
Ketika langkah kaki Ben yang memasuki mansion telah terdengar oleh Daisy, seketika Daisy berdiri dari tempat duduknya dan wajahnya mendadak senang.
Namun, Derreck menatap dingin pada sikap Daisy dan membuat Daisy kembali sedih. Daisy perlahan duduk kembali di sofa nya, dengan menunduk.
Ben sudah berdiri di belakang Derreck yang duduk dengan sikap tenang, meski dalam hatinya begitu banyak gejolak yang harus ia kendalikan.
Kaki Ben yang berhasil melangkah masuk ke dalam mansion tanpa terluka dan justru dengan sikap sombongnya sedang berdiri di dalam mansion, seolah itu adalah peringatan dengan tak tersirat untuk Derreck bahwa kekuatan Derreck tidak ada apa-apa nya.
Jika situasi sekarang di gambarkan dalam perkelahian, Ben kini sedang mencengkram punuk leher Derreck dari belakang dan menjatuhkannya hanya dengan sekali dorongan, membuat Derreck kehilangan rasa percaya dirinya dan membuat Derreck merasa harga dirinya telah di injak-injak. Itulah perumpamaannya.
Ben berjalan pelan memutari sofa persegi empat yang tertata rapi, dan kemudian duduk di samping Daisy.
Derreck hanya melihat tak bergeming, tubuhnya bergetar hebat, ia tak bisa memberontak karena kalah dalam kekuatan.
Ben kemudian menyilangkan kakinya, dan menaruh tangannya di sandaran sofa tepat di belakang Daisy.
Traver masih berjaga di belakang Derreck, sedangkan Casey berada di belakang sofa yang Ben dan Daisy duduki.
"Aku datang untuk menjemput kekasihku." Kata Ben santai.
Derreck masih diam dan hanya memandangi Ben dengan tatapan dingin dan penuh kebencian. Tubuhnya di sangga oleh kedua sikunya yang berada di atas paha.
"Aku merindukanmu Daisy, sampai rasanya aku merasa sesak dan tidak dapat bernafas... Kesalahan besar aku melepaskanmu, ternyata aku tidak bisa bertahan jika tidak menatap wajahmu. Setiap hari hatiku terasa remuk karena merindukanmu." Kata Ben.
Daisy tersenyum canggung, ia melirik ragu ke arah Derreck, Daisy benar-benar merasa kesusahan saat Ben bersikap manis padanya di hadapan Derreck, Daisy benar-benar tidak ingin melukai siapapun. Namun, dengan memilih Daisy tahu bahwa salah satu dari mereka akan terluka.
"Kau tidak bisa membawa Daisy begitu saja, lagi pula kau menerobos masuk ke mansionku."
"Kalau tidak ku terobos apa kau akan membukakan pintu untukku dan menyambutku dengan tangan terbuka, lalu menuangkan teh atau alkohol padaku?" Kata Ben tersenyum dingin, sedingin kutup utara.
"Kau selalu arogan, kau membuat segala keputusan berdasarkan kemauanmu sendiri dan itu berlainan dengan Daisy, kau hanya akan bosan dengannya. Pada dasarnya sifat kalian bertentangan."
"Jika aku tidak mengambil sikap, kau pasti sudah membawa Daisy kabur, walupun aku tetap bisa menemukan kalian, tapi untuk saat ini aku sedang tidak selera bermain petak umpet." Kata Ben.
"Kau tidak bisa membawanya pergi, dia berhutang nyawa padaku, aku lah yang menyelamatkannya ketika Daisy menjatuhkan dirinya ke laut." Kata Derreck.
"Bhaahhahhaa...!!!" Ben tertawa begitu kencang.
Daisy terkejut, mendengar Ben tertawa, seumur-umur baru kali ini Daisy mendengar tawa Ben yang sekencang itu.
"Astaga, aku baru sadar jika aku baru saja tertawa, aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku tertawa terbahak-bahak seperti ini. Kau memang lain Derreck."
__ADS_1
Namun seketika tawa Ben berubah menjadi wajah yang dingin dan serius.
"Hey Man... Benarkah kau laki-laki? Kau sedang membicarakan tentang menyelematkan hidup seseorang? Kau meminta imbal balik sekarang? Astaga, aku sungguh tidak sanggup mendengarnya, kau sebagai laki-laki seharusnya malu Derreck. Seandainya Daisy tidak memiliki keinganan untuk pergi dariku, pengawalku dan Mena telah menyelamatkannya."
Derreck mulai panas. Pria itu seketika berdiri dan maju hendak menarik tangan Daisy.
Dengan cepat Daisy tertarik oleh Derreck, tubuh Daisy terseret kencang.
Namun, Ben dengan cepat mencengkram leher besar Derreck dan mendorong Derreck dengan cepat hingga tubuh Derreck membentur dinding, tangannya pun reflek melepaskan Daisy.
Ben menekan leher Derreck dengan menggunakan tangan kanannya.
Darah mengalir melalui leher Derreck, dan juga turun melalui tangan Ben sendiri.
"Da... Darah...!" Teriak Daisy.
Casey pun panik.
"Tuan...." Panggil Traver mengingatkan.
"Ben... Luka mu terbuka lagi, ada banyak darah yang keluar." Kata Daisy.
"Traver!!! Lakukan sesuatu Derreck akan mati!!!" Teriak Daisy.
Traver tidak bisa melakukan apapun ketika Ben menjadi serius.
Casey menjadi panik dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Benjove!!! Hentikan dia akan mati!!!" Teriak Daisy.
Ben kemudian menarik tangan kanannya yang sudah berdarah, karena lukanya terbuka lagi.
"Aku tidak suka kau menyentuhnya dasar bajingann!!!" Geram Ben.
Derreck terduduk di lantai menghirup nafas yang terputus-putus, ia seolah akan mati jika Daisy terlambat menyadarkan Ben.
"Traver berikan dokumennya." Kata Ben mengulurkan tangannya.
Daisy tak mengerti dokumen apa dan hanya berdiri bingung.
Kemudian Traver memberikan dokumen nya pada Ben, dan Ben mengambilnya, kertas putih itu mendadak memiliki cap-cap darah dari tangan kanan Ben.
__ADS_1
"Wusshh!!!" Ben melemparkan semua dokumen itu dengan angkuh dan dingin, wajahnya pun seperti iblis yang muak, semua dokumen terbang pada tubuh Derreck yang terduduk di lantai.
Setelah iti, semua dokumen berhamburan, namun salah satu dokumen yang ada di depan Derreck membuat Derreck penasaran.
Derreck mengambil dokumen itu dan membacanya ternyata dokumen itu adalah hasil Tes DNA, tangannya bergetar hebat, tubuhnya terguncang, matanya mulai perih, hatinya pun tak bisa lagi di ungkapkan bagaimana sakitnya, jantungnya juga seakan berhenti berdegup karena saking terkejutnya dan ingatannya pun kembali pada masa dimana seorang pelayan mengabarkan jika dia memiliki seorang adik perempuan. Ibunya telah melahirkan bayi perempuan yang cantik.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan sample darah kami." Kata Derreck, suaranya lemah dan serak.
"Sangat mudah, hanya dengan sedikit tabrakan, Traver yang bekerja." Kata Ben.
"Jadi, saat kami di rumah sakit itu, dan yang menabrak kami adalah... Traver...?" Kata Derreck meremas dokumen itu, bibirnya bergetar hebat, jantungnya tak karuan ingin meledak.
"A... Ada apa...? Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Daisy kebingungan.
Derreck kemudian melihat dokumen lainnya yang berserakan di depannya, dan itu adalah semua bukti bahkan foto yang memperkuat jika Daisy adalah adiknya, bahkan foto ketika Beatrice sedang berada di Kota S, tepatnya di dekat tempat tinggal lama Daisy.
Daisy kemudian bersimpuh di hadapan Derreck dan mengambil satu persatu dokumen yang sudah lusuh terkena darah dan karena remasaan Derreck.
Daisy merapikannya dan membacanya dengan teliti.
Setelah melihat beberapa dokumen berulang kali, matanya membulat dan air matanya pun jatuh.
"Apa lagi ini?" Kata Daisy tak bisa percaya.
Daisy melihat ke atas, ia melihat ke arah Ben yang masih berdiri dengan tangan berdarah yang terus menetes ke lantai dengan tangan yang satu dimasukkan ke dalam sakunya.
Pria dingin, angkuh, sombong, kejam, semua terlihat di wajah Ben.
"Ini... Hanya karanganmu kan...." Kata Daisy pada Ben dengan intonasi yang sangat pelan.
"Kau memang adik nya Daisy, kau adik kandungnya." Kata ben dengan tegas dan dingin.
Tangan Daisy lemas dan semua dokumen itu kembali jatuh, tak hanya itu bekas darah di dokumen pun juga menempel di telapak tangan Daisy.
Perlahan Daisy terduduk lemah dan lesu.
"Aku akan membawa Daisy, jika dia tetap di sini, ayahmu akan membunuhnya, sejauh ini Mark Waldorf belum menyadarinya, namun Traver mendapatkan informasi jika salah satu pengawal kepercayaan ayahmu sepertinya menyadari jika pelayan ayahmu yang sudah pensiun menghilang dan kini sedang mencarinya, sedikit informasi pelayan itu adalah Gustav, dia sedang berada di bawah perlindunganku."
"Gustav... Paman Gustav? Kau bilang Paman Gustav ada di tempatmu!!!" Teriak Derreck sembari mendelik.
Bersambung
__ADS_1