
Zac menghembuskan nafasnya kasar, ia kemudian mengendarai buggy car, gerbang itu masih cukup jauh untuk mencapai mansion.
Zac melihat ke sekeliling, dan begitu sunyi.
"Ayah benar-benar sudah menarik semua pengawalnya untuk mundur..."
Tapi saat itu Zac melihat beberapa orang memakai seragam jas hitam berlogo Haghwer, dan menuju pada mereka. Zac berhenti dan turun dari Buggy Car.
"Tuan Zac..." Sekitar ada 50 orang berkumpul dan menundukkan kepala mereka melihat kedatangan Zac.
"Kami tidak mendengar anda datang, bagaimana anda bisa... Apakah suara-suara tembakan tadi adalah anda? Saya pikir mereka sedang membuat peringatan dengan tembakan lagi, karena beberapa hari ini, mereka bermain-main dengan gerbang milik kita yang tahan tembus dengan peluru. " Seorang komandan pasukan Haghwer terkejut.
"Yaron, kau tidak ikut mundur? Bukankah ayahku sudah memerintahkan semua pasukan Haghwer mundur. Kata Zac tak menjawab pertanyaan Yaron.
"Sebelum itu, kami memutuskan mengambil suara, dan beberapa memutuskan untuk tetap tinggal di sini." Kata Yaron.
"Lalu kau sendiri?" Tanya Zac.
"Saya akan setia pada anda Tuan Zac." Kata Yaron menundukkan punggungnya sedikit di ikuti 50 pasukan lainnya yang berbaris.
Zac mengangguk dan menepuk bahu Yaron.
"Untuk semuanya, terimakasih sudah bersedia tinggal!" Kata Zac tenang dan datar.
"Tapi Tuan sepertinya para pasukan Douglas akan terus berdatangan, semakin hari akan semakin banyak. Pasukan kita memang tangguh, tapi jika dengan jumlah kita yang sekarang mustahil untuk di bagi menjadi 2, menjaga mansion dan menyerang."
"Aku akan pikirkan itu, untuk sementara, tahan dulu mereka, jika tidak menimbulkan masalah biarkan dulu. Sepertinya para pasukan Douglas belum benar-benar ingin menyerang." Kata Zac.
"Baik Tuan Zac. Untuk saat ini kami akan membagi para pengawal di pos mereka masing-masing."
Zac mengangguk, dan Zac pun kemudian, menaiki Buggy Car lagi dan menuju mansion.
Setelah perjalanannya cukup oanjang, sampailah ia di mansion gagah yang menjulang tinggi, itu adalah hasil jerih payanya sendiri selama ini, Zac pun masuk ke halaman mansion.
Saat itu para pelayan masih bekerja seperti biasa, di dalam dan di luar mansion, mansion itu memiliki total luar tanah berhektar-hektar, selama di luar negeri Zac telah membangun mansion sesuai dengan keinginannya.
Mansion dengan arsitektur modern dengan di dominasi banyak kaca membuatnya terlihat mewah dan glamor.
Zac berjalan melihat garasi mobil yang terpajang di hadapannya tepat di halaman mansion, mobil-mobil berderet dari yang paling biasa sampai yang paling mewah. Kemudian Zac melihat ke sisi kanan, sebuah bangunan yang terpisah untuk menaruh helikopter-helikopternya.
Zac masuk dan para pelayan menundukkan kepala mereka. Zac naik ke lantai 2.
Charles sedang sibuk mengatur beberapa strategi di atas kertas besar yang telah di gambar dengan gambaran tangannya sendiri, kertas itu Charles letakkan di atas meja.
"Kau sedang apa?" Tanya Zac.
__ADS_1
Charles nampak terkejut dengan kedatangan Zac.
"Bagaimana... Kau bisa datang?" Charles celingak celinguk melihat ke sana dan kemari.
"Kau mencari siapa." Kata Zac, karena Charles celingak celinguk, kemudian Zac melihat ke arah gambar Charles yang terbentang.
"Kau sendirian? Bukankah mansion ini sedang di kepung pengawal Tuan Douglas. Bagaimana caranya kau masuk?" Tanya Charles.
"Lupakan itu aku malas menjelaskan, dimana Gaby." Kata Zac.
"Ada di kamar... Utama. Tapi, apa kau terluka?" Tanya Charles ingin memeriksa tubuh Zac.
"Gambaran yang bagus, kita harus bicara nanti." Kata Zac memberikan perintah.
"Tapi..."
Alih-alih menjawab Charles yang masih kebingungan bagaimana Zac bisa masuk, sedangkan tak ada suara helikopter atau sesuatu yang turun dari atas, Charles masih bertanya-tanya, padahal seluruh mansion di kepung pengawal Douglas.
Mansion dan gerbang utama memiliki jarak yang cukup jauh, jika ada keributan ataupun tembakan itu tidak akan terdengar, apalagi mansion di desain meredam suara dari dalam dan dari luar.
Zac pergi ke kamar utama, tepatnya itu adalah kamarnya.
Ketika membuka pintu Zac tidak menemukan Gaby di ranjang besar yang mewah, Zac mencari nya di balkon belakang.
Saat itu Gaby sedang terlihat gusar melihat langit yang cuacanya begitu terik.
Gaby terperanjat mendengar suara yang tak asing bagi telinganya, dengan cepat Gaby berdiri dan memutar tubuhnya.
Itu adalah Zac yang sudah berdiri di hadapannya, seolah itu hanyalah mimpi, sebuah pemandangan yang sangat ia tunggu-tunggu.
Reflek dan tak berpikir panjang Gaby berlari memeluk Zac, betapa dia merindukan Zac dan mengkhawatirkan Zac.
Dengan dekapan itu mendadak Zac terkejut, dan membangkitkan sesuatu yang tak bisa bangkit. Benda miliknya langsung bereaksi.
"Maa... Maafkan saya Tuan Zac. Saya terlalu senang melihat anda di sini." Kata Gaby mundur dan menundukkan kepala.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Zac.
"Saya baik-baik saja Tuan Zac. Bagaimana dengan anda." Tanya Gaby malu-malu.
"Aku tidak baik." Jawab Zac.
"Apakah anda terluka!" Gaby melihat Zac dengan panik dan memeriksa tubuh Zac.
"Aku butuh asupan energi." Kata Zac.
__ADS_1
"Saya akan menyiapkan makanannya." Kata Gaby hendak pergi.
Zac menarik tangan Gaby dan menghentikan Gaby.
"Bukan itu, aku butuh menge charge energi."
Gaby masih tak mengerti dan melihat ke arah Zac dengan tatapan penuh tanya.
Zac kemudian menggendong Gaby.
"Kyaaa!!!" Pekik Gaby.
"Tuan Zac!!! Saya berat!!! Apa yang anda lakukan!!!" Kata Gaby.
"Aku bilang aku butuh menge charge energi." Kata Zac membawa masuk Gaby.
Saat itu Zac pun membaringkan tubuh Gaby di atas ranjang.
Zac langsung membuka kemejanya dan membuangnya.
Gaby mendadak terkejut dan melotot dengan aksi itu, ini pertama kalinya Zac langsung demgan terang-terangan memperlakukannya tanpa bertanya, seperti sudah tak ada rasa takut apakah Gaby akan marah atau tidak.
Zac mencium leher Gaby dan menyesapnya pelan namun dalam, sehingga menimbulkan bekas merah di leher Gaby.
Lalu Zac beralih mencium bibir Gaby, menyesap dan menyedotnya dengan kekuatan yang dalam. Lidahnya bermain-main dengan lidah Gaby.
Saat itu cahaya begitu terang, Gaby bisa melihat banyak bekas luka di tubuh Zac. Gaby berpikir kenapa malam itu ia tidak melihat nya, apakah karena lampu kamar Zac sedikit remang.
Zac memang lebih suka dengan lampu yang tak terlalu terang.
"Kau masih sempat memikirkan yang lainnya." Sindir Zac.
Dengan cepat, jemari-jemari kuat Zac menelusup masuk ke dalam baju dan masuk ke dalam braa yang di kenakan Gaby, lalu meremas kedua payudaraaa Gaby yang kenyal dan sintal.
"Hmmbb.... Tuan Zac..." Panggil Gaby lalu menggigit bibir bawahnya.
Dengan cepat Zac menaikkan pakaian Gaby sehingga terbukalah bagian dadanya, Zac kemudian mengulumnya lembut masuk hingga ke dalam mulutnya, secara bergantian, tubuhnya menekan tubuh Gaby dan pikirannya mulai bersemangat, Zac merasa hidup ketika ia merasakan sensasi-sensasi baru, tentang hasrat di dalam tubuhnya.
Benda miliknya yang mengeras sejak pertama melihat Gaby yang sedang duduk termenung di balkon pun kini semakin besar dan semakin berdenyut.
Zac menekan tubuh Gaby, membuat benda milik Zac juga tertekan pada bagian sensitif milik Gaby.
Tubuh Gaby memanas, keringat mulai mungucur, mulut Zac menjelajah liar dan membuat kecupan-kecupan yang panas.
"Tuan Zac.... Haaaahhh.... Hhmmmhhh.... !"
__ADS_1
Bersambung