Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 153


__ADS_3

Di luar, Gavriel yang sadar dengan feellingnya melihat Ben menahan sakit kemudian maju, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.


"Biar ku periksa dulu." Kata Gavriel maju.


Ben memberikan kode memakai tangan dan matanya serta anggukan pelan bahwa "Jangan dulu."


Ben mengerti, jika Daisy tahu pasti akan merasa bersalah karena telah menaruh tangan dan kepalanya di perut Ben yang terluka.


Lagi-lagi Ben sedikit mendesis, ketika Ben mengangkat tubuhnya dan memeluk Daisy.


"Ayo kita pulang sekarang, aku kasihan padamu, kenapa kau berada di tempat seperti ini. Seharusnya kau tunggu saja di rumah, tempat ini terlalu kotor. Kata Ben.


"Bagaimana aku bisa duduk dan menunggu mu di rumah sedangkan aku tidak tahu bagaimana kondisimu!!" Teriak Daisy menangis dan meraung lagi.


"Ben... Sayang... Suamiku..." Daisy menangis tanpa henti.


Mark dan Derreck menahan air mata, begitu juga Rudolf, Traver dan juga Mena.


Akhirnya mereka dapat menemukan Ben. Tapi melihat bagaimana Ben hidup di kamar ukuran 3X3 yang begitu pengap, berdebu, kotor, dan sangat tidak layak, mereka semua prihatin dan sangat tak tega melihat tubuh kekar Ben juga begitu lemah.


"Ayo pulang sayang." Ajak Ben.


Daisy kemudian mengangguk dengan cepat.


Saat itu Ben sudah melepaskan selang infusnya sebelum rombongan datang, Daisy pun melihat kontener yang berisi darah dan infus, lalu melihat di rak beberapa kantong darah sudah habis, sisanya ada infus yang sudah habis juga.


"Tunggu dulu...." Kata Daisy.


Ben sudah berdiri di bantu oleh Gavriel dan Traver.


Daisy melangkah maju dan membuka pakaian Ben.


Saat membukanya, luka di perut Ben terlihat sangat mengerikan apalagi jahitan-jahitan yang tidak rapi mulai membengkak dan terlihat tak normal.


Daisy lemas dan menutup mulutnya, ia juga menutup matanya sejenak, genangan air mengalir lagi tanpa henti pada kedua matanya, hampir saja ia pingsan namun dengan sigap Mark maju dan menangkap anaknya tepat waktu.


"Aku tak percaya kau terluka begitu parah..." Kata Daisy lemas.


"Di sini pengap dan ruangannya kecil kita keluar lebih dulu." Ajak Dereck.


Kemudian mereka semua keluar perlahan, si kakek hanya melihat pemandangan itu dengan duduk lesu di atas pasir, tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi.


Rudolf maju dan menyerahkan segepok uang yang begitu banyak si Kakek Tua itu.


"Ap... Apaa... Ini?" Tangan Kakek Tua dengan tangan gemetar.

__ADS_1


"Terimakasih anda sudah mau menampung adik saya di sini." Kata Rudolf.


"Adik?" Tanya Kakek Tua itu.


"Ya, dia adik saya. Dan dia sedang terluka." Kata Rudolf.


Kakek tua itu mengangguk-angguk dan menyerahkan lagi uangnya.


"Tidak perlu sebanyak ini..." Kata Kakek tua itu.


"Tidak... Bahkan bagi saya ini masih kurang. Hubungi saya jika anda butuh bantuan apapun, jika anda menekan alat ini saya akan tahu jika anda membutuhkan saya." Kata Rudolf memberikan sebuah alat kecil.


"Terimakasih." Kata Kakek tua itu.


"Sama-sama..." Kata Rudolf.


Akhirnya mereka pun akan kembali lagi ke Negara K.


"Aakkhh... Tunggu sebentar." Pinta Ben dengan suara serak.


Gavriel pun melihat ke arah luka Ben.


"Sepertinya lukanya terbuka lagi..." Kata Gavriel.


"Namun, tidak cukup parah, tapi ini harus segera di perbaiki." Lanjut Gavriel.


"Maafkan aku, aku tidak tahu kau terluka separah ini, kenapa kau tidak menahanku ketika aku memeluk perutmu, kau selalu seperti itu terhadapku." Kata Daisy.


"Bukan masalah besar Sayang, ini semua berkat seseorang yang telah membantu operasi darurat ku, dia juga yang mencoba menghubungi kalian namun tertahan oleh Carlos. Ada seseorang yang membantuku operasi dan merawatku, tolong temukan dia. Dia seorang wanita. Mungkin masih di sekitaran sini, lagi pula ada sesuatu yang harus ku tanyakan padamya." Kata Ben.


"Carlos... Akan ku patahkan tangan dan kakinya. Aku tahu dia memang akan mengkhianatimu suatu hari nanti, dan saat ini tibalah waktunya." Geram Rudolf.


"Carlos..." Kata Mark juga menggeram.


"Ada apa dengannya, kenapa tiba-tiba... Bukankah dia temanmu?." Tanya Dereck.


"Kita akan tahu nanti."


Namun, pandangan Ben tertuju pada leher Daisy, ia melihat leher Daisy dengan terkejut, matanya memicing, alisnya mengerut, ia menelan ludahnya dengan kasar. Rahangnya juga mengeras.


Ibu jari besar Ben menekan bekas merah di leher Daisy, seingatnya bekas yang ia buat seharusnya sudah memudar karena itu sudah beberapa hari lalu, tapi bekas ini masih sangat baru.


Tangan besar Ben seolah ingin mencekik leher Daisy.


"Ben?" Tanya Daisy yang merasa lehernya sedikit ter cekik.

__ADS_1


Ben pun tersadar, dan perlahan memeluk Daisy dengan lembut.


"Maaf... Aku merindukanmu..." Kata Ben.


Dalam pikiran Ben, ia akan tahu nanti saat kembali ke Negara K, Ben harus membuat semua masalah menjadi terang. Siapapun yang telah menyentuh istrinya ia akan membuat pria itu menangis di hadapannya, bahkan jika perlu ia akan menyiksanya tanpa membunuhnya.


Saat Ben dan Daisy berpelukan, saat itulah seorang wanita datang masuk ke dalam halaman penginapan. Itu adalah Gia, Gia tertegun, syock, dan sangat terkejut melihat Ben berpelukan dengan seorang wanita yang sangat cantik.


FLASHBACK OFF KEMBALI KE SITUASI PERTEMUAN GIA DAN DAISY SERTA BEN PERTAMA KALINYA BERTEMU~


*******


"Apa kau yang sudah menyelamatkan suamiku..." Kata Daisy yang melihat seorang wanita masuk ke dalam halaman penginapan. Dia adalah Gia.


Saat mendengar suara wanita itu, Gia sontak menekan dadanya dan meremas bajunya yang ada di depan dada seolah ia ingin meremas jantungnya.


Bahkan suara wanita itu begitu halus dan nyaring, menghipnotis setiap orang yang akan mendengarnya.


Gia terpaku dan tak bisa bergerak dengan tubuhnya yang seperti itu, ia langsung merasa sangat rendah diri dan malu, bagaimana bisa ia memiliki pikiran ingin memenjarakan Ben di dalam kungkungannya sedangkan ia dan wanita itu sama sekali tak sepadan.


"Su... Suamii...?" Tanya Gia dengan terbata dan lehernya tercekat.


"Iya, dia suamiku... Terimakasih sudah menolongnya, kau menyelamatkan hidupnya... Nona...Siapa namamu?" Daisy langsung menyentuh tangan Gia dan hendak mengenggamnya.


Namun sontak dan dengan gerakan reflek yang begitu cepat Gia menarik tangannya.


Daisy terkejut dengan sikap Gia.


"Maaa.. Maaafkan saya, tangan saya sangat kotor." Gia mengelap tangannya dengan bajunya, kemudian menyodorkan tangannya hendak bersalaman pada Daisy.


"Maa.. Maaaf kan saya, mungkin tangan saya masih kotor karena baju saya juga kotor.... Nama saya Gia." Kata Gia menahan tangisnya karena sangat malu dan tak percaya diri.


Namun, tanpa berkata apapun, Daisy justru langsung memeluk Gia dan menangis.


Sontak Gia sangat terkejut, matanya melotot jantungnya seakan akan ingin berhenti berdetak saja.


"Ke... Kenapa anda memeluk saya... Tubuh saya sangat kotor..." kata Gia.


Aroma wangi dan manis dari parfum Daisy memanjakan hidung Gia, ia berulang kali menghirup aroma Daisy yang begitu elegan.


"Aku tidak masalah soal itu, katakan apapun yang kau mau, aku akan menurutimu... Aku ingin membalas budi padamu... Katakan semua yang kau inginkan aku pasti akan mengabulkannya..." Kata Daisy menangis dan tersenyum pada Gia.


"Benarkah... Anda akan mengabulkan semua permintaan saya...?" Tanya Gia.


"Tentu saja...Apapun itu..." Kata Daisy tersenyum dan menghapis air matanya.

__ADS_1


"Kau telah menyelamatkan nyawa suamiku, aku akan membalas budi padamu..." Kata Daisy.


Bersambung


__ADS_2