
Sung Han sudah hafal ke mana jalan menuju ke gunung Angsa yang terletak tidak terlalu jauh dari kota Daun. Setelah berpisah dengan Yang Ruan, dengan hati sedih dan prihatin dia melanjutkan perjalanan seorang diri menuju ke timur sana.
Menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, perjalanan dilakukan amat cepatnya dan dalam beberapa hari saja dia sudah tiba di wilayah luar kota Daun. Kemudian dia membelok ke utara untuk melanjutkan perjalanan menuju ke gunung Angsa yang kurang lebih selama sehari seperjalanan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali akhirnya sampailah Sung Han di tempat yang tidak asing. Sebuah lereng gunung yang diapit gunung-gunung lainnya, membuat tempat ini demikian terpencil dan terasing dari dunia luar.
Sung Han sejenak memandang ke sekeliling, dahulu ketika dia bentrok dengan Kay Su Tek, rasanya baru kemarin terjadi. Namun sekarang dia sudah kembali lagi untuk berurusan dengan pemuda itu.
Sung Han membulatkan tekad dan mulai mendaki. Gerakannya seperti orang berjalan saja, namun karena dia merupakan seorang pendekar, apalagi bukan pendekar kacangan, maka "jalannya" tentu berbeda dengan jalan lain orang. Walau nampak berjalan, namun gerakannya cepat dan gesit sekali.
Beberapa waktu berselang dia tiba di puncak gunung Angsa dan dari sini, sudah terlihat bangunan megah bagaikan benteng di sana. Sung Han tahu itu adalah markas utama perkumpulan Pedang Hitam atau sekarang ini boleh jadi dianggap sebagai tempat utama perkumpulan golongan sesat.
Dia melihat beberapa penjaga hilir mudik di sekitar pintu gerbang. Karena dia tidak berniat mencari ribut dan merusuh, maka dia dengan dada lapang berjalan tenang keluar dari sekumpulan pohon-pohon itu, langsung mendatangi mereka dari depan.
Orang-orang yang berjaga di luar pintu gerbang, atau sibuk main catur di pos penjagaan, tentu saja dapat melihat Sung Han yang dengan santainya jalan menuju mereka seolah belum mengenal tempat ini. Pakaiannya yang sederhana dan tanpa membawa satupun senjata, membuat mereka berpikir tentulah orang ini termasuk dalam golongan orang tersesat jalan.
Salah satu dari mereka mencoba menghampiri, dia menegur. Walau dicoba sehalus mungkin, namun karena sudah terbiasa hidup semena-mena, maka terdengar kasar juga.
"Anak muda, mau apakah engkau datang ke tempat ini? Kau tersesat?"
Sung Han menghentikan langkahnya begitu secara tiba-tiba ada orang yang berdiri di depannya. Orang itu sedikit lebih tinggi daripadanya, maka dia harus mendongak. Setelah meneliti wajah orang itu beberapa saat, dia tersenyum lebar.
"Aku tidak tersesat, memang tujuanku ke tempat kalian inilah."
"Singg-singg!"
Tiba-tiba muncul dua orang lain lagi yang sudah menodong leher Sung Han dengan tombak. Sedangkan orang yang menegur tadi sudah meletakkan jari telunjuk dan tengah di leher Sung Han. Sekali totok, Sung Han bisa mati!
"Berarti kau bukan orang sembarangan...." desis orang yang menegur tadi.
"Aku orang biasa, apa-apaan ini? Aku tak ada ilmu siluman atau sihir setan apalagi segala macam jurus demit. Tenanglah...." Sung Han berkata sambil tersenyum kecut. Tangannya membuat gerakan untuk menyabarkan mereka.
Namun mereka bertiga sama sekali tak bergerak, justru memandang Sung Han dengan makin tajam. Ancaman dua senjata itu jika ditujukan kepada orang biasa, tentu dia pasti sudah jatuh pingsan atau sedikitnya terkencing di celana. Namun orang ini malah tenang-tenang saja dan masih bisa tertawa. Itu hanya berarti kalau pemuda ini memang bukan manusia biasa.
Saat itu datang empat orang lain yang tadi masih duduk di depan gerbang. Mereka melihat ketegangan ini dan lekas menghampiri.
__ADS_1
"Ada apa ini?!" tanya salah seorang yang tadi sibuk main catur.
"Dia mata-mata, agaknya begitulah." jawab salah satu pemegang tombak secara singkat.
Empat orang yang baru datang ini terkejut, mereka memandang Sung Han dengan terbelalak. Bukan terkejut akan laporan mata-mata itu, melainkan terkejut karena setelah memerhatikan Sung Han lebih teliti, mereka merasa pernah melihat pemuda ini.
"Ehh...apakah aku pernah bertemu denganmu?" ucap salah seorang dengan kening berkerut. "Aku merasa pernah melihatmu, tapi lupa di mana."
"Haha, kita belum pernah bertemu." jawab Sung Han seadanya.
"Ehh, aku pernah melihatnya!!" seru seorang lain, "Dia ini adalah Sung Han! Pemberontak yang pernah secara nekat menculik sang putri. Benar, dia orangnya!! Harus dibikin mampus!!"
Mendengar seruan yang mengejutkan ini, tiga orang yang tadi sudah siap dengan serangan maut melakukan serangan. Duatombak itu menusuk dan totokan jari tangan bergerak.
Akan tetapi betapa heran dan kaget hati mereka begitu senjata dan jari itu mengenai sasaran, bukannya Sung Han yang roboh tewas melainkan senjata dan tangan mereka yang tergetar hampir patah.
"Auuuhhh!!" teriak si penotok yang merasa tulang telunjuk dan tengah sudah berbelok.
"Serang!!"
Namun sejatinya matanya yang tajam itu secara awas terus melirik ke arah pintu gerbang, berharap Kay Su Tek sendiri yang datang menyambutnya.
...****************...
"Jadi, bagaimana? Suatu kesepakatan yang amat bagus bukan?"
Kay Su Tek nampak berpikir keras, memang usul dan rencana dari topeng emas itu amat bagus sekali untuk dirinya sekaligus untuk membalas sakit hatinya terhadap kekaisaran.
Seperti yang sudah dijelaskan, Burung Walet Hitam telah mendatangi puncak gunung Angsa untuk memanggil Kay Su Tek menghadap ketua Serigala Tengah Malam.
Karena belum siap dan belum mau untuk terjadi keributan, maka Kay Su Tek menerima undangan itu.
Dan sampailah di sini, di satu ruangan luas yang hanya diisi oleh dua orang itu saja. Atas permintaan topeng emas, dia tidak mau ada satu pun orang yang mencuri dengar.
Rencana topeng emas adalah menyatukan kekuatan lima senjata keramat untuk menaklukkan kekaisaran. Baru setelah itu, mereka akan berangkat menggempur kekaisaran Jeiji yang beberapa waktu ini telah mengacau di daratan Chang selatan.
__ADS_1
Chang Song Ci sudah menyelidiki latar belakang Kay Su Tek dan tahu bahwa pemuda ini amat membenci pemerintahan. Namun dia tidak membenci negaranya.
Maka ketika tersiar berita bahwa armada kekaisaran Jeiji sudah nampak di laut timur Chang utara, maka pangeran ini segera mengundang Kay Su Tek untuk membuat kesepakatan.
Di ujung utara sana, kekaisaran Chang memiliki goa emas yang amat kaya dan merupakan pasokan emas terbanyak seluruh kekaisaran. Pastilah kekaisaran lawan menginginkan goa itu untuk memperlancar jalannya penjajahan.
Topeng emas meminta Kay Su Tek untuk membantunya menghalau serangan kekaisaran Jeiji di utara itu. Setelahnya dia minta bantuan Kay Su Tek untuk ikut menggempur istana ketika waktunya telah tiba.
"Tapi kau adalah musuh besarku, Chang Song Ci!" desis Kay Su Tek sengit.
Terdengar kekehan dari balik topeng itu, "Urusan lama dapat diselesaikan di lain waktu. Jika urusan kali ini terus memperluas, bukankah membuat kita kehilangan waktu untuk menyelesaikan urusan pribadi?"
"Aku tahu kau amat membenci dan memusuhi pemerintahan. Namun kau amat mencinta negara ini. Jika memang demikian, jika kau hanya menghancurkan pemerintahan saja maka rakyat akan hidup makan apa? Mereka bisa saling bunuh tanpa adanya pemimpin." lanjut pangeran itu.
"Lalu?"
"Lalu, setelah kita berhasil menaklukkan kaisar payah saat ini, aku akan naik tahta dan saat itu berarti kau tak boleh memusuhi aku."
"Mengapa begitu?!"
"Jika kau memusuhi aku dan membunuhku, akan ada kaisar lain. Kau bunuh lagi, lalu ganti lagi, kau bunuh lagi dan ganti lagi. Jika terus seperti itu, apakah sebagai orang gagah kau hanya hidup dalam lingkaran dendam tak berkesudahan dan turun-temurun itu? Betapa piciknya!"
Disindir seperti ini, panas juga hati Kay Su Tek.
"Kau memusuhi pemerintahan, itu adalah pemerintahan yang sekarang! Bukan yang lalu atau yang akan datang! Jadi kau punya alasan untuk membantuku sekarang, namun kau tak punya alasan untuk melawanku di masa depan."
Secara mudahnya, pangeran itu ingin mengatakan kepada Kay Su Tek jika semua masalah hidup Kay Su Tek itu adalah akibat pemerintahan yang sekarang. Jadi sudah wajar jika pemuda itu ingin membalas dendam ke pemerintahan sekarang.
Namun di masa depan, pemuda itu tak bisa dan tak boleh secara semena-mena memusuhi pemerintahan. Karena belum tentu di masa depan pemerintahan akan merugikannya pula.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya terdengar dia berkata, "Baiklah, aku terima. Namun jangan berharap aku percaya padamu!"
"Itu tak masalah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG