Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 160


__ADS_3

"Ku rasa dia hanya ingin bermain-main, melepaskan semua hal yang menyesakkan, dari kecil Zac selalu di tempa dengan kedisiplinan yang super ketat, pelajaran di luar kategori usianya, pendidikan keras, serta dia di tuntut bisa mengusai seluruh beladiri dan pertahanan diri, itu semua tidak mudah bagi anak-anak dan remaja, apalagi sudah di pastikan dia melewatkan masa pubertasnya, berkencan dengan wanita atau apapun itu, yang ku dengar saat masa remaja kau memindahkan Zac dan menugaskan Zac ke luar negeri, itu adalah pukulan terberatnya karena ia harus berpisah dengan ibunya dan juga adiknya." Kata Derreck.


"Tapi pada akhirnya Zac menjadi seperti sekarang, aku puas meski dia membenciku, setidaknya dia menjadi sosok yang kuat." Kata Ben.


"Bukan hanya itu, masalahnya adalah pernikahanmu dan hubunganmu dengan Daisy juga tersandung, berapa puluh tahun "barangmu" kau simpan. Pfftt...." Tiba-tiba Gavriel datang dan ikut bergabung dalam obrolan itu.


"Apa daritadi kau menguping." Kata Ben dingin.


"Aku tidak sengaja mendengarnya. Aku membawa vitamin untuk Daisy, dan aku melewati ruangan ini lalu mendengar obrolan kalian, ku pikir akan asyik jika kita semua menyerbu diri mu Ben. Xixixixixi...." Kata Gavriel tertawa geli.


Ben menyandarkan punggungnya di sofa dan mendesahhkan lagi nafasnya.


"Aku bilang aku tidak punya pilihan lain selain mendidik mereka sendiri dengan tanganku sendiri, aku tidak percaya pada orang lain, meskipun Daisy akhirnya tidak kuat dan membenciku, aku pun terluka dan sedih setiap kali melihat Daisy menangisi anak-anaknya, kalian pikir hatiku terbuat dari apa, aku sebenarnya juga tidak tega mendidik anak-anakku yang masih kecil sekeras itu, tapi aku tidak ingin mereka tumbuh besar tanpa otak dan kemampuan, dunia mafia ini sangat tak bisa di tebak, apalagi aku khawatir seseorang yang paling ku percayai atau paling di percayai anakku akan mengkhianatinya, jadi aku menempatkan Traver di sisi Zac, dan Mena di sisi Zay." Kata Ben panjang lebar, baru kali ini Ben berbicara sepanjang itu, seolah ia pun juga ingin mengeluarkan keluh kesah yang ada dalam dirinya setelah berpuluh-puluh tahu hanya memendamnya sendirian.


"Sekarang Zac sudah menjadi seperti yang kau inginkan, apa kau tidak ingin mencoba berbaikan dengan Daisy?" Tanya Gavriel.


"Aku sudah mencoba ribuan kali, tapi tatapannya padaku masih sama, kebencian yang sangat dalam, semua hal yang aku lalukan pada Zac dan Zay sepertinya sudah tertanam, mengakar dan terpatri di dalam otak serta hatinya." Kata Ben.


Semua hanya bisa mendengar, sebenarnya keputusannya adalah di tangan Daisy, apakah Daisy akan memaafkan Ben ataukah dia akan terus menjaga jarak dan memilih pisah ranjang dengan Ben.


"Tapi, ku dengar akhir-akhir ini Zay sedikit keluar jalur juga. Mena sedikit kerepotan." Kata Derreck.


"Itu semua akibat didikan yang terlalu keras, cobalah kau sedikit hangat pada mereka Ben, saat mereka masih bayi kau begitu penuh kasih dan sayang, kau sangat lucu pada mereka." Kata Mark Waldorf.


"Kau juga sangat lucu ayah, sampai sekarang aku masih mengingat wajahmu yang begitu imut ketika bermain cilukba dengan Zac dan Zay... Hahahahhah!!!" Derreck tertawa menahan perutnya.

__ADS_1


"Terakhir kali ketika aku hendak menjodohkan Zay, Daisy mengatakan akan angkat kaki dari mansion." Kata Ben.


"Separah itu?" Tanya Gavriel.


Semua orang terkejut.


"Daisy tidak mau ada perjodohan apapun, katanya biarkan anak-anaknya memilih siapa yang akan menemani mereka sebagai pasangan mereka hingga masa tua mereka. Tapi, bahkan Daisy tak memberikanku kesempatan untuk menjelaskan siapa yang akan ku jodohkan pada Zay."


"Memangnya siapa?" Tanya Mark Waldorf.


"Anak dari raja minyak, mereka orang paling kaya raya di Arhab." Kata Ben.


"Ben... Kau memang sudah keterlaluan, kau terlalu melangkah jauh." Kali ini Derreck mulai serius.


"Zay... Dia menuruni sifat ibunya, dia suka kebebasan, suka dengan kemerdekaan nya sendiri, semakin kau mengekangnya kau akan semakin melihat sifat pemberontakan Daisy di dalam diri Zay. Lagi pula usia Zay masih sangat muda untuk apa kau menjodohkan dia. Jangan terlalu ambisius dan gelap mata, jika masalahnya adalah kau trauma dengan Carlos yang mengkhianatimu, Zac dan Zay masih memiliki kami, kami tidak akan mungkin mengkhianatinya." Kata Derreck.


"Mungkin kalian benar, aku hanya terlalu takut. Aku takut anak-anakku akan sebatang kara tanpa memiliki apapun seperti masa kecilku dulu, karena aku tahu betapa menyedihkannya dan betapa menyakitkannya tak memiliki apapun dan tak memiliki siapapun untuk tempat bernaung." Kata Ben berdiri.


"Kau mau kemana?" Tanya Gavriel.


"Ke ruangan kerja, ada sesuatu yang ingin ku kerjakan." Kata Ben.


Ben pun pergi meninggalkan ruangan keluarga menuju ruang kerja.


Sepanjang hari Ben berada di ruangan kerjanya, pikiran dan otaknya kembali mengingat masa-masa ketika ia benar-benar mencurahkan seluruh pikiran, tenaga, dan waktunya untuk mendidik Zac serta Zay.

__ADS_1


Tak sedikit pula seluruh tubuh Zac atau Zay memar dan terluka pada usia nya yang masih terbilang anak-anak.


Tak sedikit pula dan hampir sepenjang waktu Ben serta Daisy selalu bertengkar masalah itu, Daisy yang tak tega melihat anaknya harus menerima pendidikan dan tempaan keras itu akhirnya memberontak dan selalu memaki Ben.


Ibu mana yang akan tega melihat anak-anaknya yang masih kecil di berikan pelatihan militer, belum lagi dengan segala pendidikan yang ketat dan disiplin, bahkan hanya untuk bertemu dengan Zac dan Zay Daisy harus membuat janji.


Hingga tengah malam pun Daisy mengendap-endap menemui Zac dan Zay hanya ingin memeluk dan mencium serta menyuapi mereka makanan.


Hingga pada suatu hari, di usia remaja Zac dan Zay, pertengakaran hebat yang meledak seperti bom nuklir pun terjadi antara Ben dan Daisy.


Ben mengingat setiap bait kata yang di katakan istrinya, bahwa ia begitu membenci Ben.


Ketika itu, Ben sudah berjanji pada anak-anak beserta Daisy, jika ia tidak akan memisahkan mereka, namun melihat Daisy setiap malam menemui anak-anaknya untuk sekedar memeluk dan mencium, serta memanjakan anak-anak, Ben justru kembali gusar.


Ben takut anak-anaknya terbuai dengan semua kehangatan di dunia yang fana ini. Ben ingin mengajarkan bahwa di dunia ini hanya ada kesakitan dan pengkhianatan agar anak-anaknya tak mudah terperdaya, agar anak-anaknya memiliki hati yang tangguh dan tak mudah terbuai.


"Tok... Tok...Tok..." Pintu tiba-tiba di ketuk.


Saat itu Ben yang duduk di kursi besarnya, kembali sadar dan melihat bawah ternyata hari sudah petang, ia tak menyadari itu karena tenggelam dalam masa-masa yang sebenarnya juga berat baginya, masa-masa dimana ia harus dengan tega dan kuat menempa anak-anaknya menjadi taguh.


"Masuk." Kata Ben.


Kemudian pintu di buka, dan itu adalah Traver, di belakangnya tentu saja adalah Zac Haghwer.


Ben menelan ludahnya, sosok itu, anaknya yang dulu bahkan memiliki tinggi tak lebih dari dadanya kini berdiri di hadapannya dengan gagah dengan perawakan yang tinggi, mereka saling memandang mereka saling melihat satu sama lain dengan tatapan yang sama-sama garang.

__ADS_1


Jauh di dalam lubuk hati Ben, sebenarnya ingin sekali ia memeluk anak sulungnya itu, ingin sekali ia memuji dan berkata bahwa kau melakukannya dengan sangat baik.


Bersambung


__ADS_2