Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 231


__ADS_3

Para pasukan Scoot yang memiliki jiwa juang tinggi karena mereka dari anggota bandit, terus melakukan perlawanan.


Sedangkan Pasukan Murder dan Pasukan Brandon juga masih terus bertarung dan mendesak.


Moran kemudian berlari dan menembaki semua pasukan nya sendiri, yaitu Pasukan Murder tanpa belas kasih.


Dengan tangan yang sudah keriput namun masih cekatan, Moran menyentilkan setiap bola-bola kecil yang bisa meledak.


Bola-bola kecil yang di sentil itu mengenai setiap dinding pagar mansion dan meledak.


"BOOMM...!!!


"BOOOMMM!!!"


Asap mengepul ke atas dan api juga membumbung tinggi.


Para pasukan Murder pun banyak yang mati, namun pagar mansion tetap berdiri.


Zac maju dan menebas setiap kepala para bandit, sedangkan Charles juga berkelahi dengan mereka juga, lalu Gavriel sudah mulai bergerak, akhirnya ia melawan para bandit yang susah di lumpuhkan.


Gavriel maju dan menendangi para tubuh bandit yang besar dan kekar, Gavriel seperti terbang di udara, semua bandit tak bergeming mereka masih berdiri, Gavriel mengeluarkan belati dan maju dengan berlari, naik ke atas dengan bertumpu pada tumpukan mayat dan terbang ke atas tubuh salah satu bandit lalu langsung menusuk leher bandit itu dengan belatinya.


"JLEBBB!!!"


"AAARRGGGG!!!!" Bandit tersebut meraung dan hendak mencengkram tubuh Gavriel yang sudah berdiri di belakang tubuhnya, namun Gavriel secepat mungkin menarik belatinya dan ukiran-ukiran dari belatinya merusak serta mengoyak daging di leher sang bandit.


Seketika Bandit itu ambruk.


Gavriel maju lagi dan mengeluarkan pistolnya dan menembaki para bandit yang mulai menyerangnya.


Namun, saat itu seorang bandit memukul kepala Gavriel dengan menggunakan kayu.


"BRUUGG!!!" Kepala Gavriel bocor, darah mengalir di pelipisnya.


Gavriel melihat bandit tersebut, dan bandit itu mencengkram leher Gavriel dengan kuat dari belakang.


Salah satu bandit lainnya maju dan hendak menghunuskan pedangnya yang sangat besar pada Gavriel.


Saat itu Charles tahu, ia melihat Gavriel di ujung kematian.


Namun, Charles segera memalingkan mata dan wajahnya tidak ingin membantu Gavriel, padahal saat itu Charles bahkan sudah selesai membantai bandit di sekitarnya.


Sang bandit dengan cepat menghunuskan pedangnya, kemudian Gavriel mengangkat kakinya dan memiting leher bandit di hadapannya lalu memutar tubuhnya membuat kedua bandit yang memiliki tubuh besar ikut terjungkal.


"GEDEBRUUKK!!!"


Bandit-bandit itu jatuh, kemudian dengan cepat, Gavriel menumpukan salah satu lututnya di tanah, lalu menikam kedua bandit itu tepat di leher mereka. Darah muncrat di leher dan bajunya.


Gavriel menarik nafas dan membuangnya kasar.


"Sial." Kata Gavriel melihat pada Charles.


Kemudian Zac yang masih menebas setiap kepala para Bandit mulai menikmatinya, ia seolah sedang mendapatkan mainan baru, nyawa yang begitu murah dan tak berharga, baru kali ini Zac merasakan begitu lepas melampiaskan energinya.

__ADS_1


Sebuah serangan datang dari beberapa gerombolan bandit, dan kemudian Zac berlari hendak menghadang mereka, dengan gerakan cepat tiba-tiba Zac berlutut dan menebas semua kaki para bandit.


"ZZZZRAAAAASSSHHH!!!"


Setidaknya lima bandit kehilangan kaki mereka.


"AARRGGHHH!!!"


"Kalian memang susah untuk di bunuh, tapi hanya itu saja, karena kalian tidak memiliki kecerdasan saat menyerang lawan." Kata Zac santai.


Setelah beberapa jam berlalu, para pasukan Bandit sudah habis di tebas oleh pasukan Murder dan Pasukan Brandon.


Zac melihat ke arah Moran, yang nafasnya terlihat sengal, namun masih kuat. Mereka saling menatap tajam.


"Tuan Moran kita harus mundur, dan membangun kekuatan lagi." Bisik Heiden masih memegangi senapannya.


Moran mengangguk pelan.


"Siapkan pelarian, helikopter dan penjagaan." Perintah Moran.


Kemudian Moran melemparkan beberapa bola boomnya di depan nya, asap mengepul ke atas dengan sangat tebal dan mereka pun pergi menuju helikopter yang sudah di siapkan untuk melarikan diri.


Charles hendak mengejar dan membidik helikopter dengan tembakan.


Namun Zac menahannya, dan menggelengkan kepala, bahwa itu tidak perlu.


"Mereka sudah kalah." Kata Zac.


Charles paham dan mengangguk pelan.


"Nona Gaby masih terlihat syock Tuan." Kata Yaron.


"Bereskan semua kekacauan ini." Perintah Zac.


"Baik Tuan Zac."


Kemudian Zac, Gavriel serta Charles masuk ke dalam mansion, mereka berjalan memegang senjata masing-masing dengan tubuh yang di penuhi oleh darah.


"Zac aku akan pulang. Helikopter ku sudah datang." Kata Gavriel.


Helikopter sudah ada di atas atap terparkir, untuk menjemput Gavriel.


"Baik paman, terimakasih atas dukungan paman." Kata Zac.


"Biarkan para pasukan Murder di sini."


"Tapi, mereka pasukan milik keluarga Murder." Sahut Zac.


Gavriel kemudian menekan bahu Zac.


"Sekarang mereka milikmu. Aku pulang." Kata Gavriel tersenyum.


Zac mengangguk.

__ADS_1


Gavriel pun pergi.


Sedangkan Charles dan Zac pergi ke kamar mereka, untuk membersihkan diri.


Saat Zac masuk dengan tubuh di penuhi darah, Gaby dengan cepat mendelik dan pergi, dengan wajah sangat marah.


Zac tahu Gaby tak akan begitu saja memaafkannya, ia pun memilih untuk pergi membersihkan dirinya lebih dulu.


Zac masuk ke dalam kamar mandi, melepaskan semua pakaiannya yang penuh darah dan kemudian memutar kran shower.


Air dari shower menyiram tubuhnya dari atas sampai bawah, hingga air yang ada di lantai berubah menjadi berwarna merah dan mengalir ke pembuangan.


Zac menekan kedua tangannya di dinding marmer, dan menundukkan kepala.


Kemudian ia menarik tangannya dan melihatnya, tangan itulah yang telah melakukan pembantaian tanpa belas kasihan menebas setiap kepala musuh.


Zac menelan ludahnya dan kemudian ia teringat bagaimana kepala Douglas menggelinding ke arah kakinya.


Sedikit rasa bersalah baginya, Douglas adalah pria yang tak bisa bertarung, dia tak pernah melakukan pelatihan seperti dirinya, Zac merasa telah membantai orang yang tak bisa melawan dan tak sebanding dengan kekuatannya.


Butuh beberapa jam bagi Zac untuk menenangkan diri, dan ia pun sudah selesai membersihkan diri, Zac berjalan keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Tubuhnya yang putih dan kekar memiliki begitu banyak bekas luka yang punya arti dan cerita tersendiri.


Saat Zac hendak masuk walk in Closet ia melihat ke arah Gaby, gadis itu sedang mengepak i semua barang-barangnya ke dalam koper.


Zac dengan cepat melangkah ke arah Gaby, dan menarik lengan Gaby dengan keras.


"Apa yang sedang kau lakukan." Tanya Zac dengan mata yang tajam.


"Kau tidak bisa lihat aku sedang apa!" Kata Gaby yang sudah tak memanggil Zac dengan sebutan Tuan lagi.


Kini Gaby sangat marah dan sangat membenci Zac.


Zac menelan ludahnya, jakunnya naik dan turun.


"Kau tidak boleh pergi kemanapun." Kata Zac.


"Aku punya kebebasan, kau tidak bisa menahanku di sini!! Apalagi setelah kau membunuh ayahku!!! Apa kau tidak malu dan tidak merasa bersalah ketika melihat wajahku!!!" Teriak Gaby.


Zac masih diam dan menatap Gaby dengan tajam, ia masih mencengkram lengan Gaby.


"Lepaskan!" Kata Gaby mendelik dan menggeram.


Zac masih diam dan semakin mempertajam pandangannya.


"Aku bilang lepaskan aku!!!" Teriak Gaby lagi lebih keras.


Rahang Zac menguat kemudian menunduk dan membungkuk lalu berbisik.


"Coba jika kau bisa lepas dari ku." Bisik Zac.


Mata Gaby membulat, saat itu Zac melangkah kan kakinya, tanpa sadar Gaby mundur, dan ia tahu ini adalah alarm peringatan, bahwa pria di hadapannya sudah semakin gila.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2