
Di luar Club, Gege sudah tiba, dan sang pengawal yang mencoba melindungi Zay ternyata sudah adu mulut dan gondok-gondokkan dengan pengawal yang berjaga di dalam Club.
Gege juga di tahan tak boleh masuk, semua itu karena Gege sudah terkenal adalah musuh Marfin dan Aaron.
"Anda tidak boleh masuk." Kata penjaga Club tersebut.
"BUUUGGG!!!"
"BUUGGG!!!"
"KRETEKKK!!!"
Tanpa basa basi Gege langsung memukul dan memutar leher serta kepala para penjaga tersebut hingga patah.
Gege masuk ke dalam Club, dan para pengawal semakin banyak menghadangnya karena Gege sudah membuat keributan lebih dulu, hingga di ketahui para pengawal.
"BRRAAKKK!!!"
"BRAAKKK!!"
"BUUGGG!!!"
Gege melemparka kursi dan meja dengan cepat, dan mengenai para pengawal.
Para pengunjung saling berteriak dan panik, kemudian mereka pun keluar karena ketakutan.
Saay itu salah satu pengawal menangkap Gege dari belakang dan menahannya, dari depan seorang pengawal sudah membawa belati kecil untuk di tusukkan ke perut Gege.
Dengan cepat dan cekatan, kaki Gege menemdamg dan bertumpu pada pengawal di depannya lalu memutar tubuhnya membuat Pengawal yang memiting Gege di belakang ikut berputar.
"BRRRAAKKKK!!!"
Pengawal tersebut jatuh dan merasakan sakit yang luar biasa.
Saat itu para pengawal berdatangan lagi, Gege adu kuat dan adu lihai dalam berkelahi, hingga saat itu salah satu pengawal berlari dan ingin menusukkan pedang pada Gege.
Namun, dengan cepat Gege mengambil botol Whiskey, saat pengawal tersebut ada di depannya, Gege berputar dan berada di belakang Pengawal, dengan cepat pula Gege menyambar sebuah botol Whiskey.
"PYAARRRR!!!" Gege memukulkan botol tersebut pada pengawal itu dan pengawal itu pun ambruk.
Kemudian Gege melihat ke sekeliling dimana Zay berada. Gege pun naik ke lantai dua, dan sang pengawal yang membantu Gege menemukan lokasinya.
"Tuan ada di dalam sana."
Gege mengangguk dan langsung menendang pintu tersebut.
"BRRAAKKKK!!!"
Pintu terbuka dan terpelanting.
__ADS_1
"Aaa...!!!"
"Aaa....!!!"
Para wanita panggilan berteriak ketakutan karena mereka semua sedang telanjangg dan melayani para boss boss mafia.
Tak hanya para wanitanya, para mafia-mafia yang ada di situ pun takut dan memilih pergi, mereka tahu siapa itu Gege Vamos, bahkan zampai 7 turunan pun mereka tahu tak akan pernah bisa menang melawan si Gila Gege Vamos.
Namun, di lain pihak hebatnya Gege tak peduli dengan para wanita yang telanjangg tersebut, matanya terus tertuju pada Zay yang duduk dk samping Marfin.
"Kau datang sangat cepat... Gege Vamos." Kata Marfin.
"Ya, bagaimana lagi, kesayanganku yang sangat menggemaskan sedang sangat nakal, katanya dia hanya ingin main ke Club, tapi ternyata justru tersandung ke sini." Kata Gege Vamos.
"Ya... Bagaimana lagi, dia tersandung di sampingku... Dann... Siapapun yang sudah duduk di sampungku akan menjadi milikku..." Kata Marfin.
Sudut bibir Gege terangkat naik sedikit seolah ia sedang mengejek Marfin.
Gege kemudian mendekat dan sangat dekat lalu ia mengulurkan tangannya, agar Zay menyambutnya dan pulang bersamanya.
Saat tangan Zay terulur, seorang pengawal sudah ada di belakang Gege.
"Gege!!!" Teriak Zay.
"PRAAANGGG!!!"
Pengawal itu memukulkan botol alkohol di kepala Gege.
Gege memegang kepalanya, ia melihat telapak tangannya berwarna merah kemudian ia berbalik, mencengkram kepala pengawal yang sudah memukulnya lalu mendorong kepala sang pengawal itu ke atas meja hingga membuat meja tersebut remuk.
"DDUUAAARRR!!!"
Dorongan tangan Gege sangat kuat hingga membuat bunyi yang besar, kepala pengawal itu pecah membentur meja.
Tangan Gege di penuhi lumuran darah, dan kemudian Jonathan hendak maju.
Pengawal Gege akhirnya sudah selesai bertarung dengan para pengawal Marfin. Pengawal Marfin kalah telak.
"Gege... Batalkan pembangunan proyek mu yang ada di sebelah wilayahku, atau gadis ini akan mati." Kata Marfin mengeluarkan pistolnya.
Gege pun tertawa, terlihat sangat ngeri, wajah Gege yang berlumuran darah membuatnya seperti psycho.
"Zay... Tutup matamu." Kata Gege.
Kemudian Zay menutup mata.
Gege pun mengambil belati kecil yang ada di sakunya.
"Kau benar-benar akan membunuhnya?" Tanya Gege.
__ADS_1
Marfin menelan ludahnya.
Marfin ingat, julukan Gege adalah Monster belati. Belati apapun yang ada di tangannya, pasti akan melesat sangat cepat dan tepat sasaran.
"Baiklah.. Baiklah... Aku hanya bercanda, aku akan memberikan gadis ini padamu, tapi untuk wilayah yang sedang kau bangun, jangan coba-coba untuk merebut kekuasaanku, kita bersebelahan, jadilah tetangga yang baik. Wilayahku tidak akan ku berikan pada siapapun!" Kata Marfin kemudian mendorong Zay.
Zay pun berdiri dan maju mendekati Gege, Gege langsung memeluk Zay seolah ingin melindunginya dengan tubuhnya.
"Kita pulang." Ajak Gege pada Zay dengan suara lembut.
"Luka mu sangat parah." Kata Zay.
Mereka pun keluar dari ruangan Marfin Vince. Namun, Jonathan mendekat pada Marfin dan terlihat marah.
"Kenapa kau biarkan mereka pergi..." Kata Jonathan.
"Aku tidak ingin mengambil resiko, Gege terlihat sangat marah dan ingin mengamuk, saat dia memegang belati, semua bisa habis, bahkan pistolku tak ada apa-apanya, permainan belatinya sangat bagus dan tajam, belum lagi belati yang di lemparkan akan sangat akurat tepat dan cepat. Aku merasa dejavu, aku pernah mendengar cerita tentang Gege yang menusuk dan membantai para mafia hanya dengan satu belati."
"Lalu bagaimana sekarang? Apa kau tidak khawatir wilayahmu akan di rebut oleh Gege."
"Kita butuh rencana, sekarang bukan waktu yang tepat dan sepertinya aku tahu rencana apa yang akan menghancurkan Gege." kata Marfin.
"Apa itu..."
"Cinta." Kata Marfin tersenyum.
"Cinta?" Tanya Jonathan.
"Ya... Akhirnya aku tahu siapa gadis yang Gege sukai, selama ini dia selalu tak mau di ekspose, apalagi dia sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya, meski aku mengirim banyak pengawal untuk menyelidikinya tetap saja tak dapat informasi apapun, siapa kelemahan Gege Vamos."
"Aku masih tak mengerti?" Tanya Jonathan.
"Aku akan merayu Zay. Jika Zay akhirnya bersamaku, Gege pasti akan gila. Hahahahhah....!" Marfin tertawa.
"Tapi, Zay, apakah dia gampang di rayu? Kau tak lihat? Zay terampil berkelahi. Lalu bagaimana jika nanti kau yang justru jatuh cinta pada Zay." Tanya Jonathan.
"Tidak akan, aku akan merayunya, saat Zay dan aku sudah bersama, Gege pasti akan patah hati. Yang jelas aku harus menggagalkan Proyek Marfin yang ada di dekat wilayahku, bagaimana pun caranya." Kata Marfin.
"Zay tidak akan tertarik padamu... Kau masih saja bodoh, aku sepupumu tapi aku malu dengan semua rencanamu itu... Kau tahu kenapa kau selalu di tertawakan oleh Aaron Vince? Karena selalu membuat rencana aneh." Kata Jonathan.
Marfin hanya diam, dan melihat mayat-mayat yang ada di hadapanya dengan tenang.
"Lalu dengan cara apa? Jika berperang, kekuatan pasukan Vince sangat kurang dan lemah, apalagi sebagian sudah mati di bantai saat perang di Pulau Kematian. Aaron si bodoh itu pun akhirnya juga mati di siksa Traver. Informan milikku kembali dan mengabarkan padaku hingga muntah-muntah, karena Traver benar-benar menyiksa Aaron dengan keji." Kata Marfin.
"Kita culik Zay, Gege pasti akan melakukan apapun yang kau mau."
"jika tak salah ingat, bahkan Carlos De Hugo pun gagal dalam penculikan Zay."
Marfin Vince memang sedang di buat kalang kabut dengan pergerakan cepat Gege Vamos yang sudah menduduki dan merampas serta mengalahkan mafia-mafia besar untuk memperluas kekuasaannya, dan sekarang Marfin Vince di buat frustasi, karena ia tahu, Gege Vamos sedang mengincar wilayahnya.
__ADS_1
Bersambung~