
"Moran Murder." Kata Derreck.
Sebuah nama yang tak pernah di sebutkan, sebuah nama yang bahkan sangat asing bagi Zac.
"Siapa, Moran Murder." Kata Zac.
"Kau tak pernah tahu kan nama marga dari Dokter Gavriel?" Kata Derreck.
Zac mengernyitkan alisnya.
"Apakah Gavriel Murder?" Tanya Zac.
Ben mengangguk.
"Moran Murder adalah ayah dari dokter Gavriel, dia juga ayah dari Douglas. Traver masih menyelidiki kenapa Douglas mengganti nama marga keluarganya menjadi Scoot. Seharusnya namanya adalah Douglas Murder, dan bukanlah Douglas Scoot." Kata Ben.
"Jadi apakah aku bisa melakukan kerjasama dengan Moran Murder?" Tanya Zac.
"50-50, tapi layak untuk di coba." Kata Ben.
"Temui dokter Gavriel lebih dulu sebelum kau ingin mengunjungi ayahnya." Pesan Derreck.
Zac nampak risau.
"Tenang saja, jika ayahmu ini dan pamanmu sudah merekomendasikan seseorang, kau tak perlu risau tentang kekuatannya atau ketangguhannya. Moran Murder adalah mafia tua cukup terampil dan tangguh, jika kau mengisi kekuatan nya, itu akan menjadi duet terbaik." Kata Ben.
"Kau lihatlah Rudolf, dia sudah tua dan seperti kakek-kakek tapi saat dia beraksi di sampingku, kau bahkan tak akan sempat ternganga."
"Hey... Hey... Siapa yang suda tua!!!" Teriak Rudolf.
Rudolf sudah kembali bersama Traver.
Sekarang di samping ranjanh Ben, berdirilah pria-pria mafia yang begitu legendaris, tangguh tak ada duanya, pria-pria tampan yang setia pada Ben, ia adalah Rudolf, Traver dan Derreck.
Mereka berhadapan pada Zac yang berdiri di depan ranjang Ben.
"Kau... Akan menemui jalanmu sendiri, jangan sampai berpapasan dengan kami." Kata Ben memperingatkan anaknya.
Zac meremass kedua tangannya.
"Maafkan aku ayah, aku bukan anak yang berbakti padamu."
"Kita adalah mafia Zac, kita punya jalan masing-masing." Kata Ben.
"Zac, jangan lupa jika kita bertemu lagi, kau harus menjaga lehermu. Kreekkk!!!" Goda Rudolf dengan jarinya yang menggorok lehernya.
Zac menahan tawanya.
"Tuan Zac, senang menjadi pengawal pribadi anda beberapa tahun ini, anda sangat tangguh dan luar biasa, saya yakin anda akan lebih hebat dari Tuan Ben." Kata Traver.
"Hey... Kau mau mati!" Kata Ben membentak Traver.
"Maaf Tuan, saya tidak berani." Kata Traver menundukkan kepala.
Semua tertawa, ini adalah perpisahan, namun bukan benar-benar perpisahan, ini adalah sebuah awal bagi mereka semua yang nanti nya akan bertemu di persimpangan jalan, mereka akan di pertemukan di jalan yang berbeda, mereka akan saling berhadapan, entah untuk bernegosiasi, ataupun akan mengangkat senjata.
__ADS_1
Yang pasti sekarang adalah, Zac memilih jalan nya sendiri sebagai mafia, Zac dan Ben akan tetap menjadi ayah dan anak, hubungan darah itu tak akan terputus begitu saja, hanya, mereka akan berada di jalan mereka sendiri dalam menjalani kehidupan Mafia mereka masing-masing.
******
Penerbangan kembali ke Negara K siang itu cukup membuat Zac kesal, karena ia harus memakai jasa penerbangan komersil belum lagi kemarahan Zac makin besar pasalnya Zac berulang kali menghubungi Charles namun ponselnya mati dan tak bisa di hubungi.
Mata Zac melihat pada pemandangan awan-awan putih yang bergumul cerah, begitu indah bagaikan kapas yang sedang berserakan saling mengisi satu sama lain
Ingatan Zac kembali pada ketika ia harus pergi tanpa boleh berpamitan pada Daisy dan Zay, itu karena Daisy pasti akan mengamuk pada Zac, belum lagi ibunya akan sangat terpukul jika Zac terang-terangan lebih memilih Gaby dari pada sang ibu.
Janji yang pernah Zac berikan pada sang ibu ternyata tak bisa Zac tepati, namun dalam hatinya, ia tetaplah ingin menjadi anak berbakti bagi sang ibu.
Butuh waktu beberapa jam untuk sampai ke Negara K, dan ketika pesawat sudah landing, ponselnya pun bergetar.
Zac dengan sigap mengangkatnya.
"Kau dimana aku terus menghubungimu."
"Keadaan sangat kacau, para pengawal Haghwer di perintahkan untuk mundur dan tak berjaga di mansion milikmu, sedangkan para pengawal Douglas sedang membuat kegiatan yang anarkis di depan gerbang mansion. Ponsel ku sedang di sadap, aku tidak bisa menghidupkannya untuk sementara waktu." Kata Charles.
"Sial. Ayah benar-benar serius untuk tidak menggunakan pasukan Haghwer." Zac berlari dan kemudian menahan sebuah taksi yang hendak pergi.
"Tunggu....!!!" Teriak Zac menggedor pintu taksi.
Setelah Taksi itu berhenti Zac masuk.
Dalam perjalanan Zac nampak gusar, namun ia juga harus menyusun rencana, apa yang harus ia lakukan.
Sesampainya di Mansion yang jauh dari pusat kota dan cukup terpencil di daerah Negara K, ternyata mansion telah di penuhi dengan para pengawal Douglas.
Kemudian Zac keluar dengan hati-hati dan bersembunyi di semak-semak pepohonan.
Salah satu pengawal terlihat akan masuk ke dalam hutan kecil, yang ada di samping mansion.
Zac mengikutinya.
"Astaga, aku ingin kencingg saja susah!" Kata pengawal itu.
Saat pengawal itu sedang membuka risletingnya.
"BUUUGGGG!!!" Pukulan keras mendarat di tengkuk lehernya.
"GEDUBRAKKK!!!" Sang pengawal pun terbaring di atas rerumputan.
Zac segera melucuti pakaian pengawal itu dan memakainya.
"Astaga... Bau sekali, apa mereka semua tidak mandi dan hanya menunggu di sini." Kata Zac.
Zac pun keluar dari hutan dan menggunakan topi nya yang berwarna hitam, serta memakai pakaian pengawal tersebut yang memiliki logo mafia keluarga Scoot.
"Permisi." Kata Zac.
"Hey kau dari mana!" Kata salah satu pengawal.
"Kencing." Jawab Zac singkat.
__ADS_1
Kemudian Zac merangsek masuk perlahan dari gerombolan para pengawal.
"Hey... Sepertinya aku belum pernah melihatmu." Kata seseorang itu menarik bahu Zac.
"Tunjukkan wajahmu dulu." Kata pengawal itu lagi.
Zac masih diam.
"Aku baru." Jawab Zac.
Pengawal itu mengernyitkan alis.
"Ohya... Kau baru bergabung? Berapa bulan?" Tanya Pengawal itu.
"1 bulan."
"1 bulan?" Pengawal itu makin mengerutkan alisnya.
"Tapi untuk pengawal yang baru bergabung biasanya ada kain putih yang menempel di krah, tali krah jas milikmu adalah berwarna merah artinya kau adalah komandan." Pengawal itu dengan cepat menarik topi Zac.
Dan wajah Zac pun terpampang.
Semua pengawal terkejut, dan langsung menodongkan pistol mereka pada Zac, namun dengan gerakan yang sangat cepat, Zac menarik pengawal yang ada di hadapannya tadi, dan memitingnya lalu mengarahkan pistol itu ke hadapan depan.
Zac menembakkan pistol itu melalui tangan pengawal itu.
"DODODODODORRRR DODODORRR!!!" Tembakan beruntun pada para pengawal langsung kena sasaran.
"DODODODOR DODODODORRRR DOR....!!! Tembakan-tembakan dari para Douglas pun tak mau kalah dan terus menyerang Zac.
Zac bersembunyi di balik pengawal itu, hingga akhirnya yang berulang kali terkena tembakan adalah sang pengawal.
Darah muncrat kemana-mana.
"Aaaahhhhhh!!!!" Teriak pengawal itu.
Zac mundur perlahan demi perlahan, dan menekan beberapa angka di dekat gerbang besi besar, dengan masih membawa pengawal itu di depan tubuhnya untuk menjadi tamengnya dari peluru-peluru yang di tembakan.
"DOR... DORRORR DODODORRR...!!!"
Zac cukup kwalahan karena pengawal itu sudah mati dan lemas.
"DODODRORRRRR!!! DORRR DOORRR DORRR!! TRANGG TRANGGG TRANGGGG!!!" Suara peluru yang mengenai gerbanh besar yang tinggi dan tak tembus oleh peluru.
Perlahan gerbang besi yang sangat besar itu pun terbuka, Zac menendang pengawal itu dan pengawal itu jatuh ke depan menimpa para pengawal lain.
Dengan cepat Zac menghentikan gerbang agar tak terbuka lebih besar dan memencet tombol untuk menutup.
"DORORRRR... DORRRR....DORRRR!!!"
Beberapa pengawal berhasil masuk dan kemudian Zac bertarung, mengambil senapan salah satu orang, dan memukuli wajah mereka dengan senapan itu.
"BRUGGG!!! BRUUGGG!!!"
Wajah-wajah para pengawal itu babak belur penuh darah dan tak lagi terlihat, karena sangat hancur.
__ADS_1
Bersambung~