
Daisy menatap nanar pada Traver, dengan mata merah dan wajah bergetar.
Wajah dingin, aura gelap, dan bercampur dengan amarah serta kecemasan di wajah Daisy. Akhirnya, membuat Traver menggeser tubuhnya dan menunduk.
Daisy memegang handle pintu dan membukanya pelan, kaki yang kaku enggan melangkah masuk karena terasa begitu berat namun Daisy harus tetap maju.
Mata nanar yang merah dan sudah basah membuat penglihatan Daisy sedikit membayang.
Ada rasa jijik saat Daisy melangkahkan kakinya. Di dalam ruangan yang tak terlalu terang namun juga tidak gelap sama sekali akhirnya Daisy masuk.
Ruangan itu berbentuk T Daisy dapat melihat dari pantulan kaca yang ada di dinding sebelah kiri.
Sekeras apapun Daisy menelan ludahnya, itu tetap terasa kering di kerongkongannya.
Daisy bisa melihat Ben menutup matanya, urat-urat kasar menonjol di seluruh wajah tampan yang begitu cabull, meski tak seperti wajah biasanya yang Daisy kenal ketika Ben merasa puas saat melakukan hubungan badan dengannya, namun tetap saja hati Daisy terasa tersayat melihat Ben mendapatkan kenikmatan di tempat lain.
Meski mereka tak melakukan hubungan badan dan hanya sekedar bisnis saling menguntungkan, namun Daisy tetap merasa marah tak tertahankan, bukan Ansella, kali ini bukan Ansella yang melayani Ben tapi itu adalah wanita lain.
Entah kenapa perasaannya berbeda dengan saat Ansellla menyombongkan dirinya telah melayani Ben.
Saat itu bahkan Daisy tidak terlalu merasa sakit hati, dan justru merasa lebih unggul, apakah saat itu adalah perasaan putus asa yang sangat kuat dengan di sesapi rasa bangga karena sama-sama merasa sebagai pelacurr? Karena sejatinya Ansella tak pernah bisa benar-benar menyentuh tubuh Ben sedang Daisy di sentuh dengan lembut oleh Ben.
Atau kah kali ini, karena Daisy melihat dengan kedua matanya sendiri? Wajah Ben yang seperti itu? Wajah yang berharap merasakan kenikmatan lebih dan lebih lagi hingga mencapai puncak paling tinggi.
Kemudian mata Daisy juga tertuju pada 2 wanita yang gencar bekerja dengan mulut mereka, tangan-tangan mereka pun teranmpil menggerayangi tubuh mereka sendiri, sembari menatap cabull pada wajah tampan Ben yang seksi.
Tiba-tiba tangan Ben yang memakai sarung tangan hitam menjambak rambut salah satu wanita dengan keras dan Ben membuka mata.
Dengan pandangan bengis dan gelap Ben menatap wanita itu.
"Sepertinya kau ingin aku mencongkel matamu." Kata Ben dengan suara rendah yang sedikit serak.
"Maa.. Maaf Tuan, saya bersalah, saya tidak akan menatap anda." Kata wanita itu ketakutan.
Ben membuang kepala wanita itu, dan kembali merentangkan kedua tangannya di atas punggung sofa, Ben juga menyandarkan kembali kepalanya di sana, berharap miliknya dapat di puaskan dan ia tak lagi tersiksa.
"Daisy.... Daisy...."
Kali ini Daisy terkejut, ia kembali pada kesadarannya, pikiran Daisy yang jauh melayang terseret dan terhisap lagi pada ruangan remang-remang dimana dirinya kini berdiri.
Daisy menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya semakin mengalir.
__ADS_1
"Daisy.... Hmmm.... Daisy...."
Ben terus meracau memanggil nama Daisy, dengan jantung yang ingin meledak, Daisy melihat patung kuda yang di pajang di almari nakas dekat pintu.
Tangan dan kaki Daisy gemetar, akhirnya Daisy menggenggam leher patung kuda itu, dan menggenggam dengan jemari lentiknya yang kecil.
Daisy berjalan maju dengan perlahan, Ben tak menyadari nya.
Dengan amarah yang membuncak di ubun-ubun yang panas dan ingin meledak, Daisy melemparkan pajangan patung kuda ke kaca besar yang menempel di dinding.
"PYAAARR!!!!" Patung itu mengenai bagian tengah kaca dan pecah di bagian tengah, kaca-kaca itu berserakan di atas lantai marmer hitam yang mengkilap.
2 wanita langsung berdiri melihat siapa yang sedang menimbulkan kekacauan. Mereka melihat Daisy yang sudah dengan nafas memburu tersulut emosi berdiri di ujung ruangan.
"Siapa anda..." Kata Daivy bertanya.
Ben membenarkan celananya dengan pelan, dan mengancingkan kemeja hitamnya.
Kini mata Ben dan Daisy hanya saling pandang dalam keheningan. Ben juga melihat air mata Daisy terus mengalir, ia melihat kaki Daisy gemetar hebat jika saja saat itu Daisy tak kuat, ia sudah jatuh tersungkur di lantai sejak pertama menginjakkan kakinya masuk.
Tangan Daisy juga terlihat pucat, dia seperti kedinginan, tubuh Daisy bergetar, gigi Daisy juga gemeretak.
Nicole pun berjalan mendatangi Daisy dengan tatapan kebencian.
"Dasar ******! Beraninya kau masuk dan mengganggu!!! Apa kau bisu!!!" Teriak Nicole hendak menampar Daisy.
Daisy dengan pasrah menutup matanya, Namun Ben dengan cepat maju dan menjambak rambut Nicole.
"Siapa yang kau panggil ****** dengan mulut kotormu yang dijadikan tempat pembuangan maniii." Ben melemparkan Nicole hingga jatuh di atas meja kaca.
"PYAAARRRR!!!" Meja kaca pecah dan tubuh Nicole penuh darah.
Daivy menelan ludahnya melihat rekannya tak lagi berkutik. Namun, Nicole masih sadar, matanya terbuka lebar ia terkejut dan syock dengan Ben.
"Tu... Tuan..." Daivy terduduk di atas lantai ketakutan.
"Bersyukurlah tanganku lebih cepat, dari pada tanganmu yang akan menamparnya, jika tidak aku sudah mengirimmu ke alam baka." Kata Ben dengan wajah gelap dan marah.
Ben kemudian membuka sarung tangannya dan melemparkan pada Nicole, setelah itu ia mengeluarkan dompetnya dari dalam jas, dan melemparkan beberapa cek hingga cek itu bertebangan di atas tubuh Nicole dan Daivy.
Kemudian Ben menghampiri Daisy yang masih berdiri dengan tatapan kosong dan air mata mengalir.
__ADS_1
Ben menaruh jas nya di bahu Daisy, dan menghapus air mata di pipi Daisy dengan ibu jarinya.
"Pulanglah kau kedinginan." Kata Ben.
Daisy masih diam tanpa menatap Ben.
Ben melangkah sedikit menjauh dari tempat Daisy berdiri.
"Traver!!!" Teriak Ben dengan marah.
Traver pun masuk dengan berlari, ia menundukkan kepalanya. Mena juga masuk mengikuti kakaknya, namun Mena langsung berlari menuju Daisy yang masih berdiri kaku membelakangi Ben.
Sedangkan Traver tahu, Ben sangat marah, ia sudah siap dengan konsekuensi apa yang akan ia terima dari hukuman Ben.
"PLAAKKK!!!" Ben menampar Traver dengan kekuatan yang besar, hingga membuat tubuh Traver terjungkal ke lantai, bibirnya pun berdarah.
Mena terkejut dan melihat Traver di lantai.
Traver tahu Ben sangat marah, tidak perlu di ungkapkan tapi Traver bisa mengerti kenapa Ben marah, Traver tak bisa menjaga pintu dengan baik, setidaknya Traver memikirkan konsekuensi itu sebelum mengijinkan Daisy masuk dan melihat Ben dalam kondisi seperti itu di depan Daisy.
Namun Traver juga tidak tahan melihat mata Daisy yang menatapnya penuh permohonan, selain Ben, Traver telah menganggap Daisy sebagai Nona yang juga harus ia patuhi.
Jika Traver boleh jujur, aura Daisy saat ini bahkan sedikit demi sedikit hampir mirip dengan Ben, entah bagaimana Daisy dapat memilikinya, tapi Traver merasa ada sesuatu di dalam diri Daisy.
"Aku akan menyetir sendiri. Kau antarkan Daisy pulang." Kata Ben pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ya tuan." Kata Traver.
Setelah Ben pergi, Traver berdiri dan menghampiri Daisy.
"Nona mari kita pulang." Kata Traver.
Daisy kemudian berbalik dan berjalan.
"Kita ke rumah sakit milik Gavriel, aku butuh obat penenang." Daisy berhenti berjalan, kaki dan tangannya gemetar dengan sangat hebat
"Saya akan menghubungi dokter wanita yang lain." Sahut Traver.
"Hanya dokter Gavriel yang tahu keseluruhan kondisi tubuhku yang sebenarnya, dan hanya dia yang bisa menentukan obat apa yang aman untuk ku konsumsi." Kata Daisy dengan wajah dingin pada Traver.
Traver menelan ludahnya, ia tak menyangka dari mana Daisy mendapatkan tatapan dingin seperti itu, ia merasakan aura ini mirip dengan aura milik Ben.
__ADS_1
Bersambung