
2 TAHUN KEMUDIAN~
Seorang pria yang telah memiliki usia 34 tahun berdiri dengan postur tubuh tegap, kedua tangannya di masukkan ke dalam kedua saku celana dan menatap nanar pemandangan yang terbentang luas.
Meski umurnya telah memasuki kepala 3, namun pria itu sedikitpun seakan tak bertambah tua melainkan semakin terlihat lebih muda dari usianya, yang jelas pria tampan dan seksi itu telah membuat semua wanita rela melakukan apapun hanya demi bisa berjalan di sampingnya.
Benjove Haghwer menatap tajam pemandangan yang terbentang dari jendela besar kantornya yang berada di lantai atas. Pria itu kini berubah menjadi lebih kejam di dalam dunia bisnis.
Seperti monster Ben selalu menjadi pebisnis yang di takuti, bahkan hanya dalam 2 tahun perkembangan perusahaannya tak main-main. BENZ GROUP telah di nobatkan perusahaan terbesar dan terkaya di dunia nomor 3.
Namun, Ben adalah pria kejam dengan segala obsesi yang tinggi, dia ingin menjadikan perusahaannya menjadi lebih besar lagi, seolah kini Ben ingin benar-benar tenggelam dalam dunia bisnis.
Selain itu Ben juga menyibukkan dirinya dalam dunia mafia, perdagangan gelap di dunia bawah juga telah di dominasi oleh Ben, sekarang Ben juga menjadi ketua serikat mafia yang mengatur peraturan perdagangan dan bisnis serta pertikaian para mafia.
Ben yang gagah dan tampan menarik satu tangannya dari saku dan kemudian memutar kursi kebesarannya, kemudian tiba-tiba menghentikannya dengan tangan besar dan kekarnya.
Ben memandangi gedung-gedung di luar sana yang tidak lebih tinggi dari gedung miliknya, dan tak lebih megah dari gedung kantornya, hanya selama 2 tahun Ben bisa membuat pencapaian besar yang tak bisa di lakukan oleh manusia lain, menguasai dunia kini adalah target Ben seolah ia ingin mengalihkan penuh perhatiannya.
Ya, Ben ingin lari, ia ingin mengalihkan penderitaannya yang tak kunjung sembuh, ingatan yang masih menyakitkan baginya meski itu telah berlalu. Kini, Ben memiliki beberapa rentetan ingatan yang menyiksa batinnya.
Belum selesai dan sembuh dengan trauma masa kecilnya, Ben harus menghadapi kenangan buruk yang membuatnya menyesal.
Setiap malam ketika Ben tidur, kenangan menyakitkan akan membakar dada dan tubuhnya, hingga Ben harus meminum obat dosis tinggi.
Setiap malam kenangan buruk seolah menjadi musuh terbesarnya.
Setiap malam, seolah tidur adalah kutukan baginya, dan tak jarang Ben terus terjaga.
Kini, Ben semakin tenggelam dan terjerumus jauh ke dasar jurang yang lebih gelap dari sebelumnya, rasa sakit, kebencian, dendam, amarah, dan kecemasan bercampur menjadi satu adukan dan menimbulkan rasa sakit luar biasa dalam dadanya, itu semua menyebabkan Ben selalu memiliki mimpi buruk.
Jalan satu-satunya Ben selalu memforsir pikirannya ke dunia pekerjaan, dan menjadi bos yang dingin dan kejam, tanpa ampun pada siapapun.
Namun, yang paling menyiksa batin dan pikirannya adalah ketika ingatannya kembali pada bagaimana Daisy menjatuhkan dirinya dari tebing seolah ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Kenangan buruk dan menyakitkan, yang membuatnya menyesalinya.
"Seandainya saat itu aku lebih berani." Kata Ben meremas kursi kebesaran miliknya yang ada di sampingnya.
TOK TOK TOK!!!
Seseorang mengetuk pintu ruangan Ben, dan itu adalah Traver.
__ADS_1
"Tuan Ben..." Traver pun masuk dan menunduk.
Ben masih berdiri di depan jendela tanpa melihat ke belakang.
"Untuk nanti malam apa anda akan tidur lagi di kantor Tuan?" Tanya Traver.
"Seperti biasanya."
"Tapi Tuan, sudah 2 tahun ini anda tidak pernah pulang ke mansion."
"Dia meninggalkan jejak terlalu banyak di mansion."
Traver menunduk tanda mengerti, Daisy memang seperti sudah menjadi bagian dari mansion, setiap sudut mansion selalu ada Daisy, bahkan para pelayan diam-diam selalu menantikan kepulangan Daisy.
Hingga detik ini Ben masih belum bisa melupakan Daisy dan Ben semakin parah memiliki gangguan tidur.
"Bagaimana keadaan Mena." Tanya Ben.
"Sudah lebih baik Tuan, dia koma selama 1 tahun, dan sekarang sudah lebih bisa mengontrol gerakannya, Dokter Gavriel adalah dokter terbaik. Terimakasih Tuan."
"Hm... Aku tidak menyangka dia sangat setia dengan Daisy, setelah tugas beratnya menghabisi anggota pemerintahan yang selalu menganggu dan menyingkirkan kepolisian yang merepotkan, malam itu setelah mengetahui Daisy terjun, Mena langsung menyusul dan melacak Daisy."
"Semua itu karena El Joa dan Rei Brandon Tuan, mereka membuat Mena harus mengurus pemerintah dan kepolisian agar Rei bisa membawa Daisy. Rencana pengalihan Rei dan El Joa sangat matang."
"Tapi, Mena sangat tangguh, dia bisa menyelam saat badai demi Daisy. Kita harus menghentikan pencarian Daisy karena penyerangan itu, entah siapa para penyerang itu, bagaimana mereka ada di sana dan menyerang Mena yang sedang menyelam mencari Daisy. Apakah semua itu hanya kebetulan? Kenapa mereka ada di sana saat itu? Apa itu El Joa atau Rei Brandon?"
"Terimakasih atas pujian anda untuk adik saya tuan. Tapi, menurut saya itu bukan El Joa atau Rei Brandon Tuan, kami telah membantai habis para pengawal mereka."
"Jadi apa kau sudah melacak siapa yang menyerang Mena dan para pengawal malam itu saat mereka menyelam mencari Daisy?"
"Sedikit lagi akan saya pastikan Tuan." Kata Traver.
Ben mengangguk.
Traver pun pergi dari ruangan Ben dan berjaga di luar.
Ben tidak pernah melupakan satu detik pun tragedi malam itu.
"Seandainya aku lebih berani. Tapi, aku menjadi lemah dan penakut karena aku tidak ingin kau terluka Daisy." Kata Ben dalam hati.
__ADS_1
"Seandainya kau mau menunggu 1 menit lagi Daisy, pasti semua tidak akan seperti ini, kau masih bersamaku."
DRRRTT...DRRTTTT...DDRRRT... Ponsel Ben bergetar.
Ben mengangkatnya tanpa berbicara.
"Tuan Ben, apakah malam ini anda akan hadir di acara amal? Saya ingin memastikan untuk jadwal anda." Kata Sekretaris.
"Aku tidak akan datang."
"Lalu anda mendapatkan undangan pesta ulang tahun Tuan Derreck Waldorf, malam ini katanya beliau akan mengumumkan artis pendatang baru yang akan debut memperkuat perusahaan entertaiment miliknya."
Ben berfikir sebentar.
"Aku akan datang." Kata Ben kemudian.
"Suruh Traver menyiapkan semuanya di ruangan kamar ku." Perintah Ben.
"Baik Tuan."
Di luar ruangan kantor Ben, sekretaris yang baru saja menghubungi Ben mendesahkan nafasnya.
"Sudah 2 tahun ini Tuan Ben tinggal di kantor, lantai paling atas menjadi rumah nya, sudah 2 tahun juga kami para karyawan tidak dapat menikmati udara yang menerpa wajah di atap. Selama 2 tahun kami tak punya waktu melemaskan tubuh... Astaga..." Kata Sekretarisnya tersungkur di atas mejanya dan memendam wajahnya di balik kedua tangannya.
Traver hanya diam, dia pun mulai khawatir dengan Tuannya.
"Biasanya kita selalu minum kopi atau teh di atap, setelah Tuan Ben tinggal di perusahaan, kita bahkan tidak bisa ke atap hanya untuk mencari angin dan meredakan ketegangan karena pekerjaan." Sahut Sekretaris itu lagi berharap Traver mendengar dan bisa membujuk Tuannya.
"Tuan Traver anda di minta untuk menyiapkan keperluan Tuan Ben untuk pesta ulang tahun Tuan Derreck nanti malam."
Traver mengernyitkan alisnya.
"Kenapa bukan acara amal?" Tanya Traver.
Sang sekretaris menggendikkan kedua bahunya, tanda ia tak tahu kenapa tiba-tiba Tuannya tidak pergi ke acara amal.
"Ah ya... Apa Tuan Ben tidak berniat mendirikan perusahaan entertaiment? Tahun ini perusahaan Entertaiment milik Tuan Derreck dapat sedang naik daun."
"Entahlah." Kata Traver dan pergi.
__ADS_1
"Uuuh... Anak buah dan majikan sama-sama dingin dan sama-sama mengerikan... Astaga kapan kami dapat kembali menemukan ketenangan di perusahaan."
bersambung