
Dengan lihai, Ben mematikan saklar lampu gedung gudang, dan merubuhkan rak-rak yang menjulang tinggi.
"SIUUUWWW BRAAKKK PYAARR!!!"
"Aaaa!!!!" Semua pengawal sejumlah puluhan tertimpa rak besi dan terkena barang-barang yang ada di dalam rak, membuat mereka terluka parah dan ada yang langsung mati seketika.
Paulo Redges kalap, ia kemudian mencari dimana saklarnya berada.
Ben yang sudah mengenal betul dan menguasai medan kemudian melemparkan beberapa tumpukan meja dan kursi yang di simpan apabila di Resort memiliki acara.
"BRAAKKK BRUUGG BRAAAKK!!!"
"AAARGGGG!!!"
"SIALAN!!!"
Para pengawal terluka dan di gantikan pengawal yang lain lagi, mereka masuk dari luar tujuan mereka hanya satu yaitu menangkap Ben.
Akhirnya Paulo menemukan saklarnya dan memencetnya.
"PAATSSS!!!" Lampu pun menyala kembali.
Lagi-lagi Ben terkepung di antara pengawal-pengawal Paulo yang siap membunuhnya.
Sialnya pistol Ben terjatuh di luar dan kini ia tak memiliki senjata apapun.
Ben bersembunyi di balik rak-rak besi besar untuk penyimpanan barang bekakas alumunium yang di gunakan untuk memasak di dapur.
Tak berapa lama para pengawal kian mendekati persembunyiannya. Terdengar langkah-langkah puluhan pengawal telah berada di belakang punggungnya dan di dekat rak-rak persembunyianya.
Ben mengawasi dengan mata elangnya dan para penyerang itu yang jumlahnya tak sedikit mengendap endap.
Tanpa pikir panjang, dengan cepat Ben mendorong rak-rak besi yang menjulang tinggi dengan berlari dan terus berlari, hingga rak-rak itu menimpa para penyerang.
Namun, jumlah mereka terlalu banyak, Paulo membawa pengawal nya sejumlah 500 orang yang mungkin sekarang tersisa 300 orang sedangkan Ben hanya seorang diri, bala bantuan pun belum juga datang.
Para penyerang tertimpa reruntuhan rak besi, dengan tumpukan barang-barang dapur.
"BRRAAKKKK KLONTTAANGG!!!"
"AARGG!!!" Teriak mereka semua.
Paulo Redges murka, ia mengeluarkan pistolnya dan mengincar, membidik, dan melihat ke semua penjuru di mana Ben bersembunyi.
Saat para pengawal lengah, Ben maju dan mulai mengambil senapan dari pengawal yang paling terdekat dengannya, Ben berguling dan melompat, ia mendapatkan senapan laras panjang, dengan tubuh berbaring Ben mengarahkan senapannya ke arah Paulo dan para pengawalnya
"DRRTT....DRRRTT....DRRRTTT...DRRRTT...!!!" Ben menembakkan senapannya dengan cepat, dan menembaki pengawal tepat di jantung mereka.
Paulo Redges berlari dan bersembunyi.
Para pengawal yang tak siap pun bertumbangan, namun peluru Ben habis.
__ADS_1
"CKREEK.... CKREEKK!!!" Suara senapan yang kehabisan peluru.
Paulo Redges tersenyum.
"SERRAAANGGG!!!" Teriak Paulo Redges.
Ben berdiri dan berlari bersembunyi dari amukan peluru dan yang di tembakkan dari para penyerang.
"DOOORR! DOOR! DOR! DOR!!!"
"DODODODORRRR!!!"
"DRRTTT...DRRTT...DDRRT...!!!"
Semua pengawal mengarahkan senapan dan pistol mereka ke arah Ben yang sedang bersembunyi.
"SRREETT!!!" Ben melihat bahu kanannya terserempet peluru, dan darah langsung muncrat.
Cipratan darah pun hingga ke lantai dan Paulo Redges melihatnya.
"HAHAHHAHAHAHA.....!!! KAU BISA TERLUKA JUGA, KAU BISA BERDARAH JUGA!!! JADI KAU PASTI JUGA MERASAKAN SAKIT!!! SAAT AKU MENANGKAPMU, AKU AKAN MEMUTTILASIMU SEPERTI KAU MEMBUNUH ANAKKU DENGAN CARA KEJI SEPERTI ITI!!" Teriak Paulo Redges.
"INGAT BEN MATA DI BALAS MATA, KAKI DI BALAS KAKI, DAN NYAWA DI BALAS NYAWA!!!"
"Kau salah Paulo, jika semua kau label seperti itu, maka dunia akan pincang, kau tahu kesalahan apa yang telah anakmu perbuat, dan kau tahu konsekuensinya jika dia membuat keonaran di wilayah Benjove!" Teriak Ben.
"HAHAHAHAHA!!! WILAYAH BENJOVE???? KAU MEMANG MANUSIA PALING SOMBONG, MASIH SAJA KAU MENYOMBONGKAN DIRI, PADAHAL SAAT INI WILAYAHMU SEDANG KU OBRAK-ABRIK DAN AKU SUDAH MEMBUATMU TERLUKA!!! MENYERAHLAH DAN MERANGKAK KEMARI SEPERTI ANJIING!!! LALU CIUM KAKIKU DAN BERSIHKAN KAKIKU DENGAN LUDAHMU BADJINGAN!!!" Teriak Paulo Redges dengan amarah yang meluap-luap.
Dengan gerakan cepat, meski bahunya terluka, Ben menarik senapan itu dengan kakinya.
Melihat pergerakan Ben, para pengawal pun menembaki lantai.
Ben menarik kakinya dengan cepat.
"HAHAAHAHA AYO HABISI DIA!!!" Teriak Paulo lagi dengan semangat yang menyala dan berkobar.
Kemudian para penyerang kembali menembakki Ben dengan brutal.
Ben melihat APAR di hadapannya, lalu mengambil APAR tersebut dan kemudian ia berbalik ke arah penyerang dan menyemprotkan APAR pada mereka.
"WWWWOOOSSSSHHHHH!!!"
"WWWOOOSSSHHH!!!"
Asap putih bercampur tepung membuat para penyerang mundur dan tak bisa melihat.
Wajah Paulo Redges hingga tubuhnya juga berubah menjadi putih.
Dengan gerakan yang sangat cepat Ben mengambil lagi 2 senapan milik pengawal paling depan dan menembaki mereka.
Namun, tak butuh waktu lama juga ke dua pistolnya pun telah habis pelurunya, Ben bertarung dengan beberapa pengawal yang paling depan, mencuri pistol mereka dan menembakkannya lagi begitu seterusnya.
__ADS_1
Namun, cara itu pun tak bisa bertahan lama, para penyerang mulai bisa melihat lagi dan menembaki Ben lagi meski dengan penglihatan kabur.
Paulo Redges juga membidik Ben.
Tembakan demi tembakan yang brutal dan tak terarah karena pandangan mereka kabur terus mengenai rak-rak besi, dan Ben terus menghindar bersembunyi dari mereka menuju rak besi satu ke tempat rak besi lainnya, hingga membuat Ben semakin terhimpit.
Entah keberuntungan atau Tuhan menyelamatkan lagi hidupnya, saat bertarung dengan para pengawal dan merebut senapan ia ingat melihat tumpukan gas yang sudah tak terawat di sudut dinding tepat di belakang para pengawal.
Ben tahu, itu adalah gas simpanan dan cadangan untuk masa darurat.
Ben juga harus keluar dari gudang, namun untuk keluar ia harus melompati jendela besar itu.
Ben berguling ingin semakin mendekat pada jendela dan terus bersembunyi di belakang rak.
Namun untuk keluar melalui jendela ia harus melompat sedangkan jarak dari tempatnya bersembunyi masih lumayan jauh, ia harus menghentikan para pengawal untuk berhenti menembak.
Ben mencoba peruntungannya, ia harus mengambil senapan yang terlempar itu, dan saat ada jeda Ben berguling lalu mengambil senapan itu.
"HAHAHAHHA BOODOOHH SEHARUSNYA KAU TERUS SAJA BERSEMBUNYI SEPERTI TIKUSSS!!!!" Teriak Paulo dan membidik kan pistolnya pada Ben.
"DOOOORRR!!!" Paulo menembak.
"DOOORRR!!! DOORR!!! DOORR!!!" Ben juga menembakkan ke 3 tempat.
Pertama tembakan Ben adalah ke arah Paulo, kedua ke arah para pengawal yang akan menyerangnya dan ketiga ke arah tabung-tabung gas namun, tembakan ketiga meleset karena ada pengawal yang tiba-tiba maju dan menjadi terkena pengawal tersebut
"CROOTTT!!!" Tembalan Paulo Redges mengenai perut bagian kanan Ben darah pun muncrat.
Paulo tertawa penuh kesombongan, namun tawa itu tak bertahan lama.
Ternyata tembakan Ben mengenai Paulo Redges tepat di kepalanya.
"CROOTTTT!!!!" Kepala Paulo Redges berlubang karena tembakan Ben.
Ben menahan luka di perutnya, dan kemudian dengan tangan satunya Ben menembakkan pistolnya pada tabung gas.
"DOOORR!!"
"DDUAARR!!!"
Membuat sebagian pengawal langsung terkena ledakan, Ben berdiri dan dengan cepat berlari melompat melalui kaca jendela.
"PYAAARR!!!"
Jendela kaca pecah karena Ben menabrakknya, dan melompat dari jauh.
Ben berguling, tubuhnya penuh luka karena pecahan kaca.
"DUUAARRR DUUUUARRRR DUUARRRR!!!" Rembetan api menyebar kemana-mana dan ledakan gas masih terus terjadi para pengawal yang masih terjebak di sana pun gosong terbakar, ada yang berlarian dengan tubuh terbakar, ada yang berguling-guling mencari tanah atau pasir karena tubuhnya terbakar, dan ada yang tertimpa retuntuhan.
Ben tiarap ketika ledakan itu menjulang tinggi.
__ADS_1
Bersambung