
Beberapa pelayan datang secara bersama-sama dengan menundukkan kepala.
"Bersihkan lantainya, dan bawa gelas yang ada di lantai." Perintah Ben.
"Baik Tuan." Kata salah satu pelayan dengan menunduk dan berjalan ke arah lorong dimana gelas tergeletak di atas lantai.
"Bawa Daisy ke kamarnya, lain kali aku melihat dia pergi ke dapur, kalian yang akan mendapat hukuman." Kata Ben.
"Ba... Baik Tuan... Maafkan kami."
"Tuan... Bukan salah mereka, saya sedang merasa bosan dan jenuh, jadi saya pergi ke dapur untuk melihat-lihat, saya terbawa suasana tangan saya gatal ingin membuat sesuatu, saat akan kembali ke kamar saya menabrak tuan ini."
"Jangan membantah." Kata Ben.
"Tuan Ben anda sangat kasar, dia hanya tidak sengaja menabrakku, lagi pula Nona Daisy ini hanya mengompres perut ku dengan telapak tangannya, tak ada apapun yang terjadi. Untung saja aku tahu lebih cepat jika dia milikmu... Seandainya saja bukan...." Kata Brandon, menggerakkan alisnya.
"Aku tidak butuh penjelasan yang keluar dari mulutmu."
Ben menarik kerah kemeja Brandon. Pria itu tersulut emosi.
"Tuaan..." Teriak Daisy ingin melerai.
Tak berapa lama Traver pun tiba.
"Hey... Kau ingin memukulku... Ben..." Kata Brandon tersenyum mulai merasa kesal.
Ben masih mencengkram kuat krah kemeja Brandon.
"Kau butuh kekuatan ku bukan untuk menangkap El Joa, jadi perlakukan aku dengan baik Man...." Ejek Brandon.
"Kau pikir kau hebat?" Kata Ben.
"Yaa... Setidaknya kita memiliki kekuatan yang sebanding." Kata Brandon santai.
"Sepertinya kau sedang di atas awan... Aku akan menyadarkanmu, agar kau turun dengan cepat. Kau harus mengerti, pada siapa kau sedang berbicara."
BUUGG!!!
BUUGHH!!
Ben memukul wajah Brandon.
Tak tinggal diam Brandon juga hendak membalas, namun kedua tangan Brandon langsung di bekuk ke belakang oleh Ben, membuat Brandon kesakitan. Ben kemudian menendang tubuh Brandon dari belakang membuat Brandon jatuh tersungkur maju.
Ben maju dan menginjak tangan Brandon.
"Aaarggg!!!"
"Tuan... Anda akan terlibat dengan keamanan mafia gelap, dia anggota mafia." Kata Traver.
"Persetan dengan para keamanan bodoh itu." Ben semakin menggilas tangan Brandon dengan sepatunya.
"AAARGGGHHH!!!" Teriak Brandon.
__ADS_1
"Tuan berhentiii!!!" Teriak Daisy.
Setelah mendengar teriakan Daisy, Ben baru berhenti dan berdiri di samping Brandon dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Brandon duduk dan menghapus darah yang keluar dari mulutnya, wajah pria itu bengkak dan memerah, tulang jari tangannya pun patah dan pria itu tertawa.
"Ha... Ha.. Ha... Ben... Kau tahu? Seorang mafia tidak boleh menunjukkan kelemahannya, jika di ketahui oleh pihak musuh, kau akan kehilangan sesuatu itu. Sekarang yang ku tahu adalah kau telah menunjukkannya padaku kelemahanmu, dan mungkin ceritanya akan berbeda jika aku bergabung dengan El Joa."
"Pergilah, kalian pasti cocok satu sama lain, karena sampah memang seharusnya berkumpul dengan sesama sampah, kau pikir mataku buta, sejak datang kau sudah memperhatikan wanita milikku. Bersyukurlah aku tidak mencongkel kedua matamu." Kata Ben.
"Ku pikir kau berubah menjadi kekanak-kanakkan Ben. Hahahah... Kau seperti anak TK yang sedang jatuh cinta. Aku jijik melihat mu yang di butakan oleh cinta. Ingat! Semakin kau di butakan oleh cinta, semakin berbahaya untuknya." Kata Brandon melihat ke arah Daisy.
Brandon berdiri dan hendak pergi namun ia kemudian berbalik lagi.
"Berhati-hatilah Ben, lebih baik sembunyikan dia dengan baik, karena kau tahu aku akan di pihak siapa?" Ancam Brandon.
Traver hendak maju untuk menangkap Brandon, namun Ben memberikan kode agar Traver berhenti.
"Tapi Tuan..."
"Urus saja semua amunisi untuk bertempur, dan pastikan persembunyian mereka tetap di sana, 2 hari lagi kita akan berperang." Kata Ben.
"Baik Tuan Ben." Kata Traver menunduk.
Ben kemudian mengantar Daisy ke dalam kamar. Saat itu perasaan Daisy sangat takut dan resah.
"Tuan Ben, Maafkan saya, ini semua adalah kesalahan saya, karena saya anda dan tuan yang tadi menjadi bermusuhan." Kata Daisy.
"Bukan salahmu, hubungan kami memang tidak pernah akur."
Daisy hanya menunduk.
"Tidurlah." Kata Ben.
Daisy melihat Ben keluar dari kamarnya, pria itu tak terlihat seperti biasanya, lebih pendiam dan tak banyak kata saat bersamanya, membuat Daisy berfikir apakah Ben marah padanya.
*****
Setelah semalaman Daisy tersiksa dengan pikiran nya tentang sikap dan perilaku diam Ben, pagi-pagi saat dirinya sedang sarapan pagi, Mena memberi tahu kan padanya jika seseorang ingin menemuinya dan masih di luar gerbang mansion.
"Nona Daisy, ada seorang pria paruh baya, dia mengatakan jika dia... Adalah ayah anda." Kata Mena.
Daisy berhenti menyendok makanannya.
"Apakah Tuan Ben ada?"
"Tuan Ben dan Tuan Traver sedang berada di luar, pagi-pagi sekali mereka meninggalkan mansion." Kata Mena.
"Kalau begitu aku akan menemuinya di gerbang depan." Kata Daisy.
"Tidak Nona, saya akan menyuruhnya masuk, saya akan mengatakan pada para pengawal untuk tutup mulut agar tidak melapor pada Tuan Ben."
"Mena... " Daisy berhenti berbicara, tenggorokannya tercekat sakit.
__ADS_1
"Sejujurnya, sudah sangat lama aku tidak melihat nya, aku bahkan menganggap pria itu telah mati, karena dia meninggalkanku sendirian bersama wanita mengerikan itu, aku penasaran apa yang membuatnya datang kemari, tetapi ini bukanlah rumah ku, mansion ini milik Tuan Ben dan aku hanyalah budak, bukan Nyonya rumah, jadi biar aku menemunya melalui gerbang, dan menanyakan apa yang ia mau." Kata Daisy.
Mena hanya mengangguk.
Kemudian Daisy pergi dengan di antar Mena menggunakan Buggy car, tepat di depan gerbang besar Buggy car itu berhenti.
Daisy pun turun dan melihat seorang pria paruh baya memakai mantel yang kumal dan kotor berdiri membelakangi gerbang besar yang menjulang tinggi.
"Apa kau yang mengaku sebagai ayahku." Kata Daisy mereka terpisah oleh gerbang.
Pria itu kemudian memutar tubuhnya, terlihatlah tubuh kurus dan wajah yang kotor, bahkan mungkin pria itu tak memiliki alat cukur untuk bercukur, sehingga kumis dan bulu di dagunya memanjang. Hanya sekali pandang semua orang sudah dapat menilai, jika pria itu tak pernah mandi karena bau nya sangat menyengat. Antara bau alkohol, bau amis, segala bau melekat pada tubuhnya.
"Anakku... Benarkah... Kau anakku... Kau adalah Daisy anakku...??" Kata Pria paruh baya itu.
Jantung Daisy terasa berdegup sangat kencang, sepanjang hidupnya ia hanya mengingat wajah ayahnya sekali, selebihnya hanya melihat melalui foto.
Wajah yang ia ingat ketika masih kecil, dan wajahnya yang sekarang membuat mata Daisy mengeluarkan air mata, seolah ada 2 wajah di satu tubuh. Dulu yang Daisy ingat ayahnya memiliki tubuh yang besar dan tinggi, namun sekarang mengapa ia terlihat kecil, kurus dan renta.
"Astaga ini anakku... Benar kau Daisy, aku tidak akan salah ingat, aku tahu kau adalah Daisyku, bungaku, maafkan ayah nak, ayah terlalu larut dalam permasalahan bisnis ayah yang kacau, dan meninggalkanmu, tapi ayah selalu berjanji padamu jika ayah akan kembali padamu saat sudah memiliki banyak uang, ayah malu padamu Nakk..." Kata pria itu.
"Benarkah semua itu? Ayah akan kembali? Ayah berjanji padaku?" Kata Daisy.
Kalimat ayah, kata panggilan ayah membuat dada dan jantung Daisy berdesir sangat keras. Daisy sangat menginginkan sosok yang ia panggil Ayah. Daisy ingin memeluk sosok yang ia panggil ayah.
"Mena? Bolehkan ayahku masuk?" Tanya Daisy.
"Tentu Nona." Kata Mena menjawab dengan ragu.
"Tidak Nakk... Hanya melihatmu saja ayah sudah senang. Yang penting sekarang kau tidak kekurangan uang, pakaianmu juga bagus, kau makan dengan enak, ayah sudah bahagia, yang penting kau bahagia Nak."
"Terimakasih ayah... Tapi ayah... Benarkah ayah tidak mau masuk?"
"Ayah harus pergi."
"Tunggu ayah... Tapi... Darimana ayah tahu aku ada di sini?"
"Itu tidak penting Nak, yang penting sekarang kau bahagia, ayah hanya ingin melihatmu saja, sekarang ayah akan pergi."
"Ayah... Tunggu..."
Kemudian pria itu berbalik.
Daisy mengulurkan sebuah aksesoris miliknya, itu adalah cincin.
"Ayah bisa gunakan ini untuk membeli pakaian dan makanan, ini sangat mahal, ayah bisa menjualnya." Kata Daisy.
Kemudian pria itu menerimanya.
"Aku menerima ini karena aku tidak bisa menolak pemberian dari anak sendiri yang bersikeras, aku tidak akan menjualnya dan akan menyimpannya." Kemudian pria itu pergi.
"Mena, jangan katakan pada Tuan Ben jika aku memberikan cincin pada ayahku, aku mohon." Kata Daisy.
"Baik Nona." Kata Mena menunduk hormat.
__ADS_1
bersambung