
FLASHBACK ON~
Moran memanjat dari balkon ke balkon, ketika ia sudah sampai di belakang Mansion, Moran bersiap turun. Pria tua itu terjun dari lantai 2.
"SIUUWW BRUUG!"
Kakinya menapak di atas rumput, namun naas pendaratannya gagal, kakinya tidak tepat, dan kemudian terkilir.
"Sial!" Kata Moran melihat pergelangan tulang kakinya sudah membelok.
Dengan berjalan pincang Moran pun harus menaiki pagar lagi, ia mengambil tali kekang yang selalu ia bawa di balik bajunya, itu adalah tali yang berukuran kecil namun sangat kuat.
Moran melemparkannya ke atas pagar, ketika sudah naik Moran tertangkap cahaya yang berkeliling di sekitar mansion, pengawal yang berjaga melihat itu, alarm langsung di bunyikan semua pengawal bergerak, saat itu Moran masih di atas pagar.
"Sialan, jika saja kakiku tidak terkilir." Kata Moran.
Sayangnya ketika Moran hendak lompat dan turun, Heiden sudah berada di luar mansion bersama beberapa pengawal.
"Sebenarnya aku hendak membunuhmu. Bagaimana ini?" Kata Heiden bermain-main.
"Aku juga hendak membunuhmu, tapi sayangnya kau hanya ikan teri, jadi aku tak selera." Kata Moran di atas pagar.
"Turun dan bunuh aku. Itupun jika kau bisa dengan kakimu yang seperti itu." Tantang Heiden.
Malam itu pun Moran di tangkap, ia terkejut ketika masuk ke dalam penjara bawah tanah, melihat seorang mata-mata sudah lebih dulu tertangkap.
"Astaga... Kau mata-mata Zac, kenapa sangat mudah tertangkap." Kata Moran duduk di samping mata-mata tersebut dengan kedua tangan terborgol di belakang.
"Seharusnya saya bisa keluar, tapi anda membuat keributan dan alarm di bunyikan, semua lampu di hidupkan tak ada tempat bersembunyi di mansion ini." Kata mata-mata itu.
Moran manggut-manggut.
"Jadi ini salah ku." Kata Moran.
Tak berapa lama Gia pun datang di temani Heiden.
"Apa kabar ayah mertua." Kata Gia tersenyum sinis.
"Tidak lebih baik, apalagi setelah kau datang, rasanya buruk." Kata Moran.
"Pujian yang indah. Apa kau sudah bertemu cucumu? Dia cantik kan? Kau sudah menyapanya?"
"Tadinya Aku akan menyapanya jika semua perang dan masalah sudah selesai dan sekarang aku menyesal. Karena seharusnya aku sudah mengatakannya pada cucu ku sendiri jika kau bukanlah ibu yang baik. Sayangnya aku tertangkap." Kata Moran.
"Astaga.... Kau sangat tidak ramah ayah mertua. Hihihihi....!!" Gia tertawa.
"Kau seperti ular, aku tidak tahu kenapa kau melakukan ini tapi jangan menyakiti cucuku." Kata Moran.
"Tenang saja, dia hanya ku jadikan alat agar aku bisa mendapatkan Ben." Kata Gia.
"Ben?" Tanya Moran.
"Kau tak perlu tahu ayah mertua..." Kata Gia tersenyum.
"Nikmati malam mu di sini, karena besok kau akan merasakan panasnya besi meleleh." Kata Gia sembari berlalu.
FLASHBACK OFF~
******
Pagi hari di mansion Murder, Gavriel sedang berkemas dan menyimpan senjatanya, saat itu Zay baru bangun dan menyentuh ranjang di sampingnya, merasa Gavriel tidak ada di sampingnya, Zay kemudian turun dan mencarinya.
__ADS_1
"Kau sedang apa?" Tanya Zay.
"Kau sudah bangun." Kata Gavriel.
Zay pun mendekat.
"Aku menyimpan semua senjataku di peti ini." Kata Gavriel.
Zay melihatnya, Gavriel menatanya dengan rapi.
"Kita harus kembali ke mansion milik keluargamu, aku harus memeriksa kesehatan Ben secara berkala." Kata Gavriel lagi.
"Tapi... Aku suka di sini." Kata Zay.
Gavriel melihat dan menatap Zay, lalu membuang nafasnya pelan.
"Mereka pasti khawatir..." Kata Gavriel.
"Tidak akan." Jawab Zay keras kepala.
"Kemari." Kata Gavriel.
Kemudian Zay duduk di atas pangkuan Gavriel, dan memeluk leher Gavriel.
Sontak Gavriel tertawa pelan.
"Kenapa?" Tanya Zay kebingungan.
"Tidak." Kata Gavriel tersenyum.
"Ada apa sih!" Kata Zay lagi.
"Kau tidak suka? Aku akan berdiri." Kata Zay ketus.
"Tidaakk... Aku suka. Sangat suka." Kata Gavriel menarik Zay lagi di pangkuannya.
"Jadi... Kau benar-benar tidak mau pulang?" Tanya Gavriel.
"Aku selalu ingin hidup bebas dan sesuka hatiku, setiap kali aku kembali ke mansion itu, aku seperti di penjara dan di tahan, aku tercekik." Kata Zay.
"Tapi... Berjanjilah kau tidak akan kemana-mana selama aku pergi memeriksa ayahmu, kau tetap di sini." Peringat Gavriel.
"Oke." Kata Zay.
Gavriel memperhatikan Zay, gadis yang manja dan ceria, namun menyimpan luka. Gadis traumatis yang perlu penyembuhan sebelum traumanya berkelanjutan.
Gavriel kemudian memeluk Zay dengan lembut secara tiba-tiba.
"Kenapa kau memelukku?" Tanya Zay.
"Mengisi energi." Kata Gavriel.
"Energi?" Tanya Zay.
"Maukah kau menciumku?" Tanya Gavriel berbisik.
Zay berfikir sejenak.
"Aku tidak memaksamu Zay." Kata Gavriel.
Namun, perlahan Zay menangkupkan kedua telapak tangannya di kepala Gavriel.
__ADS_1
"Zay..." Panggil Gavriel.
Kemudian perlahan Zay mencium bibir Gavriel, ia menutup mata, ciuman itu lembut dan hangat, di atas pangkuan Gavriel kemudian Zay merangkulkan kedua tangannya di bahu Gavriel.
Perlahan Gavriel menggendong Zay, sambil berciuman mereka pun berjalan menuju ranjang.
"Gav...." Panggil Zay ketika Gavriel menidurkan Zay.
"Kau cantik sekali Zay..." Puji Gavriel.
"Gavriel... Apakah aku bisa sembuh?" Tanya Zay tiba-tiba.
"Apakah kau mau menerima diriku yang kotor ini...?" Tanya Zay lagi.
"Berhenti berbicara seperti itu Zay... Kau tidak kotor." Kata Gavriel mencium Zay.
Ciuman itu cukup lama, ciuman yang panas dan dalam, membuat nafssu dan gairahh mereka saling mengikat erat.
Tiba-tiba Zay berhenti, dan berbisik pada Gavriel.
"Gavriel... Aku ingin melakukannya denganmu, aku ingin mencobanya lagi, aku ingin sembuh." Bisik Zay.
Sontak Gavriel terkejut, ia membulatkan matanya, tak percaya ini kedua kalinya Zay menyerahkan dirinya.
Namun, sekali lagi, Gavriel masih mengontrol dirinya.
"Apa kau tak mau?" Tanya Zay.
"Sebenarnya aku juga ingin, sangat menginginkannya, namun.... Aku sudah memikirkannya, terus memikirkannya, aku ingin melakukannya saat kita sudah menikah, untuk saat ini aku ingin melatih dan membuatmu nyaman dulu dengan semua sentuhan ku, agar kau merasa terbiasa dan melupakan trauma mu." Kata Gavriel.
"Kita akan menikah?" Tanya Zay
"Kau tak ingin menikah denganku?"
"Akuu...." Kalimat Zay terhenti. Tenggorokannya tercekat.
Sejujurnya, Zay marah ketika mendengar bahwa Gavriel berulang kali di jodohkan oleh ayahnya. Namun, kalimat mendadak ajakan menikah yang di ucapkan Gavriel membuat Zay terpaku.
Melihat Zay tak bisa menjawab, kebingungan dan mata Zay bergetar, Gavriel kemudian mundur ia pun berdiri di tepi ranjang.
"Aku akan ke mansion Ben. Jika ada sesuatu hubungi aku." Kata Gavriel kemudian pergi.
Saat itu Zay menekan dahinya, memukulnya beberapa kali dengan genggaman tangannya.
"Aku belum memikirkan sampai ke sana. Pernikahan mengingatkanku pada masa itu, aku yang naif dan ingin menikah dengan Carlos, sangat terobsesi dengannya, aku yang sangat mencintainya, mimpi dan harapanku serta khayalanku penuh dengan hal-hal yang indah, bahkan aku sudah berbicara mengenai berapa orang anak yang akan kita punya, aku takut ini semua hanya mimpi belaka dan aku akan terjatuh lagi." Zay memeluk dirinya sendiri, ia sesenggukan, air matanya mengalir deras, Zay tidur miring dan menangis merasakan tubuhnya terasa begitu sakit mengingat masa lalu.
Sedangkan Gavriel, menelan mentah-mentah rasa sakitnya, ia tak menyangka bahwa Zay menolak menikah dengannya.
Dalam perjalanan menuju mansion, pikiran Gavriel terus berkelana, Gavriel terus memikirkan Zay, raut wajah Zay sangat berubah drastis ketika Gavriel mengatakan tentang ingin menikah.
"Ada apa dengan pernikahan. Apakah dia hanya ingin bermain saja." Kata Gavriel sembari menyetir mobilnya.
Namun, beberapa saat kemudian, pikirannya tersambut dengan trauma yang di alami Zay.
"Astaga.... Kenapa menjadi bodoh, insting ilmu kedokteranku mendadak menghilang, semua karena aku di butakan oleh rasa cintaku pada Zay yang ingin segera memilikinya sepenuhnya." Dengan cepat Gavriel memutar stir kemudi lalu mobil pun membelok, berputar, dan kembali ke mansion.
Ban-ban mobil berdecit ketika Gavriel memutuskan untuk memutar arah dan ingat kenapa Zay menjadi ketakutan ketika ia menyebutkan pernikahan.
Dengan cepat, Gavriel menekan gas mobil, dan mencoba menghubungi pelayan mansion, Gavriel khawatir akan terjadi sesuatu pada Zay, ia takut Zay akan nekat menyakiti dirinya sendiri.
Bersambung~
__ADS_1