Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 157


__ADS_3

"Daisy, aku tidak menuduhmu, lehermu memang ada bekas cupangg, aku bertanya padamu, dengan siapa saja saat aku tak ada di sisimu." Kata Ben lagi dengan tegas.


Daisy kemudian tersenyum sinis.


"Aku tahu akhir dari pembicaraan ini. Pada akhirnya kau hanya mau melarikan diri dan membuat masalah baru dengan menuduhku." Kata Daisy.


Ben menutup matanya pelan, dan membuang nafas.


"Kau tahu Ben? Kau badjingan."


Ben mengangguk pelan.


"Pergilah ke kamarmu dan tenangkan dirimu terlebih dulu, kita akan membicarakannya lain waktu ketika kau sudah tenang."


"Kau pikir siapa yang membuatku menjadi seperti ini!!!" Teriak Daisy.


"Kau bahkan tidak mau membahas masalah saat kau mencium Gia sebagai perpisahanmu, tapi sekarang kau justru menuduhku yang selingkuh, ada bekas cupangg di leherku, apa kau pikir saat kau menghilang aku bersenang-senang dengan pria!!!" Mata Daisy mendelik sempurna, hatinya sakit.


"AKU TIDAK PERNAH MENUDUHMU DAISY, AKU HANYA BERTANYA SIAPA YANG TELAH MENCIUM LEHER MU!!!" Kata Ben tegas dan dengan suara yang dalam.


"TIDAK ADAA!!! AKU TIDAK PERNAH BERTEMU DENGAN PRIA MANAPUN!!!" Daisy berteriak pada Ben dengan emosi dan rasa kesal yang amat bringas.


Tak berapa lama Ben mengambil ponselnya.


Daisy melihat itu.


"Traver, masuk dan bawa istriku ke kamar, jangan pernah memberikan ijin padanya pergi keluar sampai aku tahu siapa yang telah menyentuh istriku." Kata Ben.


Daisy terkejut dan syock, hingga mulutnya menganga ia tak percaya kenapa justru dirinya yang sekarang di pojokkan.


"Ben... Kau sudah keterlaluan." Kata Daisy.


"AKU TIDAK SUKA SIAPAPUN MENYENTUHMU." Kata Ben menegaskan pada Daisy dengan suara dan intonasi yang dalam dan penuh penekanan.


"LALU? APA KAU HALAL UNTUK BERCIUMAN DENGAN WANITA LAIN!!!" Daisy berteriak.


Saat itulah Mena dan Traver masuk, mereka melihat tuan dan nyonya yang mereka hormati sedang bertengkar hebat dan adu mulut, ini adalah pertama kalinya pula Ben begitu tersulut dan membuat kalimat tegas pada Daisy.


"Kau egois Ben... Seharusnya kau menjelaskan kenapa kau menciumnya...!" Mata Daisy berair.


"Aku tidak menciumnya, dia yang tiba-tiba saja menyergap dan menciumku bersamaan saat kau datang, dia sengaja melakukan itu agar kau selalu di liputi rasa cemburu dan curiga, dia menginginkan kehidupan rumah tangga kita tak akan pernah harmonis lagi."


"PEMBOHONG!!!" Kata Daisy menangis.


"PENIPU!!!"

__ADS_1


Ben menghembuskan nafasnya, ia kemudian turun dari ranjang nya, saat itu Ben masih di dalam kamar perawatan.


Perlahan Ben berjalan mendekat pada Daisy.


"Tuan... Anda tidak boleh..." Traver khawatir dan hendak menolong.


Namun Ben menyetop langkahnya dengan kode matanya.


"Apa aku harus membunuh Gia agar kau percaya padaku." Kata Ben meraih tangan Daisy.


Mata Daisy yang basah pun melihat ke arah Ben.


"Apa benar kau akan membunuhnya." Kata Daisy.


"Jika itu mau mu, dan jika dengan itu kau bisa percaya, akan ku lakukan, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." Kata Ben.


Daisy menutup matanya dengan satu telapak tangannya dan menarik nafas, tangan satunya ia letakkan di pinggang, kepalanya terasa sangat penat dan frustasi, rasanya ia ingin meledak, kenapa masalah selalu beruntun datang dan terus menerus silih berganti, kenapa tak ada hari tenang yang bahagia bagi dirinya.


Daisy mengambil nafas dalam dan membuangnya, agar air matanya tak lagi jatuh.


"Baiklah, beberapa saat yang lalu, aku hampir menjadi monster, terserah kau saja, aku sekarang tak akan peduli lagi, apapun yang kau lakukan, aku tidak akan peduli." Kata Daisy kemudian ia berjalan pergi keluar.


Mena pun mengikuti Daisy, ia takut Daisy akan melakukan hal nekat.


Sedangkan Traver pun masih di depan Ben ia ingin memberikan informasi.


Ben mengangguk.


"Cari Carlos dan bawa ke sini." Perintah Ben.


"Baik Tuan." Kata Traver dan pergi.


*******


Siang itu cuaca di seluruh kota Negara K sedikit mendung dan beberapa wilayah juga hujan sedang hingga lebat, sepertinya musim hujan akan tiba lebih awal.


Ben berdiri di balkon belakang mansion dengan di bantu walking sticknya yang memiliki pegangan di tangan berbentuk singa.


Ben berdiri memandangi langit yang sudah mulai mendung dengan gumpalan hitam menakutkan.


Sesekali petir sudah mulai menggelegar dan terdengar saling sambung menyambut.


Tak berapa lama pun rintikan hujan akhirnya turun membasahi rerumputan hijau dan tanaman hijau di mansion mewah tersebut.


"Tuan Ben... Tuan Carlos ada di sini." Kata Traver.

__ADS_1


Ben kemudian berbalik walking sticknya pun memutar dan menyangga tubuhnya.


"Kau mencariku?... Ben?" Tanya Carlos santai dan kemudian duduk di hadapan Ben.


Ben masih memasang wajah datar.


"Kau pasti sudah tahu kenapa aku memanggilmu." Kata Ben.


"Sejujurnya Ya dan Belum." Jawab Carlos.


"Ku harap kau sudah tahu jadi kau tak perlu menerka-nerka apa yang akan ku lakukan padamu."


Carlos diam.


"Sebenarnya aku ingin sekali langsung membunuhmu, namun, aku itu tidak akan seru, jadi aku memikirkan ulang hukuman apa yang pantas ku berikan padamu." Kata Ben.


"Hukuman? Kau pikir kau Tuhan?" Kata Carlos.


"Aku memang bukan Tuhan, tapi aku bisa membuatmu memderita lebih dari yang Tuhan berikan padamu..."


Ben menaikkan walking sticknya di hadapan Carlos.


Perlahan Ben berjalan maju, dan menekan leher Carlos dengan walking sticknya yang tajam.


"Kau cukup menjawab Ya atau Tidak." Kata Ben menekan leher Carlos lebih dalam lagi dengan walking sticknya.


Carlos menelan ludahnya.


"Aku melakukan ini karena kau pernah ikut dalam misi menyelamatkan Daisy dan ikut berperang denganku, jika tidak aku sudah mencoretmu dari duli, bersyukurlah karena pengabdianmu aku mempertimbakan semuanya dan tidak langsung membunuh atau menyiksamu." Kata Ben.


"Sepertinya kau salah paham padaku Ben." Kata Carlos.


"Apa kau berniat berkhianat padaku di Pulau Tanpa Nama?" Tanya Ben.


"Tidak."


"Bisa kau jelaskan." Kata Ben.


Carlos melihat ke arah lain, saat itu hujan mengguyur dengan deras dan melihat sebuah jendela yang terbuka, Daisy memperhatikan dari sana.


"Awalanya iya, karena aku masih mencintai istrimu." Kata Carlos.


Secepat kilat, Ben menusukkan lebih dalam walking sticknya pada leher Carlos hingga leher itu mengalir darah dan meleleh hingga ke kerah kemeja warna putihnya.


"Tapi aku sadar aku tidak akan menang darimu." Kata Carlos.

__ADS_1


"Tak perlu kau mengiba dan meminta belas kasih dengan memuji ku, jelaskan saja." Perintah Ben.


Bersambung


__ADS_2