
PENGUMUMAN :
Hay pembaca setia ku, semoga kalian gak bingung ya, alurnya memang maju mundur, jadi tidak ada maksud mengulang kalimat lagi, hanya saja biar kalian bisa paham.
******
Ben tak melihat Gia ia melihat ke arah lain terus menerus, lagi pula bukan sifat Ben jika ia memperlakukan wanita dengan baik, Ben masih bersikap sabar karena niat baik dan tulus Gia pada awalnya, meski sekarang Ben sama sekali tak memiliki simpatik apapun pada Gia, yang Ben lakukan sekarang adalah karena istrinya menyuruhnya, dan karena Ben ingin memperlihatkan pada Daisy bahwa Ben masih setia pada Daisy.
Gia bukan apa-apa baginya, dan Ben akan menunjukkannya bahwa Ben tak pernah merasa berat meninggalkan Gia.
Ben sempat berfikir bahwa, ia senang istrinya cemburu, namun ini menyulitkan baginya harus berhadapan dengan wanita lain.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan Gia, waktu yang kau minta terus berjalan." Kata Ben pada akhirnya membuka kesunyian karena Gia tak juga bersuara.
"Aku... Aku... " Saat ini mendadak Gia merasa sangat jauh dengan Ben, jaraknya begitu tak terhingga, Ben adalah pria kaya raya yang berkuasa, dan Gia adalah wanita yang kotor bahkan kakinya sangat kotor tanpa memakai alas kaki.
"Maafkan aku telah mengatakan itu semua."
"Mengatakan tentang apa?"
"Tentang ingin memilikimu." Kata Gia.
"Kau tidak perlu meminta maaf padaku, sejujurnya kau beruntung karena telah menyelamatkan nyawaku dan istriku tidak membunuhmu, dia pernah memerintahkan Mena untuk membunuh seseorang wanita karena wanita itu menginginkanku."
"Be... Benarkah..." Tanya Gia panik dan gelagapan, ia mulai ketakutan.
"Ya... Dan aku baru mengetahuinya akhir-akhir ini. Aku meminjam ponsel yang Carlos berikan padamu untuk menghubungi pengawal pribadiku. Tentunya aku sudah mereset ulang ponselnya karena ponsel itu sudah di sadap oleh Carlos." Kata Ben.
"Kau... Kau tahu semua yang Carlos berikan padaku?"
"Aku mafia Gia, tidak ada yang tidak aku ketahui, bahkan ketika kau memiliki niat yang lain padaku." Tatapan Ben tajam membuat Gia meringkuk.
Namun, saat itu juga keberanian Gia tiba-tiba muncul.
"Ben... Aku tidak memiliki apapun, aku juga baru pertama kali ini merasakan detak jantungku resah hanya karena seorang pria, jadi ku pikir tak apa jika aku mati, apa yang ku khawatirkan tentang diriku? Aku tak tak memiliki apapun, jadi aku akan mengambil resiko ini." Kata Gia.
Ben tak mengerti dengan perkataan Gia.
Namun, tiba-tiba saja Gia menarik kursi yang ada di dekatnya dan berdiri di atas kursi dengan cepat Gia memeluk leher Ben dan menciumnya.
Sontak Ben tersentak kaget.
__ADS_1
Daisy yang merasa sudah tak sabar pun masuk.
"Waktu sudah habis!" Kata Daisy namun dadanya mendadak ingin meledak melihat pemandangan itu.
Darahnya mendidih naik hingga ke atas ubun-ubun.
Ben yang terkekjut dengan tindakan Gia, bertambah terkejut lagi ketika melihat istrinya masuk dan melihatnya berciuman dengan Gia.
Mata Ben membulat penuh, dan menggelengkan kepalanya.
Ben ingin memberitahu pada Daisy, bahwa itu bukan keinginnannya, bahkan Ben pun tak tahu jika Gia berani melakukan itu padanya.
"Nikmati ciuman perpisahan kalian, karena ini pertemuan kalian yang terakhir." Kata Daisy berlenggang pergi.
Ben membuang nafasnya panjang dan mendorong Gia hingga Gia terjatuh dati kursinya.
"Maaf Ben aku sengaja melakukan semua ini, agar hubungan rumah tangga kalian tak kan pernah kembali harmonis, agar istrimu selalu curiga dan tak lagi percaya padamu, itu akan melegakan hatiku, dan aku merasa kita impas. Saat ini, jika kau atau istrimu membunuhku aku siap." Kata Gia menangis.
Ben tak lagi menggubris omongan Gia, ia harus mengejar Daisy, namun keterbatasannya membuatnya tak bisa berjalan cepat, ia tertatih dan kesakitan.
Saat itu Daisy keluar dari penginapan dengan berjalan cepat.
"Mena kita pulang lebih dulu." Ajak Daisy.
"Nyonyaa..." Panggil Mena, karena Daisy tak merespon.
"Daisy ada apa?" Derreck pun menyusul Daisy, Mark Waldorf juga mengikuti Daisy.
"Ini gawat, sepertinya perang keluarga dan perang antar rumah tangga akan meledak." Kata Rudolf mengeluarkan cerutunya.
"Daisy... Ada apa?" Tanya ayah Daisy lagi.
"Ayah kita pulang lebih dulu saja, sudah banyak yang menjaga Ben." Kata Daisy sembari menutup pintu mobil.
Dereck dan Mark saling pandang tak berapa lama Ben pun keluar dari penginapan di temani oleh Traver serta Rudolf.
"Ada apa!" Tanya Mark Waldorf berjalan mendekat menghampiri Ben.
Dereck juga melihat pada Ben dengan wajah nanar.
"Kenapa adikku menangis." Tanya Derreck.
__ADS_1
Ben kembali menghembuskan nafasnya ia tak bisa mengatakan apapun.
Tanpa menunggu jawaban dari Ben, Mark dan Derreck sudah paham jika pasti Ben telah melukai hati Daisy.
"Jangan menemui cucu-cucuku sampai urusan rumah tangga kalian selesai." Ancam Mark Waldorf.
Kemudian Mark dan Derrcek pun pergi.
Setengah dari iring-iringan mobil pergi meninggalkan penginapan, jalanan penuh dengan debu yang mengepul ke atas, karena ban-ban besar mobil yang menggilasnya.
"Tuan..." Tanya Traver.
"Daisy melihat aku berciuman dengan Gia." Kata Ben mengusap wajahnya.
"Hahahhha...Hahhahahah....Hahhahahahah....!!!" Rudolf tertawa hingga perutnya sakit.
Gavriel menggelengkan kepala dan menepuk punggung Ben.
"Kurang apa Daisy, kau benar-benar Ben... Jika ingin mengkhianati Daisy, semua binatang siap mengambil Daisy darimu."
"Akan ku robek mulutmu dan kupatahkan kakimu serta tanganmu." Ancam Ben pada Gavriel.
Gavriel berlenggang pergi masuk ke dalam mobil tanpa peduli ancaman Ben.
"Dia salah paham, aku juga tak tahu jika Gia akan menciumku." Kata Ben.
Rudolf mengangguk dan menahan tawanya.
"Ben... Ingatan wanita sangat tajam, apalagi ini tentang ciuman, urusan Marry Anne juga baru saja selesai, beruntung jika Daisy tak menceraikanmu, tapi yang paling parah mungkin selama sisa rumah tangga kalian, Daisy akan menyiksamu dengan sindiran-sindiran keras, perkuat hati dan telingamu. HAHAHAHHAHAH!!!" Rudolf kemudian masuk ke dalam mobil juga.
Tak berapa lama Rudolf membuka jendelanya.
"Ayo pulang, jika kau tak segera pulang Daisy akan semakin marah dan menduga kau tak ingin pulang Ben. Hahahahahh!!!" Teriak Rudolf dan menutup jendela mobilnya.
"Astagaa.... Pria memang tempatnya salah. Nafas lewat mulut saja jika istri tidak mengijinkan pasti sudah membuat keributan rumah tangga." Kata Ben segera masuk ke dalam mobil di susul dengan Traver.
Mobil pun melaju meninggalkan desa yang terpencil dan begitu terisolir, meninggalkan Gia yang terduduk lesu di atas lantai berdebu, tubuh kotor, dan begitu kacau.
"Aku... Tidak mungkin bisa mendapatkan nya, aku memang tak tahu diri, bahkan aku membenci diriku sendiri yang kotor ini! Kenapa aku terlahir miskin dan menjadi kotor begini... HWAAAAAA!!!"
Gia menangis meraung, ia berguling-guling di atas lantai berdebu yang kotor.
__ADS_1
"Kau pasti tertawa melihat ku seperti ini kaaannnn!!!" Teriak Gia, entah di tujukan pada siapa.
Bersambung