
Pintu di ruangan tergelap yang belum terjamah oleh tiga orang itu memperdengarkan sebuah suara berdenyit nyaring. Lalu disusul munculnya sosok pria tua yang sudah mereka semua kenal. Ia memegang obor di tangan kanan. Tatapannya dingin.
"Ki Yuan!!!" Kay Su Tek tak dapat menahan kemarahannya. Ia melompat, mengayunkan pedang kuat-kuat. Tindakan yang amat gegabah mengingat siapa itu Ki Yuan.
Dengan santai, Ki Yuan menutup pintu seolah tak melihat serangan itu. Namun begitu pintu tertutup rapat, tangan kirinya berkelebat dan menangkis pedang Kay Su Tek.
"Tring!!"
Pemuda itu kaget, mengira bahwa tangan tua Ki Yuan yang menangkis pedangnya. Tapi ternyata itu adalah gagang pintu yang tadi telah dicabut Ki Yuan untuk menangkis serangan barusan. Gagang itu terbuat dari besi.
"Setan!! Apa yang kau lakukan untuk membuat obat-obat itu hah!?"
Kay Su Tek kembali mengirim serangan. Ia menarik pedang dan menusuk tepat ke jantung. Berhasil dihindari dengan sempurna. Kemudian ia lanjutkan dengan penggalan dan sabetan mengarah pinggul begitu serangan kedua lolos. Tapi tiga serangan berturut-turut ini semuanya luput.
"Heheh...obat?" kekeh Ki Yuan yang akhirnya buka suara, "Gadis-gadis dan darah perawan mereka, semua itu aku gunakan untuk kemajuan ilmuku! Sedangkan obat? Hmph, hanya kulakukan agar aku terlihat seperti menepati janji."
"Heyaaaahhh!"
"Trang!"
Ki Yuan melompat mundur, mulutnya menyeringai. "Adakah tuntutanmu tuan muda, sebelum kukirim ke kerak neraka?"
"Bangsat! Apa yang kau lakukan, ayahku selalu merasa lebih baik setiap kali meminum darah itu!" sergah Kay Su Tek.
"Hahahahaha!!!" tawa keras Ki Yuan membahana, "Tentu saja, aku mencampur darah itu dengan obat wangi dan pemanis. Dua bahan itu biasa digunakan di toko roti, tapi aku memberinya lebih banyak lagi untuk menutupi amis darah. Jika ayahmu meminum itu menjadi lebih baik, jujur saja aku tak tahu akan hal itu. Mungkin hanyalah sugesti saja atau kelakuan aneh seseorang yang hendak mati."
"Keparaaaatt!" Kay Su Tek naik pitam, wajahnya merah padam.
"Heh...kau membawa teman...? Ki Yuan mengedarkan pandangannya, melihat Coa Ow yang juga memandangnya penuh dendam. Kemudian dia beralih kepada pemuda lain yang sedang membelakanginya.
"Hei, siapa engkau? Bukan orang sini kan?" sungguh tajam matanya yang mengetahui penyamaran Sung Han. Hanya sekali lihat saja, Ki Yuan sudah tahu sabuk ungu Sung Han bukan sabuk seragam Perguruan Awan.
"Hah?" Sung Han membalik dan memandang, matanya menyorot dingin. Tapi Ki Yuan malah kembali tertawa.
"Woah...apa-apaan tatapanmu itu? Ingin membuatku menjerit ketakutan? Hahahahah!!"
Sedetik kemudian, ia sudah melesat cepat menuju Sung Han yang tetap bergeming di tempat. Ki Yuan berseru.
"Matilah lebih dulu.....!!"
Tangannya terulur dan uap-uap merah mengepul tebal, menuju dada Sung Han. Tapi Sung Han tetap diam dan tak beranjak barang sejengkal. Hal ini membuat Kay Su Tek dan Coa Ow kaget bukan main.
"Menghindar!!" seru Kay Su Tek dan Coa Ow berbareng.
__ADS_1
Tapi betapa heran hati dua orang itu ketika melihat kejadian berikutnya. Bukannya menghindar, justru Kay Su Tek sendiri yang menghentikan pukulannya dan melompat jauh ke belakang. Diterangi sinar obor, wajah lelaki tua itu memucat.
"Tidak mungkin....." katanya bergetar, "Tidak mungkin secepat ini....tidak mungkin....mustahil....siluman!!" Ki Yuan histeris dan berlari menuju ke arah pintu yang tadi sudah dipatahkan gagangnya. Ia dobrak dan lari.
"Kejar! Di pintu itu adalah jalan keluar menuju sungai!" Kay Su Tek tanpa menunggu dua kawannya, sudah berlari menyusul. Diikuti Coa Ow yang lekas mengerahkan ilmu lari cepatnya.
Sedangkan Sung Han, dia malah memandang terbelalak. Bukan karena kepergian tiga orang itu, melainkan karena hal lain. Tepat ketika Ki Yuan lari mencapai pintu, ia melihat sekilas ada sosok yang berkelebat menghindari cahaya obor, menuju kegelapan.
Sung Han menajamkan penglihatannya dan makin yakinlah ia, ada sesuatu yang bergerak di kegelapan sana. Ia maju perlahan, tanpa mencabut pedangnya dan berjalan santai.
"Siapa di sana?" tegurnya dengan halus. "Aku datang menolong!" katanya kemudian.
"Swuushh!"
Sung Han terkejut tapi juga girang, kiranya masih ada yang hidup di ruangan ini. Ia merasakan angin pukulan hebat menyambar menuju wajahnya. Sebuah pukulan silat yang lumayan. Cepat ia miringkan kepala untuk mengelak.
"Plakk!"
"Aiihh!"
Si penyerang itu terkejut dan cepat-cepat melompat jauh dengan gerakan kaku yang canggung. Sedangkan Sung Han, ia bergetar dengan pipi memerah. Entah kenapa jantungnya berdebar.
"Apa yang menabrak wajahku tadi?" pekiknya dalam hati mengingat "sesuatu" yang menampar pipinya tadi bukanlah telapak tangan orang, melainkan sesuatu yang lembut dan aneh.
Hilang sudah pikiran aneh-anehnya, ia memandang di sudut ruangan gelap, seseorang dengan rambut riap-riapan. Entah dia siapa, tapi dari pantulan cahaya obor di matanya, ia memandang Sung Han penuh kemarahan.
"Grrrr...." ia menggeram.
Sung Han sudah bersiap. Entah apa itu ia yakin bahwa yang dihadapannya masih manusia tulen. Mengingat "sesuatu" yang menabrak wajahnya tadi, Sung Han yakin benar dia seorang perempuan dan mungkin sekali satu dari sekian banyak tawanan di sini.
"Aku tak berniat buruk." kata Sung Han mencoba bernegosiasi, "Jangan takut."
"Siapa yang membuatku takut? Kheheh...setelah semuanya, adakah sesuatu yang membuatku takut?" katanya aneh dengan kepala yang digerak-gerakkan secara ganjil, "Aku hanya tak mau, harapanku untuk hidup pupus karena kedatanganmu. Pergi! Aku masih bersikap lunak!!! Kuberitahu kau, dia masih perawan dan tak akan kubiarkan engkau menyentuhnya barang seujung rambut!"
Sung Han tentu saja menjadi heran, ia tak paham ke arah mana wanita itu membicarakan soal harapan hidup dan perawan, tapi otaknya berpikir keras.
Tiba-tiba, ia teringat kejadian sore tadi.
"Fang Chu...." gumamnya tanpa sadar yang membuat wanita di hadapannya mendesis seram.
"Kau sudah mengincarnya.....?"
Sung Han tak pedulikan lagi, ia justru berlari menuju ke arah mana wanita aneh itu datang. Obor di tangan yang hampir habis itu menjadi satu-satunya penerangan, maka dari itu ia harus buru-buru sebelum mati.
__ADS_1
"Ahhh!" Sung Han memekik kaget melihat seorang gadis muda, rebah tak berdaya dengan pakaian sobek-sobek. Tapi melihat keadaannya, dialah yang dalam kondisi paling baik di antara yang lain.
"Nona Fang!" tanpa sadar ia berseru dan mendekat. Ketika Sung Han berlutut untuk menolong, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring disusul suara bercuitan.
"Jangan sentuh!!"
"Ck, menyebalkan!" Sung Han mengumpat, "Aku datang dengan niat baik!!"
Selepas bentakan nyaring ini, Sung Han dengan refleks menggebukkan obornya ke belakang, mengarah wanita itu. Tapi diam-diam ia sudah pergunakan tenaga dalamnya untuk melapisi api agar jangan sampai melukai tubuh orang.
"Prakkk!"
"Wahhh!!"
Sung Han sendiri yang terkejut sampai terjatuh. Wajahnya memerah bukan main ketika api obor itu menabrak tubuh seseorang dan padam seketika.
Ia langsung bersujud di hadapan wanita yang sedang pingsan itu.
"Maafkan kelancanganku! Tak pernah kusangka kau tidak memakai apa-apa, biarkan aku mencari penutup badanmu!"
...****************...
"Dia tak mengejar?"
"Trang-trang!"
Sembari sibuk menangkis serangan hebat dari dua pemuda itu, diam-diam Ki Yuan selalu melirik ke arah goa kecil yang menghubungkan dengan ruang bawah tanah. Hatinya heran juga ngeri memikirkan kenapa Sung Han tak lekas sampai.
"Heyyaahhh!" Coa Ow memekik ketika menusukkan pedangnya menuju lambung kanan.
Refleks Ki Yuan menangkis dengan mendorong bagian samping pedang. Kemudian serangan susulan dari Kay Su Tek yang mengarah kepala ia hindarkan dengan menundukkan badan. Hampir saja pedang itu menusuk mata Coa Ow kalau dia tak cepat-cepat menghindar.
"Ini kesempatan emas!" Ki Yuan menjadi girang dan mengerahkan tenaga sepenuhnya.
Kay Su Tek dan Coa Ow menjadi terkejut dengan peningkatan kemampuan lawannya yang begitu tiba-tiba. Mereka baru sadar kalau lawan mereka sejak tadi masih menahan diri.
Serangan-serangan Ki Yuan menjadi makin ganas dan berbahaya. Kali ini si tua itu tak mempedulikan goa kecil lagi dan memfokuskan diri sepenuhnya untuk membunuh dua lawan itu. Sambil terkekeh-kekeh, ia mainkan ilmunya yang didapat dengan menghisap darah perawan gadis-gadis. Sebuah ilmu setan yang membuat tangannya terselimut asap merah.
Tapi kesenangan itu hanya sekejap saja karena beberapa saat kemudian, terdengar bentakan nyaring yang nyaris merontokkan jantungnya.
"Cukup main-mainnya! Tuan muda dan Coa Ow, mundur!!"
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG