Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 184


__ADS_3

Pulau Tanpa Nama


Seorang wanita muda dengan wajah yang cantik dan elegan duduk di kursi emas yang mewah sembari memegangi segelas minuman sampanye dengan jemari lentik yang di poles cat berwarna yang indah.


"Jadi... Dimana dia sekarang?" Tanya wanita itu dengan sedikit ketakutan.


"Nyonya Gia, saya mendapatkan laporan dari mata-mata kita, bahwa Nona Gaby sekarang berada di Negara K. Nona Gaby terlihat senang dan bahagia karena bekerja di perusahaan...." Belum sempat meneruskan kalimatnya, Gia memberikan kode tangannya, dan pengawal itu berhenti bicara.


"Jangan katakan apapun pada suamiku, jika dia tahu, pasti dia akan mengamuk. Katakan saja bahwa Gaby sedang berada di luar negeri untuk berlibur." Kata Gia.


Ya, dia adalah Gia, wanita yang pernah menyelamatkan Benjove, wanita yang pernah merawat Benjove dan mencintai Benjove.


Kini, dia berubah menjadi wanita cantik yang elegan.


"Baik Nyonya." Kata pengawal itu mengerti.


Tak berapa lama, pesan masuk melalui ponselnya.


"Nyonya Gia, Tuan Douglas Scoot sebentar lagi akan tiba." Kata pengawal itu.


Gia kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Aku tahu."


Gia berjalan elegan menuju pintu mansion. Sebuah ritual yang harus selalu di jalankan. Suaminya adalah pemilik tahta tertinggi, pria otoriter dengan pedoman bahwa seorang istri harus patuh pada titah dan keputusannya, bahwa seorang istri tak memiliki hak apapun atas suara dan pendapatnya.


Setelah beberapa menit menunggu di pintu depan Mansion bersama dengan para pengawal dan pelayan, akhirnya iring-iringan mobil pun tiba.


Sebuah mobil utama, di buka pintunya oleh seorang pengawal, dan sepatu mengkilap menapak pada lantai mozaik yang di poles dengan mewah untuk menjadi tempat pemberhentian mobil.


Pria jangkung dengan tubuh yang gagah, tak lupa setelan jas mahal dan halus menambah kewibawaannya.


Namun, ada yang membuat Gia selalu bergidik setiap kali melihatnya. Wajahnya memiliki bekas luka yang memanjang dari mata hingga ke pipinya, tepat di sebalah kiri.


Dengan lamban dan senyuman manis, Gia menyapa.


"Suamiku, selamat datang." Kata Gia tersenyum dan menundukkan kepalanya.


"Hmm... Kau menyapaku dengan manis, apakah anakmu melakukan kesalahan lagi." Kata pria itu dengan suara yang dalam dan mengerikan.


Gia menelan ludahnya, sebenarnya jika saja suaminya tak memiliki belas luka pastilah pria itu sudah menjadi pria tertampan, namun luka yang melepuh dan membengkak mengerikan meninggalkan bekas yang begitu menjijikkan.

__ADS_1


"Mana mungkin.... Gaby anak yang baik, dia anakmu juga, bagaimana bisa dia melakukan kesalahan." Kata Gia meremas tangannya.


"Tuan Douglas Scoot... " Seorang pria membisikkan sesuatu di telinga Douglas.


Segera setelah mendengar itu, Douglas pun menatap lurus pada istrinya dengan tatapan yang sangat tajam.


"Gaby membatalkan perjodohan dengan Xuan Yuan?!" Tanya Douglas dengan marah.


Tubuh Gia langsung menegang, wajahnya pucat, dan gemetaran. Kakinya seperti akan ambruk.


Melihat wajah istrinya yang berubah, Douglas pun berjalan melewati istrinya.


"Ikut denganku, atau ku seret masuk." Kata Douglas tenang dengan suara yang tajam.


Pengawal pribadi Gia mengelap keringat yang mengucur di pelipisnya, ia tahu apa yang akan terjadi.


Sedangkan para pelayan tak berani mengangkat kepala mereka, tentu saja mereka tak ingin terlibat.


Douglas sampai di kamarnya dan perlahan melepaskan jas nya.


Pria itu kemudian berbalik dan memandangi jstrinya yang tertunduk dengan was-was.


Douglas mendekat dan menaikkan dagu istrinya dengan cengkraman kuat.


"Gaby... Sudah dewasa dia bukan anak kecil lagi yang bisa di atur, dia memiliki pikiran dan keinginan sendiri." Kata Gia.


"Keinginan sendiri katamu?!" Geram Douglas dan melemparkan istrinya di atas ranjang.


Dengan kasar Douglas melepaskan dasi dan membuka kemejanya, kemudian salah satu lututnya bertumpu di atas ranjang, tangan kanannya yang kekar mencekik istrinya.


"Kau lupa siapa yang memungutmu dan memberikanmu kehidupan seperti sekarang?" Kata Douglas marah.


"Maa.. Maafkan aku... Tapi aku benar-benar tidak dapat membujuknya..."


"Kau tahu aku sudah mengincar keluarga Xuan dari dulu!" Geram Douglas.


"A... Aku tahu..."


"Kau tahu tapi kau bodoh!!" Teriak Douglas.


Gia menahan tangisnya yang kian menyesakkan dadanya, air matanya mengalir dan wajahnya memerah.

__ADS_1


"Kali ini apapun yang aku lakukan pada anakku jangan pernah ikut campur, kau yang meminta akan mengurusnya, tapi kau gagal, sekarang kau tak akan mendapatkan ijin dariku, semuanya akan ku atur." Kata Douglas.


Tangis Gia terisak, dadanya naik dan turun, lehernya mulai terasa sakit, karena Douglas masih mencekiknya.


Dengan satu tangan yang lain, Douglas membuka gasper dan melepaskannya, lalu membuka risleting celananya. Pria itu menelan ludah dengan kasar, urat rahangnya mengencang karena amarah yang memuncak.


"Kau tahu, hukumanmu." Kata Douglas.


Gia menggelengkan kepalanya pelan. Tanda bahwa ia tak bersedia dan memohon.


Dengan kasar Douglas melucuti pakaian istrinya.


"Tidak... Lepaskan... Jangan....!" Teriak Gia.


"Jangan katamu? Kau istriku... Sudah berbulan-bulan aku pergi dalam perjalanan bisnis, kau pasti sangat senang kan dan nyaman aku tak ada di sini, jadi hari ini kau tidak akan bisa keluar dari kamar." Kata Douglas memaksa istrinya.


"Ku mohon, kali ini lakukan dengan lembut, aku sedang tidak bisa, badanku masih terasa sakit."


"Kau berani mengaturku!!!" Teriak Douglas dan menarik lengan istrinya.


Douglas kemudian memutar tubuh istrinya membelakanginya, pria itu memasukkan kannya dengan sekali hentakan yang cukup keras, seketika wajah Douglas di liputi dengan segala kenikmatan luar biasa.


"Kau selalu saja membuatku gila..." kata Douglas.


Gia menggigit bibirnya, dan menangis, Douglas menarik rambut Gia ke belakang, dan membuat kepala Gia menengadah.


Dengan kasar dan hentakan berkali-kali yang keras serta cepat, Douglas membuat dirinya puas, tak ada kelembutan, tak ada rasa kasih sayang.


Douglas adalah pria kasar yang sangat tempramen, semua itu adalah sifat dan kepribadiannya, Douglas Scoot, pria itu adalah pemilik Pulau Tanpa Nama.


Namun sosok yang kasar dan tempramen itu adalah sisi kepribadian lain seorang Douglas.


Pria itu memiliki kepribadian ganda yang di waktu-waktu tertentu akan menjadi seseorang yang berbeda.


Cerita itu di mulai ketika akhirnya Douglas kembali dari pengasingan dirinya yang panjang, pria itu memutuskan untuk kembali ke salah satu pulau miliknya yaitu Pulau Tanpa Nama.


Dan saat itulah Douglas yang sedang berkeliling mengamati kembali setiap wilayahnya yang sudah mangkrak bertahun-tahun, pembangunan yang sudah tak terurus serta wilayah pesisir pantai yang berbatasan dengan Pulai Maladewa. Siang hari di bawah teriknya matahari yang menyengat, Douglas Scoot melihat Gia, gadis kotor yang tertutup debu di seluruh tubuh serta wajahnya.


Gadis yang tak pernah merawat dirinya sendiri, gadis yang sedang merenung kan kisah sedihnya, kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


Saat itu, Gia berjalan menuju pantai, tatapannya kosong dan terus berjalan maju, pikirannya hanya di penuhi Benjove.

__ADS_1


Selepas Benjove pergi, semua mimpi buruk Gia di mulai.


Bersambung


__ADS_2