Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 266 – Siasat Sung Han


__ADS_3

"Mereka mendapatkan pasokan makanan dari hutan berupa daging dan buah-buahan. Air minum dan ikan-ikan segar berasal dari sungai."


Sung Han mengangguk menerima laporan salah seorang pendekar bawahannya. Dia kembali memutar otak untuk memikirkan strategi paling tepat agar bisa memaksa pasukan Jeiji keluar kandang.


Langkah pertama yang sudah pasti dan paling mudah. "Tutup aliran sungai dengan batu. Kerahkan lima puluh orang terbaik untuk menjaga di sekitar batu."


Perintah ini segera dilaksanakan. Masing-masing pimpinan pasukan pendekar mengirim beberapa orang terbaiknya untuk melakukan tugas tersebut. Begitu batu didapat, batu seukuran kerbau gemuk, dipindahlah batu tersebut untuk menyumbat aliran sungai jauh di bagian hulu.


Sehari setelah rencana ini berjalan, terlihatlah hasilnya. Lambat tapi pasti aliran sungai mulai menyurut dan ikan-ikan menggelepar kehabisan napas di permukaan air.


Tentu saja kejadian ini memancing orang-orang Jeiji untuk keluar melihat keadaan. Dan mereka merasa marah sekali mengetahui sungai itu telah surut total.


Seorang pimpinan pasukan, mengutus dua puluhan orang untuk pergi ke hulu dan melihat keadaan. Namun sampai siang, bahkan senja dan dikirim pasukan kedua, mereka tak pernah kembali. Bahkan pasukan kedua yang ditugaskan untuk menyusul pun tidak pulang.


Keadaan perkemahan di atas bukit itu makin menegangkan. Beberapa hari saja, mereka sudah kehilangan cukup banyak orang. Pada saat seperti ini, satu nyawa saja amat penting bagi kelangsungan hidup mereka.


Hoko Ryo, pria tua mantan samurai yang kini menjadi ronin, yang menjadi pimpinan pula di perkemahan ini, sejak malam tadi tidak dapat tidur.


Dia selalu berpikir, tentu ini semua adalah ulah pihak Chang yang mendatangkan bala bantuan berupa pasukan para pendekar. Buktinya, selama bantuan itu belum tiba, pasukan Chang bahkan takut untuk mendekat.


Ketika larut dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba cahaya terang nampak dari luar kamarnya. Spontan ia melompat dan mengambil pedang. Namun begitu pintu terbuka, ternyata pembawa obor itu tak lain adalah anak buahnya sendiri.


"Ada apa?" bentak Hoko Ryo yang sedang kesal.


"Ada penyerbuan," jawab ronin itu gugup. "Penyerbuan gelap. Mereka–akkhh!!"


"Hei!" Ryo melompat mendekat. Begitu mengecek tubuh yang terkulai itu, ternyata pada pangkal lehernya sudah menancap sebuah jarum berwarna merah.


"Sialan!"


Ryo cepat melompat mundur dan memasang kuda-kuda. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Tak pernah ada musuh yang bisa masuk ke formasi batu apalagi menerobos perkemahannya sampai bisa menyentuh pondoknya.


Telinganya yang tajam mampu mendengar suara-suara ganjil yang datangnya dari atas genteng. Ia dapat menduga tentulah mereka yang berada di atas gentengnya adalah orang-orang berkepandaian. Langkah mereka ringan sekali dan dia tak mungkin mendengar kalau tidak memfokuskan diri.

__ADS_1


Ryo menggeser kakinya sampai ke sudut ruangan. Mengamati jendela, genteng dan pintu bergantian. Sikapnya sudah memasang kuda-kuda dan tangan kanan berada pada gagang pedang, tinggal menyabut dan menebas jika ada penyerangan.


Tiba-tiba, dari jendela tampak bayangan berkelebat yang cepat sekali. Begitu masuk ke dalam kamar, bayangan itu segera berbalik dan melemparinya dengan tiga batang pisau tipis.


Ryo terkejut, lalu menebas. Kemudian melompat untuk mengirim tebasan maut ke leher orang tersebut.


Namun begitu tubuhnya melayang, datang dua orang lain yang siap menghunjamkan tombak ke punggungnya.


Kembali lelaki ini terkejut bahkan mengeluarkan teriakan nyaring. Tubuhnya berputar, angin menyambar dan dua orang pendatang dari atas itu terpelanting.


"Penyusup busuk!" bentak Ryo dan segeralah terjadi pertempuran yang tak terhindarkan.


Tiga orang itu adalah bawahan Sung Hwa dan Gu Ren. Di mana pemegang tombak adalah bawahan Gu Ren dan si pelempar pisau adalah bawahan Sung Hwa.


Namun karena permainan pedang Ryo terlalu hebat, ditambah tenaga raksasa dari kakek itu, sebentar saja tak sampai lima puluh jurus mereka sudah terdesak. Lalu ketika mencapai tepat pada seratus jurus, darah menyembur begitu kepala mereka terpenggal.


Tak menghiraukan mayat-mayat itu, Ryo melompat keluar dan memandang terbelakak ketika hampir setengah perkemahannya telah terbakar.


Anak buahnya sibuk memadamkan api di sana-sini. Namun pertempuran sudah berhenti.


Ia membanting kakinya, wajahnya merah sekali. "Keparat Chang! Tunggu saja pembalasan kami!"


...****************...


Kelima pimpinan pendekar memandang kebakaran itu dari bawah bukit. Sikap mereka tenang, seperti merasa yakin mereka pasti akan menang.


Dari balik kegelapan, beruturut-turut datang tiga orang yang mereka kenal sebagai jenderal dan perwira pasukan Chang. Sung Han hanya melirik sejenak sebelum menaruh perhatian ke atas bukit itu.


"Pendekar Sung memang hebat," komentar jenderal Khu sembari melihat ke atas bukit. "Mata kami telah buta."


Tidak ada yang menyahut pernyataan itu. Karena itu bisa jadi pujian, bisa juga sebagai ejekan.


"Kami bisa melakukan ini, sayang tidak ada yang berani," kata salah satu perwira di samping kanan jenderal Khu.

__ADS_1


"Konyol!" celetuk Nie Chi sambil terkekeh. "Pasukan kalian besar. Tetapi melakukan hal semacam ini saja tidak mampu? Hmph, kalian hanya ingin ambil menangnya untuk kemudian naik pangkat, kan?"


Ucapan itu amat menusuk hingga ia mengira akan segera mendapat umpatan dari para tentara itu. Akan tetapi yang menyambut ucapannya hanyalah keheningan malam.


"Ayo kita kembali," ujar Sung Han lalu berlalu pergi. "Rencana selanjutnya."


Keesokan paginya, lalu lusa, lusanya lagi dan lusa lagi, baik pasukan Chang dan para pendekar tidak melakukan gerakan. Orang-orang Jeiji akan menganggap mereka telah menghilang dari kaki bukit itu jika saja tidak terlihat bendera Chang yang megah.


Hal ini menyebabkan Ryo menjadi kebingungan bukan main. Akan tetapi kebingungan itu hanya pada hari pertama, makin bertambahnya hari, kebingungan itu menjadi kemarahan.


Sungai sudah surut dan dia tak mau ambil resiko dengan mengirim pasukan lagi ke hulu. Jadi kebutuhan makanan hanya bisa didapat melalui daging hewan-hewan hutan atau buah dan sayur.


Akan tetapi makin hari, keberadaan para hewan semakin sedikit. Kemudian pada beberapa hari berikutnya, yang dapat ditemui hanya anak-anak kelinci atau rusa. Bahkan telur ayam hutan pun sudah pecah.


Tentu itu tidak cukup untuk mengisi perut seluruh pasukan. Mulailah dikurangi jatah makan para pasukan yang awalnya tiga kali sehari, menjadi dua kali sehari. Makin lama, karena krisis ini, mereka makan sekali sehari dan cukup untung jika mendapat daging.


Akhirnya, pada suatu pagi, Ryo mengumpulkan para petinggi pasukan dan diajak berunding.


"Brak!"


"Ini keterlaluan!" Ryo menggebrak meja. "Kalau kita tidak menyerang, takutnya kita akan mati kelaparan!"


Seorang ronin lain mengangguk. "Betul sekali!"


"Tapi pasukan mereka banyak sekali."


Sejenak, Ryo termenung diingatkan akan hal tersebut.


"Bagaimana kalau kita menggempur ke hulu sungai dengan kekuatan penuh? Tidak mungkin, kan, mereka membawa pasukan banyak untuk menjaga hulu sungai yang disumbat?"


Ucapan salah satu samurai seperti siraman air dingin ke kepalanya. Wajah Ryo menjadi cerah dan dia girang sekali. Tanpa pikir panjang, pertemuan yang amat singat itu mencapai satu keputusan.


"Kita serang hulu sungai!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2