
Ingatan Ben kembali pada saat Daisy melahirkan, itu adalah hari-hari mencekam untuk Ben, bahkan melebihi rasa sakit yang paling sakit yang pernah ia rasakan.
Trauma yang melebihi trauma yang pernah ia rasakan.
Malam itu begitu menyiksa bagi Ben, belum usai penderitaan Ben yang menyaksikan Daisy selama 9 bulan tak bisa tidur nyenyak, perutnya membesar dan membuncit, hingga kaki Daisy semakin membengkak, Ben hafus melewati malam-malam panjang Daisy tersiksa dengan kontraksi.
Ben tak menghiraukan seberapa besar perubahan fisik Daisy, meski apapun yang terjadi pada fisik Daisy, yang ia khawatirkan adalah keadaan Daisy.
Meskipun Daisy selalu tersenyum dan menenangkan Ben, serta mengatakan pada Ben bahwa dia baik-baik saja namun Ben tetap tak bisa menerima itu.
Ben selalu khawatir dan bahkan tak bisa tidur dengan tenang.
Pertama, Ben belum juga merasakan kelegaan atas kesalahan yang di timbulkannya pada kehamilan awal Daisy, menyebabkan Daisy hampir kehilangan anak dan tentunya membuat kondisi Daisy juga tidak baik.
Kedua, Ben selalu merasa bersalah jika ia meminta berhubungan dengan Daisy dalam kondisi perut Daisy yang membuncit, Ben merasa tak tega dan kasihan pada Daisy.
Ketiga, Ben merasakan tekanan mental yang luar biasa ketika melihat Daisy dengan wajah murung memandangi dirinya di depan cermin dengan menyentuh Stretch mark yang ada di perut bulatnya.
Diam-diam Ben tahu dan memperhatikan, meski Daisy tak mengatakannya, Daisy merasa kan sensitif dengan perubahan tubuhnya sendiri.
Keempat, Daisy mengalami persalinan yang luar biasa lama, hingga beberapa kali cairan di suntikkan ke dalam jalan infusnya dan membuatnya merintih kesakitan, saat itulah Ben yang merasa di atas awan bisa melakukan apapun dengan kekuatan mafianya, pria yang merasa tangguh dan bisa mengendalikan apapun, tak bisa berbuat apa-apa di sisi Daisy.
Ben hanya bisa melihat Daisy merasakan kesakitan dengan seluruh tubuhnya yang dia bilang seperti sedang di remukkan. Ben melihat bagaimana Daisy menangis dan ia tak bisa menenangkan Daisy.
Belum lagi Ben melihat, bagaimana perjuangan Daisy untuk melahirkan anaknya dimana jalan keluar area sensitif Daisy harus di gunting dan darah ada dimana-mana.
Saat itu Ben yang berjalan menelusuri lorong, tiba-tiba saja mendadak kepalanya begitu pusing dan terhuyung hingga memegangi dinding mansion, semua itu akibat kenangan-kenangan itu.
"Tuan... " Para pelayan di belakangnya bergegas ingin menolong namun Ben memberikan kode dirinya tak apa-apa.
Namun, itu kebohongan belaka, karena butir-butir keringat yang sebesar jagung sudah membasahi dahinya.
Ben adalah pria psycho, dia bahkan tega membantai musuhnya yang sudah mati hingga mencincangnya rata, Ben tak memiliki belas kasihan sedikitpun, namun ketika melihat proses persalinan istrinya, di gunting, di tekan, Daisy mengejan, darah ada dimana-mana seketika membuat siksaan tersendiri bagi Ben.
Ben kembali melangkah, namun baru beberapa langkah melewati pintu kamar anak-anaknya yang di hiasi dengan beberapa benda lucu menggemaskan di tempel di pintu, seketika Ben melihat kenangan indah begitu beruntun menyerang syaraf otaknya.
__ADS_1
Lucu, menggemaskan, kenakalan anak-anaknya yang berusia 3 tahun selalu membuatnya tertawa terbahak-bahak, hingga rasa khawatir ketika anak-anaknya di suntik, atau pun rasa marah ketika seseorang tak sengaja membuat kesalahan yang membuat anaknya menangis, semua ingatan manis itu menusuk di relung hati Ben.
Pria itu pun tiba-tiba berhenti, rahangnya mengerat dan berbalik ke arah pelayan yang berada 100 meter darinya di belakang.
Ben berjalan mantap, dan mengambil obat tersebut, seketika Ben melempar obat itu ke dinding.
"PYAARRR!!!"
Obat itu pecah berkeping-keping.
Sesaat, Ben ingin sekali Daisy dapat memberikannya anak lagi, dan sesaat itu juga seolah trauma itu menghilang.
Namun, beberapa detik dan menit kemudian Ben sadar lalu di liputi rasa kebimbangan, ingatan kembali ke masa lalu pasca persalinan Daisy, kalimat dokter itu merongrong kembali hatinya yang kian kisut karena ketakutan.
"Tuan Ben, Nona Daisy tidak bisa hamil lagi, karena kehamilan kembar ini sepertinya membuat komplikasi kesehatan Nona Daisy. Meskipun setelah ini Nona Daisy tidak merasakan gejalanya namun, jika tetap memaksa hamil, kondisi itu akan jauh lebih buruk."
"Seberapa buruk?" Tanya Ben, saat itu wajahnya pucat dan seperti hendak pingsan.
"Jika tetap memaksa, hanya salah satu yang bisa di selamatkan, atau keduanya tak bisa untuk di selamatkan. Jadi, saya hanya bisa memberikan anda informasi ini."
Di sisi lain Ben tahu Daisy akan marah ketika pelayan itu membawakannya obat seperti itu lagi seperti dulu. Ben tahu Daisy sangat membenci obat itu, apalagi jika pelayan yang memberikannya.
"Ambilkan aku yang baru dan bawa ke kamar."
Ben memutuskan harus menyelesaikan masalah ini agar tak menumpuk.
Namun, selain itu, alasan Ben tak menyentuhnya juga karena, Daisy mengatakan pada Ben bahwa otak Ben hanya di penuhi ranjang dan Sekss, kalimat itu selalu terngiang di benak dan hati Ben.
Daisy membenci nya dan ingin kabur darinya karena Ben sadar, sekss nya selalu berlebihan padanya, namun ia juga tak bisa mengontrol dirinya ketika ada di dekat Daisy, hanya Daisy yang bisa membuatnya seperti itu.
Hanya Daisy yang bisa membangkitkan semangat nya ketika berhubungan, dan hanya dengan Daisy pula Ben dapat berhubungan badan, hingga membuahkan 2 anak-anak yang lucu dan menggemaskan.
Ben berjalan pelan menuju kamar, dan ia masuk dengan perlahan, namun ternyata Daisy sudah membuka mata.
Ben bergegas masuk dan melihat kondisi istrinya yang kacau.
__ADS_1
Tubuh Daisy memiliki bekas merah di semua tempat, wajah Daisy pucat dan kelelahan, bahkan tenaganya habis, kakinya pun lemas tak bisa di rasakan.
Namun, penampilan yang seperti itu justru membuat Ben kembali terangsangg.
"Sayang... Kau sudah bangun." Kata Ben bergegas duduk di tepi ranjang dan menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya, ia berusaha sekuat mungkin menahannya kembali.
Daisy mengangguk pelan.
"Apa yang kau butuhkan, aku akan sediakan." Kata Ben lembut.
"Tidak ada, aku hanya ingin mandi." Kata Ben.
"Aku akan membantumu mandi, ayo mandi bersama." Ajak Ben.
Ben menyiapkan bak mandi dengan air hangat lebih dulu dengan busa yang wangi.
Setelah selesai, Ben kembali ke kamar dan menggendong Daisy dengan hati-hati, saat itu tubuh Daisy masih telanjang.
Ben kemudian menaruh Daisy di bathup dengan hati-hati, Ben juga melepaskan pakaiannya, lalu ikut bergabung duduk di belakang Daisy.
Mereka akhirnya menyatu di dalam bak mandi berwarna putih, Daisy menyandarkan tubuh nya di tubuh dan dada suaminya yang besar dan kekar, sedangkan Ben dengan lembut menyapukan busa-busa di bahu dan kulit Daisy.
"Maaf, kau pasti sangat membenciku." Kata Ben.
"Hm?" Daisy bertanya.
"Kau tidak suka jika aku memiliki pikiran dan otak yang selalu di penuhi sekss jika dengan mu. Kau kabur juga karena itu, aku menahannya begitu lama, aku ingin menjadi seperti apa yang kau inginkan, sosok pria yang kau idamkan, agar kau tidak lagi kabur dariku, agar kau nyaman dan bahagia di sisiku, meski rasanya aku hampir mati menahan siksaan tak pernah berhubungan badan denganmu. Aku tak bisa bernafas, malam ku begitu panjang jika aku tidur di sampingmu dan kali ini aku telah mengecewakanmu lagi Daisy, istriku, sayang. Mau kah kau memaafkanku? Aku terlalu cemburu dan tersulut emosi ketika kau..."
Belum sempat Ben melanjutkan kalimatnya, Daisy menarik leher belakang Ben dan membuat Ben menunduk, kemudian Daisy mencium Ben dengan melumattnya pelan dan dalam.
"Aku senang kau kembali menjadi dirimu yang dulu." Kata Daisy.
"Apa?" Ben terkejut, bola matanya membulat, dia menelan ludahnya yang kering membuat jakunnya naik dan turun.
Bersambung
__ADS_1