Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 242


__ADS_3

Gavriel memarkirkan mobilnya sembarangan, ia keluar dari mobil dan melemparkan kunci mobil pada salah satu pengawal.


Gavriel dengan cepat menaiki tangga dengan berlari, ia membuka kamar, namun Zay tak ada di sana, Gavriel memeriksa seluruh ruangan.


Pikiran Gavriel mulai kalut, ia takut, Zay pergi meninggalkannya.


Saat bertemu para pelayan, Gavriel langsung bertanya pada salah satu pelayan.


"Dimana Zay?" Tanya Gavriel.


"Bukankah ada di kamarnya kan Tuan?" Tanya Pelayan itu balik.


"Ck!" Gavriel mendecakkan lidahnya marah.


Sang pelayan pun menjadi takut, karena ini pertama kalinya Gavriel terlihat serius dan membuat wajah yang ketus.


Para pelayan pun memeluk kain lap mereka dan ketakutan.


Gavriel berlari lagi mencari dimana Zay berada, ketika Gavriel keluar ke pintu belakang, terlihat Zay sedang berada di tepi kolam.


Gavriel langsung berlari mendatangi Zay, di sana ada beberapa pelayan yang menemaninya.


Ternyata Zay sedang melihat ikan-ikan hias jumbo yang begitu menarik baginya.


Ketika Gavriel sampai di dekat Zay, dengan cepat Gavriel menarik lengan Zay, saat itu Zay terkejut, belum siap dan tak tahu siapa yang telah menariknya.


Tak ada hitungan detik, Gavriel langsung mencium bibir Zay dengan posesif.


Zay membelalakkan matanya, ia melirik pada para pelayan yang terkejut dan sontak menutup mulut serta mata mereka.


Sedangkan Gavriel tak mau tahu siapa yang sedang melihat mereka, Gavriel tetap mencium Zay dengan kuat dan dalam.


Zay berusaha melepaskan diri namun percuma, kemudian para pelayan berlarian pergi agar tak mengganggu.


Zay mulai gelagapan, nafasnya mulai menipis, ia meremas kemeja Gavriel, dan Gavriel pun melepaskan ciumannya.


"Haaaaaah....!!!" Zay mengambil nafas panjang dan masih meremas kemeja Gavriel.


Setelah lebih tenang, Zay bertanya.


"A... Ada apa?" Tanya Zay.


Alih-alih menjawab pertanyaan Zay, Gavriel justru menggendong Zay dan membawanya masuk.


Zay memekik pelan dan merangkulkan kedua tangannya di leher Gavriel.


Sinar pagi yang hangat menembus wajah Zay, cahayanya menyilaukan dan membuat Zay menyembunyikannya di leher Gavriel.


Para pelayan saling memandang iri, dan menggigit jari mereka, betapa Tuan Gavriel mereka yang sudah lama tak pernah mau membawa wanita, kini justru bermesraan di depan mereka.


Gavriel kemudian membuka pintu kamar, dan menutupnya menggunakan kaki.


Dengan sepelan mungkin, Gavriel menaruh Zay di atas ranjang.


Gavriel menciumi leher Zay dengan lembut dan mesra, mengecup dan menghisap hingga menimbulkan bekas merah.


"Mmmhh... Tu... Tunggu...." Pinta Zay.

__ADS_1


Gavriel masih terus mencium leher jenjang dan kurus Zay, tangan kekar Gavriel menelusup masuk ke dalam bra milik Zay, dan meremass payudaraa Zay yang kenyal dan lembut.


"Tu... Tunggu... Mmmhhhh.... Tunggu Gav... Sebentar... Ada apa? Bisa... Bisakah kau jelaskan ini." Kata Zay terbata menahan rangsaangan itu.


"Ayo kita lakukan." Bisik Gavriel.


"Lakukan? Apa?" Tanya Zay.


"Seperti maumu..." Kata Gavriel.


"Tapi... Bukankah... Kau mau melakukannya ketika kita sudah menikah..." Kata Zay.


"Aku tidak peduli, sekarang atau nanti, semua nya sama saja, yang jelas, aku mencintaimu, apa permintaanmu tentang kita lakukan sekarang masih berlaku?" Tanya Gavriel.


Zay menelan ludahnya, namun perlahan ia melingkarkan kedua tangannya di leher Gavriel.


"Aku mauu... Tapi... Aku takut." Kata Zay.


"Kita akan melakukannya dengan bertahap dan pelan-pelan." Kata Gavriel.


"Tapi... Bukankah kau harus ke rumahku untuk memeriksa kondisi ayah?" Tanya Zay.


"Itu bisa di pikirkan nanti." Bisik Gavriel mencium telinga Zay.


"Zay... Aku hanya memintamu, untuk melepaskan semuanya, keluarkan semua yang kau rasakan, dan jangan di tahan, ketika kau merasa takut dan teringat lagi masa lalu itu, katakan stop." Pinta Gavriel.


Zay mengangguk pelan.


Kemudian Gavriel turun dan melepaskan celana Zay, dengan menciumi pelan dan menghisap pelan.


Setelah celana terlepas, Gavriel kemudian membuka kemeja Zay dan menangkungkan kedua tangannya di kedua gunung kembar Zay yang lembut.


Gavriel meremassnya pelan, dengan gerakan lembut dan intens.


"Hhhmmmhhh...." Zay menutup matanya dan menggigit bibir, sembari mengeraang manja.


Gavriel lalu menghisap dan mengulumnya, dengan pelan dan lembut, gerakan itu penuh dengan teknik dan tak ingin menyakiti Zay.


Zay tak tahan dengan perlakuan yang lembut itu, Zay mau lebih dan cepat, kemudian Zay mendorong tubuh Gavriel, kini Zay duduk di atas perut kekar Gavriel.


Perlahan jemari lentik Zay membelai dada Gavriel, dan turun sampai di bawah, Zay membuka gasper milik Gavriel dan memgeluarkan sesuatu yang sudah mengeras sempurna.


Benda itu besar, dan memiliki ukiran yang kuat, urat-uratnya sedikit halus namun tetap terlihat indah.


Zay kemudian menciumnya.


Gavriel menutup kedua matanya, semua otot tubuhnya menegang, kakinya pun tegang.


Saat itu Zay hendak memasukkan benda itu ke dalam mulutnya, ujung kepala benda keras milik Gavriel telah menyentuk lidah Zay.


"Zayy... Tunggu... " Pinta Gavriel dan menarik tubuh Zay naik.


"Kau tak seharusnya melakukan itu." Kata Gavriel mengelap bagian mulut Zay yang mungil dengan ujung jempolnya.


"Tapi aku ingin melakukannya." Kata Zay.


Gavriel kemudian menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak untuk saat ini." Gavriel melepaskan pakaiannya, dan kemudian berpindah memegang kedua paha milik Zay untuk di lebarkan.


"Aku ingin ini dulu." Kata Gavriel lalu mencium bagian sensitif milik Zay.


"Oohhh....!" Zay memekik, tubuhnya langsung terdorong ke belakang, Zay menyangga tubuhnya dengan kedua sikunya, dan kepalanya mendongak kebelakang.


Saat itu, Gavriel mulai menghisapnya dan menyedotnya pelan, punggung Zay melengkung tak menempel ranjang, kepalanya mendongak merasakan sensasinya yang sangat kuat membangkitkan gairahnya. Kedua kakinya melingkar kuat di kepala Gavriel.


"Oohhhh.... Hhmmmhh.... Aaahhh...."


Disaat mereka sedang menikmati aktifitas yang saling memberikan kenyamanan dan kenikmatan, sebuah ketukan di pintu mengejutkan Zay. Tubuhnya mendadak bergidik.


"TOK...TOKK...TOKKK....!"


"Gavriel.... Ada yang mengetuk pintu." Kata Zay.


"Biarkan saja." Kata Gavriel memasukkan lidahnya ke dalam bagian sensitif Zay.


"AAAAHHHHH.....!!!" Pekik Zay merasa keenakan.


"Tuan Gavriel, ada tamu, kata pengawal namanya adalah Nyonya Daisy." Teriak sang pelayan.


Sontak kedua mata Zay dan mata Gavriel saling beradu pandang.


Nafas Zay semakin kuat, dada dan jantungnya berdebar dengan sangat kencang.


"Ibu... Kenapa.... Kenapa Ibuku ada di sini?" Bisik Zay pada Gavriel.


Dengan cepat Gavriel memakai pakaiannya, dan Zay juga mengambil pakaiannya sendiri.


Saat itu rambut Zay sangat berantakan, Gavriel membenarkan rambut Zay dengan menyisir menggunakan jemarinya.


"Aku keluar dulu." Kata Gavriel.


Zay mengangguk sembari mengancingkan kemejanya.


Yang di takutkan Gavriel adalah Daisy tidak tahu perjanjian dirinya dengan Ben bahwa, Zay bisa Gavriel miliki jika Gavriel menyerahkan Pasukan Murder pada Zac.


Jika Daisy tahu masalah ini, dia pasti akan mengamuk, Daisy akan menilai bahwa Ben menjual Zay pada Gavriel. Dan sekarang Gavriel sedang memadu kasih bersama Zay.


Gavriel menuruni anak tangga dengan santai, ia sudah melihat Daisy berdiri di dekat sofa besar.


"Kau tidak duduk?" Tanya Gavriel.


Mata mereka saling melihat, meskipun itu sudah sangat lama, Gavriel atau Daisy tak pernah melupakan hari-hari dimana mereka masih muda, ketika itu Gavriel mencintai Daisy, dan Daisy pernah ingin mencium Gavriel saat masa-masa nya yang berat.


"Dimana Zay." Kata Daisy.


"Ada." Jawab Gavriel.


Kemudian Daisy mendekat pada Gavriel.


"Gavriel... Aku akan langsung pada intinya. Aku tahu semua jalan pikiran pria. Aku tidak ingin terlihat terlalu percaya diri tapi, melihat apa yang sudah Carlos lakukan pada Zay karena dia masih mencintaiku, aku takut kau akan menyakiti Zay juga. Apa kau memiliki rencana terhadap Zay? Zay begitu mirip denganku." Kata Daisy langsung pada intinya.


Gavriel menelan ludahnya, jakunnya naik dan turun, ia mencoba untuk tetap terlihat santai, dengan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celannya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2