
Gavriel membenahi peralatannya, Daisy masih duduk diam di samping ranjang.
"Ayo ku bantu berdiri." Kata Gavriel.
Daisy menurut dan duduk kembali di tepi ranjangnya.
"Daisy..."
Kemudian Daisy melihat ke arah Gavriel.
"Aku sudah mengatakannya pada Ben, kau bisa gunakan waktu sendiri mu beberapa hari ini dengan baik. Apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi?"
"Ada beberapa tempat, aku ingin mengunjungi nya sendiri, mungkin aku bisa mendapatkan jawabannya." Kata Daisy.
Gavriel mengangguk.
"Aku akan menemui Ben."
Daisy hanya diam.
Gavriel kemudian pergi menemui Ben dengan agak canggung, ia berharap Ben tak tahu apa yang terjadi pada Daisy dan dirinya.
Ketika Gavriel sudah pergi dari kamar, ponsel Daisy berdering dari nomor tak di kenal.
Awalnya Daisy malas, namun kemudian ia mengangkatnya hanya karena ingin saja.
"Ya."
"Ini dengan Nyonya Daisy." Tanya seorang pria di ujung sana.
"Ya saya."
"Saya Kieth bisakah anda menemui saya nanti malam di kantor polisi? Ini tentang kasus Nona Ansella."
"Saya tidak tahu. Saya tidak bisa janji." Kata Daisy.
"Saya harap anda mau bekerja sama, dan saya akan sangat berterimakasih."
Daisy tak menjawab apapun dan mematikan ponselnya, ia pun berjalan ke kamar mandi dan bersiap, setelah beberapa jam selesai Daisy memakai pakaian dress merah jambu yang membuat tubuhnya tampak seksi, wajahnya juga di poles halus membuatnya semakin terlihat cantik.
Daisy mengambil tas dan mantel ia pun berjalan keluar kamar dan menuju ruangan Ben.
Di sana Gavriel sudah pergi, dan Ben sedang duduk di ruang kerjanya.
Melihat Daisy sudah rapi Ben berdiri dari kursinya dan mendatangi Daisy.
"Kau mau keluar?" Tanya Ben.
"Seperti yang ku katakan sebelumnya."
Ben mengangguk.
"Baiklah, nikmati waktumu sayang."
Daisy sempat ragu namun akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Awalnya Daisy ingin mencium Ben dan memeluknya, namun sepertinya itu tak akan berguna lagi, karena Daisy berfikir Ben sudah tak berselera dan tak tertarik padanya.
Daisy berfikir sia-sia dia tampil cantik di hadapan Ben.
__ADS_1
Daisy pun langsung berbalik dan pergi.
Saat itu Ben merasa sedikit tak nyaman, ia pun memanggil Traver. Tak selang berapa lama Traver datang.
"Utus seseorang mengikuti istriku." Perintah Ben.
"Baik Tuan." Kata Traver.
Namun ketika Traver hendak pergi, Ben menghentikanya.
"Tunggu."
"Ya tuan."
"Biar aku saja." Kata Ben.
Traver dan Ben saling pandang.
"Tapi Tuan, Nyonya Daisy mengatakan jika... Anda harus cuti dan menjaga kembar." Kata Traver.
"Jangan katakan apapun dan jangan sampai Daisy tahu."
"Saya mengerti tuan."
Kemudian Ben mengambil kunci dan keluar mengendarai mobil sport mewahnya.
Pria itu melihat layar mobil yang sudah terkonek dengan ponselnya, Ben memeriksa gps dan memeriksa pelacak yang terpasang di ponsel serta kalung Daisy.
Setelah tahu dimana lokasi nya, Ben menekan gas lebih dalam. Perjalanan tak butuh waktu lama, Ben sudah menemukan Daisy.
Ternyata saat itu Daisy berada di sebuah sungai di dekat batas kota, Daisy berdiri di rerumputan tepat di tepi sungai.
Sedangkan Ben hanya memandang dan memperhatikan melalui mobilnya dari jarak yang cukup jauh.
Daisy berdiri dan angin menerpa wajah serta tubuhnya, sesekali ia berfikir apa yang membuat Ben menghindar darinya. Siapa yang berhasil memikat hati Ben selain dirinya, Daisy juga berfikir kesalahan apa yang telah ia lakukan pada Ben.
Tak berapa lama seorang pria datang menemui Daisy.
Ben yang memperhatikan adegan itu, mencengkram kuat stir kemudinya dengan kesal.
"Apa dia berniat kabur atau selingkuh dariku." Kata Ben.
Daisy kemudian terlihat memberikan segepok uang pada pria itu, dan Ben tahu.
"Apa Daisy di peras." Kata Ben.
Kemudian Ben menghubungi seseorang, itu adalah Traver.
"Ya Tuan?"
"Traver ada sesuatu yang harus kau periksa." Perintah Ben.
"Baik Tuan."
"Aku akan kirim plat mobil dan ciri-ciri orang itu." Perintah Ben.
Kemudian Ben mengambil foto pria yang ada di hadapan Daisy dan juga mobil yang dia pakai, lalu mengirimkannya pada Traver.
Tak butuh waktu lama Traver menghubungi Ben.
__ADS_1
"Apa yang kau dapat."
"Dia adalah detektif swasta Tuan. Setelah saya meretas ponselnya, ada percakapan via teks pesan, seperti nya Nyonya Daisy mencurigai anda...."
"Apa?"
"Nyonya Daisy menyewa detektif swasta itu untuk menyelidiki anda."
"Tapi untuk apa."
"Nyonya mencurigai anda sedang berselingkuh."
"Apa!" Ben sedikit berteriak dan tak percaya Daisy berfikir seperti itu.
"Aku berselingkuh? Dengan siapa!" Tanya Ben pada Traver.
"Saya tidak tahu Tuan dengan siapa anda berselingkuh." Kata Traver.
"Setiap hari aku hanya bersama denganmu, apa dia pikir aku berselingkuh denganmu!" Kata Ben.
"Saya tidak berani berselingkuh dengan anda Tuan Ben, saya masih normal."
"Gila kau. Panggil pengawal dan bereskan detektif itu, sepertinya dia meminta uang cukup banyak dari istriku." Kata Ben kesal dan menutup ponselnya.
Setelah pertemuan Daisy dengan detektif itu, Daisy pun masuk ke dalam mobil nya dan melanjutkan perjalanan.
Hari itu sudah semakin gelap, dan malam telah datang, tak di sangka Ben yang mengikuti Daisy seketika di buat tercengang.
Daisy menuju sebuah bar mini dan sederhana di tengah kota.
"Apa yang akan dia lakukan di sini!" Kata Ben kesal.
Daisy keluar dari mobil, dan seorang petugas parkir masuk ke dalam mobil milik Daisy dan membawanya ke tempat parkir mobil.
Kemudian Ben juga bergegas keluar, pria lain datang dan membawa mobilnya ke tempat parkir pula.
Ben berjalan santai mengikuti Daisy, dan melihat dari kejauhan. Ben mamantau apa yang akan Daisy lakukan.
Saat itu Daisy duduk sendiri dan meminta segelas koktail pada bartender.
Ben pun duduk di pojok belakang memandangi istrinya yang tampil seksi dan sangat cantik.
"Sialan, banyak mata pria melihat istriku. Ingin ku congkel mata mereka." Kata Ben.
Daisy meminum koktail itu dengan sedikit demi sedikit, dan menggerakkan kaki nya yang ada di tumpuan kaki lainnya dengan pelan.
"Lihat, siapa yang mengajarinya minum seperti itu, apa dia diam-diam belajar minum di bar mini mansion, astaga aku harus membuang semua minuman itu." Kata Ben.
Kemudian Ben memperhatikan apa yang akan Daisy lakukan lagi.
Saat itu beberapa pria lewat dan menggoda Daisy.
Ben semakin panas, melihat Daisy diam saja, seolah Daisy memang sengaja duduk di sana agar untuk di goda.
"Apa dia berpenampilan seperti itu hanya untuk memancing pria lain?" Kata Ben.
Pada akhirnya Ben semakin tak kuasa menahan diri, kemarahannya semakin tinggi.
Ben hendak melangkah mendatangi Daisy, namun tiba-tiba ada pria lain yang duduk di sebelah Daisy, membuat Ben mengernyitkan alis dan mengurungkan niatnya, Ben memilih untuk terus memperhatikan lebih dulu apa yang akan mereka lakukan
__ADS_1
"Bukankah, dia adalah kepala polisi itu? Kenapa dia ada di sini, apa mereka ada janji untuk bertemu. Kenapa harus di tempat seperti ini, sialan, lihat saja nanti kalau dia berani menyentuh istriku."
Bersambung