Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 257


__ADS_3

Perlahan, mata Gaby terbuka meski begitu berat, pagi itu ia merasa tubuhnya hampir tak bisa bergerak.


Tak hanya itu, ia merasa sedak dan berat, setelah benar-benar membuka mata, ia melihat Zac yang tidur di sampingnya dengan memeluknya erat.


Gaby menelan ludahnya. Wajah tampan itu tidur dengan pulas, tak ingin membangunkan Zac, Gaby pun perlahan mengangkat tangan Zac, dan berusaha untuk turun dari ranjang.


Namun, ketika dengan usaha yang besar, Gaby telah berhasil duduk dan tinggal menurunkan kakinya di lantai, Zac langsung memeluk Gaby dan membaringkan Gaby lagi di sampingnya.


Dengan pelukan erat, Zac mencium dahi Gaby.


"Mau kemana?" Tanya Zac dengan suara parau dan serak, matanya masih tertutup.


"Aku... Mau mandi." Kata Gaby.


"Aku yang akan memandikanmu, tapi nanti." Kata Zac.


"Lepaskan, aku sesak." Kata Gaby.


Zac kemudian membuka matanya dan melihat Gaby.


"Kau tahu? Kau adalah satu-satunya wanita yang selalu menolakku." Kata Zac.


"Aku selalu menurut, tapi sebelum kau bunuh ayahku." Kata Gaby.


Zac kemudian menekan tubuh Gaby dengan tubuhnya.


"Jadi, aku akan membuatmu tak bisa bangun, dan kau tak akan pernah tahu bagaimana peperangan itu akan terjadi. Kau harus di mansion." Kata Zac.


"Aku tidak mau!" Kata Gaby.


"Kau mau menemui pacarmu?" Kata Zac.


"Aku mendukung ibuku, dan Aaron juga akan menikahiku." Kata Gaby.


"Pfftt....!" Tiba-tiba Zac tertawa.


"Kenapa kau tertawa." Kata Gaby.


Zac kemudian mengambil kalung yang di kenakan Gaby, dengan wajah santai.

__ADS_1


"Karena dia pasti sangat bangga ketika kau mengatakan Aaron akan menikahmu, tapi dia tak akan tahan mendengar desaahanmu dan permohonanmu padamu untuk memibta ku masuki lubangmu." Bisik Zac.


"Apa maksudmu." Kata Gaby.


Zac membelai payudaraa Gaby perlahan.


"Aku sengaja tidak melepaskan kalung itu, agar si brengsek itu bisa mendengar rintihaan, desaahan, eranganmu yang sangat kuat, dia juga bisa mendengar kau memohon padaku. Kau yakin? Aaron masih akan menikahimu?" Bisik Zac yang masih bermain dengan payudaraa Gaby.


Nafas Gaby naik dan turun dengan sangat cepat, ia menggigit bibirnya, antara marah dan muak.


"Kau pikir aku tak tahu, jika kalungmu ini berisi pelacak dan alat perekam." Bisik Zac lagi di telinga Gaby.


Kemudian tangan Gaby hendak menarik kalung itu, dan melepaskannya. Namun, Zac menahan tangan Gany dan mencengkramnya naik.


"Untuk 2 hari kedepan kau harus selalu menggunakannya, aku ingin si brengsek itu bisa mendengar bagaimana kau menikmati setiap sentuhanku, aku ingin si brengsek itu tahu, bahwa kau sangat menyukainya hingga memohon padaku untuk di masuki." Bisik Zac.


Kemudian Zac tersenyum licik melihat pada Gaby.


"kau benar-benar jahat Zac, kau psycho."


"Tepatnya aku iblis, jadi, mereka sangat bodoh mengirimkan kau kembali padaku." Kata Zac tersenyum dingin.


"Aku akan pergi dari sini apapun yang terjadi!!!" Teriak Gaby.


Gaby terdiam, ia kini benar-benar melihat iblis di wajah Zac, pria itu benar-benar ingin menunjukkan tanduk iblisnya.


"Aku akan katakan padamu untuk melewati jalan bawah tanah, kau harus turun menggunakan lift, dan di bawah tanah akan ada mobil, namun sayang nya di sana semua mobil akan menyala dengan sidik jatiku, tali tak perlu khawatir, kau bisa masukkan sandi tanggal lahirku. Sebenarnya aku berniat untuk menggantinya dengan tanggal lahirmu, tapi ku rasa kau tidak tertarik dengan semua itu." Kata Zac tersenyum licik.


"Zac... Apa sebenarnya maumu?"


"Mauku?"


Gaby diam, ia sudah mulai muak dengan sikap Zac.


"Aku hanya menginginkan mu." Kata Zac.


"Kau memang tak tahu diri, apa sedikitpun kau tak memiliki rasa bersalah pada ayahku?!" Kata Gaby geram.


"Sejujurnya... Tidak. Aku hanya tidak ingin kau terluka dan sedih, tapi jika kau harus mengetahui semua faktanya, setelah Moran sadar dia akan memberitahumu segalanya, tapi tentu saja kau tak akan pernah percaya bukan jika itu dari mulut orang lain, jadi apa kau sudah mendengar rekaman yang Moran berikan padamu." Kata Zac santai, dan kemudian berbaring miring dengan menyangga kepalanya dengan tangan dan sikunya.

__ADS_1


Namun, tangan Zac yang satu masih bermain-main di payudaraa Gaby.


"Belum. Sesuatu yang Kakek Moran berikan, di ambil oleh Aaron."


"Aaa... Sayang sekali." Kata Zac pura-pura terkejut.


"Jadi, apa sebenarnya yang ingin kau katakan." Kata Gaby.


"Tak ada, kau akan tahu nanti, tapi dari mulut ibumu sendiri. Untuk sekarang, aku hanya ingin memberikanmu kenikmatan lagi." Zac mulai masuk ke dalam selimut yang Gaby pakai.


"Zaa...Ccc... Ja... Jangan lakukan lagi... Aku lelah." Kata Gaby.


"Itulah mauku, agar kau tak bisa turun dari tempat tidur dan hanya berada di sini, tanpa tahu keadaan di luar, aku ingin kau tidak tahu menahu tentang kondisi perang itu, karena akan ada banyak korban yang mati." Kata Zac menciumi perut Gaby.


"Zaaacc... Aaahhh... Su... Sudah cukup... Ku mohon."


"Jika kau masih berjalan, dan masih bisa membantah, artinya ini tak akan pernah berhenti." Kata Zac.


Zac mengangkat kedua kaki Gaby di atas bahunya dan mulai menyesap serta menghisapp milik Gaby lagi, di dalam selimut, tubuh Zac yang besar tertutup dan Gaby tak bisa menarik atau mencengkram rambut Zac, kali ini ia hanya bisa meremass semua yang ada di dekatnya bahkan ia menutup mulut dan wajahnya dengan bantal, agar suaranya tak terdengar salam alat perekam yang ada di kalungnya.


Zac memainkan lidahnya dengan cepat di bagian sensitif milik Gaby, dan itu membuat tubuh Gaby menggelinjangg, bantal yang ada di wajahnya pun terjatuh, mulutnya terbuka dan suaranya semakin keras.


"Aaaahhh....Aaahhhh....Aaahhhh...!!"


Zac membuka selimut dan membuangnya, saat itu ia melihat Gaby sedang berusaha menarik kalungnya.


Dengan cepat Zac naik dan mencemgkram kedua tangan Gaby, tangan sebelah milik Zac menarik laci di dekat ranjangnya dan mengambil dasi yang pernah ia gunakan sebelumnya untuk mengikat tangan Gaby.


Kini tangan Gaby pun terikat dan Zac mengikatnya pada lubang-lubang ukiran tempat tidur mewah tersebut.


"Aku bilang jangan lepaskan kalungnya, agar kekasih tercintamu bisa mendengar desaahanmu." Bisik Zac.


Zac kembali turun dan membuka kaki Gaby lagi dengan lebar, Gaby yang marah kemudian menendang Zac, namun dengan cepat Zac menangkap kaki itu.


"Kau benar-benar berani..." Kata Zac menatap dingin Gaby.


Namun, bukannya Zac marah atau memukul Gaby, Zac justru mencium kaki Gaby dengan lembut, Zac terus menciuminya, perlahan naik dan terus naik.


Hingga Gaby merasa tubuhnya gemetaran karena perlakuan Zac.

__ADS_1


"Keluarkan suara mu lagi, Gaby, akan menarik jika kekasihmu tahu, ternyata kau sangat ketagihan dengan apa yang sedang kita lakukan." Kata Zac.


Bersambung~


__ADS_2