
Asap perangsang itu memang memiliki efek membangkitkan perasaan terdalam dari seseorang, jika Ben memiliki sesuatu yang ingin ia pendam sendiri, maka berkat asap itulah sesuatu hal yang ingin Ben sembunyikan dari orang lain bahkan dari dirinya sendiri akan muncul ke permukaan atau pada pikirannya.
Artinya, Ben selama ini memendamnya, ia melihat Gia sebagai sosok yang begitu ia benci dan menjijikkan, namun ia harus bertahan pada Gia karena saat itu Ben butuh Gia untuk melakukan operasi pada lukanya.
Sejujurnya Ben sangat membenci Gia, ia jijik, dan sangat muak, karena wajah Gia mengingatkannya pada trauma masa kecilnya, yaitu ibunya sendiri.
Wajah Gia mirip sekali dengan wanita yang menorehkan trauma di dalam hidup Ben. Memaksa Ben menyaksikan tindakan kotor sang ibu sebagai palacurr dan membuat Ben selalu mual dan muntah, membuat Ben memandang semua wanita itu sama, kotor dan rendah, hingga bagi Ben, semua wanita hanya bisa melakukan tugasnya memuaskannya melalui mulut mereka, karena Ben tak mau di sentuh oleh mereka, belum lagi kenangan bagaimana ibunya menjual Ben ke perdagangan anak secara ilegal, dan memukulinya serta membuatnya trauma secara verbal dan non verbal.
Setelah membunuh Gia, seolah Ben telah meluapkan emosi masa lalu nya atau emosi masa kecilnya yang terpendam, seolah Ben terbebas dari traumannya masa kecil, Ben membunuh Gia secara brutal bahkan saat sudah mati pun Ben seperti masih melampiaskan emosinya yang sejak kecil ia pendam.
Seolah-olah kini, dendamnya pada sang ibu, telah terbayarkan, seolah-olah keinginan Ben yang sejak kecil ingin membunuh ibunya telah lunas terbayarkan.
Ben menjadi sangat ringan, trauma masa kecilnya pun kini benar-benar telah terangkat.
Gia yang memiliki wajah sama seperti sang ibu, menjadikannya pelampiasan, Gia yang memiliki watak dan sifat seperti sang ibu membuat Ben tahu, bahwa ia telah melampiaskan rasa traumanya dan sudah menyalurkan perasaan bencinya yang paling dalam dan di keluarkan dengan cara membunuh Gia secara brutal.
Tetapi, pandangan Gia berbeda. Gia mengira Ben telah jatuh cinta padanya. Padahal, tidak. Ben selalu teringat wajah Gia karena Gia terlalu mirip dengan sang ibu, dan Ben memiliki dorongannbesar ingin sekali membunuhnya.
Saat helikopter sampai di mansion Haghwer dan Ben menurunkan Daisy. Traver datang menghadap.
"Tuan Ben, Dokter Gavriel sudah sadar." Kata Traver.
"Kita ke sana sekarang." Kata Ben.
"Baik Tuan." Kata Traver.
"Mena bawa istriku ke dalam." Perintah Ben.
"Baik Tuan Ben." Mena kemudian mengajak Daisy masuk.
Namun saat Daisy hendak masuk ke dalam Daisy melihat pada Ben.
"Ben... Aku bisa memaafkanmu, karena diam-diam menemui Gia seorang diri, meskipun pada akhirnya kau membunuhnya, namun aku tetap merasa sakit. Asal kau tidak mengirim Mena kemanapun aku bisa mentoleris itu." Kata Daisy.
Ben cukup terkejut melihat aksi istrinya.
"Kau tahu masalah itu?" Tanya Ben.
"Aku akan memaafkan mu karena mengendap-endap keluar menemui ****** itu, tapi syaratnya adalah jangan hukum Mena."
"Daisy, aku bukan mengendap-endap, aku hanya pergi sendiri, aku tidak mengendap-endap seolah-olah aku ingin selingkuh dari mu."
"Apapun itu, aku tidak akan memaafkanmu, jika kau membuat Mena pergi, di tambah kau menemui ****** itu."
Kemudian Daisy hendak pergi, namun Ben mulai paham dan mengerti.
"Jadi untuk ini kau membuntutiku? Mencari-cari kesalahanku hanya agar aku memaafkan Mena?" Kata Ben.
__ADS_1
"Kau pintar Ben, aku kecewa jika kau tak sadar apa yang ku lakukan malam ini, semua semata-mata demi Mena. Aku rela mataku ternoda dengan melihat kau membunuh secara brutal, hanya demi agar kau memaafkan Mena."
Ben menarik nafasnya berat, ternyata istrinya jauh lebih licik dari perkiraannya.
"Tapi, untuk sikapmu yang berubah, aku tidak pernah berbohong, aku menginginkan kau kembali seperti biasanya, maaf sudah berburuk sangka padamu Ben, tapi untuk kesalahanmu yang pergi diam-diam untuk menemui Gia, tetap saja aku meminta pertukaran kesepakatan. Lepaskan Mena dan biarkan Mena mengejar kebahagiaannya." Kata Daisy dan pergi meninggalkan Ben yang ternga-nga.
Ben melihat dingin pada Traver.
"Kau tahu masalah ini? Bahwa istriku diam-diam terus melacakku? Mencari-cari kesalahanku untuk bertukar kesepatan dengan memaafkan Mena? Kau tahu istriku menyusulku?" Kata Ben.
"Maaf Tuan saya tidak tahu, bahkan saya baru tahu dari Nyonya Daisy jika anda akhirnya membunuh Gia." Kata Traver.
"Astaga... Istriku sudah semakin pro untuk menekanku." Kata Ben melangkah pergi dengan langkah yang panjang.
Mereka pun berangkat menggunakan mobil dengan iring-iringan penjagaan yang ketat, sesampainya di rumah sakit, ternyata Zac sudah tiba di sama, ada Zay dan Gege Vamos juga, begitupun Rudolf.
"Dokter sedang memeriksanya. Belum ada yang di perbolehkan masuk." Kata Zac.
Zay terlihat cemas di samping Gege Vamos. Beberapa kali Gege Vamos memberikan air minum agar Zay tak dehidrasi saat menunggui Gavriel.
Tak berapa lama dokter pun keluar.
"Dokter Gavriel semakin membaik, hari ini bisa di jenguk." Kata Dokter tersebut.
Dengan rasa tak menentu Zay langsung menerobos masuk, Zay sangat ingin bertemu dengan Gavriel yang tak bisa ia lihat setelah kepergiannya dari Pulau kematian, dan terakhir mendapatkan kabar bahwa Gavriel sekarat.
Zac menepuk punggung Gege Vamos perlahan guna menguatkan pria itu.
Gavriel membelai kepala Zay dengan lembut.
"Aku baik-baik saja." Kata Gavriel.
"Apanya yang baik-baik saja..." Kata Zay menghapus air matanya.
"Terimakasih." Kata Gavriel melihat pada Gege Vamos.
"Untuk apa?" Tanya Gegeg datar.
"Karena membawa Zay pergi, keselamatannya adalah yang utama bagiku." Kata Gavriel.
"Tidak kau suruh aku juga punya rencana itu." Kata Gege Vamos dingin.
"Terimaksih juga sudah mau menolongku." Kata Gavriel.
"Aku melakukannya demi Zay." Kata Gege Vamos.
"Apapun alasannya, kau menolongku, aku tetap berterimakasih." Kata Gavriel.
__ADS_1
"Syukurlah kau sadar, jika tidak, aku akan menendangmu, agar kau bangun." Kata Ben menyelipkan kedua tangannya di saku nya.
Gavriel tertawa pelan.
"Paman, kau harus cepat sehat, ada yang harus ku bicarakan." Kata Zac.
"Ya... Pekerjaanmu banyak, jangan bermalas-malasan di tempat tidur." Kata Ben.
"Astaga... " Kata Gavriel tertawa lagi.
"Zac... Bagaimana Charles Brandon?" Tanya Gavriel.
Zac mengambil nafas dan menggelengkan kepalanya.
Gavriel paham dan mengerti, seseorang yang sudah mati tak harus di bahas lagi, karena itu hanya akan membuat luka hati semakin dalam.
"Gaby sangat terpukul. Jadi, aku membiarkannya sendiri dulu, katanya dia meminta ketenangan." Kata Zac.
Gavriel mengangguk pelan.
"Lalu bagaimana dengan Gia dan Aaron." Tanya Gavriel
"Aku sudah membunuh wanita itu." Kata Ben.
"Apa!!! Ayah membunuh Gia! Aku belum selesai dengannya!" Pekik Zac.
"Aku sudah menahannya, tapi ternyata tanganku sangat gatal ingin sekali membunuhnya." Kata Ben.
"Astaga.. Dia menanamkan chip di lengan Gaby, itu adalah Chip pelacak, mungkin bom nya tidak aktif karena Gia yang bisa mengaktifkannya sudah mati, tapi tetap saja itu berbahaya." Kata Zac.
"Serahkan itu pada Traver, dia ahlinya." kata Ben santai
"Baiklah. Aku mengerti." Kata Zac.
Beberapa saat, ketika mereka semua asyik mengobrol, tiba-tiba seorang wanita cantik masuk.
"Permisi, benarkah ini kamar Dokter Gavriel."
Semua mata tertuju pada wanita yang seksi dan cantik itu, dan tak hanya Gavriel yang terkejut, bahkan Ben dan Rudolf serta yang lainnya yang mengenal wanita tersebut tak kalah terkejut.
"Ansella...?" Saat itu Daisy memanggil nama Ansella yang sudah masuk ke kamar, dan Daisy baru saja hendak masuk bersama Mena. Daisy baru sampai di Rumah Sakit.
"Daisy... Lama tidak bertemu. Aku dengar, Gavriel, maksudku Dokter Gavriel terluka, jadi aku berniat menjenguk." Kata Ansella.
Daisy kemudian masuk ke ruangan tersebut, dan melihat ke arah Gavriel dan juga ke arah Zay.
"Siapa.... Dia?" Tanya Zay pada Gavriel.
__ADS_1
Bersambung~