
Keduanya berdiri saling hadap dalam diam. Mereka sudah keluar dari wilayah kawasan hutan, berada di tengah tanah lapang sehingga cukup terang dengan bantuan sinar rembulan di atas sana.
Yu Ping memegangi kedua lututnya dengan napas ngos-ngosan. Tak disangkanya ternyata orang yang sejak tadi ia kejar, yang hanya nampak seperti berjalan, cepat sekali bahkan lebih cepat dari larinya. Kalau dia tak sengaja memberhentikan diri, tak ada kesempatan bagi Yu Ping untuk menyusulnya.
Gadis ini mengerutkan kening dan menahan rasa malu. Sejak tadi orang dihadapannya itu sama sekali tidak buka suara. Hanya bergeming sambil terus memerhatikannya. Setelah beberapa saat, akhirnya Yu Ping dapat menenangkan dirinya. Dia menegakkan diri, memandang pemuda itu penuh perhatian.
Mata kuning yang bersinar-sinar tajam itu, kuning pucat seperti rembulan, tak mungkin dapat ia lupakan. Ini pasti sosok yang selalu dinanti-nantikannya. Demikian dia berpikir.
"Kau mengejarku?"
Yu Ping berjengit saking kagetnya mendengar suara itu. Sebelumnya keadaan sekeliling amat sepi, kemudian secara tiba-tiba dipecahkan dengan suara berat dan dalam itu.
Yu Ping gelagapan. "Lalu siapa lagi? Hanya ada kau seorang di hutan ini."
"Tak hanya aku. Kau dan rombonganmu juga manusia kan?"
Yu Ping menggelengkan kepala kuat-kuat. "Lupakan," dia diam sesaat untuk memerhatikan wajah pemuda itu lebih teliti. "Kau....kau....Sung Han?"
Pemuda itu tak langsung menjawab sampai beberapa lama. Kemudian tanpa berkata-kata ia menurunkan kain hitam penutup mulutnya. Yu Ping terlonjak.
"Aku yakin bukan orang yang kau maksudkan. Namaku Xian Fa. Apakah Sung Han itu juga memiliki luka semacam ini?" kata Xian Fa menunjukkan luka mengerikan di mulutnya itu. Sebuah luka yang menghilangkan bibirnya.
Napas Yu Ping memburu, namun cepat-cepat ia menguasai diri. "Tidak..." katanya lirih. "Tapi...."
Yu Ping berjalan mendekat, Xian Fa tak nampak hendak menghindar. Ketika Yu Ping tiba di hadapannya, persis di depan hidungnya, gadis itu mengangkat tangan, mengusapkan jari-jarinya ke pipi Xian Fa.
Tak lama setelah itu, terdengar isak tertahan. "Aku tak akan lupa....ini benar-benar engkau...."
Sedetik kemudian, mata Xian Fa melebar, lebar sekali. Lalu menyendu seperti kehilangan gairah hidup. Yu Ping melihat ini dan ia merasa iba sekali.
"Maafkan aku."
Yu Ping tak paham, ia memandang bingung.
Lalu Xian Fa melanjutkan. "Setelah bertahun-tahun, baru sekarang aku bisa menemuimu. Maaf..."
Itulah yang membangkitkan keyakinan di hati Yu Ping. Tak salah lagi, pasti orang inilah Sung Han. Kakak Sung Han yang telah membawanya menuju kuil itu. Kakak Sung Han yang telah menyelamatkan hidupnya, yang menjadi orang terakhir yang bisa dianggap sebagai keluarga.
Tak tertahankan lagi, Yu Ping menangis kencang ketika menghambur ke dalam pelukan pemuda itu.
__ADS_1
...****************...
Keduanya membuat api unggun di tempat itu, sekadar untuk menerangi wajah masing-masing dan menghangatkan badan.
Setelah sekian lama bertemu, ternyata gadis itu sama sekali tak berubah. Suaranya masih nyaring bahkan tambah nyaring, keceriaannya masih seperti dulu ketika dia menceritakan ini dan itu kepada Sung Han. Saking lamanya ia mengoceh, sampai dia tak sadar Sung Han telah melepas topengnya.
"Ahh...wajah rusakmu hanya palsu?" katanya setelah menghabiskan ceritanya. Agaknya dia mulai lelah.
Sung Han tersenyum tipis. "Ya, untuk menutupi wajahku."
"Hahaha, buat apa? Semua orang sudah menganggapmu mati."
"Sebelumnya aku tidak tahu sampai beberapa hari lalu."
Agaknya Yu Ping sudah kehabisan bahan cerita, sehingga membuat keduanya duduk dalam diam. Berkali-kali nampak gadis itu membuka mulut hendak menyatakan sesuatu, untuk sekadar mengusir rasa canggung ini, namun dia sadar tak ada lagi yang bisa diucapkannya. Dia kehabisan topik.
"Mengapa kalian pergi ke utara?" akhirnya Sung Han bertanya setelah sekian lama. "Apa yang terjadi?"
Yu Ping memandangi pemuda itu sejenak. Sung Han sama sekali tidak melirik padanya, hanya menatap ke api unggun yang masih terus bernyala. Namun dari raut wajahnya, pemuda itu nampak serius.
Yu Ping menarik napas. "Kakak tak perlu khawatir, kami pindah hanya karena kami ingin," sambil memasang senyum lebarnya, Yu Ping berkata.
Sung Han hanya berdeham singkat. Dia melemparkan sebatang kayu bakar guna menambah terang nyala api. Tak berselang lama, ia menatap Yu Ping penuh selidik.
"Heh?" kaget Yu Ping mendengar suara tegas itu.
"Di masa ini, ketika pemberontak dan kekaisaran seberang laut sedang kacau tak karuan, mana ada orang yang melakukan perjalanan jauh hanya karena ingin?" ujar Sung Han penasaran. "Jujurlah pada kakakmu!"
Yu Ping menundukkan muka, memainkan ujung rambut dengan ujung-ujung jarinya. Bibirnya mengerucut. "Tidak mau."
"Kenapa?"
"Kalau kukatakan, aku ragu kau tak akan terlibat," jawab Yu Ping. Dia hendak berkata lagi, namun begitu bertemu pandang dengan Sung Han, semua yang hendak dikatakannya seketika lenyap dan entah kenapa tenggorokannya tercekat. Ia menundukkan kepala dalam.
Sung Han memandangnya penuh selidik sampai beberapa lama. Hingga dia memutuskan untuk menyerah.
Sung Han menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan gadis itu, lalu merangkulnya.
"Memangnya apa salahnya kalau aku terlibat?"
__ADS_1
Mendengar ucapan dingin namun lembut itu, gadis ini tak dapat menahan keharuan hatinya. Kembali dia terisak dan balas merangkul, membenamkan wajahnya ke dada Sung Han.
"Kakak perempuanku sudah tiada, sekarang kau hendak pergi lagi. Bagaimana jika kau tak kembali?" ia meraung. "Hiduplah jadi petani, nelayan atau kalau perlu pemulung bahkan pengemis. Buang pedangmu itu dan lupakanlah soal kependekaran. Itu hanya membawamu kepada kematian!"
Sung Han membiarkan tangis gadis itu makin mengeras. Ia mengusap-usap rambut halusnya. Mulutnya bergumam lirih. "Semua orang pasti akan mati."
Gadis itu menangis makin keras.
"Yu Ping, kau hidup tentramlah bersama saudari-saudarimu. Carilah jodoh. Seorang pemuda yang menjadi idamanmu. Jika sudah demikian, yakinlah aku akan mati meram."
Namun candaan Sung Han ini malah membuat gadis itu makin menjadi-jadi. Ia menendang-nendang tanah dan memukul-mukul dada Sung Han.
"Tidak...tidak...kau tidak boleh pergi! Aku akan tutup mulut!"
Sung Han tersenyum. Bagaimanapun juga dadanya terasa hangat. Ternyata masih ada orang yang memedulikannya, memerhatikannya bahkan amat takut kehilangan dirinya.
"Aku sudah terjun ke dunia persilatan. Aku tak ingin dianggap pengecut."
"Apa, soal harga diri?!" Yu Ping terbelalak. Lalu dia melepaskan tubuhnya dari dekapan Sung Han dan berdiri. Mukanya merah padam. "Selalu saja begitu. Harga diri, harga diri, harga diri! Apakah kau tak sayang nyawa?!"
"Harga diri seorang pendekar jauh lebih penting ketimbang nyawa yang hanya satu."
Napas Yu Ping memburu. Tangannya terkepal dan giginya bergemelutuk. "Kalau begitu matilah sana!!"
Dengan bersungut-sungut, Yu Ping meninggalkan Sung Han seorang diri.
"Yu Ping!"
Sebelum Yu Ping pergi jauh, Sung Han memanggil. "Aku punya hal menarik untuk kau dengar. Sepertinya kau akan tertarik. Jangan sampai menyesal."
Yu Ping menghentikan langkah, melirik Sung Han dari ujung mata. Namun dia enggan menjawab.
"Kau tahu, apa alasanku pergi ke hutan gelap ini?" Sung Han memancing dan menoleh ke belakang. Tak ada respon.
Dia melanjutkan. "Sebenarnya, aku tidak tahu wilayah sekitaran sini, dan terlalu malu untuk mintakan obor pada rombonganmu," Sung Han tersenyum pahit seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bisakah kau tunjukan di mana letak desa atau kota terdekat? Selain desa tempat kalian diculik–"
Sebelum perkataan itu selesai, Yu Ping sudah mengangkat batu sebesar kepala bayi dan menghantamkannya tepat ke kepala Sung Han.
"Adik durhaka!!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG