
"Saya tidak suka melakukannya di mobil." Kata Zac mendorong sedikit tubuh Gloria menjauh darinya.
"Kenapa?" Tanya Gloria kecewa masih meliuk-liukkan tubuh.
"Karena... Karena ini sempit." Kata Zac memberikan alasan asal.
"Bukankah tempat yang sempit justru membuat kita semakin panas? Bayangkan, tempat sempit, lalu tubuh kita saling menempel, milik kita saling menggesek, hawa panas mulai menyebar, lalu... Gairah mulai memuncak." Kata Gloria menempel lagi pada tubuh Zac.
Zac membuang nafasnya panjang.
Kemudian dengan cepat tangan besar yang memiliki jari-jari panjang yang lentik namun juga kuat mendorong Gloria hingga tersudut di sisi Gloria.
"Tenanglah, dan jangan seperti cacing kepanasan." Kata Zac berbicara dingin tepat di depan wajah Gloria
Zac kemudian kembali membenarkan posisi duduknya.
"Astaga... Jantung saya berdebar kencang, tangan anda sangat kuat saat mencengkram pergelangan tangan saya, anda pasti begitu kuat saat di atas ranjang, saya sudah tidak sabar merasakannya." Kata Gloria meremas pergelangan tangannya.
Perjalan mobil cukup lama karena ternyata terkena macet, dan Zac tahu macet itu hanyalah perbuatan dari Traver.
Traver sengaja mengulur waktu agar perjalanan semakin lama. Traver membuat rekayasa dan meretas traffic light agar kemacetan parah terjadi.
Namun kemacetan parah pun hingga beberapa jam tak membuat Gloria menyerah, Zac sudah muak duduk di dalam mobilnya terus menerus.
Pada akhirnya mereka pun sampai di depan apartmen, Zac benar-benar mempertaruhkan segalanya, ia tak ingin di rendahkan namun ia juga penasaran ingin mencobanya apakah miliknya bisa berdiri.
Gloria keluar lebih dulu, para karyawan melihat, dan mereka saling berpikir dalam benak mereka masing-masing.
Siang tadi seorang wanita yang di gendong oleh Zac, sekarang wanita seksi yang nakal dan sangat bergairah keluar dari mobil san akan masuk ke apartmen Zac.
"Tuan Zac memang luar biasa, aku rasanya juga mau di seret ke apartmennya." Kata salah satu karyawan
"Memang sangat perkasa, jadi rumor dan gosip itu benar, 10 wanita tak bisa mengalahkannya, aku penasaran, apakah aku akan mati atau pingsan saat ada di bawahnya... Kyaaa....!!!" Karyawan lainnya juga mengatakan hal sama.
Di dalam lift, pada akhrinya Gloria tak dapat lagi menahannya, ia langsung menubrukkan dirinya pada Zac.
Zac langsung memeluk Goria, dan menciumnya, bibir mereka saling bertemu dan saling memagut.
Cukup lama Zac memojokkan Gloria di dinding lift yang dingin, tak berapa lama lift pun terbuka, Zac keluar bersama Gloria masih dalam keadaan saling berciuman.
__ADS_1
Saat berada di depan pintu apartmen, Gloria masih memeluk dan melingkarkan tangannya di leher Zac, sedangkan jari Zac memencet angka-angka password apartmennya
"Klaakk Tilulit!!" Pintu pun terbuka.
Zac mendorong dengan kakinya, dan membawa Gloria masuk, mereka saling melummat satu sama lain.
Zac memojokkan Gloria di dinding marmer yang dingin.
Ciuman itu sangat rakus, dan membuat Gloria kepanasan. Zac kemudian mengulum telinga Gloria.
"Memang benar anda sangat pintar membuat saya bergairah, saya tidak tahan lagi, anda sangat pintar. Anda begitu ahli, pasti pengalaman anda luar biasa."
Zac menciumi leher Gloria, dengan tangannya yang kuat, Zac merobek baju Gloria dan membuat payudaraaa montokk itu menyembul sempurna.
Zac menciuminya, menyesap dan membuat tanda merah di sana, tak sampai di situ, Zac mengulumnya berkali kali dan meremasnya.
"Ngghh.. Ohhh... Lagi... Lagi... Anda sangat pintar, anda sangat kuat dan ahli, tangan anda begitu kuat dan sangat membuat saya bergairah..."
Namun, sejauh apapun Zac menjamah dengan tangan ataupun mulutnya, ia tak merasakan apapun, bahkan serangan gairah yang menggelitik tunuhnya sedikitpun tak ada, begitu hampa dan tak ada rasa.
Benda miliknya pun tak mengeras sedikitpun, bahkan, Zac merasa bosan, di pikirannya hanya satu, ia akan membunuh wanita itu jika ia benar-benar tak bisa berdiri, karena Gloria pasti akan memyebarkan fakta bahwa ia Impotenn.
Saat Zac dan Gloria bergumul, saat itu lah seseorang yang sedang duduk santai terkejut, dan tak bisa berkata apa-apa.
Daisy, sedang menikmati jus jeruk buatan suaminya, ditemani cemilan manis, ia duduk santai di sofa tepatnya ruang tamu depan.
Sedangkan Ben, ia sedang berdiri keluar dari dapur membawa ait putih, Ben membawa gelas berisi air putih yang sedang ia minum sembari menikmati tontonan dewasa secara gratis.
Ben mengangguk-angguk pelan melihat anaknya, Zac mencumbu dengan begitu luwes dan begitu mendominasi pada wanita yang ia ajak pulang.
Sedangkan Daisy menaikkan sedikit sudut bibirnya dan camilan di tangannya tak kunjung masuk ke dalam mulutnya.
Saat Zac hendak memasukkan jarinya ke dalam bagian sensitiv Gloria, pria itu membuka matanya dan sorot matanya langsung tertuju pada sosok yang tak asing baginya.
Pria tampan yang masih terlihat muda dari usainya yang sebenarnya, berdiri dengan tubuh tinggi dan kekar, memegang gelas panjang berisi air putih, dengan santai pria itu meminumnya perlahan-lahan, lalu tersenyum pada Zac.
Seketika Zac menarik diri dari tubuh Gloria yang sudah setengah telanjjang.
"Ayah..." Mata Zac membulat dan mendelik, jantungnya berdebar cepat seperti akan perang.
__ADS_1
Tubuh Zac menegang seketika, ia malu dan tak bisa berkata apapun.
Kemudian Gloria membuka mata dan menaikkan kedua alisnya menatap Zac, ia kemudian berbalik ke belakang, karena penasaran siapa yang Zac panggil ayah.
"Oohhh Astaga... Bagaimana ini... Tuan Beeenn..." Gloria sibuk menutupi payudarannya dengan kedua tangannya, dengan centil dan menggoda, sebenarnya ia tak punya niat menutupinya sama sekali, Gloria hanya berpura-pura.
"Kenapa ayah di sini?" Tanya Zac.
"Aku? Aku di sini untuk liburan." Kata Ben meminum air putihnya lagi.
"Aaah... Saya mengerti.. Apakah Tuan Ben akan bergabung juga? Saya tidak menduganya Tuan Zac, anda sangat nakal, anda tidak mengatakannya pada saya karena ini kejutan untuk saya bukan? Tenang saja saya tidak keberatan."
"Apa?" Zac tak mengerti maksud Gloria.
"Jadi, akhirnya Tuan Ben mau menerima tawaran saya, dia mau untuk berhubungan badan dengan saya, apa kalian berdua telah merencanakan ini, kalian berdua akan bersama-sama bermain dengan saya... Saya suka itu, 2 lawan 1, saya sangat sukaa.. Mari kita lakukan.. Akhirnya Tuan Ben mau menerima tawaran saya, padahal sudah beberapa tahun lalu, anda akhirnya tergoda kaan... Anda hanya jual mahal." Kata Gloria dengan suara mendayu dan menggoda kecentilan.
Saat itu Ben yang sedang minum, seketika tersedak.
"Uhuuukk!!!" Air minum nya yang ada di mulutnya mancur ke bawah dan tumpah ke lantai.
Ben menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat karena melihat Daisy berjalan perlahan-lahan mendekat.
"Tidak... Sayangg... Bukan sepeti itu... !!!" Ben ketakutan melihat bara api di mata Daisy.
Zac menoleh kebelakang, dan itu adalah ibunya, Seketika Zac menutup matanya, dan menggigit giginya sendiri.
"Astaga...." Kata Zac tak tahu harus berbuat apa karena ibunya melihat dirinya sedang bercumbu dengan wanita.
"Jadi tawaran apa yang kau berikan pada suamiku." Kata Daisy masih membawa jus jeruknya di tangan.
"Aaahh... Itu.... Ra.... Ha... Sia... Benarkan Tuan Bennn...." Suara Gloria manja dan menggoda, ia terlalu centil dan sangat menjijikkan di mata Daisy.
"PYUUURRRR!!!" Daisy menyiramkan jus jeruknya pada wajah Gloria yang sangat membuatnya muak.
Wajah kecentilan Gloria mendadak penuh dengan jus jeruk.
Daisy tersenyum.
"Upss tanganku terpeleset." Mata Daisy santai dan dingin.
__ADS_1
Bersambung