
Begitu masuk ke bangunan besar dan nampak paling mewah di tempat ini, mereka disambut dengan barisan belasan prajurit yang berdiri di sisi-sisi ruangan. Sikap mereka diam dan dingin, seperti patung saja.
Di ujung ruangan sana, nampak kursi gading yang besar dan megah. Pada dudukannya terdapat bulu macan yang halus tebal, membuat siapa pun yang duduk di atasnya merasa nyaman. Tapi kursi itu sama sekali tidak ada penghuninya.
Agaknya Chunglai sudah terbiasa dengan situasi ini, buktinya dia tidak mempermasalahkan hal itu dan terus melangkah maju sampai tiba di depan kursi. Ia lantas berlutut diikuti ketiga orang lainnya. Tangan kanan berada di dada kiri, melihat ini Sung Hwa dan dua orang lain mengikuti.
"Paduka raja, saya sudah membawa pulang nona besar. Kabar baik."
Hening, tidak ada satu pun suara yang menyambut ucapan Chunglai barusan. Namun pria tiga puluhan itu tetap berlutut dengan senyum menghias bibir, sepertinya hatinya benar-benar dalam suasana baik.
Ketika Sung Hwa dan dua orang lain merasa tegang dan canggung, bahkan bernapas pun tak berani keras-keras, dari balik kursi kebesaran terdengar suara pintu terbuka. Disusul dengan langkah kaki tergesa-gesa yang segera menghampiri mereka.
Kiranya itu adalah langkah kaki dari seorang pria paruh baya lima puluhan tahun, namun masih nampak ketampanannya. Pakaiannya serba mewah, berupa jubah kuning lebar dengan mantel bulu tebal. Di leher dan pergelangan tangan nampak berbagai macam aksesoris emas. Kepalanya mengenakan topi bulu, hampir mirip dengan gambar nona Songli, namun bedanya milik raja ini hanya mempunyai satu bulu merak di topinya.
"Ah...nona Songli..." gumamnya dan berlari menghampiri Sung Hwa. Kemudian dia berlutut seperti Chunglai itu dan menghaturkan ucapan selamat. "Selamat...selamat....kami senang sekali anda selamat. Ternyata dewa masih memberkati kami."
Setelah berkata demikian, dia mengangkat pundak Sung Hwa dan sedikit memaksa untuk membuat gadis itu berdiri. Sung Hwa memandang semua ini penuh kebingungan. Begitu pula dengan Mi Cang dan Yu Nan Sia.
"Ke mana saja anda pergi nona? Semenjak pemujaan dewa bulan dan matahari tiga tahun lalu, anda lenyap. Ke mana saja anda pergi?" tanyanya menghujani Sung Hwa dengan pertanyaan. Kemudian pandangannya tertuju kepada pakaian yang dikenakan Sung Hwa. Raja itu mengerutkan kening dan mengeluh, "Oh...pakaian pendekar...?"
Chunglai segera berkata, "Maafkan paduka, tapi nona sedang dalam keadaan hilang ingatan total. Bahkan ketika saya mencoba berkomunikasi dengan bahasa kami, dia telah benar-benar lupa."
"Apa!?" pekik raja itu kaget sekali. Dia menoleh memandang Sung Hwa lagi dan berkata. Kali ini menggunakan bahasa manusia gunung, "Benarkah itu?"
Tentu saja Sung Hwa yang ditanya dengan bahasa aneh dan asing itu menjadi bingung. Ia hanya miringkan kepala dengan kening berkerut.
__ADS_1
Sedikit informasi saja, memang sejak dahulu kala manusia-manusia gunung ini membangun peradaban sendiri. Tentu saja dengan adanya peradaban itu, mereka memiliki bahasa dan budayanya sendiri.
Mereka selalu hidup terasing dan menjauhi dunia ramai yang mereka sebut sebagai orang-orang dataran rendah. Mereka menganggap manusia dataran rendah hanya sekumpulan orang tamak saja.
Namun saat pergantian raja beberapa generasi lalu, dia menurunkan titah untuk memperkenalkan diri ke dunia ramai. Bersatu dengan kekaisaran dan hidup di bawah naungan kaisar. Tentu saja banyak terjadi pro dan kontra, mayoritas tidak setuju.
Karena jika itu dilakukan, maka ajaran-ajaran leluhur mereka bisa punah dan yang paling buruk, mereka akan terpecah belah.
Karena raja itu tak mau hal ini terjadi, maka dia menarik perintahnya. Tapi dia tetap menyuruh warganya berkenalan dengan desa-desa sekitar. Kali ini jauh lebih sedikit terjadinya penolakan.
Sejak raja itulah, maka manusia gunung dikenal di sepanjang lereng Pegunungan Tembok Surga. Terkenal dengan kepandaian pengobatan dan dukun-dukun pengusir setan atau siluman. Bahkan beberapa ahli nujum.
Dengan turunnya manusia gunung ke desa-desa sekitar, maka kepercayaan mereka secara tidak langsung menyebar luas di desa-desa tersebut. Maka pada jaman ini, desa-desa sekitaran lereng Pegunungan Tembok Surga memiliki cara hidup yang hampir mirip dengan manusia gunung. Hidup sederhana, jauh dari dunia ramai, yang penting setiap hari bisa makan dan melanjutkan hidup, dan memuji para dewa.
Sejak berkenalan dengan desa-desa ini pula, para manusia gunung mulai belajar bahasa manusia dataran rendah. Justru saat ini, mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa manusia dataran rendah daripada bahasa sendiri. Namun untuk acara keagamaan seperti pemujaan dewa bulan dan matahari, itu sepenuhnya dilakukan dengan bahasa mereka.
Walaupun begitu, raja itu nampak senang karena melihat nona besar mereka telah kembali. Dia tertawa bergelak.
"Malam ini harus ada pesta, harus!!" dia menunjuk Mi Cang dan Yu Nan Sia, "Kalian pastilah kawan-kawan nona besar bukan? Terima kasih kami ucapkan kepada kalian. Mulai sekarang sampai seterusnya, atas perintahku kalian akan terus berada di sisi nona untuk menjaganya. Berbahagialah!"
Mendengar itu, memang mereka merasa bahagia sekali. Apalagi Yu Nan Sia yang diam-diam amat memuja dan mengagumi gadis itu, dia akan berjingkrak-jingkrak kegirangan jika lupa sekarang berada di mana.
Namun kegembiraan Mi Cang hanya sebentar saja. Karena setelah itu keningnya berkerut dalam dan wajahnya serius.
"Benarkah kami harus bahagia dengan hal itu?" batinnya meragu. Tapi sebentar saja sudah ia buang jauh-jauh segala pikiran buruk. Yang penting dia terus mengawasi nonanya agar tetap aman.
__ADS_1
Raja itu menuntun ketiganya ke ruang dalam dan memanggil beberapa pelayan.
"Tempatkan mereka di rumah terbaik yang paling dekat dengan istana. Buat mereka serumah. Tentu saja kamar terpisah!" katanya.
Kemudian saat beberapa pelayan itu menggiring mereka, raja itu berseru lagi, "Jangan lupa pilihkan pakaian paling baik bagi mereka. Mereka orang luar, sedangkan nona hilang ingatan total, pasti masih bingung."
Chunglai yang melihat nonanya dan dua orang lain berjalan jauh menghela napas lega. Seolah beban hidup selama ini telah terangkat dengan kembalinya sang nona itu. Wajahnya yang selalu nampak dingin dan datar kali ini melembut dan enak dipandang.
"Paduka, kalau begitu saya akan kembali untuk bersiap."
"Ya, benar. Kembalilah dan datanglah ke mari malam ini, akan ada pesta besar!! Ahahaha...."
Chunglai membungkuk hormat dan pamit. Seperginya dia, raja itu memanggil para bawahannya dan memberi perintah untuk segera menyiapkan pesta. Semua perempuan pelayan disuruh memasak, sedangkan yang lelaki disuruh menghias istana. Seadanya saja asal meriah, demikian perintah itu.
Setelah selesai semuanya, dia masuk ke dalam ruangan di balik kursi kebesaran itu dan pergi menuju kamarnya. Nampak di atas pembaringan itu seorang wanita cantik semuran dengan dia, namun hanya wajahnya saja yang nampak sedikit tua dengan kerutan-kerutan wajah. Akan tetapi tubuh itu demikian menggairahkan dan masih mulus.
"Dia kembali?"
"Benar..." jawab paduka raja itu, "Hah....aku benar-benar lega...."
Sedangkan istrinya, hanya mengerling sejenak dan berbaring terlentang lagi. Ia tersenyum-senyum ke arah suaminya itu saat berkata lirih.
"Ucapanmu membingungkan...hihihi..."
Mendengar kekehan menggoda dari istrinya, raja itu tak kuat lagi dan dia menubruk. Melanjutkan permaiannya yang tadi sempat terhenti dengan kedatangan "nona Songli".
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG