Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 85


__ADS_3

Ben tahu, kini Daisy jauh lebih menggoda dari pada Daisy yang dulu.


"Kau lapar? Mau makan?" Kata Daisy.


"Kau tahu sedang bermain-main dengan siapa?" Tantang Ben.


"Baiklah, aku menyerah jika itu adalah kau Ben." Kata Daisy tertawa.


Ben memeluk Daisy.


"Aku merindukanmu."


"Kitakan hanya beberapa jam saja tidak bertemu, bahkan itu karena kai yang sibuk."


"Tetap saja aku merindukanmu Daisy." Kata Ben.


"Jadi mari kita bangun dan bersiap ke mansion, aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan dia." Kata Daisy.


"Tapi aku belum ingin bangun." Kata Ben manja.


Daisy tersenyum melihat Ben yang sedang manja tak seperti biasanya, pria itu memiliki watak keras, kasar, angkuh dan tidak suka di bantah, tapi dengan dirinya, Ben justru bersikap manja dan menggemaskan.


Ben perlahan menurunkan pakaian tidur Daisy, dress itu juga sudah tersingkap naik.


Tubuh mulus Daisy membuat Ben semakin memanas, sudah beberapa hari ia tidak menyentuh Daisy.


"Aku kelaparan." Kata Ben mengecup leher jenjang Daisy.


"Sayang apa kau bertambah gemuk? Dadamu seperti agak lebih besar dan padat." Kata Ben.


"Nghh... Be... Benarkah..." Kata Daisy tak terlalu menghiraukan.


Setelah itu, Ben mencium leher Daisy, ia mengecupnya, tak hanya itu Ben pun juga menghisap bagian-bagian leher jenjang Daisy yang mulus dan putih.


"Ben itu akan membekas..." Kata Daisy.


"Lalu?" Kata Ben tak peduli.


Ben kemudian mencium bibir Daisy, mereka saling berpagutt dalam intensnya kelembutan dua pasang bibir yang saling bercumbuu, lidah mereka saling melilit satu sama lainnya, dan mereka bertukar air liur, ciuman Ben dalam dan lama, membuat Daisy kehabisan nafas.


"Jangan menahan nafasmu sayang." Kata Ben mengulum telinga Daisy.


"Beenn... Itu geli... Ngghhmmm..."


Ben terus mengulum dan menghisap telinga Daisy, kemudian perlahan Ben turun lagi dan menciumi Daisy.


"Benn... Aku mencintaimu..." Kata Daisy.


Ben masih mengecup dada Daisy dan menimbulkan banyak bekas merah.


"Aku lebih besar dan lebih banyak mencintaimu, daripada kau mencintaiku Sayang..." Kata Ben.

__ADS_1


Perlahan-lahan dengan mengecup setiap inc tubuh Daisy, Ben mulai turun dan sampai di perut ramping Daisy.


Ben mengecup di berbagai tempat di tubuh Daisy.


"Aahhhh... Kau... Selalu hebat melakukan ini semua." Kata Daisy pasrah.


Ben menyingkap baju milik Daisy dari samping dan menciumnya bagian yang paling Daisy sukai, lalu sedikit menggigitnya lembut.


"Awwwhhhh.... Ben.... Kau nakal..." Kata Daisy.


"Kau suka?" Kata Ben.


"Hmmmhh..."


"NGGhhhmm....!!!" Tubuh Daisy tersentak.


Sesuatu tegangan kenikmatan layaknya serangan kenikmatan seperti kilatan listrik menyetrum tubuh Daisy dari tegangan paling rendah semakin tinggi dan semakin merasakan tinggi.


"NGHHMMMM.... OHHH... !!!" Tubuh Daisy tersentak-sentak dan bergetar, matanya sayu, tubuhnya lemas, keringat mulai timbul dan tubuhnya terasa panas.


Kemudian Ben naik lagi, dan menindih tubuh kecil Daisy, pria itu menarik laci meja dan membukanya. Sebuah kalung liontin berwarna biru tua seperti laut yang indah.


Ben memperlihatkannya pada Daisy.


Daisy tersenyum dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, kemudian Daisy memeluk leher Ben.


"Kau sangat romantis sayang..." Kata Daisy terharu.


"Berjanjilah kali ini jangan menghilangkannya lagi." Kata Ben memasangkan kalung itu di leher Daisy.


Daisy mengangguk dan memeluk tubuh Ben, ia mencium bibir pria itu juga.


"Terimakasih ini sangat cantik." Kata Daisy.


"Kalung itu cantik karena kau yang pakai." Kata Ben.


"Berlian paling langka, kau sangat cocok memakainya Daisy." Lanjut Ben.


Ben mencium lagi setiap inc tubuh Daisy.


"Benn.... Hmmhhh... " Desaah Daisy.


"Beennn.... Hmmhhh... Oohh... Ngghhh...."


Tubuh Daisy bahkan tersentak-sentak cukup lama.


"Benn... Cukup... Lakukan sekarang... Ku mohon..." Pinta Daisy dengan tubuh lemas dan mata sayu, dengan mata penuh harap dan memohon.


Ben kagum pada wajah cantik Daisy yang sensual, apalagi Daisy semakin seksi dan menggoda memakai kalung yang ia berikan, bahkan dia memohon padanya untuk di masuki, membuat Ben begitu semakin mencintai Daisy.


"DRRRT.... DRRTTT....DDRRRTTT....!!!"

__ADS_1


Ponsel Ben bergetar dan terus bergetar tanpa henti, namun Ben tak peduli, Daisy juga tak ingin berhenti.


Ben selalu tidur hanya menggunakan celana boxer, dan kali ini pria itu hanya cukup melepaskan satu celananya saja.


Namun, pikiran Daisy buyar karena kali ini telfon yang lain berdering.


"Tulliililittt... Tulillililitt...!!!"


Ben menghempaskan nafasnya kesal, urat otot di wajah, serta rahang dan lehernya menonjol. Ben bahkan belum memanjakan benda besar miliknya, ia benar-benar sekarat.


Dengan tangan kekarnya yang emosi, Ben pun mengangkat telfon itu hampir meremukkannya.


"Kau gila? Mau mati? Sialan!!!" Geram Ben.


"Maaf Tuan Ben, saya tidak bermaksud mengganggu pagi anda yang menyenangkan." Kata Traver


"Brengsekk!!!" Umpat Ben.


"Tapi, Gustav sekarat, dia ingin bertemu dengan Tuan Derreck."


Ben diam sejenak.


"Aku mengerti, hubungi Gavriel dan Derreck." Perintah Ben dan menutup telfonnya.


Ben kemudian melihat ke arah Daisy dan menghempaskan nafasnya menyesal.


Pria itu kemudian mengecup bibir Daisy pelan.


"Maaf, tidak bisa memuaskanmu hari ini sayang. Traver mengatakan, sekarang Gustav sekarat." Kata Ben.


"Apa?" Daisy nampak syock dengan berita itu, dan ia seketika duduk.


"Aku akan bersiap-siap ke sana." Kata Ben membelai pipi Daisy.


"Aku ikut..." Pinta Daisy yang masih menutupi tubuhnya menggunakan selimut.


Ben kemudian mengangguk pelan.


Mereka sedang bersiap-siap, namun di tengah-tengah Ben kembali mendapatkan kabar dari Traver jika Gavriel tidak dapat mempertahankan nyawa Gustav.


Traver mengatakan jika Gustav tidur dengan nyaman di temani Derreck di sampingnya.


Derreck dengan setia selalu berada di sisa-sisa akhir Gustav.


Daisy yang mendengar kabar itu, kemudian ia sedih dan kembali mengganti pakaiannya menjadi berwarna hitam.


Begitu pula Ben, namun dalam perjalanan pun, jalanan saat itu begitu macet.


Sepanjang jalan Daisy penuh dengan pikirannya sendiri, bahwa Gustav pasti adalah salah satu orang yang sangat baik di keluarga Waldorf. Selain ibunya.


Memendam kebenaran selama puluhan tahun bukanlah hal mudah, dan sekarang Gustav telah membuka semuanya.

__ADS_1


Daisy merasa menyesal belum sempat berbicara pada Gustav dan berkenalan secara langsung.


Bersambung


__ADS_2