
Di apartmen Zac, malam itu Zac dan Gaby duduk berhadapan, mereka akan membicarakan sesuatu yang penting. Apalagi jika bukan tentang Zac yang menagalami Impottenn sejal dulu.
Zac telah memutuskan bahwa ia akan memberitahukan kebenarannya pada Gaby, malam itu Zac sedang memiliki perasaan yang baik.
Zac percaya Gaby tidak akan membocorkan kelemahanya itu kepada siapapun, dan Zac juga telah memutuskan jika ia akan menjadikan Gaby seseorang yang paling dekat baginya.
Saat itu pria yang biasanya dingin dan acuh terhadap Gaby, mendadak menjadi lebih hangat dan lembut.
"Jadi, aku akan mengatakan sesuatu, tapi aku minta kau akan menutup mulut, dan kau bersedia membantuku." Kata Zac.
"Ya Tuan, apa itu Tuan Muda, saya siap mendengar." Suara Gaby halus dan polos.
"Sebenarnya..."
"Tok... Tok... Tok...!!" Terdengar suara ketukan pintu.
"Siapa yang menganggu." Kata Zac malas.
Zac pun berdiri dan membuka pintu.
"Ada apa Traver? Kau tidak tahu sekarang pukul berapa. Kenapa masih menggedor pintu apartmenku, ini malam sabtu, kau seharusnya menggedor kamar pacarmu." Kata Zac.
"Tuan maaf, Tuan Ben menghubungi, jika sepertinya ada sesuatu yang penting, saya harus menemui Tuan Ben, jadi Casey yang akan berjaga di sini." Kata Traver.
"Ayahku? Kenapa tiba-tiba." Kata Zac.
"Saya belum bisa memastikan tentang apa itu Tuan."
"Baiklah tak masalah. Pergilah." Kata Zac.
"Saya akan pergi saat Casey sudah tiba, saya harus memastikan bahwa Casey sudah menjaga anda, itu pesan dari Tuan Ben." Kata Traver.
"Ya terserah kau saja." Kata Zac kemudian masuk.
Namun, di sisi lain, saat Zac sedang mengobrol dengan Traver, pesan masuk di ponsel Gaby.
"Nona Gaby, mohon untuk pulang, karena Tuan Besar sudah tahu, anda membatalkan pertunangan dengan Tuan Xuan Yuan, dan sekarang Nyonya sedang mendapat masalah."
Pesan singkat itu seketika membuat Gaby bergidik, ia cemas dan khawatir akan ibunya, karena ibunya tak dapat dan tak berani membangkang terhadap ayahnya.
Semua keputusan sang ayah adalah mutlak, dan Gaby ini adalah pertama kalinya Gaby membangkang serta tidak menuruti apa yang di katakan sang ayah, dia tahu bagaimana ayahnya jika sudah marah, namun ia juga tak mau di jodohkan dengan pria yang tak ia cintai.
Zac kemudian duduk kembali di kursinya.
"Kita lanjutkan." Kata Zac bersemangat.
Zac berharap Gaby dapat menyembuhkannya, Zac memiliki keinginan dia bisa merasakan surga dunia yang penuh kenikmatan, tidak lagi seperti mayat hidup yang hanya sekedar menjalani hari demi hari.
Zac berharap, Gaby adalah obat yang Tuhan kirimkan padanya.
__ADS_1
"Tuan Zac... Saya minta maaf, tapi sepertinya saya harus pulang dulu, ibu saya sakit." Kata Gaby mencari alasan.
Zac seketika terdiam, seulas senyuman yang sepanjang jam merekah tiba-tiba menghilang dan lenyap.
Seandainya saja alasan yang di berikan Gaby bukan ibunya yang sakit, Zac sudah pasti tidak akan mengijinkannya pergi.
Namun, Zac yang juga sangat menyayanginya ibunya dan ingin berbakti pada samg ibu, merasa seolah memahami kekhawatiran Gaby, sehingga ia memberikannya izin untuk kembali.
"Pergilah, rawat ibumu." Kata Zac dengan tenang, kemudian ia berdiri dan beranjak pergi ke kamarnya.
Gaby tahu perubahan sikap dan wajah Zac, namun ia juga tak punya pilihan, karena Gaby mengkhawatirkan keadaan ibunya.
Saat itu Gaby masih duduk termenung dan melihat pesan di ponselnya yang ada di hadapannya, meja itu masih menyisakan kenangan dingin ketika Zac akan memulai percakapannya.
2 teh hangat milik masing-masing telah dingin tanpa di cicipi.
Gaby tahu, sekali dia pulang dan masukmke rumah itu, ia tak akan pernah mudah bisa untuk keluar lagi.
*****
Di tempat lain, Traver masih menunggu Casey, beberapa jam sudah berlalu, karena di rasa Casey belum sampai Traver pergi ke kamarnya lebih dulu untuk bersiap-siap membereskan barangnya, dan para pengawal siaga lebih ketat di luar sana.
Ketika itu, Traver fokus melipat bajunya namun tiba-tiba Traver mengeluarkan pistolnya dan berbalik, kemudian memiting seseorang yamg ada di belakangnya.
"BRRUKKK!!!" Traver membantingnya di atas ranjang dengan memiting kedua tangannya ke belakang, sebelah tangannya memegangi pistol.
"Kau rupanya." Kata Traver.
"Tanganku sakit." Kata Casey.
Kemudian Traver melepaskan tangan Casey, dan Casey berbalik menjadi berbarinh di atas ranjang.
Saat itu Traver masih bertumpu dengan kedua lututnya di atas ranjang dan memasukkan kembali pistolnya.
"Apakah ada masalah serius? Ku dengan Mena juga di tarik kemari untuk menjaga Nyonya Daisy."
"Entahlah aku belum tahu ada apa sebenarnya." Kata Traver hendak pergi.
Namun, tangan Casey dengan cepat menahan pergelangan tangan Traver.
"Begitu saja?" Tanya Casey.
Alis Traver naik dengan maksud ia tak mengerti.
"Kita sudah lama tak bertemu, aku melakukan banyak perjalanan bisnis ke luar negeri bersama tuan Derreck, pekerjaanku menjadikanku jarang pulang dan jarang bertemu denganmu, kau tak merindukanku? Apakah benar-benar kau hanya menganggurkan diriku? Tak mau bercumb... "
Belum sempat Casey melanjutkan kalimatnya, Traver langsung melumatt bibir Casey, kedua bibir mereka saling berpagutt dan melepas rindu.
Beberapa menit berlangsing, kini kedua tangan kekar Traver pun menjerat tangan Casey ke atas dan memegangnya, Traver kemudian melepaskan dasinya dengan satu tangan, lalu mengikat kedua tangan Casey menggunakan dasi.
__ADS_1
Dengan cepat Traver membuka risleting dan mengambil sebuah pengaman, Kemudian ia memasangnya, dengan satu kali tarikan seluruh pakaian Casey telah di lucutii.
Dengan perlahan Traver mengarahkan miliknya pada milik Casey.
"Tokk... Tokk... Tookkk...!!!"
Namun sebelum Traver memasukkannya, sebuah ketukan terdengar. Pria itu menutup mata sejenak untuk menenangkan dirinya dan juga benda miliknya yang gagal di manjakan.
"Tuan Traver."
Itu adalah Gaby.
Traver bangkit dari ranjangnya dan menyelimuti Casey, lalu Traver turun dari ranjang, dengan cepat Traver memakai pakaiannya meski tidak begitu rapi.
Perlahan Traver membuka pintunya.
"Ya Nona Gaby." Kata Traver yang membuka pintunya sedikit.
"Bisakah... Bisakah anda mengantarkan saya ke Pulau Tanpa Nama." Tanya Gaby tergagap da takut.
"Kenapa?" Tanya Traver.
"Ibu saya.... Dia sedang sakit dan saya harus pulang untuk merawatnya."
"Kapan anda ingin berangkat."
"Jika boleh dan jika bisa, bagaimana jika malam ini."
Traver melirik ke belakang sedikit, ia melihat Casey yang masih tenggelam di balik selimut.
"Bisa berikan saya waktu 1 jam saja? "
"Baiklah Tuan Traver, mohon bantuannya saya juga harus segera berkemas."
Gaby pun undur diri.
Sedangkan Traver seketika langsung membuka selimut yang menutupi Casey.
"WUUSSHHH!!!" Selimut terlempar jauh ke lantai.
Casey terlihat terkejut dan kedua matanya membulat.
Traver pun langsung mengambil pengaman lagi dan memasangnya kembali, kemudian ia melepaskan ikatan kedua tangan Casey, dengan satu kali sentak, miliknya masuk dengan dalam.
Casey menggeliat, ia merasaka kenikmatan itu langsung menjalar di sekutur sel syaraf nya.
Dengan perlahan dan penuh kelembutan, Traver mendorong dengan berirama. Hingga beberapa menit berlalu, bulir-bulir keringat mulai berjatuhan dan mengalir di tubuh mereka.
Bersambung
__ADS_1