Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 100


__ADS_3

Gavriel bergerak dengan tubuh dan wajah lebam, pria itu mendesahh kesakitan kemudian duduk di mistar taman, ia langsung menghubungi Traver.


"Halo Traver." Kata Gavriel


"Aku hanya ingin memastikan keadaan Daisy."


"Nona Daisy baik-baik saja Tuan Gavriel. Tenang saja Tuan Ben tidak mungkin menyakiti Nona Daisy."


"Baiklah." Kata Gavriel menutup ponselnya.


"Urggh... Pukulannya tidak main-main. Sepertinya dia ingin melampiaskan kemarahannya." Kata Gavriel memegangi tulang iganya.


"Seandainya Ben... Mau melepaskan Daisy. Aku tidak masalah menjaga Daisy dan anak itu."


Sedangkan di mansion tepatnya di kamar Daisy, Daisy sudah mulai memanas, ia tidak dapat menahan dan menolak lagi, karena Ben pasti sudah sangat memuncak. Ben tak bisa lagi di cegah, kekuatannya kalah jauh dari Ben.


"Ben... Ku mohon, ini tidak bisa, kau akan menyakiti bayinya." Kata Daisy.


Ben seolah tuli dan tak menjawab Daisy, pria itu terus menghisap dan mengulum dada Daisy yang sudah bengkak secara bergantian.


Seolah ingin menunjukkan pada Daisy bahwa Ben tak peduli, ia pun mulai menyentuh bagian sensitive Daisy dengan jarinya.


"Ughhh.... Beeenn...." Daisy mendongakkan kepala, ia pun juga merenggangkan kedua pahanya. Sentuhan Ben terlalu sempurna dan terlalu terampil hingga Daisy pun terbawa arus.


"Sudah ku bilang kan, bahwa aku ingin menghapus semua jejak yang sudah bajingaan itu sentuh." Kata Ben.


Dengan sedikit kasar Ben menggigit puncak dada Daisy.


"Ufftthhh...." Daisy menggigit bibirnya.


Tak sampai di sana, Ben memutar tubuh kecil Daisy untuk membelakanginya, dan kemudian meremas kedua pantatt Daisy.


"Aahh... Ben..." Wajah Daisy mulai sayu.


Jari Ben bermain terampil di wilayah sensitif Daisy, membuat Daisy tak lagi bisa menahan serangan kenikmatan yang di berikan.


Tubuhnya tersentak dan gemetar, Ben mengeluarkan miliknya dan memasukkannya dari belakang.


Daisy menahan dirinya yang memiliki posisi menungging dengan mencengkram kuat sprei dan bantal.


Ben menggerakkan pinggulnya maju dan mundur, dengan otot-otot yang Ben miliki semuanya bekerja dan menegang.


"Apa dia juga melakukannya seperti ini... Sayang?" Kata Ben menggigit telinga Daisy dari belakang. Tangan- tangan kekar Ben meremas remass kedua dada Daisy yang menggantung, dada itu semakin kencang dan padat karena akan memproduksi asi.


Ben semakin mempercepat gerakannya hingga Daisy meremas sprei dengan kuat, karena kenikmatan itu datang lagi.


"Ohhh.... Aaahh....!!" Daisy tersungkur di atas ranjang tak kuat lagi.


"Kenapa dengan stamina mu hari ini sayang? Kau menjadi lebih lemah di bandingkan ketika kau datang pertama kali ke mansion ini." Kata Ben.


Kemudian Ben memutar tubuh Daisy menghadap dirinya, dan memasukkan miliknya lagi.


"Cukup Ben... Jangan.... Sudah..."


Ben memompa pinggulnya sembari meracau.


"Apa aku harus mengatakannya berkali-kali? Aku masih sangat marah, dan tidak tahan membayangkan Gavriel melakukannya padamu. Jadi, posisi apa yang kau sukai saat bersamanyaa..." Kata Ben terengah.


Sedikit lagi Ben dapat mencapai klimakss, dan cairan kental akhirnya keluar lalu meleleh.


"AARRRRGH.....!!!!"

__ADS_1


"Sudah lama sekali." Kata Ben menekan pinggulnya lebih dalam lagi pada milik Daisy.


Kemudian Ben mencium bibir Daisy.


"Hanya satu putaran, dan kau hampir pingsan." Kata Ben mencium Daisy lagi.


Kali ini hanya satu kali putaran, karena Ben harus mengerjakan sesuatu, ia ingin segera bertemu dengan Gavriel.


"Aku akan pastikan Gavriel yang menjadi dokter aborssi mu." Bisik Ben di telinga Daisy.


Daisy tak lagi bisa berkata apapun, ia hanya bisa menangis.


Ben memakai celananya dan keluar dari kamar Daisy.


Traver yang menunggu di luar serta Mena yang mondar mandir cemas pun langsung melihat ke arah Ben ketika pria itu keluar dari kamar Daisy.


"Kalian di sini?" Kata Ben.


Traver dan juga Mena tak menjawab.


"Aku sudah bilang, aku tak akan menyakiti Daisy." Kata Ben.


Ben kemudian pergi ke kamarnya. Traver mengikuti Ben dari belakang, setelah itu Ben duduk di tepi ranjang dan meminum segelas air putih.


"Tuan... Saya menemukan buku perkembangan janin, sepertinya Nona Daisy tak menyadarinya saat itu terjatuh di tangga." Kata Traver menyerahkannya.


Ben menerima dan membukannya, ada debaran aneh ketika Ben melihat hasil USG dan di berikan keterangan dalam buku tersebut dimana letak janinnya.


Buku yang kecil dan bertuliskan nama Daisy.


Kemudian Ben kembali memasang wajah marah, ia membuka laci mejanya dan menaruh buku itu di dalam.


Namun, mata Ben tertuju pada sebuah botol berwarna cokelat, alisnya mengerut, dan perlahan tangan besar nan kekar yang memiliki urat-urat menonjol itu mengambil nya perlahan.


Ben tahu, obat apa itu.


Kemudian Ben pun memeriksa tanggalnya, di sana tertera tanggal saat Daisy pulang ke Mansion setelah 2 tahun tak pernah pulang.


Ben ingat itu adalah terakhir kalinya ia berhubungan badan dengan Daisy, Ben harus bergegas pergi ke perusahaan karena ada peretasan Data. Biasanya Mena lah yang mengurus itu, namun ternyata pelayan lain tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik.


"Traver panggil semua pelayan ke kamar ku. Semua pelayan yang membantu Daisy ketika dia baru tiba kembali di Mansion ini setelah 2 tahun menghilang."


"Maksud anda adalah, para pelayan yang pertama kali melayani Nona Daisy, ketika perusahaan sedang mengalami peretasan data? Karena anda pergi pagi-pagi sekali?"


"Hm...." Kata Ben meremas botol tersebut.


Tak butuh waktu lama Traver memanggil mereka semua untuk berkumpul.


Semua pelayan yang melayani Daisy, saat pertama kali Daisy tiba setelah 2 tahun menghilang pun sudah berdiri di hadapan Ben sembari menundukkan kepala mereka.


"Siapa yang bertugas menyerahkan obatnya pada Daisy saat itu." Kata Ben berdiri dengan menyedekapkan tangan.


"Sa... Saya... Tuan." Kata salah satu pengawal.


"Apa Daisy benar-benar sudah meminumnya." Kata Ben.


"Nona Daisy mengatakan akan meminumnya setelah selesai mandi."


"Apa kau sudah pastikan Daisy sudah meminumnya?" Kata Ben lagi.


"Kata Nona Daisy..."

__ADS_1


"Apa perlu ku ulangi pertanyaanku." Kata Ben penuh penekanan dan tatapam tajam.


"Su sudah Tuan. Nona Daisy sudah meminum obatnya." Kata pelayan itu ketakutan.


Traver yang berdiri mengawasi pun berdecak.


Ben melangkah dan mengambil obat dari laci meja milik Ben, lalu mengangkatnya.


"Lalu apa ini!!!" Teriak Ben.


Para pelayan mendelik dan membulatkan mata mereka.


"Apa kalian semuanya bodoh!!! Kenapa bisa yakin Daisy meminumnya, tapi botolnya masih tersegel dengan tanggal yang sama saat itu!!!" Kata Ben Berteriak.


"Maa.. Maafkan saya Tuan."


"Kalian semua memang tidak becus!!! Kalian pikir aku membayar kalian di sini hanya untuk melakukan kesalahan bodoh. Idiot!!!" Teriak Ben.


"Tuan ampuni kami Tuan."


Ben menekan pelipisnya, kepalanya terasa sangat sakit, dan berdenyut semakin panas.


"Sialan!!!" Teriak Ben.


Ben melemparkan obat itu ke lantai.


"PYAARRRR!!!!"


Botol obat yang masih tersegel itu pun pecah dan obatnya muncrat kemana-mana.


"Tuan Ben... Tuan Bennn...!!!!" Teriak Mena datang ke kamar Ben sembari berlarian.


"Kenapa kau begitu panik Mena." Kata Traver khawatir Ben akan semakin mengamuk.


"Darahh... Tuan... Darah... !!!"


Ben mengerutkan kedua alis dan dahinya.


Namun, melihat Mena panik dan tak bisa mengatakan apapun pasti telah terjadi sesuatu pada Daisy.


Ben panik, ia takut Daisy mencoba untuk bunuh diri.


"Apa Daisy mencoba untuk bunuh diri lagi seperti 2 tahun lalu ?"


"Traver pecat mereka semua!!!" Kata Ben sembari berlari menuju kamar Daisy dengan rasa cemas yang tak bisa lagi di ungkapkan.


Para pelayan pun menangis.


Ben yang berlari sampai di kamar Daisy melihat ranjang Daisy sudah berwarna merah. Meski tak terlalu banyak namun tetap membuat panik semua orang.


Daisy yang linglung hanya bisa melihat tangannya yang menyentuh darah di atas ranjang.


Dengan wajah pucat pasi Daisy melihat ke arah Ben, air matanya tak terkendali, dan bibirnya bergetar hebat.


"Daa...Rahh...." Kata Daisy ketakutan. Tubuhnya bergidik dan gemetar.


"Saya membantu Nona Daisy berpakaian, namun setelah selesai berpakaian darah keluar Tuan." Kata Mena ketakutan.


"Suruh Traver menyiapkan mobil sekarang juga dan hubungi Gavriel, katakan keadaannya darurat!!!" Perintah Ben.


Kemudian Ben mengambil mantel miliknya yang masih tertinggal di kamar Daisy dan memakaikannya pada bahu Daisy.

__ADS_1


Ben segera menggendong Daisy dan berlari keluar menuju mobil.


Bersambung


__ADS_2