Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 41


__ADS_3

John menyembunyikan tangannya yang berlumuran darah di dekat perutnya, dan tangan sebelah hendak meraih pistolnya dengan cara merangkak menggunakan tubuhnya, namun Ben menginjak tangan John.


Mena dan para pengawal wanita membantu Zaya.


"Traver bawa John ke ruang bawah tanah, interogasi dia dengan caramu, dan cari tahu apakah dia terlibat tentang hilangnya Pete." Perintah Ben.


"Baik Tuan."


"Kalau begitu aku akan bersama Traver, Pete harus segera di temukan jika terjadi sesuatu padanya aku yang akan langsung membalasnya dengan tanganku sendiri." Kata Rudolf.


Ben menepuk punggung Rudolf pelan.


"Dia akan baik-baik saja." Kata Ben.


Kemudian Ben pergi dari ruangan itu bersama Carlos, saat mereka telah sampai di halaman kastil mobil mereka pun telah berada di halaman menunggu para Tuannya untuk masuk.


Carlos pun berpisah dengan Ben, namun sebelum itu Carlos mengucap salam perpisahan.


"Tuan Ben... Sebenarnya, saya sudah memberikan Ansella wanita yang saya bawa waktu itu pelajaran yang mungkin akan membuatnya menyesal dan saya juga terus menyelidikinya. Pengawal saya mengatakan jika hari ini ada seseorang yang memesan Ansella." Kata Carlos.


"Hm... Apa itu penting?"


"Hanya saja mungkin anda tertarik karena Blaze yang memesan Ansella." Kata Carlos.


"Aaa... Dia bilang ada urusan dan pulang lebih dulu ternyata ingin bersenang-senang." Kata Ben.


"Tapi saya memiliki kecurigaan pada nya." Kata Carlos.


"Aku akan membicarakannya dengan Rudolf." Kata Ben.


Carlos De Hugo kemudian masuk ke dalam mobilnya di susul dengan Ben.


Dalam perjalanan pulang Ben menghubungi pengawalnya yang berada di kota S.


"Bagaimana kabarnya." Tanya Ben.


"Maaf Tuan Ben kami baru sampai di landasan Kota S, dan kami sedang menuju ke rumah Nona Daisy."

__ADS_1


"Hmm.. Baiklah." Kata Ben.


*****


Kota S Negara K


Perjalanan melalui udara di tempuh selama kurang lebih 3 jam. Pesawat jet pribadi yang mewah telah berhasil landing di landasan. Daisy tersenyum melihat pemandangan kota S yang sangat ia rindukan.


Berulang kali wajah Daisy berbinar dan tersenyum tatkala berada di atas udara Kota S, Daisy juga sering berdecak kagum melihat suasana yang tak asing baginya melalui udara.


Saat itu mobil-mobil terparkir di dekat landasan, Daisy turun dari pesawat dan di kawal oleh para pengawal menuju mobil.


Setelah masuk ke dalam mobil, malam itu juga Daisy berangkat menuju rumahnya.


Dalam perjalanan ia melihat beberapa tempat banyak yang telah berubah, infrastruktur di kota S pun semakin maju dan modern, sangat berkembang pesat.


Daisy juga melihat cafe tempatnya bekerja dulu, saat masih berada di kota S.


"Brian... Bagaimana kabarmu di atas sana." Kata Daisy sedih.


Tak butuh waktu lama Daisy akhirnya memasuki perbatasan wilayah barat dan timur di kota S, dimana wilayah timur adalah milik Ben, dan kini wilayah barat adalah milik pemerintah Negara K karena surat-surat kepemilikan Geraldo atas wilayah barat adalah palsu, dan membuat Ben harus bersedia menyerahkan tanah wilayah Barat karena Ben tidak suka dengan urusan berbelit dengan para pemerintahan hanya demi tanah yang bahkan cukup susah di kelola karena wilayah barat memiliki tanah tandus dan pegunungan kabur, berbeda dengan wilayah timur yang hampir di kelilingi oleh pantai pasir putih yang sangat cantik, bahkan tanahnya sangat subur dan gembur di beberapa wilayah timur.


Mobil Daisy sampai di depan rumah yang familiar, hatinya berdetak kencang, bahkan air matanya tiba-tiba saja mengalir.


"Ibu... Aku pulang." Kata Daisy.


Kemudian pengawal-pengawal keluar dan membuka pintu mobil untuk Daisy, mereka berjaga di depan rumah Daisy yang sudah di renovasi menjadi lebih baru dengan tidak merubah interior aslinya.


Rumah tradisional yang sangat asri, membuat Daisy menyentuh setiap inch dinding kayu yang sudah di ganti dengan dinging kayu berplitur yang kokoh dan bagus.


Jemari lentik Daisy menyentuh beberapa kusen pintu yang di ganti dengan yang baru namun memiliki model yang sama di masa lalu.


Langkah Daisy terhenti ketika ia sampai di ruang tengah dan mendongakkan kepala, dimana dulu atap rumahnya berjamur.


"Ibu... Semoga kau senang di atas sana. Rumahnya menjadi sangat bagus dan mewah, dengan tetap mempertahankan interior lama." Kata Daisy.


"Semoga kau mau menerima nya ibu...." Kata Daisy kemudian berbaring di lantai kayu yang dingin dan mengkilat.

__ADS_1


"Sepertinya malam ini aku akan menginap di sini ibu..." Kata Daisy.


"Ibu... Apa kau tahu dimana wanita itu? Dia yang sudah selalu menyiksaku? Dia yang bahkan tidak pernah sekalipun berperan menjadi ibu untukku? Apa kau tahu dia ada dimana? Karena pria yang memenjarakanku tidak pernah mengatakan apapun padaku, dia selalu bertindak sesuka hatinya dan tidak pernah mengatakannya padaku, bahkan aku tidak tahu jika dia mengeluarkan begitu banyak uang hanya agar rumah ini tetap berdiri. Ibu... Apa yang harus aku lakukan... Apa aku harus membalas budi padanya... Atau aku harus lari darinya... Aku bingung..."


Daisy berbaring di atas lantai dengan sesekali merenggangkan tangannya ke atas dan ke bawah seolah ia sedang membelai rumahnya.


Daisy mengatakan semua keluh kesahnya, seakan-akan rumah itu adalah ibunya yang sedang mendengarkan apa yang sedang ia rasakan.


"Permisi Nona, Tuan Ben bertanya kapan anda akan kembali ke Kota Z." Kata salah satu pengawal.


"Bisakah jika aku ingin menginap di sini satu malam saja, apalagi kita baru sampai?" Tanya Daisy.


"Baik akan saya tanyakan pada Tuan Ben." Kata Pengawal itu.


Daisy duduk di atas lantai dan kemudian menunggu kabar dari sang pengawal, apa kah boleh atau tidak.


"Nona, Tuan Ben mengatakan jika anda boleh menginap satu malam." Kata sang pengawal.


Daisy mengangguk tanda mengerti.


Malam itu Daisy berada di rumahnya, seolah ia merasakan kemerdekaannya, kebebasannya, dan ia merasakan santai, merasa bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan saat berada di rumahnya, ia merasa seperti kembali lagi ke masa dimana ia bebas keluar masuk kemanapun. Berjalan, berlari, ataupun mengingatkannya ketikania masih bisa bekerja, bahkan ia seperti bebas menghirup oksigen dan bebas bernafas, sangat lega dan tanpa beban.


"Aku sangat merindukan diriku yang bebas." Kata Daisy.


Seketika Daisy ambruk di ranjangnya, ia melihat ke sekeliling, kamarnya masih seperti dulu, bahkan foto-foto ketika ia bersama teman-teman sekolahnya.


Namun ada sesuatu yang berbeda, yaitu ada tv layar besar di dalam kamarnya.


"Apa Tuan Ben juga mengatur furniturnya? Ku rasa bukan, pasti Traver." Kata Daisy.


"Baiklaah... Aku tidak punya ponsel, mari kita menonton acara tv saja, agar tidak membosankan, tapi menonton tv tanpa cemilan akan sangat keriting. Untung saja aku membawa beberapa cemilan dari pesawat" Kata Daisy tertawa nakal dan mengambil beberapa camilan kue kering di dalam tasnya.


Televisi pun menyala, Daisy mengubah beberapa Chanel acara yang ia sukai, beberapa menit kemudian ketika ia sedang asik melihat acara reality show kesukaannya dan membuat Daisy terhibur, sekilas berita muncul.


Sontak Daisy terkejut foto Ben bersama seorang wanita seksi terpampang di televisi.


"LINTAS BERITA HARI INI, SEORANG PEBISNIS SUKSES YANG MEMILIKI PERUSAHAAN BESAR DI SELURUH DUNIA BENJOVE HAGHWER 32 TAHUN, MEMBUAT GEMPAR PARA WANITA YANG MEMUJA DAN MENGIDOLAKANNYA, DIA TELAH MEMBERIKAN ISYARAT BAHWA SEBENTAR LAGI AKAN MELEPAS MASA LAJANGNYA DENGAN SEORANG WANITA YANG SANGAT CANTIK, SEMUA KABAR INI MENGUAT SAAT MEREKA MENGHADIRI ACARA AMAL DI KASTIL ALCAZAR SEVILLIA BERSAMA-SAMA, BENJOVE HAGHWER MEMBAWA PASANGANYA KE ACARA TERSEBUT YANG DI KETAHUI BERNAMA ZAYA, PIHAK ZAYA JUGA MENGKONFIRMASI KEDEKATANNYA DENGAN BENJOVE BAHWA BENJOVE PRIA YANG SANGAT LENGKET PADANYA DAN HUBUNGAN MEREKA SEDANG PADA TAHAP YANG SANGAT DEKAT DAN HANGAT."

__ADS_1


Tiba-tiba remote yang di pegang oleh Daisy terjatuh di lantai, dan suara keras yang di timbulkan dati remote jatuh itu membuatnya terkejut.


bersambung


__ADS_2