Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 185 – Orang yang Dihormatinya


__ADS_3

Kedatangan peti hitam itu sedikit banyak mengejutkan tokoh-tokoh yang ada di sana. Yang paling nampak terkejut adalah Sung Han bersama beberapa rombongan Kay Su Tek yang ikut duduk di tempat tinggi ini. Sedangkan untuk orang-orang Serigala Tengah Malam, hanya terperanjat saja, setelahnya mereka memandang penuh perhatian seolah sudah mengenal.


Peti itu nampak misterius sekali. Begitu tiba tidak bergerak sama sekali, akan tetapi Sung Han sudah mengenalnya. Inilah peti yang dahulu pernah hampir membunuhnya di depan goa yang dikatakan sebagai jalan rahasia.


Peti itu terbuka, mengeluarkan suara berderit memuakkan telinga. Begitu terlihat isinya, nampaklah pemandangan yang amat mengerikan. Seorang kakek yang bermuka seperti tengkorak dengan mata dan pipi cekung sekali. Tiba-tiba mata itu terbuka disusul gerakan tubuhnya yang melangkah keluar perlahan.


Tengkorak ini menyapu tempat sekitar dengan pandang matanya yang tajam mengerikan. Kemudian pandang mata itu terhenti tepat kepada Sung Han yang menjadi gugup dan menelan ludah susah payah.


Sampai lama Tok Ciauw memandangi Sung Han dan selama itu orang-orang merasa heran, juga seram. Ketika pangeran Chang Song Ci yang menggunakan topeng emas itu hendak menyapa, lebih dulu suara serak mengerikan dari Tok Ciauw terdengar.


"Betapa girang hati tuaku mengetahui kau masih sehat luar dalam. Bagaimana kabarmu anak muda?"


Semua orang terperanjat dan bangkit berdiri, lalu serentak menoleh ke arah Sung Han yang tadi diajak bicara. Begitu pula dengan topeng emas yang merasa heran sekali dengan ini, juga Kay Su Tek yang bertanya-tanya.


Orang-orang Serigala Tengah Malam merasa kaget karena cara bicara Tok Ciauw seolah sudah menjadi teman lama dari Sung Han. Dan rombongan Kay Su Tek merasa sedikit jeri karena mendengar jika pemuda ini adalah musuh ketua mereka, namun agaknya memiliki kekuatan besar dibelakangnya. Yaitu kakek inilah.


Sung Han yang paling kaget, tak kuasa menahan kagetnya dia sampai terlonjak berdiri. Ucapan tok Ciauw tadi seperti sapaan seorang kawan lama yang telah berpisah dan saling berjumpa kembali.


"A-aku...baik..." jawab Sung Han gugup dan dibalas anggukan oleh Tok Ciauw.


Hal ini saja sudah membuktikan bahwa tokoh tingkat tinggi seperti Tok Ciauw itu menghormati dan menghargai Sung Han. Bahkan kepada komplotannya, yaitu Serigala Tengah Malam, dia memandang sebelah mata dan lebih memilih menyapa Sung Han lebih dulu.


Setelahnya dia melirik ke arah rombongan Serigala Tengah Malam. Katanya seperti orang bergumam, namun cukup jelas.


"Tak kusangka kalian datang membawa pasukan banyak. Baguslah, kukira kalian termasuk golongan serigala tanpa nyali."


Perkataan ini demikian mengejek dan merendahkan. Kakek Burung Walet Hitam yang termasuk orang baru dan belum mengenal siapa kakek ini, sudah melompat maju dan membentak.


"Hei tengkorak! Berani-beraninya engkau selancang itu?!" bentaknya dengan jari telunjuk menuding wajah Tok Ciauw.

__ADS_1


"Hhh...." sambil mendengus, Tok Ciauw melakukan gerakan seperti mengusir nyamuk. Hanya begitu saja namun akibatnya hebat! Burung Walet Hitam yang merupakan pendekar sejati itu walau hanya perlahan namun tubuhnya terangkat dan bergeser ke samping!


Kemudian tanpa menghiraukan seruan-seruan kaget dan penuh kagum dari orang-orang, dia berkata lagi kepada topeng emas. "Aku sudah menutup dan menyukarkan jalur melalui pantai. Pasukan sebanyak itu pasti butuh usaha lebih untuk mendaki ke goa. Sekarang apa keputusanmu?"


Pertanyaan yang diajukan oleh Tok Ciauw itu hanya pertanyaan biasa. Namun entah mengapa bahkan topeng emas sendiri pun merasa mengkirik juga. Namun dia mencoba tenang dan mengambil keputusan.


"Kita melalui jalan rahasia menuju ke tempat goa itu. Lalu menghadang mereka melalui jalur yang telah kau persulit itu." akhirnya Chang Song Ci mengambil keputusan.


Tok Ciauw hanya mengangguk acuh tak acuh. Kemudian dia kembali ke petinya dan menutupkan pintunya.


"Tunggu sebentar, siapa kau yang berani begitu lancang terhadap ketua kami?" Burung Walet Hitam yang masih merasa penasaran itu menendang peti hitam dengan sekuat tenaga. Peti itu bergoyang sedikit, hampir jatuh.


Namun pada saat itu, para anggota lama Serigala Tengah Malam menjadi terbelalak dengan muka pucat. Topeng emas cepat membentak dengan suaranya yang menggeledek, "Jangan lancang kau, mundur!!!"


"Tapi ketua..."


Baru juga Burung Walet itu hendak mengajukan keberatannya ketika tiba-tiba kepalanya telah dipegang orang dari belakang.


Kakek ini merasakan sensasi dingin di punggungnya. Dia merupakan seorang pendekar tingkat tinggi, bahkan tingkat lanjut. Namun ketika Tok Ciauw keluar dari peti dan memegang kepalanya, dia sama sekali tidak dengar!! Hal ini hanya berarti jika kesaktian penghuni peti itu sudah melampaui batas!


Tangan kiri Tok Ciauw sudah bergerak cepat hendak menusuk tubuh Walet Hitam dari belakang. Namun ada suara muda yang berhasil menghentikan gerakannya tepat satu jengkal sebelum kuku jarinya menghantam punggung Walet Hitam.


"Senior merupakan tokoh tua, harap sadar akan posisi itu!!"


Bentakan ini keluar dari mulut Kay Su Tek yang memandang tajam. Dia maju beberapa langkah mendekati Tok Ciauw, "Dalam keadaan seperti ini, tidak baik saling gempur antara kawan sendiri."


Tok Ciauw meliriknya sengit, "Kau tahu apa? Dan siapakah engkau?"


"Aku Kay Su Tek, ketua persilatan golongan hitam." jawab Kay Su Tek tegas.

__ADS_1


Tok Ciauw mengamatinya lamat-lamat. "Dan kau bangga akan julukan itu?" pertanyaan ini mengandung getaran yang demikian kuat. "Apa urusannya dengan Goa Emas?"


Kay Su Tek tanpa sadar mundur selangkah, "Kami hendak membantu Serigala Tengah Malam menumpas kekaisaran Jeiji yang hendak mengambil Goa Emas!"


"Hhh..." Tok Ciauw mendengus sebal. Dia melepaskan Walet Hitam dan masuk kembali ke dalam petinya. Lalu peti itu terbang dan berloncatan kembali ke Goa Emas.


"Kau sudah tahu di mana jalan rahasia..." perkataan yang dikirim dari jarak jauh ini tentu ditujukan kepada topeng emas.


Topeng emas menjura dalam, namun tidak menjawab sepatah katapun. Setelah bayangan peti yang mendirikan bulu roma itu sudah tak tampak, barulah dia berani mengangkat badan dan berseru, "Ayo berangkat!"


...****************...


Kiranya sebuah jalan yang disebut jalan rahasia itu memang amat sukarnya untuk dilewati. Melalui sebuah jalan menanjak yang kemiringannya hampir tegak lurus ke langit. Namun jika dibandingkan dengan dinding-dinding tebing di sebelah lainnya, jalan ini yang paling mungkin didaki.


Jika bukan seorang yang berilmu tinggi seperti anggota rombongan ini, tak mungkin untuk mencapai Goa Emas kecuali melalui jalur pantai yang sudah diobrak-abrik jalannya oleh Tok Ciauw guna menghambat laju kekaisaran Jeiji.


Setibanya di atas, kiranya tempat itu cukup luas juga. Berupa hamparan batu hitam yang lebih mirip seperti lapangan. Dan nampak mulut Goa yang besar sekali. Jika dilihat dari luar sini, bagian dalamnya sana mengeluarkan sinar-sinar kekuningan. Tahulah semua orang dari mana asal sinar itu.


"Kemarilah..." sebuah suara serak-serak basah berhasil mengalihkan perhatian mereka semua dan menengok ke arah barat yang merupakan jalan terjal menurun.


Dipimpin oleh topeng emas, mereka menghampiri tempat itu dan ternyata dari sini sudah terlihat peti hitam yang menancap di celah-celah batu.


"Lihat, aku sudah mengacaukan jalannya. Bahkan untuk turun pun amat sukarnya, apalagi naik. Sekarang tinggal menyiapkan jebakan-jebakan untuk dapat menghabiskan pasukan mereka di tengah jalan." ucap suara itu lagi.


Pangeran Chang Song Ci paham dan dia sudah mulai berpikir. Tubuhnya meloncat ke bawah dan hinggap di salah satu batu besar, kemudian berjongkok untuk mengamati jalan terjal itu. Tak berselang lama, dia mengangguk-angguk.


"Aku ada rencana, mari siapkan jebakan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2