Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 96


__ADS_3

Traver akhirnya mengantarkan Daisy ke rumah sakit, setelah menghubungi Gavriel.


Sesampainya di rumah sakit, entah Mena ataupun Traver tidak ada yang di perbolehkan masuk.


Lama nya periksa berlangsung sekitar 1 jam, Daisy mengatakan semua yang ia alami dan tekanan stress yang ia rasakan pada Gavriel dengan menangis.


Gavriel mengelus pelan punggung Daisy yang menangis terisak-isak.


"Mari katakan bersama pada Ben." Ajak Gavriel.


Daisy menatap Gavriel dengan mata basah.


"Aku akan membantumu menjelaskannya pada Ben, aku tahu Ben trauma dengan masa kecilnya, banyak kenangan buruk yang pahit baginya, dia juga tidak mudah untuk tumbuh menjadi dewasa, di paksa melihat ibunya sebagai pelacurr saat melakukan hubungan dengan beberapa pria dalam semalam, lalu tubuh Ben yang kecil juga mengalami pelecehan Sekssual, belum lagi masa-masa kelam saat dia di jadikan tawanan ketika masih kecil setelah di jual secara ilegal. Akhirnya menjadikan Ben sosok yang seperti ini, dia sangat benci anak-anak. Sejujurnya aku tidak pernah menyalahkan sikap rumit Ben, semua terjadi karena ia terlahir dari ibu yang salah, dan keluarga yang keliru. Jadi bagaimana? Kau mau aku temani? Mari kita katakan pada Ben bersama-sama."


Daisy berfikir sejenak.


Kemudian Daisy mengangguk pelan.


"Aku akan meresepkan vitamin, aku tidak bisa memberikan obat penenang, jadi apa kau sudah sedikit lebih tenang?" Kata Gavriel.


Daisy mengangguk.


Gavriel tersenyum.


"Kalau begitu aku akan pulang." Kata Daisy.


"Besok mari kita temui Ben bersama, aku akan pergi ke mansion. Okey?" Kata Gavriel tersenyum hangat.


"Terimakasih." Kata Daisy.


Gavriel pun mengantar Daisy, ia membuka pintu.


Traver menatap wajah Gavriel yang tersenyum hangat dan penuh kelembutan pada Daisy, ia bisa langsung tahu perbedaan antara Gavriel dan juga Tuannya Ben.


Ben tak pernah bisa mengekspresikan perasaannya, ia tak pandai memghibur dan kaku, belum lagi watak dingin serta bengisnya, meski begitu Ben sangat mencintai Daisy.


Sedangkan Gavriel, tanpa Traver sebutkan, Ben akan kalah telak dari sifat hangat Gavriel yang menjadi idaman banyak wanita, karena kebanyakan wanita suka di berikan kehangatan dan penghiburan.


"Nona Daisy saatnya pulang." Kata Traver.


"Pulanglah." Kata Gavriel tersenyum.


Entah kenapa baru kali ini Traver merasakan benci dan kesal dengan senyuman ramah yang Gavriel miliki.


"Terimakasih dokter." Kata Daisy.


Kemudian Gavriel memegang tangan Daisy, yang dingin dan sejak tadi di remas di depan perutnya.

__ADS_1


"Rileks." Kata Gavriel memegang tangan Daisy dam tersenyum.


"Berhenti meremass tangan-tanganmu, itu akan membuat jari-jari mu terluka." Kata Gavriel.


Traver semakin mengerutkan kening dan alisnya, ia marah hingga ke atas ubun-ubun, karena dia sangat tertekan melihat Gavriel memegang tangan Daisy tanpa sadar Traver mengambil tangan Daisy dan melepaskan dari tangan Gavriel.


"Tuan Ben sudah menunggu." Kata Traver dingin.


Gavriel terkejut melihat wajah dingin Traver, namun kemudian ia tersenyum dan tertawa.


"Ha... Ha... Ha... Aku hanya mencoba menenangkan Daisy, dia sangat ketakutan, tidak baik untuk kondisinya jika stress." Kata Gavriel.


"Terimakasih, mari Nona." Kata Traver dingin dan mengajak Daisy pergi.


Setelah Traver dan Mena mengajak Daisy pergi, Gavriel membuang nafasnya.


"Haaaa.... Sepertinya mereka salah paham." Kata Gavriel memijit keningnya.


"Oke... Baiklah... Mari besok katakan pada Ben, tentang pernikahan dan anak. Jika dia mengamuk aku akan membawa bius dosis tinggi, mari lihat Ben sebatas apa kau bisa marah tentang darah dagingmu." Kata Gavriel merasa pusing juga dan memijit kepala.


******


Daisy sampai di mansion, dan Traver serta Mena membawa Daisy masuk ke dalam Mansion, karena Ben ingin bertemu.


Traver tak bisa mengatakan pada Daisy, jika Ben marah karena ia tak suka Daisy pergi menemui dokter Gavriel.


Bahkan saat di perjalanan, di dalam telefon Ben sempat memarahi Traver ini menjadikan posisi Traver benar-benar sulit.


Saat Daisy masuk ke dalam kamar, dimana Ben telah menunggu sejak tadi di dalam kamar Daisy, Traver kemudian menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamar milik Daisy.


"Jadi, sekarang aku tahu bagaimana perasaanmu Mena. Dilema, bingung antara memilih siapa yang harus di bela dan di turuti perintahnya."


Mena memandangi kakaknya.


"Kau pasti kesusahan berada di antara Nona Daisy dan Tuan Ben. Sekarang aku merasakannya." Kata Traver.


"Ya seperti itulah. Tapi, ku rasa kali ini semakin sulit, aku merasa keanehan dalam diri Nona Daisy, perintah dan titahnya berbeda dengan 2 tahun yang lalu, apakah karena Tuan Ben mengakui Nona Daisy? Jadi aura Nona Daisy saat ini sangat berbeda."


"Kau merasakannya juga, ku kira hanya aku. Aku seperti melihat kembaran Tuan Ben di diri Nona Daisy." Kata Traver.


Di dalam kamar, Daisy berdiri kaku melihat Ben duduk di kursi memainkan gelas yang berisi es dan alkohol.


Kemudian Ben berdiri dan mendatangi Daisy, pria itu menarik tubuh Daisy mendekat dan wajah mereka menjadi begitu dekat.


"Aku tidak suka bau alkohol." Kata Daisy mendorong tubuh Ben.


Namun Ben memaksa tetap memeluk Daisy, dengan kesal Daisy mendorong Ben lagi.

__ADS_1


Ben akhirnya mengalah dan mengerti, ia mengangguk tak bisa mendapatkan ciuman meski hanya sekali.


"Duduklah." Kata Ben.


Kemudian Daisy duduk di sofa.


"Aku akan bertanya satu kali dan kau harus menjawabnya dengan jujur." Kata Ben.


Daisy menatap dengan kepala mendongak pada Ben yang berdiri di depannya.


"Kenapa kau selalu menemui Gavriel." Kata Ben.


Wajah Daisy pucat, ya pada akhirnya Ben akan selalu tahu.


Ben menunggu jawaban Daisy.


"Aku... Cocok, maksudnya obatnya cocok. Aku tidak mau dengan dokter yang lain karena sama saja akan memulai sesuatu yang baru tentang rekam medis." Kata Daisy.


"Oh ya?"


Ben kemudian melemparkan ponselnya ke atas meja.


"BRAAKKK KLOTAKK!!!" Ponsel Ben mendarat kasar dengan bunyi yang keras di hadapan Daisy.


Ponsel itu menyala dan menunjukkan beberapa aktifitas Daisy, Ben melihatnya dari riwayat alat lacaknya yang ada di ponselnya.


"Kau sakit? Perlu perawatan? Kau menginap di rumah sakit milik Gavriel. Apa yang coba kau tutupi dariku... Daisy. Kenapa kau tidak katakan semuanya padaku? Aku paling benci kebohongan, dan kau terus-terusan menutupinya. Aku bersabar agar kau mengatakannya sendiri, apa yang terjadi, tapi kau terus berdalih dan membuat kebohongan di atas kebohongan!"


Jantung Daisy serasa ingin meledak, kepanikan mulai menguasai dirinya.


"Aku hanya kelelahan karena memikirkanmu, kau tidak kunjung pulang, aku sangat takut jika kau membuangku, jadi aku pingsan dan di rawat di Rumah Sakit." Kata Daisy.


"Aku akan mengkonfirmasi jawabanmu ini pada Mena, aku akan menanyai dia dan para pelayan serta pengawal di sini jika kau berbohong padaku untuk melindungi Gavriel, aku benar-benar akan membunuh Gavriel."


"Ben!!! Bagaimana kau bisa mengatakan itu!! Sudah cukup aku lelah!!!" Teriak Daisy.


"BRAAKKKK!!!" Ben menendang pintu kamar tidur dengan sangat keras karena ia kesal.


Traver dan juga Mena terkejut, pintu bergoyang kuat, dengan suara yang mengagetkan, Mena menjadi takut jika Ben akan melukai Daisy, kemudian Mena hendak masuk, namun Traver menggelengkan kepalanya.


"Tuan Ben tidak akan menyakiti Nona Daisy." Kata Traver.


Sedangkan di dalam kamar, Daisy merasa semakin sesak nafas, melihat sikap Ben yang penuh amarah.


"Gavriel berbohong, dia hanya ingin menempatkanmu di dekatnya, dan membuatmu di rawat di rumah sakit, Kenapa dia tak ke mansion saja dan merawatmu di sini. Lama kelamaan alasanmu ini seperti hanya kau buat-buat saja Daisy, kau berbuat ini untuk melindunginya, apa kau benar-benar memiliki perasaan padanya." Kata Ben menatap mata Daisy dengan putus asa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2