
"Tuan Kushinage, jenderal Suga memanggil dan minta kepada tuan untuk segera menghadap."
Pria yang berumur kurang lebih empat puluh lima tahun, dengan rambut sebahu dikuncir ke atas itu menoleh sejenak. Setelah menghentikan kegiatan minumnya beberapa saat, dia mengacuhkan si pembawa berita dan melanjutkan minumnya. Demikian pula dua orang lain yang ikut menemaninya, bahkan sejak tadi tidak menolehkan kepala kepada si pelapor tadi.
"Katakan pada jenderal Suga, sebentar lagi aku datang." kata orang yang dipanggil Kushinage itu. Lalu dia menuangkan araknya lagi dan meminumnya. Bahkan kali ini dia lanjut mengobrol dengan dua kawannya.
Wajah samurai yang membawa berita itu memerah. Sebentar kemudian matanya memicing tajam dengan alis berkerut dalam. Tangannya sudah mengepal di kedua sisi tubuhnya dan napasnya mulai memburu.
"Maaf saja tuan, saya sudah mengenal belaka siapa adanya pendekar pedang Kushinage Tenko. Seorang ronin dengan kepandaian pedang yang sukar dicari bandingnya. Namun bukan berarti dengan nama anda yang besar, anda bisa seenaknya menyepelekan omongan jenderal." kata samurai itu menahan amarahnya. Terdengar dari suara itu sedikit bergetar, menahan kemendongkolan hati.
Tiga orang itu terdengar terkekeh-kekeh. Bahkan makin lama ada yang tertawa terbahak-bahak sambil menampar-nampar pahanya sendiri.
"Huahahaha...kau diejek...." kata orang yang tertawa tadi lalu menepuk pundak Tenko.
Kushinage Tenko itu hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Dia meletakkan cawan sebelum menoleh kepada samurai itu.
"Kau bilang sudah mengenal aku, maka kau tahu siapa aku kan?" tanyanya halus.
"Anda seorang ronin, samurai tak bertuan."
"Nah, kau tahu itu!" kata seorang lain lagi yang tadi ikut terkekeh. "Kau sudah tahu lalu apa maksudnya dengan ucapan terakhir itu?"
Samurai itu mengerutkan kening, "Omongan saya benar! Tidak seharusnya tuan Kushinage mengacuhkan perintah jenderal walau beliau sudah punya nama besar."
Dua orang kawan Tenko itu tertawa terbahak-bahak. Namun wajah pria berumur empat puluhan ini menjadi dingin.
"Aku seorang ronin, masih adakah kewajiban bagi pendekar bebas sepertiku untuk menurut selayaknya anjing kepada samurai?" ucap dingin Tenko dan matanya itu menyorot tajam, "Katakan saja padanya apa yang kuomongkan tadi."
Samurai itu tergetar tubuhnya. Dia sampai mundur satu langkah dan mengenal bahaya. Refleks tangannya sampai meraba gagang katana. Kemudian dia segera pergi dari sana tanpa pamit.
"Mungkin dia orang baru." kata orang yang tertawa paling keras di awal tadi.
Kushinage tak mengacuhkan itu dan kembali minum dengan santainya. "Hanya seorang ronin seperti kita, bukan berarti para samurai itu bisa memandang sebelah mata. Jika kita tidak menunjukkan kebolehan, pasti nanti para ronin akan ditempatkan di garis depan dan disuruh mati duluan."
Sementara itu, samurai tadi sudah tergopoh-gopoh menghampiri jenderal Suga dan menceritakan semuanya. Aneh sekali, lelaki yang berukuran cukup pendek untuk kalangan samurai itu hanya tersenyum.
"Kau orang baru, kau belum tahu." kata jenderal Suga, "Aku juga tidak mendesak. Tapi intinya dia sama sekali tidak membohong. Sebentar lagi datang."
Samurai itu merasa malu telah menghina Tenko tadi. Namun ketika dia mengangkat kepala, nampak bayangan orang di sebelahnya. Belum juga dia menoleh ketika terdengar suara.
__ADS_1
"Aku sudah datang." kata Tenko yang sudah memakai topi capingnya. Jika demikian, itu artinya dia telah siap mencabut pedang untuk mengunjungi musuh-musuhnya. "Jangan heran. Firasatku mengatakan malam ini aku diutus untuk beberapa urusan di luar pantai."
Samurai tadi terkejut sampai jatuh terduduk. Namun jenderal Suga agaknya sudah biasa dan dia hanya tersenyum.
"Ajak beberapa kawan roninmu. Pergilah ke Goa Emas dan selidiki keadaan di sana." kata jenderal Suga.
Kushinage Tenko mendengus, "Itu tidak seperti dirimu. Katakan yang benar, pedangku telah siap!"
Jenderal Suga tertawa sampai mendongak. Namun dia tetap tersenyum, bahkan tersenyum makin lebar, seperti seringaian.
"Bawa kepala pimpinan mereka!"
Tenko tersenyum, "Heh...orang yang licik!"
...****************...
Bersama tujuh orang kepercayaannya, Kushinage Tenko pergi ke timur menuju Goa Emas yang sudah nampak dari pantai tadi. Namun dia mendapat kenyataan betapa jalan menanjak itu sudah terhalang batu-batu besar berwarna hitam dan semuanya runcing-runcing. Tentu saja ini menyulitkan mereka yang harus membawa pedang di pinggang.
Namun karena rata-rata mereka telah memiliki kepandaian tinggi, maka tetap saja perjalanan yang sukar itu walaupun memakan waktu cukup lama, akhirnya mereka tiba juga di bawah perkemahan rombongan lawan.
Tenko mengangkat tangan untuk memberi isyarat berhenti kepada kawan-kawan. Mereka semua menurut dan berhenti di sekeliling Tenko.
"Berpencar, cari pemimpinnya!" perintah Tenko dalam suara berbsik.
Akan tetapi ketika delapan orang itu hendak berpencar ke tempat-tempat yang sudah direncanakan, tiba-tiba salah satu dari mereka terjungkal ke belakang saat kakinya bergerak mundur.
"Aduh!"
"Jangan berisik! Ada apa?!" bisik Tenko yang khawatir suara temannya itu bisa sampai terdengar hingga ke perkemahan. Karena jarak mereka saat ini sudah cukup dekat.
Tenko bersama tujuh orang lain hanya melihat ada kotak hitam panjang yang nampak kokoh kuat. Salah seorang mencoba mendekat dan meraba sana-sini.
"Keras..." kata orang itu, "Agaknya ini semacam peti."
"Coba buka." perintah Tenko.
Orang ini kemudian mencari-cari celah yang pas untuk membuka peti itu. Namun ternyata peti ini demikian halus dan tidak ada satupun tempat untuk membuka peti itu kecuali didorong dari dalam.
"Tidak bisa dibuka. Tidak ada tempat untuk menariknya." orang itu masih terus mencari-cari. Sampai ketika salah seorang temannya ingin membantu, dia tersenyum girang, "Ahh...kutarik kata-kataku. Ternyata peti ini tidak tertutup benar, ada celah di sini." orang ini lalu membuka tutup peti yang entah bagaimana menjadi sedikit terbuka itu.
__ADS_1
Ia membukanya dengan amat hati-hati, apalagi ketika terdengar bunyi tidak sedap dari gesekan engsel karatan itu. Ketika terbuka, hampir mereka semua menjerit ketika sinar bulan menerpa isi daripada peti itu.
"Ini...ini...sebuah mayat?" Tenko berbicara terbata-bata dan kakinya sedikit gemetar. Dia merupakan seorang pria tangguh yang selamanya belum pernah gentar menghadapi musuh yang bagaimana kuat pun. Namun kali ini lain lagi.
"Bagaimana bisa ada peti mati di sini? Sedangkan saat kita datang tak ada apapun?" kata seorang lain yang hampir terkencing di celana. Hanya karena harga diri dan rasa malulah yang membuat ia mampu menahannya.
"Cepat tutupkan kembali, jangan mengganggu jasadnya!" perintah Tenko yang merasa tidak enak kepada si jenazah.
Langsung saja orang yang tadi membuka menutupkan kembali peti mati itu.
Ketika mereka hendak bergerak untuk menyebar ke tempat lain seperti yang sudah direncanakan, kembali hal aneh terjadi.
Cahaya rembulan bersinar terang tanpa tertutup awan, membuat keadaan di sekeliling terlihat cukup jelas. Seharusnya mereka berdelapan yang mendatangi tempat ini, mengapa ketika itu jika dihitung, kalau tidak salah ada sebelas bayangan?
Tenko mengerutkan dahinya, ia tadi tanpa sengaja secara iseng menghitung bayangannya sendiri. Dan dia menemukan jika perhitungannya mencapai angka sepuluh tambah satu.
Dia coba hitung lagi dan tetap sama, lalu dicoba lagi dan lagi, hasilnya tetap tak berubah.
"Tuan, ada apakah?" tanya temannya yang merasa bingung dengan tingkah pemimpinnya itu.
"Sebelas? Bayangannya ada sebelas." kata Tenko memandang kepada teman-temannya, "Padahal kita berdelapan!"
Orang-orang itu terkejut dan mulai menghitung-hitung. Mereka nampak terkejut dengan apa yang dilihat, ternyata omongan Tenko benar adanya! Dan ini membuat bulu kuduk mereka meremang. Jangan-jangan hantu dari jenazah tadi telah keluar dan mengganggu mereka.
"Bayangan setankah?" celetuk seseorang yang tengkuknya sudah merinding.
"Mana ada setan berbayang. Itu bayanganku." kata seorang pemuda yang sudah berjongkok di sana sambil menunjuk bayangannya sendiri.
"Dan ini bayanganku. Jangan kaget karena lengan kiriku sudah tidak ada, sehingga nampak seperti bendera berkibar. Lalu itu bukan bayangannya." kata pemuda lain yang pakaiannya putih-putih, yang duduk di atas batu. Lalu dia menunjuk ke bayangan lain di mana ada seorang kakek terlentang di atas sebuah batu.
"Hah...kukira apa tadi. Ternyata kalian. Hei kalian, siapakah dan dari mana datangnya?" Tenko bertanya setelah menghela napas lega diikuti oleh tujuh kawannya. Namun seketika mereka berkeringat dingin dengan mata terbelalak.
"Sing-sing-sing!"
Pedang katana sudah terhunus dan mengeluarkan sinar perak begitu tertimpa cahaya matahari. Mata mereka mencorong seperti seekor harimau menemukan mangsa.
"Siapa kalian?!!" kali ini Kushinage Tenko membentak. Wajahnya sedikit pucat karena tidak menyadari kehadiran tiga orang itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG