
Sung Han tak langsung mengambil tindakan saat mendengar berita heboh mengenai penyerangan Hati Iblis ke markas Naga Hitam. Ia tentu saja tidak terkejut akan hal itu.
Pemuda ini menunggu berita selanjutnya, yang nantinya menjadi acuan untuknya akan lanjut bertindak ataukah hanya berdiam diri.
Namun sekitar satu minggu lebih sedikit berita yang tersiar di kalangan penduduk benar-benar di luar dugaannya. Bahkan ia sendiri sampai tersedak pangsit makanannya saat mendengar salah satu pengunjung tiba-tiba datang dan berteriak.
"Rajawali Putih mendatangi Naga Hitam!!"
"Apaaa!!?" serentak para pengunjung menghentikan makannya dan memandang orang yang baru datang ini dengan tidak percaya.
Orang itu pakaiannya seperti pedagang, wajah dan bajunya sudah lusuh berdebu. Agaknya dia buru-buru untuk datang ke mari guna mengabarkan berita ini. Lagipula desa ini cukup terpencil, sehingga Sung Han yakin kalau berita ini baru pertama kali terdengar di sini.
"Kawan, ceritakan jelasnya!" tuntut beberapa pria. Bahkan para pelayan saja sampai menghentikan pekerjaan mereka.
Orang ini mengambil nafas dalam-dalam sebelum berkata. "Beberapa hari lalu, ada seorang tukang penjual kayu bakar yang kebetulan berada di hutan dekat markas Naga Hitam. Pada pagi hari itu, ia berkata ada seorang pria tua yang datang-datang bikin ribut di markas Naga Hitam. Orang itu berteriak-teriak."
"Lalu apa hubungannya antara Naga Hitam dan Rajawali Putih?" tukas salah seorang pelayan yang merasa sebal.
"Itu karena teriakannya!"
"Bagaimana teriaknya?"
"Katanya, dia teriak...."
...****************...
"Heiii....Naga Hitam yang gagah, perkenankan aku Si Asap Guntur datang berkunjung membawa teman serta saudara tuaku!!"
Beberapa penjaga gerbang yang sedang main adu rumput itu sejenak menoleh dan salah satunya mencibir. "Kau ini ada apa....bikin ribut pagi-pagi buta?"
Si tua yang menjepit cangklong di antara mulutnya itu memandang heran. Pakaiannya sederhana, hanya berupa kain kasar yang nampak usang. Tapi jika diperhatikan masih rapi dan terawat. Di kepalanya, memakai topi caping mirip petani.
Orang itu mendengus dan kembali berteriak. Kali ini dengan pengerahan tenaga dalam. "Hei....hilangkah adab tuan rumah di Naga Hitam ini? Tamu datang berkunjung, bukannya menyambut malah pura-pura tuli!?"
__ADS_1
Saat itu orang yang asyik main adu rumput di depan gerbang roboh saking kagetnya dengan seruan barusan. Mereka memandang jeri ke arah lelaki tua itu yang masih enak-enak menghisap cangklongnya, seolah tak terjadi apa-apa.
Bersamaan dengan ini, seluruh murid Naga Hitam yang sebelumnya baru bangun atau membersihkan halaman berseru kaget dan serentak menutup kuping masing-masing.
Tak berselang lama, gerbang besar markas itu terbuka dari dalam, menampakkan dua orang yang tampil gagah. Satu masih sekitar empat puluh lima tahunan, dan satu lagi sudah sepuh sekali.
"Kiranya Asap Guntur yang datang, maafkan kami yang tak mendengar dan menyambut dengan baik. Mari masuk tuan." Gu Ren yang ikut menyambut bersama gurunya mempersilahkan.
Ajaib, saat pria bercangklong itu masuk ke pelataran, dia masih sendiri. Namun saat Gu Ren dan Giok Shi telah tiba di depan pintu ruang pertemuan, ketika Gu Ren berbalik badan, mulutnya berseru.
"Uahh!!" hampir saja Gu Ren jatuh kalau di belakangnya tidak ada tembok.
Sedangkan Giok Shi di sebelahnya terkekeh masam, "Hehe...inilah salah satu alasan kenapa aku tak mengijinkan kalian bentrok dengan Rajawali Putih. Jika saja senior Sie tidak murah hati, pastinya sekarang ini kita sudah jadi setan penasaran." katanya pada Gu Ren.
Memang kejadian hebat telah ditampakkan oleh gerombolan Rajawali Putih. Pasalnya, tepat ketika Gu Ren berbalik badan tadi, di hadapannya sudah berdiri empat puluhan orang Rajawali Putih bersama ketuanya sendiri, Sie Kang. Ia tak lihat dari mana mereka datang dan tahu-tahu sudah berdiri di belakang si penghisap cangklong.
"Kalau saja seniorku ini tidak mengancam kami." kata si caping penghisap cangklong sambil menunjuk Sie Kang dengan dagunya, "Tak hanya raga, setan-setan kalian pun sudah kami bikin hancur." lanjutnya sinis.
"Wan Jin, jaga ucapanmu!" tegur Sie Kang.
Siapakah empat puluhan orang Rajawali Putih itu? Mereka adalah para pendekar inti dari jasa pengiriman barang itu. Dahulu kala jika jasa pengiriman ini diganggu orang kuat atau pendekar sesat, maka empat puluh orang ini yang maju turun tangan.
Sedangkan untuk para pengirim barang lainnya, mereka hanya pendekar tingkat rendah yang menguasai dasar-dasar ilmu silat saja. Sedangkan empat puluhan orang ini adalah pendekar tulen, sosok-sosok pemburu harta warisan Raja Dunia Silat.
"Ayo masuk. Tentu tuan-tuan sekalian ada kabar penting karena sudi datang ke tempat ini." kata Giok Shi lalu masuk ke ruang pertemuan diikuti empat puluhan orang itu.
Gu Ren yang masih syok, hanya memandang dengan dada naik turun.
"Sial...kedatangan mereka sama saja seperti mengancam kami! Untung mereka bukan orang jahat. Jika sekarang kami bentrok dengan Rajawali Putih, ditambah adanya Sung Han...." berpikir sampai sini, bulu kuduknya meremang.
...****************...
Seperti yang sudah terduga dan tertebak, hasil dari pertemuan Naga Hitam dan Rajawali Putih adalah keputusan untuk perang melawan Hati Iblis. Tidak ada toleran lagi untuk membiarkan partai itu tetap hidup.
__ADS_1
Anggota Naga Hitam lebih dari seratus orang, sedangkan Rajawali Putih hanya dengan empat puluh enam orang, turut andil di barisan paling depan.
Wan Jin, pria tua berjuluk Si Asap Guntur itu selalu berada di samping Sie Kang seolah menjadi pelindungnya. Mereka berangkat di hari lusa selepas pertemuan itu.
Atas kecerdikan Sie Kang, setelah berjalan beberapa kilometer, dia mengusulkan untuk menyebarkan pasukan ke berbagai penjuru, dan titik kumpul mereka adalah di kaki Pegunungan Persik dekat dengan Sungai Ular.
Atas usul Sie Kang pula, seluruh pasukan dibagi menjadi dua orang untuk kemudian menyebar mencari jalan ke Pegunungan Persik. Karena itulah, penyerangan Naga Hitam dan Rajawali Putih ke Hati Iblis ini jarang orang ketahui. Bahkan hampir tidak ada yang tahu.
Kembali karena kecerdikan Sie Kang, seluruh pasukan baik dari Naga Hitam maupun Rajawali Putih tidak ada yang menggunakan seragam partai. Mereka menyamar dengan menggunakan pakaian berbahan kasar seperti petani. Kesemuanya pakai caping dan sabit di pinggang atau cangkul.
Si penghisap cangklong lebih niat, di punggungnya dia membawa beberapa ikat padi sekalian. Memang orang ini orang aneh.
Semua kecerdikan Sie Kang ini berhasil membuat gabungan dua partai ini menang selangkah dari Hati Iblis. Pasalnya, Jin Yu sudah mengantisipasi hal ini ketika kabar Rajawali Putih bertamu ke markas Naga Hitam. Maka ia utus Siauw Goan bersama Phiang Bi Sun membawa sepasukan untuk menyergap pasukan ini.
Keduanya bergerak dari arah utara dan selatan, berniat mengapit rombongan dua partai itu. Namun mereka sama sekali tidak menemukan apa-apa, kecuali beberapa petani lewat lengkap dengan sabit atau cangkul.
Tentu saja Siauw Goan dan Phiang Bi Sun heran sekali, karena berpikir hanya di situlah satu-satunya jalur menuju Hati Iblis. Padahal beberapa petani yang mereka lihat itu adalah beberapa orang pasukan gabungan dua partai yang cukup ceroboh.
Sedangkan pasukan lainnya berjalan memutar jauh ke utara atau selatan, bahkan orang aneh Wan Jin ini rela melewati jurang curam dan tebing terjal. Sehingga waktu tempuh untuk menuju Hati Iblis yang seharusnya hanya dua tiga hari, menjadi seminggu.
Sebagai tambahan, beberapa "petani" yang dilihat Siauw Goan dan Phiang Bi Sun itu sampai di titik temu pertama kali. Beruntung kecerobohan mereka tidak memebawa petaka.
Salah satu dari sedikit orang yang mengetahui penyerangan ini adalah Sung Han. Pewaris Pedang Gerhana Matahari ini jelas tak mau tinggal diam mengetahui Naga Hitam dan Rajawali Putih mulai ambil tindakan.
Maka pada hari ke lima setelah gabungan pasukan berangkat dari markas Naga Hitam, Sung Han menuju ke selatan, lebih tepatnya ke arah rombongan Phiang Bi Sun menanti dengan sia-sia.
Bagaimana cara dia mengetahui di sana ada rombongan Phiang Bi Sun? Tentu saja setelah mengetahui Naga Hitam dan Rajawali Putih hendak menyerang, dia sudah menunggu di jalur yang mengarah ke Pegunungan Persik, yang ia tahu sebagai tempat Hati Iblis berada.
Namun dia pun juga tak menemukan apa-apa, justru dari kejauhan dia melihat rombongan Phiang Bi Sun yang mendaki ke salah satu bukit bersama pasukannya. Seragam orang-orang itu mampu dia kenali dengan baik sebagai tanda bahwa mereka berasal dari Hati Iblis.
"Heh....itukah yang dijuluki sebagai Si Nenek Bibir Merah? Yang menurut Gu Ren merupakan seseorang yang menghancurkan pemukiman murid baru. Hem, kau sangat tidak beruntung, nenek peyot!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG