
Malam itu juga, tepatnya pukul 12 malam tanpa sepengetahuan siapapun Ben pergi sendirian menuju Pulau Kematian, ia akan menemui Gia dan akan berbicara padanya.
Helikopter mendarat di atas atap dan Ben turun sendirian, sang pilot hanya akan menunggu di helikopter.
Ben berjalan dengan langkah kaki yang cepat, ternyata Traver telah menempatkan banyak pengawal di Mansion tersebut.
Para pengawal terkejut dengan kedatangan Ben yang tiba-tiba, mereka pun menundukkan kepala secara bersama-sama.
"Buka pintu ruang bawah tanah." Perintah Ben.
Sang pengawal pun membukannya, mereka masih penasaran, kenapa Ben datang tanpa Traver dan tanpa pemberitahuan juga. Padahal biasanya Ben tak akan pergi tanpa Traver.
Ben langsung masuk dan berjalan ke dalam, ruang bawah tanah yang remang-remang dan terlihat kotor serta tak terawat, berbeda dengan ruang bawah tanah milik Ben, yang serba modern, penjaranya pun serba modern dan memiliki teknologi canggih.
Ben akhirnya menemukan sel yang di tempati Gia, perlahan Ben menuruni tangga yang sedikit basah lalu mendekat.
Gia yang duduk termenung memandangi lantai hitam yang kotor, ia terkejut dengan kedatangan seseorang, Gia melihat sepatu hitam yang mengkilat itu, lalu perlahan pandangannya naik dan mendongak, dengan wajah sumringah Gia menatap Ben.
"Kau datang sayangku..." Kata Gia.
Ben masih diam, kemudian melihat dengan wajah dingin pada Gia.
"Obat apa yang kau berikan padaku saat aku mengalami halusinasi." Kata Ben.
"Obat? Obat apa?" Tanya Gia balik.
"Jangan berbohong padaku, aku yakin kau memberiku obat." Kata Ben.
"Sebentar Ben... Apakah ada efek lain? Apakah kau mulai membayangkan kita berhubungan badan?" Kata Gia mendekat pada sel dan hendak meraih Ben.
"Kau pikir itu lucu. Itu menjijikkan, sampai-sampai aku ingin muntah." Kata Ben.
"Jadi, saat melakukan hubungan dengan Daisy, kau akan muntah? Hihihi..." Kata Gia tertawa.
"Itu bukan karena Daisy, tapi karena wajahmu yang selalu muncul, aku menjadi ingin muntah, dan tak selera, kau menjijikkan, bahkan aku hampir membunuh istriku, aku hampir ingin mencekiknya, karena wajahmu ada di sana." Kata Ben dingin.
"Hahahah... Itu bukan benci sayang, kau pasti terlalu mencintaiku, pasti sekarang kau sudah sering membayangkan wajahku? Apakah kau sudah memiliki rasa merindukanku dan mulai selalu ingin datang padaku? Apakah saat kau bersetubuhh dengan Istrimu, hanya aku yang ada di pikiranmu? Kau pikir itu karena obat atau karena benci? Bukan sayang... Jika tebakanku benar, artinya kau jatuh cinta padaku Ben. Asap itu, asap perangsang itu, akan memuncul kan perasaan terdalam yang sebenarnya kau pendam dan kau sembunyikan bahkan dari dirimu sendiri."
"Mulutmu itu ingin sekali ku robek." Kata Ben dingin.
"Been... Semakin kau menyangkalnya, semakin bayang-bayangku akan selalu ada di benak dan pikiranmu..." Kata Gia mengulurkan tangannya dan hendak menyentuh kaki Ben.
Ben mundur, dan ia kemudian berjongkok, Ben, menaruh lengannya di atas lutut dan kemudian memandangi Gia dengan seksama.
"Gia... Berhentilah. Kau menjijikkan. Aku bahkan sampai tak bisa menyentuh istriku, karena wajahmu yangvselalu muncul." Kata Ben.
Namun dengan cepat Gia hendak menarik jas milik Ben, dengan gerakan spontan juga Ben langsung mundur dan berdiri.
__ADS_1
"Been... sekali saja, beri aku ciuman dan aku akan memberikanmu obat penawar." Bujuk Gia berbohong, karena memang tak ada obat penawar.
"Kau tahu Gia... aku datang ketempat kotor ini hanya untuk hal yang sia-sia. Aku akan mencari tahu sendiri. Akan ku obrak-abrik isi mansion mu di Pulau Tanpa Nama." Kata Ben.
Namun ketika Ben memutar tubuhnya, sontak matanya menjadi membulat dan bergetar, ia melihat istrinya sudah menyusulnya dan berdiri di tangga ruang bawah tanah.
"Aaahhahaa... Daisy... Sejak kapan kau di sana, aku tidak tahu kau ada di sana." Kata Gia.
"Dasar manusia busuk, bukankah kau sudah melihatku sejak tadi." Kata Daisy.
Ben melihat ke arah Gia, jadi Gia sengaja ingin memprovokasi Daisy. Untungnya ketika Gia menyambar jas milik Ben, Ben langsung mundur. Kali ini Ben cukup lega, namun tetap saja tak akan menutup kemungkinan bahwa Daisy akan murka padanya, karena Ben malam-malam menemui Gia.
"Beenn.. Jadi, apa yang di katakan Gia itu benar?" Tanya Daisy.
"Benar apanya!" Kata Ben mulai kesal.
Baru kali ini Daisy melihat wajah kesal Ben yang seolah tak bisa memecahkan teka-teki nya sendiri.
"Beennn akuilah saja... Itu adalah perasaanmu yang sangat kau pendam selama ini." Lanjut Gia semakin memprovokasi.
"Apakah benar, kau membayangkan wajah Gia saat kau melakukan nya? Kau benar-benar mencintainya? Maka dari itu kau tak mau melakukannya lagi denganku?" Tanya Daisy, air matanya tak kuasa ia tahan.
Ben semakin gelisah.
"Beenn!!! Jawab Akuu!!!" Teriak Daisy.
"Itu karena aku jijik!!" Kata Ben.
"Jijik denganku?"
"Karena Gia selalu muncul. Aku tak ingin melakukan hal itu karena wajahmu selalu berubah menjadi Gia." Kata Ben.
"Jadi... Apakah akhirnya, kau akan membuangku juga?" Tanya Daisy.
"Bukan seperti itu Daisy."
"Aku akan pergi, entah harus bagaimana, tapi mungkin lebih baik aku menjauh dari mu bukan.." Kata Daisy.
"Beennn penghalang di antara kita sudah pergi, ayo kita bersama.... Kita akan menjadi pasangan yang bahagia dan erotiss.. " Kata Gia.
"Sialan! Cerewet sekali!!!" Ben menarik pistol emasnya yang ada di saku jasnya dan langsung mengarahkan pada Gia.
"DOOOORRR!!!" Tembakan itu tepat di dahi Gia.
"AAaaakk!" Mata Gia membuka lebar, mulutnya terbuka lebar dan mengeluarkan banyak darah.
"Kau pikir kau siapa... Cerewet sekali." Kata Ben maju lalu memasukkan pistolnya ke dalam mulut Gia.
__ADS_1
"DOOORRRR!!!" Darah muncrat kemana-mana.
Ben menarik pistolnya dan mengarahkan lagi pada wajah Gia.
"DOORRRRR!!!"
Ben menembaki Gia berulang kali di kepalanya, membuat kepala Gia meledak dan darah serta otaknya muncrat kemana-mana.
"Ooohh....!!!" Daisy menutup mulutnya.
Ben masih emosi, saat itu Gia sudah mati, dan ambruk di lantai, namun Ben masih terus menembaki seluruh tubuh Gia.
"DOOORRRR!!"
"DOOORRRR!!!"
"DOOORRRR!!!"
Daisy terduduk di atas tangga dan kakinya lemas, ia hampir pingsan melihat semua otak dan kepala Gia berserakan.
Daisy juga hampir muntah, ia sangat mual, keringat dinginnya membanjir.
"Cu... Cukup... Beenn... Kau.... Seperti iblis..." Kata Daisy.
Ben melihat ke belakang, karena emosinya yang naik ia lupa bahwa Daisy sangat takut melihat hal seperti itu.
Secepat mungkin Ben mendatangi Daisy, dan menahan tubuh Daisy.
Ben memapah Daisy, dan memberikan pistolnya pada sang pengawal.
"Bersihkan dan besok berikan lagi padaku." Perintah Ben.
"Baik Tuan."
Ben pun mengendong Daisy pergi, mereka langsung menuju atap dan naik helikopter.
Namun, dalam perjalanan Daisy tak berhenti menangis dalam pelukan Ben.
"Aku takut... Aku takut kehilangan dirimu." Kata Daisy.
"Aku akan baik-baik saja. Mungkin karena aku belum membunuh Gia. Jadi, wajahnya masih selalu mengangguku. Biasanya aku hanya akan langsung membunuh wanita manapun yang kurang ajar." Kata Ben.
Daisy memeluk Ben dengan erat.
"Kembalilah seperti biasanya. Ben yang aku kenal." Kata Daisy mencium leher kuat Ben, Daisy menangis hingga wajahnya basah.
"Aku tahu. Aku hanya perlu membunuhnya, dan semuanya akan kembali normal. Gia benar-benar mengingatkanku pada wanita itu, seseorang yang tak pantas ku panggil ibu, bahkan wajahnya hampir seperti saudara kembar. Ku pikir karena itulah, mungkin aku merasakan sesuatu yang aneh. Pelacur rendahan yang kotor dan menjijikkan." Kata Ben.
__ADS_1
Bersambung~