
Di ruangan Ben, saat itu Daisy nampah lebih tenang, karena ternyata perkembangan Ben sangat cepat, bagi manusia normal itu hal mustahil tapi mungkin Tuhan memiliki kasih sayang yang berbeda untuk Benjove.
Ben sendiri terkenal dengan rasa kemanusiaannya yang ti ggi untuk para kaum lemah, dia juga selalu melakukan amal pada negara-negara miskin.
Saat itu, Ben sudah membuka matanya dan dapat bergerak, beberapa selang juga sudah di lepas, hanya tinggal kabel-kabel pada beberapa tubuhnya masih menempel untuk mengawasi setiap perkembangannya.
Daisy sedang merapikan beberapa selimut di kaki Ben, tak berapa lama pintu pun di buka.
"Ibu..." Panggil Zay dengan lemah.
Daisy sontak menoleh dan mendapati anak perempuannya sudah berdiri di pintu ruangan.
"Zaayy... Zaayy anakku...!!!" Teriak Daisy berlari dan memeluk Zay dengan menangis.
"Astaga... Terimakasih Tuhan... Terimakasih...!!!" Pelukan Daisy sangat erat dan kemudian Daisy menciuni wajah Zay.
Dengan panik, Daisy memeriksa semua tubuh Zay.
"Apakaj ada yang terluka?" Tanya Daisy.
Zay menggelengkan kepala, matanya sembab dan merah.
"Zay, temui ayahmu, dia sudah sadar." Kata Derreck.
"Iya, dia pasti sudah sangat menantikan kedatangmu..." Ucap Daisy menarik pergelangan tangan Zay dengan semangat.
Zay sedikit ragu untuk mendekat.
Namun, Ben kemudian memberikan kode, agar Zac mendekat dengan mengayunkan tangan nya.
Zay mendekat pada ayahnya.
"Ayah... Maaf..." Kata Zay menangis dan memeluk sang ayah.
"Hm..." Ben membelai kepala Zay dengan lembut.
"Semua kekacauan ini karena aku yang bodoh." Kata Zay.
"Semua sudah terjadi. Aku juga salah, kau menjadi seperti itu karena ingin mencari sosok yang bisa menyayangimu seperti yang kau inginkan, sekarang mandi dan bersihkan tubuhmu." Kata Ben.
"Ayah memaafkan ku?" Tanya Zay.
"Tentu saja, kalau tidak, mana mungkin kau bisa selamat saat ada hadapan ayahmu." Kata Ben datar.
"Terimakasih ayah."
"Bersihkan dirimu." Kata Ben.
"Baik ayah."
__ADS_1
"Suruh kakakmu masuk." Perintah Ben.
Zay mengangguk.
Kemudian Zay keluar bersama Daisy, sedangkan Derreck masih tetap tinggal di ruangan Ben, tak berapa lama Zac serta Traver masuk.
"Ayah." Sapa Zac.
"Ya." Ben melihat kantung yang di bawa Traver.
"Seperti nya kau berhasil membawa kepalanya."
"Tentu saja." Kata Zac.
Traver pun maju dan membuka bungkusan itu, Ben melihat dengan mata dingin.
"Wajahnya semakin buruk." Kata Ben.
Kemudian Traver membungkusnya lagi.
Sedangkan Derreck mengernyitkan dahi dan menutup hidungnya sedikit.
"Tok...Tok...Tok..!"
Pintu di ketuk dan Mena serta Casey masuk.
"Tuan Ben, beberapa Anggota Perserikatan Mafia datang." Kata Mena.
"Ayah, kau belum boleh duduk." Kata Zac.
"Jangan memaksakan diri." Kata Derreck.
"Lakukan saja." Perintah Ben.
Kemudian Traver meneggakkan ranjang pasien, Ben sedikit meringis dan kemudian posisinya menjadi setengah duduk.
Tak berapa lama, Rudolf Gama, Yamaguchi, Aaron Vince, Gege Vamos, Yaron Cartello dan kehadiran Vanya Belando kembaran dari Vanda Betrando, Vanda Betrando sendiri sudah mati di mutilasi oleh Ben, mereka berdua adalah anak dari Paulo Redges, dimana Paulo Redges pun juga sudah mati dalam insiden balas dendamnya pada Ben.
Semua berkumpul saling berhadapan dengan Ben serta Traver yang ada di samping Ben, lalu Zac, Derreck, Mena serta Casey.
Tak berapa lama, Zay dan Daisy datang karena sudah selesai membersihkan diri, dan terkejut dengan kedatangan orang-orang yang asing bagi mereka.
Daisy serta Zay kemudian berada di belakang.
"Jadi, ada kenapa kalian datang kemari." Kata Ben.
"Ku pikir aku akan ada di tengah-tengah untuk menjembatani..." Kata Rudolf kemudian maju.
"Anda terlihat lemah Tuan Ben." Sahut Aaron Vince.
__ADS_1
"Sayangnya tak seperti yang kau lihat juga, aku masih mampu dan kuat menendangmu keluar dari sini." Kata Ben.
"Ku dengar anakmu menyerang Carlos De Hugo." Sambung Gege Vamos.
Ben hendak memberikan perintah pada Traver untuk melemparkan potongan kepala Carlos yang masih di bawa Traver, namun ia melihat ada istrinya di sampingnya, Ben tidak ingin mengambil resiko, melihat istrinya pingsan dan trauma jika harus menyaksikan potongan kepala manusia.
"Dia menyekap anakku." Sahut Ben.
"Carlos De Hugo berniat untuk melakukan negosiasi. Salah satu pengawal nya menghubungi ku, dia mengatakan bahwa mereka di serang dan semua di hancurkan, para pengawal di bantai dengan kejam." Sahut Yaron Cartello.
"Kau yakin Carlos ingin bernegosiasi. Dia meminta barter, yaitu menukar anakku dengan istriku."
"Tapi Carlos selalu memiliki catatan yang baik, dia bersih, tak permah melakukan pelanggaran terhadap aturan Perserikatan Mafia. Jadi, sebenarnya bukankah anda tahu Tuan Ben bahwa wilayah AS adalah wilayah gencatan senjata bagi semua mafia? Apa anda sedang menyalahgunakan wewenang anda untuk melindungi anak anda dari konsekuensi yang telah dia perbuat?" Kata Vanya Belando dengan tajam dan dingin.
"Jika Kakakku salah, Douglas juga harusnya di hukum karena telah menembak ayahku." Seru Zay.
"Douglas memerintahkan pengawal pribadinya menembak ayah anda karena, kakak anda menembak Xuan Yuan lebih dulu, bukan kah setelah itu, keluarga Haghwer telah membalas dengan menembak Jhonder hingga mati? Jadi awal itu sidah impas." Kata Vanya Belando lagi.
"Apa konsekuensi yang harus ku terima." Tanya Zac.
"Zac, kau diam!" Perintah Ben.
"Drrr... Drrrtt.... Drrrttt....!" Ponsel Zac terus bergetar. Namun, Zac tak memiliki kesempatan untuk mengangkatnya.
Semua mendengar bunyi getar ponsel Zac yang terus berdengung.
"Aku harus mengangkat ini." Kata Zac.
"5 menit." Jawab Aaron Vince.
"Halo?"
"Aku tidak bisa lagi menahan semua pengawal yang di kerahkan Ayah Nona Gaby, pengawal semakin banyak dan mengepung, sedangkan pengawal yang berjaga di mansion milikmu, mereka mengatakan tak akan melawan, karena seseorang memerintahkan untuk tak ikut campur, pasukan Haghwer tak akan mengangkat senjatanya." Kata Charles
"Sialan." Umpat Zac dan menatap tajam pada Traver.
Saat Zac sedang mengumpat semua melihat ke arah Zac.
"Aku akan hubungi lagi setelah masalah di sini selesai, selagi aku belum datang kerahkan semua ide yang kau bisa." Kata Zac menutup ponselnya.
"Ayo cepat selesaikan masalah ini dengan cepat, aku masih sibuk dan banyak urusan." Kata Zac.
"Jadi, konsekuensinya adalah, Tuan Ben harus menyerahkan jabatannya sebagai Ketua Perserikatan Mafia, ataukah kau harus menjadi tahanan wilayah As, tak bisa keluar pulau atau negara manapun." Kata Aaron Vince.
Semua orang terhenyak, bahkan Zac semakin menahan emosinya di dada, ia meremas erat ponselnya hingga ponsel itu ingin Zac remukkan.
"Lalu kau ingin menjadi ketuanya? Aaron?" Tanya Ben.
"Jika tak ada pilihan, aku akan menggantikan anda Tuan Ben." Kata Aaron Vince.
__ADS_1
"Aaron Vince, kau seumuran dengan Zac anakku, jika harus menyetujui siapa Ketua berikutnya pastilah aku akan menunjuk anakku, kau tahu kenapa? Karena Zac adalah anak dari Benjove. Kau sudah lupa siapa Benjove Haghwer?!" Ben menatap dingin dan tajam pada Aaron Vince.
Bersambung