
Daisy berjalan di samping Ben, dan di belakang mereka ada Traver serta para pengawal.
Setiap berpapasan dengan karyawan, atau pegawai, para pegawai itu menunduk hormat dan memberikan salam pada Daisy serta Ben.
Daisy tersenyum ramah dan membalas sapaan mereka. Namun Ben, pria itu, benar-benar lebih dingin dari kutub di musim beku.
Saat memasuki ruangan lift, para pengawal tetap berdiri di luar, sedangkan Traver ikut masuk dan naik.
"Kau seharusnya lebih ramah dengan mereka. Lihat mereka semua takut pada boss nya sendiri." Kata Daisy.
"Untuk apa ramah pada semua orang." Kata Ben.
"Ya karena mereka memperlakukanmu dengan baik dan hormat, kau harus membalas mereka dengan ramah juga."
"Itu karena wajahku tampan, banyak uang, dan boss mereka, coba saja jika aku bukan orang kaya. Miskin. Wajahku jelek."
"Terserah kau saja lah." Kata Daisy marah.
"Sayang kau marah?"
"Karena setiap saran dan kata-kataku seperti angin lalu." Kata Daisy melepaskan tangannya dari genggaman Ben, dan menyedekapkan tangannya.
"Sayang... Jangan marah, apa kau mau jalan-jalan besok?" Tanya Ben.
"Tidak minat sama orang kaku yang beku."
Ben tertawa mendengar istrinya mengatainya kaku dan beku.
Saat itu juga pintu lift terbuka, para karyawan melihat bagaimana Ben tertawa di hadapan mereka.
Melihat para pegawainya melihatnya, tawa Ben dengan cepat menghilang.
"Sayangg... Jangan marahh... Maafkan aku sayangg.." Rayu Ben.
Namun, Daisy diam dan tak menggubris Ben yang mengekor di belakangnya.
Para karyawan dan pegawai saling pandang dan secara berbarengan mengucek mata serta menggaruk-garuk telinga.
"Apa mataku rusak? Tuan Ben tertawa terbahak-bahak..." Kata salah satu pegawai.
"Tunggu, apa tadi Tuan meminta maaf dengan wajah sedih dan mengiba? Seperti putus asa? Apa tadi itu benar-benar Tuan Ben?" Tanya pegawai lainnya.
Mereka sontak langsung tercengang, berbarengan.
"Aku hampir pingsan, saat melihat Tuan Ben seperti itu dan membandingkannya ketika dia melemparkan dokumen-dokumen ke wajahku."
"Waaaa... Aku benar-benar iri dengan Nyonya. Bagaimana binatang buas bisa tunduk dan menjadi seperti anjing cihua-hua yang mengenduskan hidung dan mengibaskan ekornya pada Nyonya." Kata pegawai lainnya lagi.
Sedangkan di tempat lain, Daisy tidak langsung menuju rumah atas, namun ia menuju kantor Ben lebih dulu.
Daisy membuka pintu di ikuti Ben, saat itu Traver hendak membukakan pintu namun kalah cepat dengan Daisy yang kesal.
Saat pintu di buka, secara bersamaan, Daisy dan yang lainnya melihat ke arah kursi kebesaran Ben.
Seseorang duduk di sana sembari menatap gedung-gedung pencakar langit, dan menggoyangkan kakinya yang menggunakan heels tinggi berwarna merah.
"Siapa kau!" Kata Daisy.
Kursi yang ada di meja Ben pun berputar.
"Beeenn... Benjove kuu... Kesayanganku..."
Ben mendelik dan Traver hampir terjatuh ke bawah tangga di depan pintu kantor Ben.
__ADS_1
Sedangkan Daisy syock, namun wajahnya terpasang datar.
"Kemana saja? Aku menunggumu sangat lama..." Kata wanita itu dengan manja, duduk di kursi kebesaran Ben.
Daisy meremas tas yang ia bawa.
Tak berapa lama Clarissa berlarian menuju ruangan Ben.
"Tuan Ben maaf saya makan siang sebentar, saya tidak tahu anda kembali..."
"Terlambat...!" Kata Traver marah.
Clarissa melihat ke arah wanita yang sudah duduk di kursi kebesaran Ben.
"Astaga... Siapa... Dia... Kenapa..." Clarissa menutup mulutnya dan langsung menatap ke arah Istri Ben yaitu Daisy.
"Sayangku... Ben.. Kau bersama siapa? Apa dia tamu mu? Lumayan cantik..."
Ben hanya diam.
Melihat Ben hanya diam, panas di kepala Daisy semakin naik ke atas ubun-ubun.
"Aku gundiikknya..." Kata Daisy tersenyum.
"Oohhh... Gundik? Tentu saja, aku tahu itu, kau hanya Gundiik untuk membuang sperm milik Be. Ben tak pernah mau punya istri, katanya menikah itu merepotkan dan melelahkan, apalagi mengurus wanita yang selalu menempel, katanya wanita itu membosankan."
"Begitukah..." Kata Daisy angkuh.
"Ya... Lalu... Aaah Traver bisa kau berikan aku kopi? Yang manis." Perintah wanita itu.
Traver menelan ludah, ia pun pergi untuk mengambilkan kopi.
Daisy melihat itu, dan tertawa sinis tak percaya, melihat Traver mau di suruh oleh wanita yang duduk itu.
"Aku? Tentu saja aku kekasihnya... Kekasih gelap Ben. Aku Marry Anne..." Kata wanita itu dengan bangga dan angkuh.
Ben menutup mata ia memijat pelipisnya dengan jari-jarinya.
Clarissa menutup mulutnya dengan telapak tangan karena tak percaya dan syock, bolak balik Clarissa memandangi wajah Ben dan Daisy, perlahan Clarissa pun mengendap-endap untuk pergi karena ia tahu pasti sebentar lagi akan ada perang besar.
Daisy mengambil ponselnya, ia membuka foto yang pernah detektif itu berikan, dan melihatnya, memang wajah itu, dia wanita itu.
"Jadi ini adalah kau." Kata Daisy melemparkan ponsel dan tergeletak di atas meja Ben menimbulka suara keras.
Marry Anne melihat nya tanpa menyentuh ponsel Daisy.
"Benar... Itu foto yang ku ambil menggunakan kameraku... Hahahaha..." Marry Anne tertawa nyaring.
Tak berapa lama Traver masuk membawakan kopi untuk Marry Anne.
Ben melotot pada Traver dan ingin sekali memukulnya.
Ben maju dan mengambil ponsel Daisy, ia melihat Daisy yang masih berdiri dengan menyembunyikan amarahnya.
Kemudian Ben melihatnya.
Itu adalah foto dimana Ben telanjangg, kedua tangannya terikat dengan borgol, dan kakinya juga terikat kuat, di atasnya Marry Anne sedang menyentuh tubuh Ben.
Rahang Ben mengeras, urat-urat lehernya menonjol, pertanda ia sangat marah.
"Kau memfoto?" Mata Ben membulat dan mendelik.
Marry Anne berdiri dan tersenyum.
__ADS_1
Ben meremas ponsel Daisy dengan marah, tenaganya seperti raksasa yang murka, hingga ponsel itu retak.
Tak berapa lama Traver mendapat panggilan, dan itu dari pengawalnya.
"Ya..."
"Tuan Traver, nona Daisy mendapatkan pesan anonim dan berisikan foto tentang..."
"Terlambat, kau di pecat!" Kata Traver memotong pembicaraan dan menutup panggilan telfon nya.
Ben meredam emosinya, ia berusaha untuk tenang, dan melihat ke arah Daisy.
"Nikmati kebersamaan kalian." Kata Daisy dan hendak pergi.
Ben seketika menarik lengan Daisy.
"Biar ku jelaskan." Kata Ben, mata Ben penuh dengan semburat ketakutan.
"Kenapa harus di jelaskan, dia hanya gundikkmu bukan?" Kata Marry Anne.
"Tutup mulutmu! Dia istriku!!!" Teriak Ben.
Marry Anne mengerjap mata, tubuhnya mendadak kaku, senyumannya menghilang.
"Kau mengakui wanita itu di depanku sebagai istri?" Kata Marry Anne.
Ben masih menahan Daisy.
"Kau berjanji padaku Ben, meski kau punya istri, di hadapanku, kau tidak akan pernah mengakuinya!!!" Teriak Marry Anne.
Daisy seketika tertawa getir.
"Aku menahannya, aku tidak ingin kita bertengkar lagi Ben, aku biarkan foto itu, dan ku bakar foto itu dalam ingatanku, tapi ternyata... Aku salah, seharusnya aku tidak menikmati setiap sentuhanmu! Seharusnya aku tidak merindukan sentuhanmu. Kau pasti melihatku sebagai orang bodoh." Kata Daisy menangis, air matanya seketika mengalir begitu saja.
"Sayangg... Aku bisa jelaskan... Aku akan jelaskan."
"Jelaskan apa!!! Bahwa selama 3 tahun ini kau hanya membuat alasan, bahwa semua yang kau katakan itu bohong!! Tentang trauma dan segala macamnya!!! Bahwa kau sebenarnya memiliki kekasih gelap, dan kau telah menipuku!!!" Teriakan Daisy pecah, tangisannya pun jebol tak dapat lagi di bendung.
Ben meraup kepala dan rambutnya, ia bingung harus menjelaskan dari mana pada Daisy.
Sejujurnya sejak awal Ben ingin menjelaskan pada Daisy, sejak pernikahannya, dan sejak kemarin malam, namun berkali-kali ada sesuatu yang membuat Ben akhirnya tetap bungkam.
"Berikan aku waktu sendiri Ben." Kata Daisy.
Ben memeluk Daisy dari belakang.
"Dengarkan aku dulu sayang, ini tidak seperti bayanganmu, aku tidak pernah berbohong..."
"Tidak pernah berbohong? Lalu apa yang sudah kau sembunyikan ini dariku!" Mata Daisy mendelik.
Marry Anne berjalan mendekati Ben, dan memeluk lengan Ben.
"Ingat sumpahmu Ben... Ingat siapa yang telah membuatku begini." Kata Marry Anne menatap nanar pada Ben.
Ben mengeratkan giginya.
"Brengsek..." Gerutu Ben lirih.
Ben kemudian melihat ke arah Traver dengan mata ganas dan seperti ingin menerkam.
Daisy akhirnya pergi, dan di susul Traver yang mengejar Daisy.
Bersambung
__ADS_1