
Kieth Brawn, pria itu tinggi, kharismatik, dan memiliki wibawa, sayangnya Ben masih menjadi pemenang dari banyak pria, Ben terlalu tampan dan terlalu tinggi dengan postur tubuh besar yang sangat seksi.
Daisy tahu tak ada yang bisa menandingi ketampanan Ben, serta sifat dingin dan otoriter Ben.
Malam itu, Daisy mengirimkan pesan pada Kieth Brawn, bahwa ia menunggu di bar.
Kieth Brawn langsung meluncur dan mendapati Daisy duduk sendiri.
"Kenapa harus di sini? Kau duduk sendiri, apa suamimu tak masalah?" Kata Kieth pada Daisy.
"Dia sudah 3 tahun lebih tak memperdulikan aku, dia tak akan marah." Kata Daisy tanpa basa-basi.
Setelah mengalami berbagai hal, Daisy memiliki sifat yang blak-blak an, dia juga tak malu mengakui sesuatu yang membuatnya tak suka.
"Kau tidak minum?" Tanya Daisy.
"Tidak, aku harus menyetir." Kata Kieth.
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?"
Kieth melihat jemari lentik Daisy yang memegang gelas kecil koktail, jemari mungil yang lentik dan terlihat bening serta berkulit putih, sepersekian detik terlintas di pikiran Kieth bagaimana rasanya jika ia mengulum jemari itu dengan lembut.
Kieth dengan cepat membuang pikiran mesummnya dan mulai mengeluarkan sebuah foto, ia menaruhnya di atas meja marmer di depan Daisy.
"Aku akan berbicara santai denganmu. Apa kau mengenalnya?" Tanya Kieth dengan menunjuk foto itu.
Daisy meminum lagi koktailnya dan melirik.
"Dia ibu tiriku, tapi dia ibu kandung Ansella." Kata Daisy santai dan menaruh gelasnya di atas meja marmer.
"Ada yang aneh, Nona Ansella belum sadar, perawatannya juga di tanggung Asuransi, namun ibunya datang ke perusahaan Asuransi serta ke bank di hari yang sama, ia ingin meng klaim asuransi dan menarik tabungan milik Ansella." Kata Kieth.
"Apa?!" Daisy tertegun mendengar ucapan Kieth.
"Ada sesuatu yang kau ketahui tentang nya?" Kieth mulai bersemangat.
"Samantha?"
"Namanya Samantha?" Tanya Kieth.
"Ya, dia dulu menjualku ke seorang mafia tua hidung belang yang sudah memiliki banyak istri." Kata Daisy.
"Astaga. Lalu?"
"Entahlah, perjalanan ku panjang, tak cukup hanya semalam aku bercerita. Namun, terakhir kali aku tidak mendengar kabarnya, lalu Ansella menanyakan nya padaku apakah Ben telah melakukan sesuatu pada ibunya. Aku bertanya pada Ben, apa dia tahu dimana keberadaan Samantha, ternyata Ben menyerahkan Samantha pada Traver, dan katanya bahwa Samantha tidak di bunuh, melainkan di masukkan ke dalam penjara untuk bekerja di sana. Ben mengatakan sebuah keajaiban Traver tak membunuhnya atau menyiksannya sebagai bahan eksperimen." Kata Daisy panjang lebar.
__ADS_1
Kieth meremas mulutnya dan merasa merinding, dia sering mendengar bahwa Ben adalah mafia kejam berdarah dingin, apalagi Traver tangan kanan Ben yang selalu ada di sampingnya. Namun, mendengar cerita dari orang terdekat Ben yaitu tak lain dan tak bukan adalah istri Ben, membuat Kieth bergidik dan mual.
"Kami sedang melakukan pengejaran pada Samantha." Kata Kieth.
"Jika kau mau meminta tolong pada suamiku, tidak sampai 1 hari mereka pasti sudah ketemu." Kata Daisy.
"Tidak, ini urusan kepolisian, tidak boleh ada ikut campur dari organisasi lain, kami akan di nilai tak becus dan tak mampu untuk mengurus kasus." Kata Kieth.
Daisy mengangguk pelan, dan meminum koktailnya lagi.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Kieth.
"Hmmm?" Tanya Daisy.
"Kau minum terlalu banyak." Kieth melihat gelas-gelas kecil ada di depan Daisy.
"Tidak... Tidak apa-apa, aku ingin melupakan sesuatu, ada banyak pikiran di kepalaku, membuat dada ku sesak, kepalaku sakit, dan aku tak minat melakukan apapun, rasanya aku kesepian dan kosong." Kata Daisy.
"Kau sedang ada masalah?"
"Ya... Sepertinya suamiku berselingkuh." Kata Daisy
"Pfftt..!!!" Kieth menahan tawanya.
Daisy melihat Kieth dan bingung, kenapa pria itu justru tertawa.
"Tidak, maafkan aku. Mungkin kau hanya terlalu jauh berpikir. Kau tahu, seseorang yang bisa berdampingan dengan wanita seperti dirimu, mereka pasti tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu."
"Kenapa?"
"Kau seperti malaikat, kau seperti dewi, sejujurnya sejak pertama kali aku melihatmu, aku tidak tahu kau seperti sedang menyihir diriku, aku tak bisa lepas dari pikiran tentang dirimu, wajahmu, bahkan setiap inc tubuhmu seperti sangat manis untuk.... Oh maafkan aku... Aku menjadi pria cabull..." Kata Kieth tertawa.
"Tidak... Lanjutkan kalimatmu..." Kata Daisy menatap dalam wajah Kieth.
Tawa Kieth pudar, ia kemudian memasang wajah serius.
"Kau sangat cantik Daisy, tidak akan ada yang tidak terpikat olehmu, kau lihat lah sekelilingmu, semua pria melihatmu, mereka juga iri denganku karena aku bisa duduk di sini bersamamu." Kata Kieth.
Daisy tersenyum getir dan pendek.
"Tapi semua itu tak ada artinya jika Ben tak menyukaiku, sudah 3 tahun lebih dan dia..." Daisy tak melanjutkan kalimatnya.
"Lupakan saja." Lanjut Daisy dan hendak meminum koktail lagi.
Namun, dengan cepat Kieth menahan tangan Daisy dan memgambil gelas koktail itu, lalu menaruhnya di atas meja marmer.
__ADS_1
"Sudah cukup kau sudah mabuk Daisy." Kata Kieth.
"Aku sedang menjadi seseorang yang tersesat, aku ibu dari anak-anak kembarku yang lucu dan menggemaskan namun, semua itu seperti tak ada artinya bagi Ben." Kata Daisy mulau meracau.
"Aku akan mengantarmu pulang." Kata Kieth hendak memapah Daisy turun dari kursinya.
Namun ketika Daisy menurunkan kaki, ia tersandung dan dengan cepat Kieth memeluk Daisy agar Daisy tak terjatuh. Tubuh Daisy merapat ke meja marmer dan Keith memeluk erat Daisy.
Wajah mereka saling dekat, Kieth memeluk Daisy lebih erat lagi, entah sihir apa yang telah Daisy lakukan hingga ia dapat menakhlukkan semua pria, wajah cantiknya yang polos namun juga menantang dan membuat sedikit menggelitik para pria untuk penasaran rasa apa dan sensasi apa yang akan di keluarkan dari seluruh bagian tubuh Daisy.
Kieth seperti terseret dalam hisapan tak berdasar, ia ingin berhenti tapi tak bisa, itu seperti sihir, Daisy begitu sangat cantik dan memikat, tubuhnya seksi dan sensual, ada rasa kenyal dan lembut yang menyentuh tubuh Kieth ketika tubuh merwka menyatu dan menempel di tubuh Kieth yang terhalang oleh kain yang mereka pakai.
"Apakah aku boleh..." Maksud Kieth adalah apakah dia boleh mencium Daisy.
Daisy tak menjawab dan hanya berkedip lemah sembari melihat dengan mata sayu yang pasrah di hadapan Kieth.
"Tentu saja tidak boleh Bangsatt!!" Teriak Ben dan menarik Kieth dari Daisy kemudian langsung memukul wajah Kieth.
Ben meraup wajahnya sendiri dan tak percaya Daisy melakukan hal yang di luar batas kesabaran dan kepercayaannya.
"Apa kau sudah gila!!!" Teriak Ben pada Daisy dan mencengkram lengan Daisy dengan kuat.
"Ben... Apa itu kau..." Mata Daisy berkedip, pandangannya kabur.
"Bukankah kau harus menjaga si kembar? Kenapa kau ada di sini? Astaga... Tidak mungkin... Apa aku terlalu mencintaimu sehingga aku juga berhalusinasi sosok mu di sini." Kata Daisy tertawa.
"Kita bicara di rumah." Kata Ben hendak membawa Daisy pulang dan menarik lengannya.
"Tidak!!! Aku tidak mau!!! Kau sudah mencampakkanku, kau selingkuh di belakangku!!!" Teriak Daisy.
"Aku tidak pernah berselingkuh Daisy!!!"
"Pembohong!!!" Teriak Daisy dengan menangis.
"Ayo kita pulang." Ajak Ben.
"Lepaskan!!!" Daisy merontak dengan tubuh tak terarah dan goyah.
Namun, beberapa menit kemudian Daisy muntah karena terlalu mabuk.
"Huweeekkk!!!! Huweeekkk!!!!" Daisy muntah di baju Ben dengan mencengkram jas milik Ben.
Ben mendesahkan nafasnya pelan, kemudian menepuk pelan punggung Daisy.
"Ayo kita pulang dan bicara di rumah sayang. Okey..." Pinta Ben dengan lembut.
__ADS_1
Bersambung