuk Sung Hwa itu.


Kini Sung Han maklum mengapa Sung Hwa berteriak amat kencang seperti itu. Bagaimanapun juga, segagah-gagahnya seorang pendekar, tetap saja Sung Hwa adalah wanita tulen. Tentu saja dia terkejut dengan kemunculan benda itu yang seperti setan. Tiba-tiba ada di sana.


Sung Han menjatuhkan dirinya berlutut. Ia berkata dengan sikap hormat sekali. "Guru ...."


Itu adalah sebuah peti mati hitam yang bersandar pada batang pohon. Sikap Sung Hwa tidaklah berlebihan, karena siapa tidak menjadi takut ketika tiba-tiba ada sebuah peti mati yang berdiri di sana? Sedangkan sebelumnya sama sekali tidak ada sesuatu apa pun.


Sikap dan ucapan ini membuat Sung Hwa kebingungan. Tanpa berani mendekat, dari jauh ia meneriaki Sung Han. "Apa yang kau lakukan?"


Sung Han tak menjawab, melainkan meliriknya dan meletakkan jari telunjuk ke bibir. Menyuruhnya untuk diam.


Peti itu bergerak sedikit sebelum pintunya terbuka perlahan. Suara mengekeret terdengar memuakkan sampai membuat Sung Hwa menutup kedua telinga. Sesaat setelah peti terbuka, Sung Hwa hampir saja kembali menjerit jika tidak cepat-cepat menggigit telapak tangannya sendiri.


Peti itu berisi mayat! Mayat hidup! Karena dia mampu bergerak dengan mata terbuka. Setidaknya itulah yang dipikirkan Sung Hwa.


Ketika penghuni peti keluar, lebih dulu dia mengamati Sung Hwa penuh perhatian. Sung Hwa merasakan lututnya lemas dan seluruh tubuhnya kesemutan, tanpa mampu dicegah dia jatuh terduduk di atas sungai.


"Siapa?" gumamnya. Entah ditujukan kepada siapa.

__ADS_1


"Namanya Sung Hwa, guru."


"Sung Hwa? Marga Sung?" ulang Tok Ciauw sembari terus meneliti Sung Hwa. "Kakakmu? Atau adikmu? Atau siapa?"


"Bukan siapa-siapa, hanya saja ... em ... dia ini masih bermarga Sung."


Tok Ciauw menyipitkan matanya. Dia yang sudah berumur telah memiliki pandangan tajam sekali sehingga jika ada ketidak wajaran dalam ucapan atau perilaku seseorang, dia bisa melihat itu.


"Siapa dia?" tanyanya sekali lagi. Kini terdengar lebih tegas. "Ada yang mau kubicarakan denganmu. Dan aku harus memutuskan apakah dia ini boleh mendengar atau tidak."


"Dia kekasih saya, guru," jawab Sung Han sedikit gugup dengan semburat merah di kedua pipi.


Tok Ciauw sedikit melebarkan matanya. "Ternyata orang sepertimu bisa cari gadis yang cantik juga, ya? Tajam sekali matamu."


Sung Han makin menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu baiklah, akan kubicarakan di depan kalian. Sung Han, dengar, kau harus segera pulang."


Sung Han terhenyak. "Tapi, guru, masih banyak urusan–"


"Kita akan melakukan upacara pernikahan di sini sebelum kau pulang." Tok Ciauw memutuskan sepihak. Sebelum Sung Han dapat membantah lagi, dia sudah kembali bicara. "Tak perlu upacara besar-besaran, biarlah kukabari kawan-kawanku sebagai saksi."


Tanpa menanti jawaban, Tok Ciauw sudah memasuki petinya lagi dan pergi dari sana. Seperginya dia, sampai lama Sung Han masih berlutut dan Sung Hwa masih dalam keadaan semula.


"S-Sung Hwa ...?" pemuda itu menoleh, tatapannya sulit. "Maaf saja, tapi dia tak bisa dibantah."


Sung Hwa masih dalam keadaan duduk, pagi ini dia segera dihadapkan dengan kejadian-kejadian mengejutkan yang luar biasa. Kedatangan peti mati secara tiba-tiba, mayat hidup dan pernikahan dengan Sung Han.


"Lagi pula, aku pewaris pedang gerhana," Sung Hwa akhirnya dapat bicara. "Mungkin ini bagian dari kutukan itu?"


Dia masih terlalu terguncang bahkan untuk bersikap terkejut.


...****************...


Kiranya Tok Ciauw memanggil kawan-kawannya yang berada di sekitar gunung itu. Para pertapa yang baru Sung Han sadari banyak berada di sana. Mereka melakukan upacara sekadarnya, bahkan tak ada hidangan sama sekali kecuali buah-buahan hutan.


Setelah semuanya selesai, dengan anehnya Tok Ciauw berkata kepada para tamu seolah sedang mengusir lalat.


"Nah, sudah selesai. Pulanglah."


Dan anehnya, tak ada yang membantah ucapan itu. Mereka lalu bangkit dan menjura sebelum benar-benar pergi dari sana. Sung Han diam-diam berpikir apakah teman gurunya itu sikapnya sama sepertinya, seorang mayat hidup?

__ADS_1


"Baiklah, segeralah pulang!" kata Tok Ciauw sebelum masuk ke dalam petinya.


"Tunggu, guru!" cegah Sung Han. "Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa semuanya serba mendadak seperti ini. Aku–"


"Kau tak senang menikah dengannya?" tanyanya penuh selidik.


Tanpa dapat dicegah lagi kedua pipi Sung Han memerah. "Saya senang!" serunya lantang. "Hanya saja saya bingung ada apa ini sebenarnya? Kenapa guru tiba-tiba memutuskan untuk pergi dari goa dan menyruh saya pulang?"


Tok Ciauw diam sampai beberapa saat lamanya, membiarkan angin berhembus di sekeliling mereka. Berkali-kali terdengar helaan napas panjang, lalu kakek itu duduk di salah satu batu sebelum mengajak keduanya duduk pula.


"Dengar ceritaku," ujarnya sesaat setelah Sung Han dan Sung Hwa memilih tempat nyaman untuk duduk. "Beberapa hari lalu, ada seseorang yang datang ke goa dan menyampaikan bahwa Pertapa Sunyi memanggilku. Hendak bicara."


"Pertapa Sunyi?"


"Tiga pertapa yang dahulu itu jadi penengah pertempuran pedang gerhana," jawab Tok Ciauw terdengar acuh. "Mereka bilang, mereka butuh bantuanku."


Sung Han sama sekali tidak merasa lebih baik dengan itu. Dia masih penasaran. "Tapi bantuan apa?"


"Entah," jawab gurunya jujur. "Maka dari itulah kau kuperintahkan pulang untuk menjaga goa. Bersama istrimu. Kau jangan pura-pura tak senang, Sung Han. Aku tahu kau sangat ingin agar aku cepat-cepat pergi dari sini."


Sung Hwa terperanjat. Dia menahan jeritnya.


"Guru, jangan begitu!" sergah Sung Han jengah. "Jujur saja, ini terlalu tiba-tiba."


"Tak mengapa, kau tenang saja." Gurunya mengibaskan tangan. Dia menatap Sung Hwa. "Apakah dia pewaris pedang gerhana?"


Tak mendengar jawaban dari muridnya, Tok Ciauw tertawa. "Hahaha, kalau begitu berarti memang sudah jodoh. Sudahlah, aku mau pergi. Kau tak usah buru-buru pulang, nikmati perjalananmu."


Tok Ciauw meloncat berdiri dan melesat ke dalam peti matinya. Tanpa berkata apa-apa lagi, peti itu melompat-lompat dan sebentar saja sudah jauh sekali.


Sung Han dan Sung Hwa larut dalam keheningan. Bahkan dua orang muda itu sama sekali tidak berani saling pandang. Semuanya begitu tiba-tiba dan mereka belum siap mental.


"Em ... Sung Hwa? Aku–"


"Masih siang, bersabarlah sedikit," potong Sung Hwa cepat. Nadanya sedikit gemetar. "Padahal aku belum menyampaikan persetujuanku."


"Hehe, jika kau tak setuju, aku ragu bahkan guruku mampu memaksamu." Sung Han terkekeh.


"Sialan!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2