Tahanan Ranjang Sang Mafia

Tahanan Ranjang Sang Mafia
EPISODE 117


__ADS_3

Pagi hari yang malas bagi Daisy, matahari telah menyingsing tinggi, namun ia hanya menggeliatkan tubuh dan merubah posisi tidurnya.


Beberapa pelayan mengetuk pintunya, dan Daisy tak menjawab, Mena yang akan masuk pun tak bisa karena Daisy mengunci diri di dalam kamar.


Hingga akhirnya, karena khawatir Mena menghubungi Traver dan mengatakan ada sesuatu yang aneh pada Nyonya Daisy.


Pagi itu, Daisy ingat, Ben masuk ke dalam kamarnya, ia tahu Ben bersiap untuk pergi bekerja, Daisy hanya pura-pura tidur dengan posisi tubuh yang hanya memakai pakaian tidur tipis dan seksi tanpa selimut, ia berharap akan menimbulkan sesuatu yang membuat Ben menyentuhnya.


Namun, pada akhirnya Ben tetap keluar bekerja sangat pagi, seperti biasa sebelum Daisy bangun, namun kini Daisy tahu, apa maksud Ben selalu berangkat lebih pagi.


Ben menghindarinya. Selama 3 tahun ini Daisy merasa bodoh karena terlalu percaya dengan Ben, namun sekarang Daisy merasa benci dan kesal.


Meskipun setiap pagi saat Daisy masih tidur, Ben selalu diam-diam mencium mesra Daisy, dan pergi, namun kali ini Daisy tak tahan lagi, ia tak ingin di perlakukan seperti boneka bodoh. Awalnya Daisy maklum karena mungkin Ben banyak pekerjaan dan sangat sibuk, karena Daisy tahu Ben bekerja keras untuk dirinya dan anak-anaknya. Namun, Daisy sudah tidak bisa bersabar lagi.


Pada akhirnya di kantor Traver pun mengatakan pada Ben jika Daisy mengunci diri di dalam kamarnya.


"Apa istriku sakit?" Tanya Ben khawatir saat itu ia sedang melakukan rapat bersama pimpinan-pimpinan perusahaan luar negeri karena mereka akan membuat proyek besar.


"Nyonya Daisy masih mengunci diri di dalam kamar Tuan. Tidak ada yang berani membukanya, karena..." Kalimat Traver terhenti tidak bisa melanjutkan.


Ben mengerti kemudian dengan menggunakan bahasa asing Ben mengatakan pada para pimpinan-pimpinan perusahaan untuk menunda rapat mereka.


Saat berada di basemant, Traver melanjutkan kalimatnya yang tertahan.


"Saat Mena dan yang lainnya ingin membuka pintu dengan kunci serep, Nyonya Daisy mengatakan akan memecat mereka semua jika lancang dan berani masuk."


Traver dan Ben berjalan dengan langkah panjang.


Setelah itu, Ben serta Traver pulang menuju mansion, Traver melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di mansion, Ben langsung menuju kamar nya, di sana ternyata Daisy sudah mau membuka pintu dan sedang makan bersama anak-anaknya.


Zac dan Zay yang sangat aktif saling melemparkan makanan sambil tertawa satu sama lain, namun Daisy tak bergeming, dia hanya diam tak melarang, hingga para pelayan kesusahan membereskan semua makanan yang bercecer.


"Zac Zay. Jangan membuang-buang makanan, di luar sana banyak yang tak seberuntung kalian, mereka tak bisa makan seperti kalian." Akhirnya Daisy membuka suara namun tatapan Daisy masih seperti manusia tanpa nyawa.


Ben mendekat dan memijat kedua bahu Daisy dengan lembut.


Daisy terkejut dan langsung menengok.


"Aku tidak dengar kau pulang." Kata Daisy dingin.


Ben melihat wajah pucat Daisy, mata yang sembab dan juga Daisy nampak sedih.


"Katanya kau sakit." Kata Ben.

__ADS_1


"Tidak." Jawab Daisy.


"Bawa Zac dan Zay keluar." Perintah Ben pada para pelayan.


"Ya yah... Ay... Ayahh...!" Zay melihat ayahnya dan ingin meminta gendong.


"Baiklah, sebentar saja ya, karena ayah ingin bicara dengan ibu kalian." Kata Ben tersenyum dan menggendong Zay.


Ternyata Zac juga mau meminta gendong dengan mengulurkan kedua tangannya.


"Ya yahh... Ayah...!" Kata Zac.


Ben akhirnya menggendong mereka berdua dan menciumnya.


"Pergi bersama Nanny kalian ya..." Kata Ben lembut pada anak-anaknya.


Setelah kepergian anak serta para pelayan, Ben duduk di depan Daisy dan menggengam kedua tangan Daisy.


"Apa ada masalah?" Tanya Ben.


Daisy melihat Ben, mata sebelahnya berkedut, ia merasa kesal bagaimana bisa Ben bertanya seperti itu.


"Apakah dia merasa rumah tangga nya baik-baik saja?" Cerca Daisy dalam hati.


"Apa dia tak sadar bahwa aku juga memerlukan kesenangan batin dan kenikmatan batin, bukan hanya lahiriah saja, untuk apa semua kemewahan ini namun aku kesepian." Kata Daisy dalam hati.


"Apa menurutmu tidak ada masalah, jika aku tak melakukan sekss denganmu."


Batin Daisy berkecamuk, pikirannya ingin sekali melontarkan kalimat itu pada Ben.


Namun, Daisy malu!


"Apa aku harus mengatakan padamu, dan mengemis bahwa aku butuh sekss denganmu, aku sudah berulang kali menyentuhmu agar kau terprovokasi nyatanya kau selalu menolak dengan berbagai dalih dan alasan. Apa menurutmu aku harus mengatakan itu padamu! Apa menurutmu aku tidak malu untuk mengatakan itu! Persetan dengan mu Ben!" Lagi-lagi Daisy mencerca Ben di dalam hatinya tanpa bisa mengatakannya.


"Tidak! Aku hanya seperti sedang merasa kehilangan diriku sendiri. Aku sedang tidak mood." Kata Daisy.


"Kenapa?"


"Entahlah, aku seperti terjebak di dalam keadaan monoton yang setiap hari ku jalani, aku bingung." Kata Daisy.


"Apa kau sakit sayang?" Ben menyentuh dahi Daisy.


"Bukan di situ sakitnya Ben, tapi hatiku yang sakit, hatiku sakit dengan semua pengabaianmu, dengan semua tingkah dan sifatmu yang telah banyak berubah." Batin Daisy menatap mata Ben dalam-dalam.


"Tidak, aku tidak sakit, aku hanya ingin kembali menjadi Daisy yang dulu, aku ingin bebas." Kata Daisy.

__ADS_1


Wajah Ben nampak tegang, semburat kecemasan dan kekhawatiran kembali muncul di wajahnya.


"Apa karena anak-anak membuatmu lelah?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu... Anak-anak memberikan ku kebahagiaan, mereka memberikanku tawa, mereka kehidupanku, tapi aku tidak tahu apa yang masih merasa kosong dalam diriku, akhir-akhir ini aku mengingat masa-masa mudaku yang bebas, aku ingin bersenang-senang seperti dulu lagi." Kata Daisy.


Ben mengangguk dia mencoba mengerti.


"Kau ingin kita jalan-jalan?" Tanya Ben.


"Tidak. Aku ingin jalan-jalan sendirian, aku ingin menikmati beberapa waktuku sendirian, dan kau bertugas mengurus anak-anak saat aku tal ada." Kata Daisy.


"Aku sudah malas mencoba Ben, maaf, aku sedang tidak ingin bersamamu, aku lelah memprovokasimu, tapi pada akhirnya kau selalu menolakku." Batin Daisy.


"Tapi ada para pelayan dan Nanny. Aku akan menjaga anak-anak setelah pulang dari kerja."


"Mereka berbeda, Nanny dan pelayan bukan orang tua anak-anak. Zac dan Zay butuh peran aktif salah satu orang tuanya yang setiap hari ada untuk mereka, aku ingin kau berada di samping anak-anak dan cuti untuk beberapa hari saat aku tak ada di sini. Seperti apa yang setiap hari ku lakukan." Kata Daisy.


"Kau akan pergi jauh?"


"Tidak aku hanya akan menikmati sebentar hari-hariku, mungkin mengunjungi tempat-tempat yang ingin ku kunjungi." Kata Daisy.


Ben mangangguk pelan.


"Aku akan pikirkan itu, namun sebelum itu, aku akan memanggil dokter." Kata Ben.


"Aku tidak sakit Ben."


"Aku akan mengijinkan permintaanmu tadi, tapi kau harus di periksa dulu." Perintah Ben tegas.


Daisy menghela nafas dan diam. Tentu saja bukan itu masalahnya, Ben mengira Daisy sakit.


Daisy malu mengatakan pada Ben jika sebenarnya ia butuh Ben, Ben yang seperti dulu, Ben yang kuat, Ben yang tanpa ampun dengan segala sifat posesif dan obsesinya. Ben yang paranoid dan mudah cemburu serta begitu manja.


Daisy ingin mengatakan pada Ben bahwa, sekss yang Ben berikan adalah yang terbaik, namun Daisy tak mampu, tentu saja karena dia wanita dan dia malu mengakui itu. Dia akan membungkam mulutnya sampai akhir dan tak akan mengatakannya.


Apalagi, Daisy akan sangat malu jika Ben tahu, dirinya memuaskan diri dengan menyentuh tubuhnya sendiri.


Melihat Daisy diam, Ben tahu artinya Daisy setuju, kemudian Ben keluar memanggil Traver.


"Hubungi Gavriel." Kata Ben.


"Baik Tuan."


Pada akhirnya Ben harus menghubungi Gavriel, pada akhirnya dia butuh Gavriel dan mengakui hanya Gavriel yang pasti dapat membantu. Ben membuat amarah dan kesalnya pada Gavriel.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2