
Wajah Daisy muram, ia benar-benar merasakan trauma dan benci dengan obat itu.
Apalagi, botol itu selalu mengingatkannya pada perlakuan Ben yang dulu seenaknya saja.
Melakukan hubungan badan tanpa henti hingga pagi, lalu meninggalkannya tidur sendirian, setelah itu para pelayan akan membawakannya obat pencegah kehamilan. Persis seperti menjadikannya pelacurr yang menjadi tahanan ranjangnya.
"Kali ini kau harus meminumnya sayang..." Kata Ben membujuk.
"Kenapa?!" Jawab Daisy ketus.
"Sebenarnya, setelah kau melahirkan, Dokter mengatakan sesuatu padaku."
"Apa?"
Ben mengambil kedua tangan Daisy dan menggenggamnya.
"Kau tidak boleh hamil lagi."
Daisy mengernyitkan kedua alis dan dahinya.
"Jika kau hamil, akan ada masalah, salah satu, ada kalian berdua tidak akan selamat, kondisi medis ini karena kau mengandung anak kembar. Tubuhmu tidak lagi bisa kuat untuk hamil." Kata Ben menerangkan.
"Bohong..." Daisy mulai menangis.
"Maafkan aku sayang... Aku tidak bisa dan tidak mau kehilangan dirimu."
"Kau bohong kan! Kau hanya tak mau punya anak lagi!"
Ben menggelengkan kepalanya, dan memeluk Daisy dengan kuat.
"Aku... Masih ingin punya anak... Setidaknya 3 atau 5..." Pinta Daisy dengan menangis.
"Mari kita besarkan Zac dan Zay sebaik mungkin." Kata Ben menenangkan istrinya.
Cukup lama Daisy menangis di pelukan Ben, dan ia pun akhirnya menyerah.
"Aku akan meminumnya. Zac danZay, mereka masih terlalu kecil. Mereka butuh aku."
Ben mengangguk pelan dan mengambil botol obat itu.
Daisy menerimanya dan dengan sedikit berfikir cukup lama, Daisy kemudian meneguk obat yang ada di dalam botol berwarna cokelat itu, semuanya.
Ben memberikan gelas berisi air minum putih, dan Daisy memberikan botol obat kosong itu pada Ben.
Setelah Daisy meminumnya, Ben membelai kepala dan rambut Daisy.
"Aku bangga padamu sayangg..." Kata Ben.
"Aku bukan anak kecil Ben..." Ingat Daisy pada Ben.
Ben tersenyum.
"Aku akan menengok perusahaan sebentar. Kau istrirahat dulu di sini, biarkan Zac dan Zay, Mena yang tangani." Kata Ben.
"Kenapa dengan perusahaan?" Tanya Daisy.
"Tidak ada apa-apa, tapi aku baru ingat jika hari ini ada jadwal bertemu dengan relasi luar negeri, aku tidak mungkin mengundurnya lagi, sudah 2 kali aku mengundurkan jadwal temu dengannya." Kata Ben.
Daisy mengangguk pelan.
Kemudian Ben mengecup kening Daisy dan beranjak pergi menuju Walk in Closet untuk bersiap.
******
__ADS_1
Setelah kepergian Ben ke perusahaan, ponsel Daisy tiba-tiba berbunyi, Daisy melihatnya dan ternyata itu dari Kieth Brawn.
Daisy mengangkatnya.
"Ya..."
"Hai... Bagaimana keadaanmu." Tanya Kieth Brawn canggung.
"Baik, terimkasih karena waktu itu kau sudah mendengarkan ceritaku, dan maaf karena aku kau menjadi terkena masalah dengan suamiku."
"Bukan masalah besar, tak apa. Kau sudah berbaikan dengan suamimu?" Tanya Kieth tiba-tiba.
"Ya... Sudah."
"Syukurlah... Ngomong-ngomong, ada berita bagus untukmu, Nona Ansella sudah sadar, katanya dia mencarimu. Aku akan menuju ke rumah sakit, kau mau ke sana?" Tanya Kieth Brawn.
"Benarkah... Dia sadar?"
"Ya... Jika kau mau..."
Belum selesai Kieth dengan kalimatnya, Daisy sudah menimpalinya, Daisy tahu dan sadar apa yang akan Kieth ucapkan, Kieth ingin menjemputnya dan mereka datang bersama.
"Aku akan ke sana, tapi aku harus meminta ijin dulu dengan suamiku." Kata Daisy.
"Baiklah, aku tunggu di rumah sakit."
Setelah panggilan di tutup dengan Kieth Brawn, Daisy menghubungi suaminya.
"Apa ada sesuatu sayang?" Kata Ben dari ujung ponsel.
"Ansella sudah sadar, Kieth baru saja menghubungiku, dan dia meminta ku untuk datang karena Ansella mencariku. Apa aku boleh pergi."
"Tunggu di mansion aku akan menjemputmu." Kata Ben.
"Aku akan mengantarmu, tunggu di mansion, akan ku jemput, jangan membantah." Kata Ben.
Daisy menelan ludahnya, ia tahu Ben masih marah dengan kejadian kemarin malam saat di Bar, ketika Daisy bertemu dengan Kieth.
"Aku akan menunggumu. Hati-hati di jalan." Kata Daisy.
Daisy pun menutup ponselnya.
Sedangkan Ben yang baru saja sampai di perusahaan dan masih di dalam lift, kemudian mengurungkan niatnya, ia memencet tombol untuk turun.
"Ada apa Tuan?" Tanya Traver.
"Kita pulang Traver, aku akan mengantar Daisy ke rumah sakit, Ansella sudah sadar."
"Tapi Tuan... Sebentar lagi Tuan Moranez akan tiba." Kata Traver.
"Suruh saja dia menunggu." Kata Ben santai.
Perjalanan pulang kembali ke Mansion memakan waktu setengah jam, dan Daisy sudah menunggu di depan lobby mansion.
Mobil terparkir tepat di hadapan Daisy, Ben pun keluar dan melihat istrinya sudah tampil dengan berdandan cantik.
"Kenapa harus berdandan secantik itu." Kata Ben dengan cemburu, sembari keluar dari mobil dan mendekat ke arah istrinya.
"Cantik? Apa aku berdandan berlebihan? Ini dandananku setiap hari, dan biasanya malah lebih mewah, ini sangat sederhana." Kata Daisy.
Ben melihat Daisy memakai scraf untuk menutupi bekas di setiap lehernya, dan Daisy memakai setelan baju serta celana panjang.
Ben kemudian menarik ikatan Scarf dengan pelan, dan terbukalah Scraf itu.
__ADS_1
"Ben...!" Pekik Daisy menutupi lehernya dengan kedua tangannya, leher Daisy begitu banyak bekas cupangg.
"Biarkan itu terlihat."
"Ini tidak sopan, aku malu, bagaimana jika orang nanti melihat dan menatapku dengan pikiran mesum."
"Aku ada di sampingmu, orang juga tahu kau istriku." Kata Ben.
"Tapi..."
"Orang akan berfikir bahwa kita adalah pasangan erotiss paling sensual dan membuat iri mereka." Kata Ben mengulurkan tangannya.
Daisy menyambut uluran tangan Ben dan berjalan di samping Ben.
"Terserah kau saja, aku tak pernah bisa menang dari mu." Kata Daisy.
"Tidak juga, akubyang lebih banyak mengalah." Sahut Ben.
"Ya... Asal kau senang sajalah." Balas Daisy lagi malas berdebat.
Akhirnya Ben hanya tersenyum menanggapi Daisy.
Traver membuka pintu mobil dan Daisy masuk, kemudian di susul Ben.
Mobil pun berjalan pelan menuju gerbang besar, dan melewatinya lalu masuk ke lajur jalan raya.
Tak butuh waktu lama, perjalanan mereka telah sampai di rumah sakit milik Gavriel.
Di sana Gavriel sedang mengobrol dengan Kieth Brawn.
Melihat kedatangan Ben serta Daisy, Gavriel pun tersenyum dan menyambut mereka.
Namun, saat Ben dan Daisy semakin mendekat, pandangan Gavriel tertuju pada bekas cupangg yang cukup banyak di leher Daisy.
"Astaga..." Kata Gavriel memutup mulut dan matanya dengan jemarinya.
Kieth juga melihat leher Daisy yang di penuhi bekas ******.
"Apa kau drakula." Kata Gavriel pada Ben.
"Aku sudah bilang padanya, orang akan melihatnya, dia malah menarik scraf yang ku pakai." Kata Daisy.
Kieth tak berkedip melihat leher Daisy.
"Sepanjang malamku, kami memiliki moment panas dan sensual, aku ingin memandanginya terus, itu mahakaryaku." Kata Ben pada Gavriel.
Kemudian Ben mengeluarkan Scraf yang tadi di pakai Daisy dari kantong jasnya, lalu memakaikannya lagi pada leher Daisy.
"Lehermu jadi tontonan, aku jadi cemburu." Kata Ben.
Daisy hanya mendesahh pasrah, ia tahu maksud dari perilaku Ben.
Ben hanya ingin pamer pada Kieth dan Gavriel, dia hanya ingin menunjukkan bahwa hanya dialah yang boleh menyentuh Daisy, dan Ben ingin menegaskan bahwa Daisy adalah miliknya dan tak boleh ada seorang pun yang boleh menyentuh apalagi mendambakannya, bahkan jika itu hanya sekadar membayangkannya.
"Lehermu begitu berharga, ternyata aku tak sanggup orang lain melihatnya, untungnya kau memakai setelan panjang, seluruh cupanng ku ada di setiap inci tubuhmu. Maafkan aku sayang..." Kata Ben sembari selesai memasangkan Scraf dan mencium pipi Daisy.
"Astaga, Ben, kau sangat kekanakan biasanya kau dingin dan acuh, kali ini kenapa jadi pria tukang pamer yang norak." Kata Daisy dalam hati dan menjadi malu sendiri.
Ben kemudian melihat ke arah Gavriel dan juga Kieth dengan kesombongan dan rasa bangganya karena Daisy adalah miliknya, hanya miliknya, dan Ben ingin mempertegasnya melalui pemandangan cupangg yang ia buat.
Ben ingin mengingatkan pada para pria itu, jika Daisy adalah miliknya, dan mereka tak akan mampu menggapainya.
Bersambung
__ADS_1