Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter 56 – Hujan Panah dan Batu


__ADS_3

Wajah Sung Han dan Kay Su Tek memucat sama seperti semua orang. Melihat kejadian itu, tubuh mereka menjadi kaku dan seolah melupakan pertempuran sebelumnya, semuanya berhenti dan terpaku.


Batu-batu sebesar perut kerbau itu masih terus berjatuhan sungguhpun jalan telah tertutup rapat. Kejadian itu baru berhenti setelah gundukan batu telah mencapai tinggi kurang lebih sepuluh meter.


"Bao Leng...." gumam Sung Han ngeri jika mengingat bagaimana cara mati Bao Leng tadi. Ia tak sanggup memandang lagi.


"Ini jebakan!!!!" suara nyaring Kay Su Tek menyadarkan mereka semua, segera saja keadaan di dasar jurang itu menjadi ramai sekali. Semua orang panik.


"Tuan muda..."


Ternyata orang-orang Perguruan Awan sudah datang mendekat dan segera menghampiri tuan muda mereka yang telah buntung tangannya. Mereka lantas menatap prihatin, ada juga yang marah.


"Hiraukan aku, sekarang lebih baik cari akal untuk keluar dari sini!!" ujar Kay Su Tek memberi perintah, "Entah siapa yang menjadi dalang semua ini."


Sung Han sudah berdiri dan memandang ke mulut jurang yang ada di atas sana. Matanya memicing tajam ketika melihat bayangan-bayangan manusia bergerak mengurung di segala sisi.


Perasaannya tidak enak, melihat kerumunan membuatnya langsung menduga bahwa mereka itulah dalangnya. Dan agaknya itu memang benar ketika dia melihat kejadian selanjutnya.


"Diam dan lihat!!" bentak Sung Han menunjuk ke atas jurang.


Refleks semua orang memandang ke atas. Terlihat di sana banyak sekali manusia yang membentuk barusan rapi mengelilingi dasar goa. Yang membuat terkejut adalah, adanya sebatang gendewa di tangan masing-masing orang itu.


Orang-orang yang di bawah ini adalah para pendekar, tokoh kelas atas yang sudah berpengalaman. Maka melihat itu tahulah mereka jika kerumunan di atas sana tidak berniat baik.


Serentak mereka menyiapkan senjata, bersiaga untuk kejadian berikutnya.


Akan tetapi hati mereka tergetar ngeri ketika orang-orang di atas sana bukannya langsung memanah, justru lebih dulu melemparkan guci-guci besar ke bawah.


Yang membuat mereka semua terkejut adalah isi dari guci tersebut. Ketika guci pecah menghantam tanah, mengeluarkan cairan berkilat yang mudah sekali dikenali sebagai minyak.


"Gawat, kita akan dibakar!!"


"Ini benar-benar di luar dugaan, siapa mereka?"


"Jangan-jangan selama ini kita telah tertipu? Bukan itu Pedang Gerhana Bulan?"


Semua orang menjadi panik, tak terkecuali Kay Su Tek dan anggotanya. Agaknya hanya Sung Han yang masih tenang-tenang saja, dan si gadis cadar yang masih rebah lemas.


Mata Sung Han bergerak cepat ke sana-sini, menelusuri seluruh dinding dasar jurang ini untuk mencari sesuatu apa pun yang kiranya dapat digunakan untuk menyelamatkan diri.


Dan setelah beberapa saat melakukan pengecekan, ia melihat banyak sekali celah dinding batu yang cukup dimasuki satu sampai tiga orang. Hatinya merasa cukup lega.


"Su Tek, masuk ke celah-celah dinding itu." katanya langsung memanggil nama tanpa ragu, "Cepat!" bentaknya kemudian.

__ADS_1


Kay Su Tek segera bertindak, ia segera memerintahkan saudara-saudaranya untuk melakukan apa yang dikatakan Sung Han. Tapi baru saja mulutnya tertutup selepas memberi perintah, dari atas sana sudah terdengar suara berdesingan anak panah api.


"Wirr–wiirr!!"


"Celaka...Aaahhh!!!" korban pertama mati dengan dada tembus.


"Keparat!!"


Keadaan menjadi ricuh kacau balau. Semua orang sibuk menyelamatkan diri dari hujan panah api yang datang ratusan banyaknya itu. Karena ruangan ini terbatas, sungguhpun lebar namun tetap membuat mereka kesulitan sekali.


Anggota-anggota Perguruan Awan yang hendak menuju ke salah satu celah sudah tidak sempat karena kepala mereka telah tercium ujung panah. Membuat mereka mati seketika.


Sedangkan Sung Han dan Kay Su Tek, bertindak sebisanya untuk menghindar atau menangkis hujan anak panah. Kay Su Tek dengan pedangnya diputar di atas kepala, sedangkan Sung Han dengan tembakan-tembakan tenaga dalam.


Beberapa menit berselang, mereka yang masih sibuk berusaha menyelamatkan diri itu dikejutkan dengan gempa dahsyat disertai suara berdentum hebat. Kiranya itu adalah sebuah batu besar sekali, bahkan lebih besar dari batu-batu yang menutup jalan keluar.


Satu batu...


Tak sampai satu menit meluncur pula dua batu lain bahkan lebih besar.


"Craatt!!"


Tiga orang menjadi korban, tergencet batu besar itu dan tubuh mereka remuk seketika. Makin paniklah orang-orang.


Sung Han melihat ini, bergerak cepat ketika ada batu besar mengarah ke arahnya dan Kay Su Tek. Lekas ia melompat tinggi dan melakukan gerakan meninju, suara keras terdengar ketika batu itu pecah berkeping-keping.


Hal yang sama juga dilakukan oleh yang lainnya, namun mereka melakukannya secara bersamaan, dua atau tiga orang. Tidak ada yang berani memukul batu yang runtuh dari atas sendirian.


Tindakan yang dipelopori oleh Sung Han ini berhasil membuat si topeng emas yang memandang dari atas sana mencebik kesal. Diam-diam ia memuji kepandaian dan keberanian Sung Han, tapi di sisi lain ia mengumpat.


"Siapa anak itu!?" tanyanya membentak kepada seorang yang berdiri di sampingnya.


"Tidak ada seorang pun yang tahu tuan." jawab orang itu dan kembali melakukan tembakan-tembakan anak panah berapi.


Karena tindakan menghancurkan batu itu, membuat keadaan di bawah menjadi sedikit lebih aman. Mereka entah bagaimana bisa menjadi satu pemikiran, yaitu beberapa orang menangkis batu yang datang sedang sisanya menghalau hujan anak panah.


"Bagus, situasinya cukup terkendali." ujar Kay Su Tek sambil terus memutar pedang di atas kepala membentuk payung, "Tinggal menunggu persediaan anak panah dan batu habis."


Tapi keadaan yang terkendali ini tak bisa dikatakan cukup terkendali. Kay Su Tek agaknya lupa dengan minyak-minyak yang berasal dari guci tadi. Sehingga membuat tanah tempatnya berdiri menjadi mudah terbakar.


Dan benar saja, atas perintah topeng emas, hujan anak panah bukan lagi diarahkan kepada manusianya, melainkan mengarah ke tanah. Sehingga ketika api di ujung anak panah bertemu atau bergesekan dengan minyak, terciptalah bara api yang kian membesar.


"Bruuukkkk!!!"

__ADS_1


Batu sebesar kerbau itu kembali jatuh dan menewaskan seseorang. Pedang yang tersembul keluar dari balik himpitan batu itu adalah pedang gerhana palsu yang tadinya diperebutkan orang-orang. Maka tahulah siapa yang mati di sana.


Namun ada yang aneh, agaknya si pelempar batu ini bukan orang biasa. Terbukti ketika batu menghantam tanah, angin kencang timbul dan berhasil menerbangkan orang-orang di sekitarnya.


Hal ini tidak mengherankan karena si topeng emas dan penolong Yu Fei tadi sudah turun tangan. Dari atas sana mereka melempari batu-batu besar itu dengan pengerahan tenaga dalam, sehingga daya lontarnya tentu meningkat drastis.


"Brruukkk–boomm–boomm!!"


Batu-batu yang jatuh semakin besar semakin cepat. Kelompok yang tadinya bertugas memecah batu-batu itu sudah kelelahan dan hanya bisa menghalau hujan anak panah api saja. Sehingga beberapa saat kemudian keadaan terbalik, para pendekar terdesak.


"Aakkhhh!!"


Terdengar jerit melengking di salah satu sisi tepat ketika batu besar jatuh menghantam bumi. Karena jarak yang dirasa cukup dekat, Kay Su Tek dan Sung Han cepat menoleh untuk melihat.


Kiranya sosok itu adalah wanita bercadar dari Putri Elang. Dia tadi terkena daya hempasan dahsyat dari batu yang jatuh. Mengingat tubuhnya yang masih lemah, hal yang wajar jika dia terpertal sejauh itu.


Ada batu lagi yang jatuh dan mengarah pada gadis tersebut. Sung Han terbelalak dan hendak pergi menolong. Tapi ternyata sudah didahului oleh Kay Su Tek yang melesat cepat untuk menggendong si nona dan menyelamatkannya pada tempat aman.


"Booommm!!"


Batu besar jatuh dan membentuk sekat antara Sung Han dan Kay Su Tek.


"Su Tek, tak mungkin melawan lagi, cari celah di dinding!!" perintah Sung Han.


"Kau bagaimana? Di belakangku ada celah yang cukup besar, hancurkanlah batu ini dan ikut bersamaku."


Sung Han berbalik dan dengan cepat mencari-cari celah di dinding. Suara ribut kepanikan orang-orang membuat konsentrasinya buyar sehingga ia menjadi kesulitan.


Tapi akhirnya ia menemukan satu celah sempit yang cukup untuk satu orang. Cepat ia berbalik dan mendekatkan mulut pada batu pemisah, kemudian berteriak.


"Aku sudah menemukannya, kau bersembunyilah bersama nona–"


"Booommm!!!"


Batu yang lebih besar lagi mendarat tepat di sisi berseberangan Kay Su Tek berada. Baik pemuda itu dan si gadis menjadi pucat wajahnya mengetahui hal itu. Apalagi ketika mendengar ucapan Sung Han yang berhenti secara mendadak, membuat keduanya berpikir yang tidak-tidak.


"Sung Han!!" seru Kay Su Tek tanpa ada yang menjawab, "Sung Han!! Sung Han!!"


Dia terus memanggil keras, sampai ketika ada batu dan hujan panah berapi datang ke arahnya dan membuat ia terpaksa berlindung bersama si nona, Sung Han sudah tidak menjawab lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2