Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 93


__ADS_3

Setelah melakukan pemeriksaan Daisy pulang ke mansion bersama Mena.


Saat itu mobil yang biasa Ben kendarai sudah terparkir.


Daisy menarik nafas nya pelan dan keluar dari mobil. Tanpa mengatakan apapun dan tak ingin memiliki niat bertemu Ben Daisy akan langsung ke kamarnya.


Sedang Traver sudah menunggu tepat di depan halaman Mansion.


Daisy langsung masuk ke dalam mansion setelah menyapa Traver, dan Traver menunduk hormat, lalu Traver menahan lengan adiknya.


Setelah Daisy masuk, Traver menatap Mena dengan tajam.


"Kali ini jangan ikut campur." Kata Traver.


"Apa?" Tanya Traver.


"Katakan saja kau tidak tahu apa-apa pada Tuan Ben, atau Tuan Ben tidak akan memaafkanmu." Kata Traver.


"Apanya?" Kata Mena.


"Ada yang Nona Daisy sembunyikan, kau tahu sesuatu."


"Tidak! Aku juga sedang bertanya-tanya." Kata Mena.


"Katakan semuanya padaku, kemana saja, apa saja yang Nona Daisy lakukan, dan siapa saja yang Nona Daisy temui, selama Tuan Ben tidak ada." Kata Traver.


Kemudian Mena mengikuti Traver ke ruang bawah tanah untuk di introgasi.


Daisy sampai di koridor.


"Kenapa begitu sepi, kemana dia." Batin Daisy.


Tak menggubris hal itu, Daisy langsung masuk ke kamar dan ke dalam walk in closet, Daisy melepaskan semua pakaiannya dan hanya tersisa pakaian dalam.


Daisy melihat ke arah cermin dan membolak balikkan tubuhnya, ia memandangi perutnya dan mengelus pelan.


Kemudian Daisy memutar lagi tubuhnya, ada beberapa tempat yang semakin membesar, buah dadanya tentu yang paling menonjol perubahannya.


"Sepertinya jauh lebih besar dengan sangat cepat, bagaimana aku menutupinya?" Kata Daisy.


Kemudian Daisy pergi membuka almari dan hendak mengambil gaun tidur, namun tiba-tiba pelukan erat datang dari belakang.


Itu adalah Ben.


"Kau mengagumi bentuk tubuhmu? Bagaimana denganku, aku tergila-gila padamu." Kata Ben mencium tengkuk leher belakang Daisy sembari memeluk erat. Tengkuk Daisy membekas merah karena hisapan Ben.


"Ka... Kapan kau masuk? Aku tidak mendengarnya." Kata Daisy.


"Aku masuk sebelum kau." Kata Ben.


"Jadi kau ada di sini sejak tadi?"


"Hmm... Aku melihat mu memutar-mutar tubuh di depan cermin." Kata Ben.

__ADS_1


Kemudian Ben mengajak Daisy untuk berjalan melihat cermin lagi, Ben memeluk Daisy dari belakang.


"Lihatlah betapa kau sangat cantik." Kata Ben.


"Kekasih Ben, aku bersyukur itu adalah kau." Lanjut Ben dengan berbisik.


Daisy menunduk.


Kemudian Ben meraih dagu Daisy untuk naik dan melihat ke depan.


"Terus lihat ke cermin." Kata Ben.


Daisy menelan ludahnya, saat itu ia hanya memakai pakaian dalam


Tangan kekar Ben merangkul tubuh Daisy, dan tangan satunya mulai meremas salah satu dada Daisy.


"Ini sangat bertambah besar sayang, kenyal, dan menantang, apalagi semakin padat, kau masih muda dan masih terus bertumbuh." Kata Ben berbisik dan masih meremas dada Daisy.


Ben kemudian menyesap leher Daisy dengan lembut.


"Nghh..." Daisy mendesahh dan menggigit bibir.


Tangan kekar Ben, menurunkan bra milik Daisy dan membuat dada itu menyembul sempurna, Ben meremasnya di depan cermin.


"Lihat dirimu sayang, wajah itu sangat cantik, aku menyukainya, saat kau merasa kenikmatan." Kata Ben.


"Beeenn.... Shhh.... Hmmmm." Daisy menggigit bibirnya, hormonnya meningkat ketika hamil dan tentu saja ia merasakan keinginan juga.


Tangan Ben satu yang tadi merangkul, turun menuju bagian sensitive milik Daisy, dan masuk ke dalam Underware, kemudian Ben memutar dan menyentuhnya. Tanganain Ben terus meremas.


"Ngghhh... Ben... Aahhh... Ohhh... Hngghhhh..." Suara Daisy memenuhi ruangan itu, tubuhnya mulai panas.


Ben kemudian membuka celananya.


"Aku mencintaimu sayang." Kata Ben.


Ben hendak memasukkannya, Daisy masih melihat dirinya di depan cermin.


Wajah itu, membuat Daisy malu, namun apakah wajah itu yang selalu Daisy perlihatkan setiap Ben menyentuhnya? Daisy bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ternyata ia memiliki sisi cabull, dan Ben terus saja menyukainya, Daisy tahu, Ben selalu menerima dirinya apa adanya, kali ini Daisy sempat terbesit akan memberitahu Ben bahwa dirinya mengandung anaknya.


Namun, tiba-tiba mesin parfum otomatis yang terpasang, setiap beberapa jam menyemprot otomotis menyala, parfum wangi memenuhi ruangan itu.


Ben sudah memasukkannya dirinya ke dalam milik Daisy, dan menghela nafasnya, ia merasakan penuh kenikmatan bahkan sebelum menggerakkan milikknya, Ben diam sejenak untuk menenangkan dirinya, sudah sangat lama Ben tidak melakukannya dengan Daisy, dan kini ia sangat kelaparan, perlahan Ben akan mulai memompa dirinya.


Namun, parfum kuat yang ada di ruangan mulai menusuk hidung Daisy, membuat perutnya kembali teraduk.


"Hmmbbb... Hmmbbb!!!! Hmmmbbhh!!!!" Daisy menahan mual dan muntah, ia menutup mulutnya.


Ben terkejut, matanya mendelik, melihat Daisy mual, dan menahan muntah, seketika Ben mencabut miliknya, rasa amarah dan wajah gelap tersulut dalam diri Ben.


Daisy berlari ke kamar mandi.


"Hwwekkk!!! Hweekkk!!!!" Daisy muntah dengan keras.

__ADS_1


Ben memandangi dirinya dari cermin di hadapannya dengan wajah gelap.


Kemudian Ben menyangga tubuh besarnya dengan kedua tangan yang menekan mistar marmer mewah, wajah gelap itu melihat dengan bengis melalui cermin.


"Jadi.... Sekarang kau jijik denganku, Daisy? Untuk itulah kau selalu muntah saat bersama denganku?" Kata Ben dengan senyuman gelap yang penuh amarah.


Ben membenahi celananya dan keluar dari ruangan itu, ia pergi ke bar mini miliknya yang ada di dalam mansion.


Sedangkan Daisy menyeka mulut dengan tisu, tubuhnya berkeringat banyak, ia lemas dan tak bertenaga.


Daisy terduduk di lantai tak berdaya.


"Ini sangat menyiksa, apakah dulu ibuku juga merasakan ini sangat mengandungku." Kata Daisy lirih.


Ben yang ada di ruangan bar mini, memanggil Traver. Saat itu Ben meminum alkoholnya cukup banyak


Menuangnya ke dalam gelas dan meminum dengan hanya 2 kali teguk.


"Traver...." Kata Ben.


"Ya Tuan..."


"Carikan aku orang, seperti biasa berikan kontraknya, jangan ada sentuhan, cari yang tidak merepotkan, saat ini aku sedang tidak berbelas kasih..."


Traver terkejut, Ben mulai lagi pada kebiasaan lama.


"Tuan..."


"Dia terus-terusan muntah saat bersama denganku, apakah dia mulai jijik denganku, karena seluruh tubuhku berbau darah orang mati." Kata Ben.


"Atau dia jijik karena dengan tangan ini, aku membunuh orang." Lanjut Ben melit tangannya.


"Tuan, saya sedang menyelidiki." Kata Traver.


Ben hanya diam saja dan terus menuangkan alkohol di gelas lalu meneguknya dengan cepat.


"Malam ini aku akan ke Club saja, katakan pada Grace, berikan wanita asuhnya yang seperti biasa, dia sudah paham, aku tak suka di sentuh sembarangan." Kata Ben berdiri.


Traver mengikuti Ben.


"Tuan, apa anda benar-benar akan melakukan itu? Jika Nona Daisy tahu dia akan sangat marah."


"Dia tidak akan marah, sepertinya justru akan senang, dan lega. Dia jijik denganku." Kata Ben.


Traver tidak dapat mencegah Ben lagi, ia hanya mengikuti perintah yang Ben katakan. Namun, dalam hati, ini semua pasti hanya akan menimbulkan bencana yang lebih besar lagi.


Mobil Ben melaju pergi, meninggalkan Mansion, saat itu Daisy melihat dari balik jendela kamarnya, dan kemudian bergegas pergi ke halaman.


Daisy bertanya pada pengawal di depan halaman.


"Malam-malam begini apa kau tahu kemana Ben akan pergi? Apakah ada mafia yang menganggu lagi?" tanya Daisy khawatir.


"Tidak Nona, tapi saya dengar tadi Tuan Traver menyebutkan Club Black Diamond pada sang sopir." Kata pengawal tersebut.

__ADS_1


"Club...? Black Diamond?" Daisy terkejut dan membulatkan mata, ia seperti terkena kilatan petir di malam itu.


Bersambung


__ADS_2