
Semua tertuju dan melihat pada Gavriel yang tiba-tiba sudah ada di lokasi untuk menyusul Zay.
"Baiklah... Baiklah... Aku akan membatalkan penyebaran video nya jika Ben mau menyerahkan dirinya padaku."
Semua terdiam.
"Ayo... Tidakkah ada di antara kalian yang mau memberitahu Ben, bahwa dia harus menyerahkan dirinya dan kekuasaanya?" Tanya Gia dengan bangga.
"Astaga... Padahal aku sudah berharap, Ben akan menyerahkan diri demi sang anak, ternyata dia jauh lebih menyayangi diri sendiri. Kasihan sekali kau Zay." Ejek Gia.
Saat itu Ben masih di mansion wilayahnya di Pulau Kematian, dan belum berniat untuk bergabung, ia masih memantau apa yang akan Gia dan Aaron lakukan.
"Ben, sekarang Traver sedang mencoba meretas jaringan tapi ia komputer-komputer yang ia retas terlalu banyak. Ternyata Gia tidak memakai satu komputer sebagai induk, melainkan beberapa dari para mafia kelas rendah yang akan mengaploud semuanya dari masing-masing perangkat mereka. Jadi Traver harus melakukan peretasan yang cukup banyak." Kata Rudolf.
Sedangkan di tanah lapang, Gia sudah menghitung mundur, jika video itu akan segera tayang.
"Aku menghitung mundur dari angka 10, jika Ben tidak datang dan menyerahkan dirinya padaku, maka video itu akan di tayangkan." Kata Gia mulai menghitung.
Aaron dan Zay masih saling todong belati, Zac mulai ancang-ancang mengambil samurai dan pistolnya, apapun yang terjadi Zac akan tetap maju dan membantai sedangkan Charles dan Gavriel sudah juga siap menyerang.
"Ayah, apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan!" Geram Zac dalam hati.
Di dalam Mansion milik Ben, Rudolf kembali mengabarkan pada Ben.
"Ben, Gia memintamu datang, kita tak punya waktu lagi atau video itu benar-benar akan di sebar." Kata Rudolf.
"Apa permintaannya."
"Dia memintamu menyerahkan kekuasaan, dan dia meminta kau menyerahkan diri pada Gia."
"Wanita kotor itu tidak pernah menjadi pintar. Aku datang ataulun tidak, dia akan tetap memutar video itu." Kata Ben dengan tenang.
"Tapi, Traver dan para pengawal tidak punya cukup waktu Ben, terlalu banyak komputer yang harus mereka retas, berbeda jika ada satu yang menjadi induk nya." Kata Rudolf.
Ben diam sejenak, ia hendak mengambil senjatanya dan akan pergi ke pertarungan untuk menemui Gia.
Namun tiba-tiba listrik mati.
"PAATTSSS!!!" Seluruh listrik di Negara K mati.
"Hidupkan daya!!!" Teriak Rudolf.
"Sial." Geram Traver marah.
"Ini adalah peluang untuk memperpanjang waktu." Kata Rudolf.
"Namun, di situs internet akan tetap terus berjalan bagi mereka yang sedang meng upload video." Kata Traver.
Setelah menghidupkan daya, mansion kembali menyala dan Traver melanjutkan tugasnya. Namun di Negara K listrik masih tetap mati, hanya saat mereka menghidupkan banyuan daya, saat itulah waktu lebih panjang agar Traver dapat segera menyabotasi setiap layar tv gedung.
Di lain sisi, sebenarnya ada seseorang yang sengaja mematikan listrik secara total, ia menyabotase semuanya.
Pria muda itu bergerak dengan cepat dan menghidupkan semua komputer di ruangan kendali miliknya sendiri.
"Percepat pengerjaan, mereka hanya mafia kelas rendahan." Perintah pria itu.
__ADS_1
Dan pria itu adalah Gege Vamos.
Salah satu video telah masuk di jaringan internet dengan cepat dan sudah ada beberapa yang melihatnya termasuk Gege Vamos. Diam-diam Gege Vamos telah mengikuti perkembangan permasalahan keluarga Haghwer.
"Sial!" Gege Vamos kemudian duduk di kursinya dan jarinya mulai mengetik dengan cepat dan terampil setiap keyborad yang ada di depannya dengan cekatan.
"Siapapun yang melihat video itu akan ku buat mata kalian buta." Kata Gege Vamos.
Jari Gege Vamos terampil menekan setiap keyboard dan ia berniat untuk meretas jaringan, lalu menghapus setiap video yang sudah tersebar di internet.
"Tuan, sepertinya untuk area Layar TV fasilitas umum sudah beres, seseorang bergerak dengan sangat cepat."
"Itu pasti Traver." Kata Gege Vamos masih fokus.
Di lain pihak Traver yang sibuk mengakses dan meretas pun mengabarkan pada Ben.
"Ada yang membantu meretas dan menghapus setiap video yang terlanjur di re-upload." Kata Traver sibuk mengetik dan matanya fokus pada layar.
"Benar Tuan, pergerakannya juga sangat cepat, dia menghapus setiap video yang akan di unggah kembali."
"Sepertinya dia juga berniat mencari tahu siapa yang mengunduh dan mengaploadnya lagi." Kata Traver.
"Siapa orang yang membantu kita." Tanya Rudolf.
"Akan saya selidiki Tuan." Kata Traver.
Di lain tempat, Gege Vamos sudah menemukan oknum-oknum masyarakat yang sudah melihat video tersebut, dan beberapa creator yang dengan sengaja mengunduh dan menyebarkan lagi di akun mereka agar mereka mendapatkan uang.
"Saat nya mendatangi mereka. Para bedebah sampah, dan para mafia kelas rendah, lokasi sudah terkunci, kalian semua pergi bunuh mereka." Kata Gege Vamos sembari masih sibuk dengan layar besarnya yang ada di hadapannya.
"Tuan Gege Vamos, apa yang harus kita lakukan pada orang-orang yang sudah melihat video tersebut."
"Temukan lokasi mereka dan buat mereka buta, jika perlu bunuh." Kata Gege Vamos.
"Baik kami akan lakukan." Kata Pengawal tersebut.
Di pulau kematian. Semuanya mendadak menjadi hening, bahkan Gia menjadi merasa aneh.
"Aaron, periksa apakah sudah terputar, kenapa listrik menjadi mati."
Aaron kemudian menghubungi anak buah nya yang berjaga di mansion wilayah Pulau Kematian.
"Apa yang terjadi." Tanya Aaron.
"Tuan, semua di serang hacker, dan gagal menyiarkannya, peretas sangat cepat, bahkan para warga atau masyarakat yang sudah terlanjur melihat di internet, mereka di bunuh." Kata Pengawal itu.
Saat itu juga Rudolf juga menghubungi Zac, Zac pun mengangkat ponselnya dengan tenang dan menempelkan di telinganya sembari masih dengan sikap siaga melihat ke arah depan.
"Zac, video sudah terkendali kau boleh menyerang." Kata Rudolf.
Zay mendengarnya juga ketika Aaron berbicara dengan pengawalnya, dan Aaron terlihat mulai kehilangan konsentrasi, Zay langsung membanting tubuh Aaron, ke tanah.
"BRRUGG!!!" Aaron terbanting di atas tanah.
"ZAAACCC SAATNYA MENYERAANGG!!" Teriak Zay.
__ADS_1
Zay pun memiting Aaron, ia hendak menusuk belati miliknya namun Gia dengan cepat memutar pemukul bisbolnya dan langsung mengenai tubuh Zay.
"BUUGGGHH!!!" Zay terjatuh di atas tanah, Gavriel berlari mendatangi Zay.
Semua pasukan pun berlari saling bentrok.
"HYYYYAAAAA!!!"
"SSEEERRAAANGGG!!!"
"BAAANTTTAAIIIII!!!" Teriak pasukan Zac.
Mereka semua saling menebas, membantai, memukul dan saling membunuh, mereka memakai pedang, pisau, serta senjata, bahkan mereka memakai pemukul bisbol untuk meremukkan tulang lawan.
"DOORRR!!"
"DOOORRR!!!"
Semuanya bertarung, banyak darah sudah membanjir, banyak tubuh juga sudah remuk, namun, para pasukan masih saling menyerang.
Zac maju dengan samurainya dan ingin mengarahkan pada Aaron, ia ingin sekali merobek mulut Aaron.
Sedangka Heiden yang sejak lama diam, mulai mengeluarkan pistolnya menembak ki membabi buta dan selalu tepat sasaran.
Zac terus maju, dan sudah semakin dekat dengan Aaron.
"CHARLESSS!!!" Teriak Aaron.
Zac sudah sampai di hadapan Aaron dengan mengacungkan samurainya, dan sial menghunuskannya, namun Aaron masih menahannya dengan belati besarnya, kini mereka adu kekuatan.
Charles yang merasa di panggil oleh Aaron, hanya melihat dan Aaron juga melihat ke arah Charles.
"Sialan dasar pengkhianat!!!" Teriak Aaron.
Kemudian Gavriel yang menolong Zay, tiba-tiba di pukul dengan pemukul Bisbol oleh Gia tepat di kepala Gavriel.
"BUGGG!!!"
Darah di kepala Gavriel langsung muncrat.
"Gaavrrieeelll!!!" Teriak Zay.
Dengan cepat Zay bangun dan menendang Gia, ia mengeluarkan tongkatnya yang lentur, lalu terbang dan mendangi Gia lagi.
"Kau merasa kau adalah mafia? Dasar amatir!! Teriak Zay.
Tiba-tiba saat Zay sedang menekan Gia, dan Zac juga sedang adu kekuatan dengan Aaron, lalu Charles dengan Heiden.
Sesuatu yang rusuh dan terlihat sangat bar-bar pun datang, mereka adalah para pasukan mafia kelas rendahan yang begitu gila kekuasaan, mereka rela melakukan apapun asal mendapatkan imbalan kekuasaan dan wilayah ataupun harta.
Pertarungan yang tidak memiliki teknik, hanya ingin terus menyerang dan menyerang tanpa henti, itulah mereka, para mafia kelas rendahan.
"Sial." Kata Zac.
"Selamat menikmati." Kata Gia bangga dan mundur di belakang para pasukan mafia kelas rendahan.
__ADS_1
Bersambung~