
Halo semua terimakasih untuk kalian semua para pembaca tercintaku yang sudah sangat hebat masih setia sampai di episode ini, karena sebentar lagi Season 2 ini akan selesai.
Maaf yang sebesar-sebesarnya karena update 1 episode saja beberapa hari ini, itu karena saya sedang dalam kondisi dan situasi yang sangat mendesak, salah satu orang terpenting bagi saya sedang ada di rumah sakit dan menjalani perawatan.
Semoga kalian tetap setia di novel ini, sampai Season 2 ini selesai. Terimakasih~
*****
Kakek Tua itu memandangi Ben yang diam terpaku, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya kemudian melunak.
"Anggap saja karena kau mungkin pria baik." Kata Kakek Tua tersebut.
Kemudian sang kakek berdiri dan merogoh kunci di dalam saku celananya.
Kakek tua itu menggembol kunci lusinan yang di jadikan satu dengan lingkaran besi besar, setelah itu sang kakek berjalan pelan seperti kura-kura saking pelannya, ia memimpin Ben untuk masuk ke dalam penginapam tua.
Tangan keriput dan sudah kurus milik kakek tua itu, kemudian membukakan pintu untuk Ben, lalu mempersilahkan Ben masuk.
"Masuklah... Hanya seperti ini keadaannya, semoga kau bisa betah."
Setelah itu sang kakek pergi, Ben pun langsung berbaring di atas kasur yang usang dan sedikit berdebu, ketika Ben membaringkan tubuhnya di atas kasur, hempasan pelan tubuh Ben membuat kepulan debu terbang ke udara.
Ben akhirnya dapat berbaring di atas ranjang, setelah seharian ia berjalan dan berlari sempoyongan tanpa alas kaki.
"Sial....!!! Aku lupa bertanya pada wanita itu apa dia punya ponsel atau alat komunikasi lainnya." Kata Ben.
Ben kemudian meraih kantong plastik hitam miliknya yang berisi semua barang belanjaannya, pertama kali yang di ambil adalah Beb meraih botol Whiskey, sudah bertahun-tahun lamanya Ben berhenti minum apalagi ketika ia sudah bersama Daisy.
Kali ini Ben terpaksa meminumnya lagi karena ia merasa sangat kesakitan, dan hanya itu yang bisa membuatnya merasa lebih baik di bandingkan dengan obat pereda neyeri.
Ben membuka tutup Whiskey dengan susah payah, setelah dapat di buka Ben pun mulai meminum whiskey nya, seteguk demi seteguk, ia kemudian menaruh whiskey itu di lantai yang berdebu di samping ranjangnya, lalu Ben membuka bajunya dan meraih Whiskey itu lagi lalu menyiramkan whiskey itu pada luka nya.
Dengan tangan gemetar ia mengambil obat-obatan di dalam kantung plastik dan membuka beberapa obat luka lalu menempelkan obat pada perutnya, pria itu takut jika terlalu lama didiamkan akan menimbulkan infeksi.
"Aaarghhhh!!! Wuhhh... Wuuhhh...." Ben mendesahhkan berkali-kali mulutnya dan sesekali mengigit gigi nya sendiri hingga bunyi giginya saling bergemeretak.
__ADS_1
Ben menahan teriakannya, suaranya seperti harimau yang menggeram, berkali kali ia mendengus-dengus.
Terlihat berkali-kali pula ia menelan ludah dengan kasar, pelipis dan rahangnya pun mengeras. Otot-otot rahang menguat dan tonjolan uratnya pun terlihat.
Ben kemudian berbaring lagi, sambil meminum whiskey nya lagi dan lagi, nafasnya masih tersengol-sengol, dadanya naik dan turun. Keringatnya keluar sebulir-bulir jagung dan kemudian membuatnya basah kuyup.
Tubuh kekar itu terlihat kotor dan sangat berkeringat.
"Luka yang cukup dalam aku harus segera menjahitnya, jika tidak darahnya tidak akan berhenti, ini juga bisa menimbulkan infeksi, apalagi di sini begitu kotor dan berdebu. Haaahh... Sialan seharusnya tadi aku bertanya pada wanita itu tentang ponsel lebih dulu dan bisa menghubungi Rudolf ataupun Carlos. Sialan!!" Geram Ben dengan emosi.
Ben menuangkan kantong plastik dengan kasar dan semua alat-alatnya berhamburan, Ben meraih alat-alat yang telah ia beli di minimarket.
Dengan gemetar dan cukup lemah, tangan Ben terulur lagi untuk mengambil kain yang ia beli juga di minimarket.
Ben menggulungnya menjadi sebuah gumpalan seperti buntalan bola dan menggigitnya agar ia tidak berteriak.
Dengan tangan gemetar dan penuh kesakitan, belum lagi tubuh nya sudah lengket karena keringat, Ben siap untuk menjahit lukanya sendiri, sayang nya ia juga harus mengambil peluru yang ada di dalam perutnya.
"Sial, apa aku bisa." Kata Ben dengan kalimat rancau karena mulutnya menggigit buntalan kain.
Kemudian Ben mengambil Desinfektan dan menuangkannya pada belati miliknya, di susul dengan peralatan lainnya, Ben mengucurkan desinfektan pada alat-alat nya yang akan ia gunakan untuk menjahit.
Dengan gerakan tak teratur, Ben mengambil loyang bedah dan menaruh alatnya di sana semuanya di lakukan Ben dengan masih berbaring, kemudian ia menyiramnya lagi dengan Desinfektan hingga peralatan bedah itu tenggelam.
Ben menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya hingga pipinya sedikit mengembung, tangannya yang gemetar dan tubuhnya yang kian menggigil karena tembakan peluru dan itu membuatnya semakin pucat serta kedinginan, semua itu di sebabkan darah yang cukup banyak sudah keluar.
"Tok...Tok...Tok...!!" Terdengar pintu di ketuk.
Ben melihat ke arah pintu dan hanya diam, ia memegang belatinya dengan erat, Ben siaga karena ia pikir itu adalah musuh.
"Maaf... Ini aku... Yang tadi di minimarket, aku membawa sesuatu, mungkin kau membutuhkannya." Kata wanita itu.
Suara wanita yang Ben kenal, dia adalah kasir minimarket.
"Masuk." Kata Ben dengan suara yang serak.
__ADS_1
Wanita itu masuk dan melihat kondisi Ben, seketika wajahnya langsung kaku, pucat dan syock, ia langsung menutup mulutnya, kantung-kantung darah yang ia bawa terjatuh di lantai yang berdebu.
Ben melihat itu.
Wanita kasir itu pun langsung berjongkok memungutnya dan menutup pintu takut seseorang akan melihat kondisi pria yang kini ada di hadapannya terbaring cukup lemah, dengan ketakutan wanita itu perlahan duduk di samping Ben yang berbaring.
"Di klinik masih ada darah, apakah darah ini akan cocok untukmu? Aku melihat tetesan darah di minimarket, aku pikir kau terluka. Aku membersihkan minimarket dan saat aku ke ruangan klinik aku melihat ini, tanpa berpikir apakah ini cocok untukmu atau tidak aku asal membawanya saja." Kata wanita kasir itu mengangkat kantong darahnya
"Kau lihat dulu kantongnya, darah itu memiliki golongan, kau bisa baca?"
Wanita kasir langsung menganggukkan kepala.
"Apakah ini." Wanita itu menunjukkan huruf besar tertulis di kantong darah.
"Haaha... Aku beruntung sekali, itu AB. Kau membawa alat lainnya?" Tanya Ben sembari tertawa lemah dan wajahnya pucat.
"Jika maksudmu adalah alat infus aku membawanya, aku membawa semuanya yang sekira di perlukan." Wanita kasir itu bangkit dari ranjang dan pergi keluar membuka pintu.
Dengan tergopoh si wanita kasir menyeret kotak kontener berwarna putih, sedikit demi sedikit, hingga bunyinya cukup membuat tidak nyaman di telinga, di dalam kontener tersebut berisi infus, dan alat-alatnya.
Ben tertawa kecil, sangat kecil.
"Ku harap belum kadaluwarsa." Kata Ben lemah.
"Tenang saja klinik di tinggalkan baru kemarin, karena tidak laku, dan barang-barang, serta obat-obatan belum di bereskan karena mungkin mereka malas. Kau tahu butuh banyak waktu untuk bolak balik dari sini dan kota."
Ben kemudian meneguk Whiskey nya lagi.
"Apa yang harus ku lakukan?" Tanya Wanita kasir itu.
"Kau mau?" Tanya Ben, wajahnya kian pucat.
"Tentu." Kata wanita kasir dengan mantap.
Bersambung
__ADS_1