Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 215


__ADS_3

Semua melihat ke arah Gavriel.


Gavriel menelan ludahnya dan matanya nampak malas kemudian Gavriel memeriksa Ben kembali.


"Dia memang membenciku, dia selalu bilang bahwa aku adalah manusia sempurna namun bodoh, dia mengatakan aku memang cocok sebagai anjing pesuruh para konglomerat, dan dia merasa tersingkirkan karena ayah terlalu fokus padaku." Kata Gavriel kemudian melepaskan kabel dan selang di beberapa bagian tubuh Ben.


Semua terdiam mendengar kisah Gavriel.


"Sejujurnya, ibuku bunuh diri, karena Douglas pergi dan tak pernah kembali, ibu ku mati karena rasa penyesalan yang dalam, terakhir kali yang di katakan Douglas adalah, dia sangat benci terlahir menjadi bagian dari keluarga Murder, dan dia cacat mentalnya karena seorang ibu yang juga pasti tidak sempurna. Merasa di salahkan dan merasa bersalah, ibu terlarut dalam pikirannya sendiri, dan memilih bunuh diri dengan senapan milik ayahku, menembak tenggorokannya sendiri, tepat di hadapanku dan aku tidak bisa berbuat apapun, dan mulai saat itu, ayahku berhenti menjadi mafia, pria tua bodoh itu beralih membangun rumah sakit yang besar, latar belakang ayahku di bidang dokter, dia mundur dari aktifitas mafia dan beralih terjun ke dunia kedokteran, dan jadi seperti ini lah aku yang sekarang." Kata Gavriel.


Semua masih diam dan tidak tahu harus mengatakan apa, ternyata tebakan Rudolf yang sebenarnya hanya sebatas candaan, menjadi sebuah kisah kenyataan yang tragis dan menyedihkan.


"Ben, kau bisa pulang kembali ke Negara K, di mansion ruangan perawatan memiliki alat yang lengkap." Sambung Gavriel.


"Baiklah, tapi kau akan tinggal di Mansion bersamaku." Perintah Ben.


Gavriel menghembuskan nafasnya pelan.


"Ya... Aku dokter keluarga Haghwer hidupku adalah milik kalian." Kata Gavriel pasrah.


Zay tersenyum mendengar candaan Gavriel, saat itu Gavriel pun sadar bahwa Zay sudah tumbuh menjadi gadis perawan yang sangat cantik.


Zay memiliki perpaduan wajah 50-50 dari milik Daisy dan Ben.


"Syukurlah... Senang mendengar ayah bisa pulang." Kata Zay memeluk Ben.


Ben merangkulkan tangan nya ke punggung Zay.


"Kapan kita bisa pulang ke Negara K?" Tanya Daisy bersemangat.


Seolah kabar kepulangan Ben dan perkembangan Ben yang baik seperti pengganti dan pelipur lara nya.


"Hari ini? Jika kalian tidak sibuk?" Kata Gavriel tersenyum.


"Setuju!!!" Teriak Zay.


"Saya akan siapkan semuanya." Kata Traver.


"Aku akan bantu Traver." Kata Rudolf.


Namun, satu sisi lain, Derreck melihat ke arah Gavriel, matanya sudah sejeli elang, dan kemudian maju mendekat pada Zay.

__ADS_1


"Zay... Ikut paman, kau juga harus bersiap." Ajak Derreck.


"Bersiap apa paman?" Tanya Zay tak mengerti.


"Banyak yang harus kau urus di perusahaan Negara AS jika kau ingin pindah ke Negara K, paman dan Casey akan membantumu membereskannya." Ajak Derreck.


Gavriel sadar, perubahan sikap Derreck padanya, sedangkan Derreck juga sadar bahwa Gavriel sedikit banyak mulai menyimpan rasa pada Zay.


Derreck tidak mau keponakannya kembali terperosok dalam cinta yang salah, karena Gavriel adalah pria yang sudah berumur lebih dewasa dari Zay seperti hal nya Carlos. Meski Derreck tahu, Gavriel pria yang baik, namun Derreck belum siap jika Zay harus berurusan dengan cinta lagi.


Derreck berusaha melindungi Zay agar tak terluka lagi jika itu menyangkut cinta dan perasaan.


Dengan lembut Derreck memeluk bahu Zay dan mengajaknya pergi, sedangkan Gavriel melihat ke arah Derreck dan Zay yang pergi tanpa berkedip hingga melewati pintu keluar.


"Ada apa dengan tatapanmu." Kata Ben.


"Kenapa?" Tanya Gavriel kemudian sadar.


"Kau seperti kehilangan mangsa." Kata Ben.


Gavriel sontak tertawa.


"Aku tidak memangsa seperti dirimu." Kata Gavriel.


Daisy mengangguk pelan dan kemudian pergi.


Setelah tak ada orang di ruangan itu, Ben menatap serius pada Gavriel.


"Aku bisa saja merestuimu Gavriel, tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak menyakiti Zay." Kata Ben langsung tanpa basa - basi.


"Apa maksudmu." Kata Gavriel santai lalu duduk di sofa dan menyilangkan kaki.


"Aku akan merestuimu jika kau memiliki perasaan pada putriku, tapi sebagai gantinya, bujuk Ayahmu menyerahkan pasukannya untuk Zac." Kata Ben.


"Kau sedang ngelantur? Kau menjual Zay?" Kata Gavriel mulai serius.


"Tidak perlu berbohong, kita saling mengenal bukan sehari dua hari, atau setahun 2 tahun. Tatapanmu pada Zay, jauh lebih dalam daripada saat kau menatap istriku untuk pertama kalinya."


"Hahaahha... Itu karena Daisy adalah milikmu, dan aku tahu tidak akan menang melawanmu." Kata Gavriel.


"Ya sudah, mungkin aku terlalu baik, jadi ku pikir tak perlu melakukan pembicaraan lebih lanjut." Kata Ben.

__ADS_1


"Setuju." Kata Gavriel kemudian dengan cepat.


Ben melirik sedikit ke arah Gavriel.


"Aku setuju, aku akan bujuk ayahku yang kolot itu." Kata Gavriel.


"Tapi, jika Zay tidak menyukai mu apa kau akan terus melanjutkannya." Kata Ben.


Gavriel berfikir sejenak.


"Cinta yang bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan tapi, aku juga butuh pasangan tidak ada salahnya aku mencoba mendekati Zay." Kata Gavriel.


Ben mengangguk pelan.


"Tapi, kau juga harus ingat, ada Derreck, setelah kejadian ini Derreck terlihat semakin protektif pada Zay." Sahut Ben.


"Kau ayahnya kenapa kau justru melakukan hal ini pada Zay. Seharusnya kau yang lebih protektif padanya."


Ben diam sejenak.


"Pertama, sudah ada Derreck kedua aku percaya padamu, kau juga akan menjaga Zay. Kedua, aku juga harus memikirkan Zac, meskipun aku percaya pada kemampuannya, namun Zac tetaplah anakku. Ketiga, meskipun Zac keluar dari Marga Haghwer, dia selamanya tetap menjadi ahli warisku, meskipun dia tak pernah tahu apa yang aku pikirkan untuknya bahwa dia tetaplah akan menjadi pewaris Haghwer, di lain sisi lagi, tujuanku yang sebenarnya juga ingin terus mengasah kemampuannya, jadi aku ingin tahu sampai batas mana dia bisa melawanku, apakah dia bisa mengalahkanku atau kah dia masih harus terus di tempa."


Gavriel mengangguk tanda mengerti .


"Jadi, sepertinya Zac, benar-benar serius akan melawan keluarganya sendiri." Kata Gavriel.


"Aku juga tidak menyangka Zac benar-benar memilih melawan keluarganya sendiri. Dia memiliki watak dan sifat serta kepribadian yang sama denganku, namun untuk urusan wanita aku heran dia mengikuti jejak siapa, rumor dan gosip bahwa dia playboy sudah menjadi pembicaraan di berita setiap harinya. Jadi, ku pikir hubungannya dengan gadis itu tidak akan bertahan lama." Kata Ben.


Gavriel membuang nafas pelan, dan melihat ke arah Traver yang sudah tiba di kamar Ben.


Gavriel dan Traver saling pandang, dan hanya mereka sendiri yang paham apa arti saling pandang mereka.


Sesungguhnya yang mengetahui penyakit Impoteen Zac, hanya Gavriel dan Traver, jadi Gavriel sendiri sudah di sumpah untuk menjaga rahasia pasiennya, sedangkan Traver tak mungkin mengatakan itu pada keluarga Zac, karena sama saja Traver sedang memperolok Zac di hadapan keluarga Zac tentang kekurangan Zac.


"Ekhem... Tuan Ben, semua sudah siap." Kata Traver serak dan canggung.


Ben mengangguk pelan.


"Ayo." Kata Ben.


Gavriel kemudian berdiri dan memanggil para perawat untuk mempersiapkan semua keperluan saat berada di pesawat, saat itu Daisy juga sudah tiba membawa pakaian untuk Ben.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2