
Pagi hari itu, Xian Fa dan Han Ji pergi menghadap pamgeran Chang Song Ci yang merasa jengkel sekali kenapa baru dini hari gudang itu dapat dipadamkan. Dia sejak matahari terbit hingga terang tanah itu hanya dihabiskan dengan menggerutu di kamarnya.
"Pangeran sedang dalam keadaan yang kurang baik. Ibarat bagi kaum wanita, dia lagi datang purnama."
"Datang bulan," koreksi temannya.
"Nah, itu maksuku."
Xian Fa dan Han Ji saling pandang dengan kening berkerut. Mereka ini merupakan pengawal pribadi yang memiliki posisi tinggi di sini, dan sekarang permintaan mereka baru saja ditolak oleh seorang penjaga pintu?
Xian Fa berkata. "Saudara, ini masalah penting. Kumohon katakanlah kepada pangeran."
"Maaf saja adik kecil, tapi ini adalah perintah dari salah satu selirnya. Yang mengatakan untuk menolak siapa pun yang hendak bertemu pangeran," jawab penjaga gerbang itu.
"Ck, selir itu hanya tidak kebagian tadi malam. Dia ingin menghabiskan waktu seharian ini bersama pangeran, seharusnya kau tak terlalu menganggapnya serius," cela Han Ji. Wajahnya biasa saja. "Kami ini pengawal pribadi pangeran, " dia mengingatkan.
"Dan kami penjaga pintu kamar pangeran. Tak ada siapa pun juga yang boleh masuk tanpa seizin kami."
"Seizin pangeran," kembali temannya mengoreksi.
"Itulah maksud perkataanku."
Kembali Xian Fa dan Han Ji saling pandang. Keduanya berpikir, apakah hilangnya Naga Bertanduk, Burung Walet Hitam dan Hok Liu belum juga disadari oleh mereka?
Han Ji mengangguk pada Xian Fa. Dan pemuda ini tahu apa artinya itu. Kembali ia memandang penjaga pintu dan berkata dengan tegas. "Naga Bertanduk dan Walet Hitam lenyap tadi malam. Kupikir mereka ikut memadamkan gudang, ternyata entah pergi ke mana. Ketika kami susul, mereka sudah jadi mayat di hutan."
"Tunggu sebentar, aku akan segera melapor pada pengeran," kata salah satu penjaga dan segera masuk kamar. Beberapa saat kemudian dia keluar tanpa menutup pintu. "Silahkan."
Xian Fa dan Han Ji tersenyum, kemudian tanpa ragu masuk ke dalam kamar amat mewah milik pangeran itu. Keduanya tak sempat memerhatikan kanan dan kiri karena terlalu tegang.
Mereka memiliki pemikiran yang sama. Bukankah sekarang waktu yang tepat untuk menggorok leher pangeran. Itu terlalu mudah!
Namun baik Xian Fa dan Han Ji bukanlah orang-orang tolol. Jika itu mereka lakukan, satu-satunya cara untuk selamat dari serbuan anak buah pangeran dan kemarahan Serigala Tengah Malam adalah dengan membantai mereka semua. Dan itu amat sangat tidak mungkin mengingat jumlah pasukan yang di bawa ke tempat ini kurang lebih lima ratus orang banyaknya.
__ADS_1
"Pangeran," keduanya berlutut setelah tiba di hadapan pangeran yang diselimuti selir-selirnya.
"Ada apa?" tanyanya malas. "Jangan bicarakan hal-hal yang tidak penting. Aku sedang dalam suasana hati kurang bagus."
Xian Fa melirik Han Ji, kemudian wanita itu memberi tanda bahwa dia akan menyerahkan segala percakapan kepada Xian Fa. Pemuda itu menjawab. "Naga Bertanduk dan Walet Hitam telah tewas di tengah keributan kemarin. Dan pelakunya adalah Hok Liu. Maaf dia terlepas, kami tak cukup cepat melakukan pengejaran ketika dia sudah masuk ke jantung hutan."
Pangeran itu berteriak, meraung dan mengamuk. Menyambar sana-sini dan melempar apa pun yang bisa dilempar. Tiga selirnya terhempas hingga menghantam dinding dan salah satunya tewas seketika. Sedang dua orang lain menderita luka dalam yang lumayan.
Melihat reaksi itu, Xian Fa dan Han Ji hanya mampu menyembunyikan seringaian mereka.
...****************...
"Laporkan segala sesuatu yang ada di sana," pinta putri Chang Song Zhu kepada Gu Ren.
Setelah beberapa hari semenjak pertempuran di malam bersama Sung Han dan Sung Hwa yang menyamar dengan nama Xian Fa serta Han Ji itu, akhirnya Gu Ren berhasil sampai di kota raja dan menghadap taun putri di komplek istana.
Setelah kematian kaisar Chang Song Bian, kini orang-orang tuan putri yang telah disiapkan untuk menghadapi perang melawan saingannya sudah tak perlu bersembunyi lagi. Tidak seperti sebelumnya ketika sang putri dikurung dan harus bersikap penurut.
Kini setelah Chang Song Jue naik tahta, bahkan pemuda itu mengizinkan tindakan putri Song Zhu untuk mengumpulkan bala bantuan dari segala golongan. Maka saat ini para pembantu putri itu jika ingin bertemu, tak perlu untuk datang diam-diam seperti sebelumnya.
"Oh, ketua? Selamat pagi." Khong Tiat. Dialah orangnya. Dengan mata masih setengah terpejam dia menjura dalam penuh hormat kepada Gu Ren.
Sebentar kemudian wajah Gu Ren memerah, dia sudah bangkit dan mengeluarkan kipasnya. "Kau!!"
Namun sang putri, juga dengan wajahnya yang semerah tomat, telah bangkit dari duduknya dan menghadang di depan Gu Ren. "Saudara, dengar, jangan berpikir macam-macam. Kami tidak bertindak sejauh itu! Ingat, kami tidak melakukan apa-apa! Hanya saja tadi malam dia datang dan karena aku kasihan maka kusuruh dia menginap di sini."
Ucapan putri itu terdengar terburu-buru, akan tetapi Gu Ren masih sedikit meragukannya.
"B-benar, kan? Kan?" sang putri mendesak aambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya kepada para pelayan yang hanya bisa mengangguk.
Gu Ren menghela napas gusar. "Paduka, harap ingatlah posisi paduka." tegurnya.
Wajah putri itu merah sekali, nampak malu dan jengah. "Sungguh, kami tidak berbuat hal yang rendah," katanya. "Sudahlah, cepat ceritakan apa saja yang telah terjadi. Kanda, harap kau ikut mendengarkan."
__ADS_1
"Oh, panggilan yang manis sekali," batin Gu Ren.
Dengan sikap sungkan-sungkan yang terlihat jelas, Khong Tiat duduk di salah satu kursi. Karena dia duduk di kursi, maka tuan putri mempersilahkan Gu Ren untuk duduk di salah satu kursi pula.
"Aku sudah mendengar akan pencapaian besarmu," kata Gu Ren kepada Khong Tiat, mengabaikan tatapan mendesak dari Putri Song Zhu.
"Pencapaian?" bingung Khong Tiat.
"Menjadi kekasih paduka putri," lanjut Gu Ren dan ini membuat dua orang yang sudah cukup berumur itu tersipu seperti anak remaja yang baru mengenal lawan jenis. Mata Gu Ren menyipit tak senang. "Awas kalau kau macam-macam."
Khong Tiat menjatuhkan diri berlutut. "Saya bersumpah, tak akan pernah melakukan tindakan di luar norma dan aturan. Saya tak akan sudi merendahkan derajat paduka dengan berbuat hal semacam itu. Harap ketua maklum, apa yang disampaiakn paduka putri tadi benar adanya. Saya hanya beristirahat di sini."
Gu Ren terpaksa untuk percaya. Ia mengabaikan itu dan mulai menjelaskan semuanya. Soal penyusupannya ke tempat Chang Song Ci, pertemuannya dengan Xian Fa dan Han Ji. Lalu terakhir soal berhasilnya perampasan pusakanya dan pembunuhan Naga bertanduk serta Walet Hitam.
"Bagus, pencapaian besar. Sekarang kau boleh beristirahat," kata sang putri dengan mata berbinar.
"Terima kasih," Gu Ren bangkit dan menjura. Namun dia tak lekas pergi, sebaliknya matanya memandang tajam ke arah Khong Tiat. "Kupikir kau sudah cukup beristirahat."
"Ah, kau mengingatkanku, ketua. Benar, badanku sudah segar bugar. Aku akan pergi dari sini," Khong Tiat memaksa tertawa. Namun jelas nadanya sedikit tak senang dipaksa berpisah dari kekasihnya. Dia bangkit dan menjura kepada sang putri pula. "Saya mohon pamit, paduka."
Wanita itu mengangguk, bingung hendak bereaksi bagaimana. Memang walau dia tak melakukan hal-hal aneh, namun adanya Khong Tiat di istananya seolah dia baru saja mengeram seorang lelaki. Dia tak bisa banyak bicara saat ini.
"Tuan putri, sebenarnya, Xian Fa itu adalah Sung Han dan Han Ji itu adalah–"
"Sung Han si pemberontak?" sang putri bangkit dengan mata melotot. "Kenapa kau tak bilang?"
"Lebih penting dari pada itu, adalah Han Ji yang amat memercayainya," kata Gu Ren.
"Apa urusannya? Dia itu kawan pemberontak, berarti–"
"Han Ji berpesan kepada saya untuk menyampaikannya kepada paduka," dia berhenti sejenak setelah memotong ucapan sang putri. Merasa tak enak. Namun ketika dilihatnya wanita itu diam saja, Gu Ren melanjutkan. "Dia menyuruh saya untuk berkata kepada paduka bahwa, Sung Hwa baik-baik saja."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG