Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 144


__ADS_3

Ben kemudian mengangguk pelan, tak ada jalan lain dan tak ada pilihan lain, kali ini ia pertaruhkan semuanya pada gadis yang baru saja ia kenal.


"Ambil pena dan kertas, ada 3 nomor yang harus kau hubungi." Kata Ben.


Gia mengangguk mantap, dan ia mengorak-arik setiap sudut kamar tersebut untuk mencari pena dan kertas, setelah menemukannya Gia duduk kembali di hadapan Ben.


Dengan lancar dan di luar kepala, Ben mengucapkan angka-angka nomor siapa saja yang harus Gia hubungi dan Gia harus mengingatnya.


"Kau akan ingat?" Tanya Ben.


"Aku adalah pemilik ingatan terbaik, lagi pula aku sudah mencatatnya." Kata Gia menunjukkan kertas kecil pada Ben.


Ben mengangguk pelan.


"Aku akan tidur sebentar." Kata Ben lemah.


"Kau... Tidak akan mati kan?" Tanya Gia cemas.


"Ha... Ha... " Ben tertawa lemah, perutnya sedikit terguncang dan menimbulkan rasa sakit.


"Kenapa kau tertawa." Kata Gia.


"Sepertinya saat ini aku benar-benar terlihat kacau dan lemah." Kata Ben.


"Tidak akan ada manusia yang bisa selamat dan bisa bertahan seperti ini saat terkena tembakan, kau pasti bukan manusia." Kata Gia.


"Cih... Jika kau menghubungi orang-orang itu, katakan padanya suruh membawa Gavriel, dia akan percaya saat kau menyebutkan nama itu." Kata Ben kemudian menutup matanya.

__ADS_1


Ben hanya berharap operasi yang ia dan Gia lakukan cukup untuk menutup luka nya untuk sementara waktu, Ben juga berharap operasi nekat itu tak akan membuat komplikasi atau efek samping.


Dalam setiap peperangan Ben sudah terlatih untuk hal seperti itu, namun kali ini dia benar-benar kehilangan tenaganya karena telah terkuras saat perjalanan ke pulau tanpa nama itu, karena tak ada pilihan lain Ben pun mengambil keputusan ia menerima Gia untuk membantunya operasi.


"Sementara mungkin tidak akan infeksi, dan yang paling penting peluru sudah di ambil, pasokan darah sudah masuk, jika aku pulang, Gavriel akan ku todong untuk memperbaiki jahitan yang amburadul ini, aku yakin dia pasti akan tertawa tak ada habisnya melihat jahitan di perutku ini, bagaimana lagi, tanganku terlalu lemah untuk melakukan jahitan sendiri pada perutku, Gia bukan dokter, tapi untungnya dia cepat tanggap dan mengerti apa instruksi ku." Kata Ben dalam hatinya.


Gia melihat Ben hanya diam dan menutup mata, kemudian Gia pun menekan nadi leher Ben dengan pelan.


"Aku masih hidup." Kata Ben pelan masih menutup matanya.


Gia tersenyum tersipu malu, ia melihat ketampanan Ben yang dingin, Gia yakin Ben adalah pria yang sangat baik.


Setelah memeriksa Ben, dan ternyata nadinya masih ada, Gia bergegas pergi meninggalkan pemukiman itu dan pergi ke kota menggunakan sepedanya.


"Aku tidak menyangka sedang menolong pria asing yang entah dari mana ia berasal." Kata Gia mengayuh sepedanya dengan cepat.


Dalam perjalanan pikiran Gia hanya di penuhi oleh Ben, pria yang seksi, bertubuh kekar, tampan, kuat, dan sangat baik hati.


Gia berfikir Ben adalah pria baik yang lembut, namun ia tak tahu, bahwa Ben adalah pria monster yang kejam.


Butuh waktu 1 jam untuk sampai di kota dengan bersepada, baru kali ini Gia mengalami mengayuh sepeda dengan sangat cepat, peluh keringat telah membasahi sekujur tubuhnya, matahari yang terik sangat panas juga membakar wajah dan kulitnya.


Gia tidak kuat lagi, kemudian ia berhenti di bawah pohon Palm, dan menarik nafasnya dengan cepat.


"Woaahh... Hossh... Hossh... Hoshh....!!! Apakah ini neraka!! Aku tak bisa bernafas... Hossh... Hosshhh....!!!" Wajah Gia merah padam, ia kelelahan apalagi saat itu matahari begitu terik.


Tubuh Gia berkeringat sangat banyak, jantungnya berdetak cepat seperti akan meledak. Kepalanya berdenyut-denyut dengan cepat dan panas sekali, seperti akan pecah pula.

__ADS_1


Belum lagi, kakinya terasa seperti akan patah karena kaku terlalu lama dan terlalu cepat mengayuh, nafasnya seakan akan hampir putus seperti kehabisan oksigen, belum lagi ia dehidrasi, dengan lemas Gia mengambil botol minumnya yang ada di keranjang sepeda depan, ia pun berjalan dengan sempoyongan, kakinya begitu lemas dan gemetaran.


Dengan ngos-ngos an, Gia mengambil air minum di tempat minum umum, saat ini Gia masih berada di perbatasan kota, dan ada sebuah tempat untuk beristirahat untuk minum gratis.


Gia pun meminumnya seteguk demi seteguk, hingga perutnya terasa seperti penuh terisi air.


"ASTAGGGAAaaa.... Apakah aku masih hidup?" Gia berbaring di atas rerumputan yang sudah tak terawat. Begitu banyak sampah dan rerumputan hias bercampur rumput liar.


Saat Gia merasa tubuhnya sudah lebih baik, Gia kemudian duduk dan melihat ke sekeliling, ia sudah sampai di batas kota, jalanan beraspal dan berdebu, semuanya terlihat beterbangan karena beberapa kendaraan bermotor berseliweran melewatinya.


Motor di pulau itu begitu berharga, tak banyak yang bisa memilikinya.


Jalanan sepanjang kota begitu kering dan tak terurus, seperti wilayah yang terbuang atau sengaja di biarkan tanpa pembangunan.


Tak berapa lama, Gia sadar, bahwa ia harus cepat sampai di kota, atau Gia tidak bisa pulang, karena jika sudah kemalaman, jalanan tak ada penerangan lampu, terpaksa Gia harus menginap.


Meskipun tindak kejahatan di pulau itu minim, namun bagi Gia bersepeda dengan waktu 1 jam dan sepanjang jalan tak ada penerangan lampu, tentu saja Gia tak mau melakukan itu semua, ia takut dan cemas, daripada nekat bersepeda dan bertemu dengan pemerkossa, atau penculik, bahkan penjahat, lebih baik ia memilih tidur di emperan toko tak terpakai di kota, baginya jauh lebih aman karena di kota meski tak terlalu terang masih banyak penerangan lampu.


Gia kemudian berjalan dan menghampiri sepeda bututnya, lalu menaruh botol minumnya di atas keranjang sepedanya.


Botol minum bekas dari plastik botol mineral yang di jual di minimarket seharusnya tak boleh di pakai lagi, namun Gia tak punya pilihan lain, ia miskin, pulau itu juga miskin, Gia tahu bersikap sok bersih, dan sok perfect tidak bisa ia lakukan, sebenarnya Gia cerdas, namun keadaan ekonomi tak pernah mendukungnya.


"Mari kita mengayuh lagi.... Ayo semangat!! Demi menolong orang sekarat yang tampan." Kata Gia menepuk sedel sepedanya.


Gia pun memutar sepeda dan mengayuh kembali menuju kota, perjalanan tinggal 30 menit lagi, dan Gia akan berusaha untuk mengabari keluarga Ben agar keluarganya segera menjemput Ben yang dalam kondisi kritis.


"Paman yang tampan... Bersabarlah, aku akan menolongmu lagi, jadi ingat-ingatlah seumur hidupmu, kau berhutang nyawa pada Gia ini." Kata Gia mengayuh sepeda dengan cepat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2